
Sepulang dari rumah sakit, Meisya mampir kesebuah apotik langganannya untuk membeli obat sang nenek. Gadis itu sibuk berbicara kepada penjual obat didalam seraya memilah-milih obat, sedangkan Raga menunggunya didepan dengan motornya.
Setelah selesai, Meisya pun keluar dari apotek tersebut, "Kita kerumah bentar ya." kata Raga kepada Meisya.
"Ya."
Raga pun melajukan motornya untuk menuju rumahnya, sesampainya dirumah Raga, Meisya pun menyalimi Gita dan juga Hardi.
"Malem Om, Ma." kata Meisya kepada keduanya.
"Ya ampun nak, kamu belum diantar pulang juga sama Raga? Raga kamu gimana sih! Anak gadis orang diajak keluar malem!"
"Mama bentar dulu, Raga kan belum sempet jelasin,"
ucap Hardi.
"Raga mau ngambil jaket Raga dulu buat Meisya, takut kedinginan." ujar Raga. Gita hanya mengangguk, tinggallah disana Gita juga Hardi.
"Raga gak macem-macem kan sama kamu nak? gak bikin kamu nangis kan?" tanya Hardi kepada Meisya.
"Gak kok Om, Raga selalu jaga Meisya." jawab Meisya seraya tersenyum.
Hardi tersenyum hangat, "Syukurlah. Nanti semisal kamu dan Raga sama-sama kelar kuliah, om pinginnya kalian cepet-cepet nikah." kata Hardi pada Meisya.
Pipi Meisya memerah, entah apa yang harus ia katakan kepada Hardi. Lulus SMA saja ia belum, mengapa Hardi sudah membicarakan pernikahan?
"Papa ih! Meisya lulus aja belum! Ngaco!" sahut Gita.
"Gak apa Ma, bang Raga kan seneng kalo cepet nikah, terus bikin an-"
"-Bikin apa bocah kecil?" potong Raga cepat. Sial, disana tiba-tiba Raga muncul. Rega kicep.
"Muncul aja lo bang kaya tuyul." celetuk Rega.
"Apa? mulut lo tuh ya kecil-kecil minta banget dijahit!" ujar Raga. "Ayo Sya, aku anter kamu pulang. Ma, Pa, Raga anter Caca pulang dulu,"
...🌸🌸🌸...
Setelah mengantar Meisya pulang, Raga pun melajukan motornya untuk pulang.
Raga masih memikirkan kejadian lalu, dimana Viga memberikan Meisya pesan. Cowok itu ingin bertanya langsung kepada Viga apa maksudnya. Ya, saat ini tujuannya bukanlah untuk pulang kerumah, tetapi pergi
ke apartement Viga. Cowok itu melajukan motornya dengan kecepatan yang
maksimal.
Sesampainya di apartement Viga, Raga pun memasuki lantai yang ditempati oleh Viga.
Klek
__ADS_1
"Maksud lo apa gangguin Meisya?"
"Eh Adek gue, masuk sini, kita bisa berpesta didalam!" ujar Viga seraya mempersilahkan Raga masuk.
BUGH
"Mau lo apa sih bang?! Lo masih gak terima kalo Paula gak suka sama lo? Ambil bang!" sentak Raga menggebu-gebu.
Viga tersenyum licik, "Gue emang bangsat dimata lo semua!" bentak Viga seraya menunjuk Raga .
"Udah malem gue gak mau cari ribut, kasian penghuni disini. Tolong, jangan pernah bikin ulah bang. Gue juga gak mau Meisya kenapa-napa." ujar Raga yang sedikit menenang.
"Dan satu lagi, masalah Paula, sorry, gue gak suka sama dia sama sekali. Tolong, jangan ganggu gue, dan orang-orang disekitar gue." ucap Raga.
"Soal gue akan apa-apain cewek lo, justru lo yang udah apa-apain cewek lo. Lo bikin dia nangis." ucap Viga. "Yang artinya lo sendiri yang nyakitin dia, bukan gue, ataupun orang lain."
"Bukan urusan lo. Stop ganggu hidup gue dan orang-orang yang gue sayangi, please."
Viga hanya tersenyum mendengar hal itu, membiarkan Raga keluar dari apartmentnya tanpa sepatah katapun.
"Bodoh." gumamnya setelah Raga pergi dari sana.
...🌸🌸🌸...
Pagi hari yang cerah ini, Meisya sudah ada di depan rumahnya seraya menunggu Raga. Cowok itu akan mengantarnya sekolah hari ini, karena Raga kuliah siang.
"Mana sih, udah mau bel ini," cicit Meisya seraya melirik jamnya yang hampir menunjukkan pukul 7.
Klek
"Loh Meisya? belum berangkat juga? nanti telat loh nak.." ujar Wina kepada Meisya.
"Ah ya nek, sebentar lagi Raga sampai kok." jawab Meisya.
"Bener? soalnya nenek mau berangkat kajian nih," kata Wina. Meisya pun mengangguk lalu tersenyum.
"Yaudah nenek berangkat ya, hati-hati kamu dijalan. Bilang Raga jangan ngebut-ngebut."
"Iya nek,"
Fix. Meisya sudah telat. Ia tak tahu kemana perginya Raga. Ia sudah menanyakannya kepada Rega, tetapi cowok itu tidak ada dirumah. Ia juga sudah menanyakannya kepada Remi, cowok itu tidak ada di basecamp. Dikampus? tetapi hari ini Raga jadwal kampusnya siang. Jadi, mana mungkin.
"Udah ah gak usah sekolah." kata Meisya akhirnya.
^^^Meisya A: Fa, badan gue mendadak ga enak, gue g skola dulu. Izinin, tlg, gue sengaja g bilang nenek gue ^^^
Affa : Okeoke, gws bestiee kuu! Kalo ada waktu gue jenguk
^^^Meisya A: Yaela gak usah, ntr sore ^^^
__ADS_1
^^^juga nih mual sm pusing ilang ^^^
Affa: Hm oke deh
^^^Meisya A: Makasih ya Fa^^^
Affa: Sami mawon
Meisya pun kembali ke kamarnya, melepas kembali seragam sekolahnya. Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.
Ting
Raga A: Aku ketiduran Sya, sorry bangettttttt;(
^^^Meisya A: Y^^^
Raga A: Sya? marah?
Raga A: Sya maaf bangett
Raga A: Janji ga tidur lagi disaat ada janji sama kamu
^^^Meisya A: Iya^^^
Raga A: Sya? plis jgn diemin aku lagi
^^^Meisya A : Terus? aku harus ladenin kamu gt kalo kamu^^^
^^^salah? hih males amat^^^
Raga A: Maaf ya maaf beribu maaf
^^^Meisya A: Aku mau tdr, cape^^^
Raga A: Tidur? gak sekolah Ca? maaff
Raga A: Selamat tidur Ca
Raga A: Lv u
Tak lagi mendapat balasan dari Meisya, Raga pun mematikan ponselnya. Ia menghela nafasnya sejenak. Mengacak-acak rambutnya kasar.
"Ga? udah? ayo kita lanjut main PS lagi, nanggung nih!" seru seorang gadis. Ia adalah Paula.
Jadi, apa yang bisa disimpulkan oleh kalian tentang Raga saat ini?
Satu fakta.
Ya, Raga berbohong.
__ADS_1
BERSAMBUNG...