RAGA

RAGA
Part 3


__ADS_3

Dirga POV


Waktu yang berlalu terkadang menyisihkan misteri yang keberadaannya seringkali menghambat langkah menikmati bahagia di masa mendatang.


Terkadang aku berpikir, benarkah setiap orang yang terlihat baik-baik saja justru merekalah yang merasakan luka paling dalam dan sulit untuk disembuhkan?.


Hari ini aku dan Indira berada di perpustakaan umum untuk menemani Indira seperti biasa setiap hari weekend. Aku mengamati Indira yang sedang fokus dengan buku yang dibacanya,aku tak minat untuk membaca buku sekarang ini yang menarik minatku adalah sosok perempuan yang kelihatan baik-baik saja padahal ada begitu banyak luka yang sedang menghujam dirinya.


"Ra?" panggilku.


"Hmm" Indira masih enggan mengalihkan fokusnya.


"Kamu merasa aneh gak?"


"Gak"


"Yaudah" aku menyerah untuk berbicara padanya karena percuma saja kalau dia masih fokus dengan bukunya.


Sepulang dari perpustakaan aku dan Indira memutuskan untuk mengunjungi panti asuhan tempat dimana kami bertemu pertama kali.


"Selamat datang nak Dirga dan nak Rara" sambut pemilik panti,Ibu Putri.


"Bagaimana kabar ibu?" tanya Indira.


"Ibu baik-baik saja buktinya sekarang masih bisa berdiri disini menyambut kalian berdua" ucap bu Putri ramah dan membawa kami masuk ke dalam panti.


"Kak Rara!" teriak seorang anak kecil yang berlari tergopoh-gopoh menghampiri Rara.


"Riska,kamu apa kabar sayang?" tanya Rara sambil membawa anak kecil itu kedalam pelukannya.


"Baik,kakak kenapa jarang dateng kesini lagi? Riska kangen kak Rara" rajuk anak perempuan itu dalam pelukan Rara.


"Oh jadi Riska kangennya sama kak Rara doang nih,sama kakak gak?" tanyaku gemas.


"Gak gitu,Riska kangen kakak pangeran juga kok" ucap anak perempuan itu berpindah memelukku.


"Maaf ya sayang,kakak akhir-akhir ini jarang kesini karena kakak lagi banyak tugas sekolah" seru Indira membelai rambut Riska yang kini berada dalam gendonganku.


"Pokoknya Riska ngambek" ujar Riska.


"Jangan gitu dong nanti hilang cantiknya loh kalo ngambek,kakak beliin es krim nih buat kamu" ujar Rara menunjukkan plastik berisi es krim yang sengaja kami beli dalam perjalanan menuju ke panti tadi.


Riska terlihat tersenyum senang saat tau kalau kami membawakan es krim. Tanpa ba-bi-bu Riska langsung turun dari gendonganku dan merebut plastik berisi es krim di tangan Indira kemudian berlari menuju ruang makan dimana anak-anak lain sudah berkumpul.


"Ayo nak yang lain sudah menunggu di dalam" ujar bu Putri mengomando kami agar ikut masuk kedalam ruang makan.

__ADS_1


Aku melihat ada sekitar dua puluh anak kecil di ruangan ini. Sekilas ingatan masalalu menyeruak masuk sesaat mengambil alih fokusku.Tanpa sadar aku mengulas senyum kecil saat mengingat bagaimana aku berjumpa dengan Indira dulu.


"Dirgaaa" teriak Indira yang mengagetkanku karena wajahnya cukup dekat denganku.


"Apaan sih" ketusku kemudian pergi menyusul bu Putri yang sudah duduk di meja makan.


"Dasar pangeran kutub!" aku samar mendengar Indira mengumpat kesal karena aku berhasil mengacuhkannya, lagi.


Suasana di panti ini begitu hangat,aku menyukai tempat ini karena hanya disinilah aku mampu menjadi diriku sendiri. Aku bisa bebas mengekspresikan diriku dengan malaikat-malaikat kecil yang kurang beruntung tinggal di dunia yang kejam ini.


Indira terlihat begitu tenang dan ceria. Aku ikut tersenyum kala melihatnya tertawa lepas bermain bersama anak-anak panti. Indira sangat menyukai anak kecil.


Kadang aku merasa aneh dengan perasaanku. Seringkali jantungku berdebar begitu kencang hanya karena menatap Indira tertawa lepas atau terasa benar-benar sesak saat melihat Indira menangis apalagi terluka. Mungkin karena aku begitu menyayanginya sejak kecil makanya aku merasa begitu,pikirku.


"Dirga sini deh" panggil Indira.


"Ini gimana ngelepasnya?" tanya Indira menunjukkan rambutnya yang tersangkut pada ayunan besi.


"Potong ya?" tanyaku jahil.


"Ha? Jangan dong kan sayang"


"Iya iya aku juga sayang kok" ucapku bercanda yang otomatis mendapat hadiah sebuah sepatu mendarat dengan indah di kepalaku.


"Rasain noh" ledek Indira.


Aneh,mungkin itu yang kurasakan saat ini. Aku hanya bisa berbicara panjang lebar saat berdua dengan Indira atau keluargaku saja. Sedangkan sisanya aku akan menjadi seperti batu berjalan. Kadang aku mikir berasa punya kepribadian ganda.


"Ish jangan gitu dong Dir" rajuk Indira.


Aku masih diam memasang wajah datar andalanku,bersikap seolah tidak peduli padahal dalam hatiku sudah tak tahan ingin memuntahkan tawa melihat wajah melas Indira yang sangat langka kujumpai.


"Ayolah Dir,kamu boleh minta apa aja deh kalo bantuin aku" tawar Indira tambah melas.


"Oke" ucapku kemudian membantu melepas lilitan rambut Indira pada besi ayunan.


"Pulang yuk" ajakku setelah berhasil melepas ikatan rambut Indira.


"Bentar lagi ya?"


"Enggak Ra,ini udah mau gelap inget kamu baru sembuh"


"Yaudah tapi janji minggu depan kita harus kesini lagi"pinta Indira.


"Oke"

__ADS_1


Kami berpamitan kepada penghuni panti sebelum pulang,terlihat jelas keengganan Indira untuk pulang dari tempat ini.


"Dirga" panggil Indira setelah keheningan sempat merajai di dalam mobil.


"Hmm"


"Rasanya jatuh cinta itu gimana?"


"HA?" teriakku karena terkejut dengan pertanyaan Indira yang begitu tiba-tiba.


Memang iya Indira tidak pernah pacaran. Dia hanya dekat denganku ketika disekolah ataupun saat berpergian. Makanya aku sedikit terkejut saat Indira bertanya seperti itu padaku.


"Ke-kenapa kamu tanya gitu?" aish sial,kenapa aku harus terbata-bata.


"Kepo!"


"Kenapa?Jawab aku Indira"


"Kamu dulu jawab pertanyaanku baru aku akan jawab pertanyaanmu" kekeh Indira.


"Aku gak tau" ucapku ragu.


"Kok gak tau? Kamu kan punya sekitar enam mantan pacar sejauh ini" kepo Indira.


"Dengerin aku" ucapku saat berhenti di lampu merah makanya aku bisa fokus bicara dengan Indira.


Indira terlihat sangat serius menunggu penjelasan dariku. Sungguh aku sangat gemas melihatnya saat ini. Andai saja aku melihatnya sebagai seorang laki-laki dan perempuan pasti aku akan meminta Indira menjadi pemilik hatiku seutuhnya. Namun sayang aku dan dia hanya saling menyayangi dalam konteks sahabat.


"Kamu mau tau kenapa aku gak tau gimana itu cinta padahal mantan pacar aku terbilang banyak?" tanyaku menatap dalam kedua manik sendunya.


Indira hanya mengangguk antusias.


"Karena gak semua yang pacaran itu berdasarkan cinta dan kasih tap..."


"Tapi?"tanya Indira memotong ucapanku.


"Dengerin dulu,jangan kebiasaan!" seruku.


"Orang pacaran itu kebanyakan karena terjebak oleh perasaan yang mereka anggap cinta padahal hanya sekedar suka" lanjutku menjelaskan.


"Maksudnya?" tanya Indira.


"Maksudnya orang yang pacaran belum tentu memiliki cinta dihatinya. Bisa saja hanya karena rasa penasaran atau suka sesaat yang disalah artikan. Cinta itu gak bisa diungkapkan dengan kata-kata karena cinta itu anugerah dari Tuhan. Coba perhatikan bahkan yang sudah menikahpun bisa bercerai hanya karena alasan sudah tidak saling mencintai" sambungku sebelum kembali fokus pada kemudi mobil karena lampu sudah berwarna hijau.


Indira masih terdiam mungkin mencoba mencerna kata-kataku.

__ADS_1


"Bahkan ada orang yang saling mencintai namun tidak terikat oleh status. Jadi intinya sebuah status tidak bisa dijadikan tolak ukur cinta atau tidaknya seseorang" ujarku sebelum kami memasuki kawasan komplek perumahan.


__ADS_2