
Hari ini seluruh murid SMA Rajawali berkumpul di aula indoor untuk mendengar pengumuman yang akan disampaikan oleh kepala yayasan (pamong) dan para pengurus OSIS mengenai perayaan hari jadi yayasan yang ke-40 tahun.
".....dalam rangka memperingati hari jadi yayasan yang ke-40 tahun,saya selaku kepala yayasan memberikan waktu tiga hari kedepan untuk mempersiapkan acara. Saya harap kita semua yang hadir disini selaku warga SMA Rajawali bisa saling bekerja sama untuk mempersiapkan acara ini. Saya rasa acara selanjutnya akan di pandu oleh para pengurus OSIS. Sekian dan terimakasih..."
Semua orang yang hadir di ruangan itu mendengarkan dengan penuh minat dan antusias karena mereka akan mengadakan party anniversary yayasan yang dimana itu artinya mereka akan bebas dari beban tugas-tugas yang menumpuk selama beberapa hari kedepan.
Setelah kepala yayasan meninggalkan tempat diikuti oleh jajaran pengurus yayasan yang lain. Acara selanjutnya di pimpin oleh seorang siswi yang diketahui sebagai ketua OSIS SMA Rajawali.
"Perhatian semuanya seperti yang dikatakan oleh Pamong tadi,saya Indira Alfiyana selaku ketua OSIS akan bertanggung jawab mengarahkan kita semua dalam rangka mempersiapkan segala sesuatu yang menyangkut acara ulang tahun yayasan tahun ini....."
Dengan pembawaan diri yang tegas dan berwibawa membuat Indira sangat di hormati oleh warga sekolah dengan mengesampingkan fakta bahwa dia adalah cucu dari pemilik yayasan. Tak ada yang tahu bahwa Indira adalah cucu dari pemilik yayasan kecuali para guru dan tentu saja Dirga.
".......baiklah sekarang saya akan membuka forum diskusi,bagi yang ingin mengajukan ide atau pendapat silahkan berdiri dan angkat tangan...." terdengar riuh suara para murid karena banyak yang ingin berpartisipasi dalam acara tersebut.
"Silahkan,kamu yang duduk di bangku paling ujung. Perkenalkan diri dan sampaikan pendapat kamu" tunjuk Indira pada salah seorang siswa yang duduk di ujung ruangan.
Siswa yang di tunjuk itu pun memperkenalkan diri dan menyampaikan pendapatnya kemudian diikuti oleh beberapa siswa dan siswi lainnya yang juga memberikan masukan ide.
"...saya rasa cukup sampai disini mengingat waktu yang kita miliki sangat terbatas,jika diantara kalian ada yang ingin menyampaikan ide atau pendapat lainnya silahkan datangi para pengurus OSIS dan....." seperti memang di program untuk mematuhi perintah dari sang ketos semua penghuni ruangan itu membubarkan diri dengan tertib bahkan hampir terlihat seperti para paskibraka selesai melakukan pengibaran bendera karena terlalu tertibnya.
"Hufttt..." Indira terlihat memijat keningnya lelah.
"Are you okay?" tanya seorang siswi yang mengenakan jas yang sama seperti yang dipakai Indira.
"Hmm..aku duluan ya" respon Indira sebelum bangkit dan pergi meninggalkan aula.
Indira berjalan dengan tatapan kosong,benar-benar terlihat berbeda dari Indira sang ketos SMA Rajawali yang tadi berbicara di depan umum dengan pembawaan yang tegas dan berwibawa.
"Aishh..." keluh Indira ketika ada seseorang yang mengejutkannya dengan menempelkan minuman dingin di sisi wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Gapapa"
"Cerita"
"Cerita apa,Dirga? Aku beneran baik-baik aja" orang yang mengagetkan Indira tadi adalah Dirga,sang sahabat kutubnya.
"Oh yaudah,minum" ujar Dirga kalem sambil menyodorkan minuman dingin yang tadi di tempelkan di wajah Indira.
Mereka berdua berjalan bersama melewati beberapa koridor yang masih ramai karena memang hari ini semua kegiatan belajar mengajar ditiadakan. Kehadiran mereka berdua tentu saja menarik perhatian dan menjadi bahan pembicaraan.Indira dan Dirga tak merespon apapun,mereka sudah biasa dijadikan bahan obrolan jika sedang berdua padahal sudah berulang kali dijelaskan bahwa mereka hanya sahabatan tidak lebih.
Mereka berdua berbelok arah menuju ruangan khusus untuk Indira,iya ruangan khusus untuk ketua OSIS.
Sesampainya di dalam ruangan,Indira langsung menuju meja di tengah ruangan yang di penuhi dengan beberapa berkas diatasnya. Indira tanpa banyak berbicara seperti biasanya dia langsung menyibukkan diri dengan layar komputer di depannya tanpa mempedulikan keberadaan Dirga di dalam ruangan itu.
"Hmm"
"Udah makan?" tanya Dirga menghampiri Indira di tempat duduknya.
"Belum" jawab Indira singkat dengan fokus masih tertuju pada komputer di depannya.
"Yaudah ayok"
"Ayok kemana?" Indira membeo mengalihkan fokus sepenuhnya kepada Dirga.
"Pelaminan!" tanpa ba-bi-bu Dirga menarik tangan Indira supaya bangkit dan mengikuti dirinya.
"Woy...mau kemana kampret!" teriak Indira karena Dirga terus menarik tangannya.
__ADS_1
"Diam"
"Kenapa sih setiap kali orang ngomong kamu cuma nyuruh diam,diam dan diam terus. Hidup kamu tuh sepi banget sih Dir kayak lagi ujian Nasional,kalo aku sih gak betah"
"Lebih baik daripada hidup penuh kepura-puraan!" sarkas Dirga dingin.
"Shit!" umpat Indira pelan.
Indira tak lagi melawan,dia hanya diam dan mengikuti kemana Dirga pergi membawanya.
"Rooftop?" Indira membeo.
"Ngapain kita kesini?" tanya Indira sambil memandangi pemandangan dari atas rooftop.
"Duduk,makan" perintah Dirga yang langsung di turuti oleh Indira.
"Dapet darimana?"
"Belilah"
Selanjutnya mereka berdua menghabiskan makanannya dalam diam.
"Ada masalah apa?" tanya Dirga memecah keheningan dan menghampiri Indira yang sudah berdiri di ujung rooftop dengan tatapan kosong.
"Semesta jahat ya Dir? Semesta sengaja membuat kita menjadi pembohong ulung agar bisa menutupi luka yang sengaja diciptakan semesta saat kita sama sekali tak mengharapkannya" keluh Indira.
Dirga hanya diam tak menjawab dan pada detik berikutnya Indira merasakan tubuhnya seperti terdorong dan melayang bebas di udara. Hanya sayup-sayup suara Dirga yang mengisi pendengaran Indira sebelum dia memejamkan matanya erat.
"Jangan nyerah,pelangi gak akan muncul sebelum badai datang" itulah yang di dengar Indira sebelum dia menutup matanya erat dan merasakan tubuhnya membentur keras sesuatu.
__ADS_1