RAGA

RAGA
Part 7


__ADS_3

Di sebuah ruangan serba putih dengan aroma menyengat dari obat-obatan membuat siapa pun enggan untuk tinggal di dalamnya, termasuk Indira.


Namun sekarang perempuan itu terbaring lemah dengan selang infus menghiasi pergelangan tangannya.


"Katanya kamu benci rumah sakit tapi kamu sendiri yang memposisikan diri di tempat ini" ujar seorang pemuda yang setia menemani.


"Kamu itu bodoh Ra! Kamu selalu mikirin perasaan orang lain tapi gak pernah mikirin perasaan kamu sendiri"


"Maaf"


Dirga terus saja mengomel sendiri walau tau bahwa sosok yang di ajaknya bicara tak akan menjawab semua perkataannya.


"Maaf aku gabisa jagain kamu"


Wajah datar dan tembok kokoh yang di bangunnya runtuh ketika berada di hadapan Indira. Dirga terus meminta maaf dan menyalahkan dirinya sendiri.


"Bukan salah kamu Dir" suara seseorang yang baru saja memasuki ruangan mengejutkan Dirga sesaat sebelum dia bisa mengontrol ekspresinya kembali.


"Ini salah tante Dirga, selama ini tante gak pernah peduli dengan kondisi Indira"


"Kalo emang tante tau kenapa masih di terusin?" sindir Dirga.


"Tante gak tau, setiap kali tante liat wajah Indira maka saat itu juga bayangan wajah Andira muncul. Tante gabisa ngilangin rasa benci itu"


"Benci? Tante sadar gak sih kalo yang buat Andira meninggal itu bukan karena kesalahan Indira!" kesal Dirga. "Tante itu sebenarnya ibu kandung dari Indira bukan sih?"


"Iya tante paham, tante tau kalo itu bukan salah dia!" tunjuk wanita paruh baya itu ke arah Indira yang terbaring lemah. "Tapi tante gak bisa terima kalo Andira meninggal dan kalo kamu mau tau sebenarnya tante bukan ibu kandung Indira!" tegas wanita itu di iringi derai air mata.


"Bu-bukan ibu kandung? Maksud tante apa?" Dirga membeo.


Flashback on


Saat itu Lira dan Ryan sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka setelah penantian panjang lima tahun lamanya mereka menunggu. Semua perlengkapan mereka persiapkan tanpa ada yang terlewat. Namun saat-saat bahagia seperti itu sebuah masalah besar menghantam bahtera rumah tangga yang telah mereka jalin selama bertahun lamanya.


Zira yang tak lain adalah sahabat baik dari Lira tiba-tiba saja hadir dalam hidup mereka membawa sebuah kehancuran bersamanya.


Dalam kondisi hamil Zira datang menemui Ryan yang saat itu berada di kantornya. Zira meminta pertanggung jawaban atas kondisinya dimana ayah dari bayi yang di kandungnya adalah Ryan. Tanpa sepengetahuan Lira, mereka berdua menjalin hubungan terlarang yang seharusnya tak boleh mereka lakukan.


Pada saat yang sama, Lira datang dan tak sengaja mendengar semua percakapan mereka.


Zira yang pertama kali mengetahui keberadaan Lira terkejut dan bergegas menemui Lira.


"Lir ini gak seperti yang kamu pikirkan"


"Pergi!" bentak Lira.


"Lira maafin aku" pinta Zira penuh rasa bersalah. "Aku gak bermaksud buat..."


"Stop! Kamu penghianat" tekan Lira masih tidak percaya bahwa dua orang yang paling di percayanya adalah orang yang menusuknya dari belakang.


"Lir maafin aku" ucap Ryan berusaha menggapai Lira namun selalu ditepis.


"Maaf? Hahaha kalian kira minta maaf bisa balikin keadaan?" sarkas Lira. "Ryan sekarang kamu pilih, anakku atau anak pelakor ini" tunjuknya pada Zira.

__ADS_1


"Lir please..."


"PI-LIH" tegas Lira.


"Ak-aku gak mungkin... kalian berdua sama berartinya bagiku dan mereka adalah darah dagingku" ujar Ryan mencoba memberi pengertian pada kedua wanita di hadapannya terutama pada istri sahnya, Lira.


"Oke kalo itu keputusanmu, aku yang akan pergi!" ucap Lira dengan derai air mata yang tak lagi mampu di bendungnya, dia lari meninggalkan kedua orang yang manancapkan duri di hatinya.


Ryan dan Zira tak tinggal diam. Mereka berdua mengejar Lira dan hal itu tentu saja menarik perhatian karyawan lain karena merasa ada yang aneh dengan atasan mereka.


"Liraaa stop!" teriak Zira saat melihat sebuah truk besar melaju kencang ke arah Lira.


"Zira jangan!"


Bruukk...


Kecelakaan beruntun tak dapat di elakkan. Truk besar yang hilang kendali menghantam keras semua yang berada di depannya. Kecelakaan itu menelan lima orang korban jiwa.


"Lir...Lira bangun Lir!" panggil Ryan mencoba membangunkan istrinya yang sudah terkapar diatas kerasnya aspal.


Di seberang jalan terlihat seorang wanita tengah berusaha bangkit dan melindungi perutnya.


"Ziraaa" teriak Ryan.


Kondisi Ryan benar-benar kacau. Dimana dia dihadapkan pada dua pilihan diantara dua wanita yang tengah mengandung dua darah dagingnya.


Ryan membopong tubuh Lira menuju ke tempat Zira berada.


"Ryan..."


"Iya?" Ryan menggenggam erat tangan Zira dengan sebelah tangan lagi menahan tubuh Lira dalam pangkuannya.


"Ka...kalo nanti aku harus pergi..."


"Kamu gaboleh ngomong gitu"


"To-tolong jaga anak ini misalnya dia masih bisa se-selamat" ucap Zira terbata-bata sebelum kehilangan kesadarannya.


"Ziraa bangunn" teriak Ryan.


Tiba di rumah sakit Ryan menunggu di depan ruang UGD, baginya hidupnya benar-benar kacau karena kesalahan yang dilakukannya.


"Bagaimana dok?" tanyanya ketika dokter keluar ruangan.


Dokter menjelaskan kondisi keduanya dimana Zira harus di operasi sesar karena kondisinya yang akan membahayakan sang bayi. Sedangkan Lira tidak mengalami luka berat dan bisa segera di pindahkan ke ruang rawat.


"Lira kamu sudah sadar?" tanya Ryan khawatir.


"Zi-zira?" tanya Lira.


Ryan tertunduk dalam mengingat bagaimana kondisi Zira saat ini.


"Mau kemana?" tanya Lira saat mendapati Ryan yang bangkit dan berjalan menjauhinya menuju sudut ruangan.

__ADS_1


"Lir kenalin namanya Indira, dia udah tenang di surga" ucap Ryan membawa bayi dalam gendongannya mendekat ke arah Lira.


"Maksud kamu apa?"


"Aku mohon sama kamu untuk ngerawat anak ini seperti anak kamu sendiri, bagaimanapun dia adalah darah dagingku"


Dan dari situlah semua kisah bermula sampai kejadian yang merenggut nyawa Andira.


Flasback off


"Jadi tante Lira bukan ibu kandungnya Indira?" tanya Dirga lagi memastikan.


Hanya anggukan kepala yang di terima Dirga sebagai jawaban.


"Enghh" lenguh Indira yang telah siuman.


"Ada sakit? Dimana? Bilang Ra" runtun Dirga begitu cemasnya dia terhadap gadis itu.


"Lebay" ujar Indira masih mencoba beradaptasi dengan cahaya di ruangan.


"Eh ini bukan kamar aku ya?" tanya Indira membeo.


"Kamar kamu"


"Kok beda Dir?"


"Kamar kamu di Rumah Sakit"


"Ha?"


"Lemot sih" ujar Dirga.


Indira masih belum menyadari keberadaan orang lain dalam ruangan itu.


"Kamu udah baikan sayang?" suara Lira mengalihkan atensi Indira.


"Loh Mama sejak kapan disini?" tanya Indira bingung pasalnya yang dia tau Lira sedang berada di luar negeri menghadiri sebuah acara.


"Baru aja kok tadi barusan sedikit cerita sama Dirga" ujar Lira tersenyum hangat.


Indira melirik Dirga tapi orang yang di liriknya justru mengendikan bahu dan mengalihkan pandangannya.


"Rara tunggu disini dulu ya, Mama mau ngomong bentar sama Dirga di luar" pinta Lira yang di iyakan oleh Indira.


Di luar ruangan Lira meminta Dirga berjanji padanya tentang identitas asli ibu kandung Indira.


"Dirga, tante harap kamu bisa menjaga rahasia ini" ucap Lira. "Tante minta kamu berjanji sama tante untuk selalu ada di sisi Indira karena kamu tau sendiri tante gak bisa selalu ada buat dia" tambahnya.


Dirga hanya diam tak memberikan jawaban apapun selain tatapan datar dan wajah dingin tak bersahabat yang di tunjukkannya.


"Tante harap kamu bisa mengerti keadaan tante" imbuhnya lagi. "Tante pamit, tolong sampaikan salam tante untuk Indira" pamit Lira sebelum pergi meninggalkan Dirga.


"Dosa siapa yang kena imbas siapa? Semesta kadang terlalu kejam memberi kejutan" komentar Dirga sebelum kembali ke dalam ruangan Indira.

__ADS_1


__ADS_2