
Hari berikutnya, Raga dan anak Vhigor lainnya sudah siap menghajar anak-anak Aftar malam ini. Ternyata, anak-anak Aftar sudah merencanakan rencana mereka bahwa siang tadi mereka akan menyerang basecamp Vhigor.
Basecamp Vhigor diobrak-abrik oleh Marsyel siang tadi. Rahang Raga mengeras, urat-uratnya bermunculan ketika mendengar basecamp mereka di jajah oleh anak-anak Aftar.
"Udah siap?" tanya Raga kepada teman-temannya.
"Siap!"
"Pagarnya tinggi, ini kira-kira empat meter. Hati-hati. Biasanya jam segini anak-anak Aftar lagi pada nyantai. Gue harap kalian bertugas sesuai sama rencana kita. Inget, gak ada bunuh saling bunuh." ucap Dhirga.
GREK
"Siapa itu?!"
"SERANGG!"
...๐ธ๐ธ๐ธ...
"Kok perasaan gue gak enak ya." cicit Meisya seraya terus menggigiti kuku jarinya walau sebenarnya tidak tergigit.
"Lo tenang aja, pasti mereka baik-baik aja." ucap Liona
seraya mengusap punggung Meisya.
"Iya kak, Ma-makasih." ujar Meisya.
"Btw, kalian sekolah ambil apa?" tanya Liona kepada Meisya, Affa, juga Karlina. Ya, Raga menyuruh Affa dan Karlina menginap lagi hari ini dirumah Meisya, Raga tahu, Marsyel licik.
Dulu, Marsyel pernah menyukai Meisya. Percayalah, Marsyel adalah orang yang baik dahulu. Ia memimpin Aftar dan mendidik Aftar dengan baik, tidak mengajarkan menaruh dendam. Tetapi, Raga selalu menang atas apa yang ingin dimiliki olehnya. Dari situ, Marsyel menjadi orang yang pendendam.
"Kita semua IPA kak, satu kelas. Kalau kakak, ambil jurusan apa kuliah?" tanya Meisya kepada Liona.
"Gue jurusan psikologi. Gue diajak kesini sama Dhirga untuk jaga kalian, jadi gue mohon, apapun yang diperintahkan sama Dhirga ataupun Raga, kalian nurut aja. Demi kalian juga," ucap Liona.
"Kak Liona rencanain ini dari lama? Maksudnya mau membantu kak Dhirga?" tanya Affa.
Liona mengangguk seraya tersenyum.
"Kakak baik banget.. Padahal kita gak saling kenal dan gak saling tau.." balas Affa.
Liona tersenyum hangat, "Gue menjalani hubungan bukan sekedar menjalani aja. Tetapi, gue mencoba untuk saling mengerti, membantu, juga memahami. Kita udah sama-sama dewasa, gak perlu lagi bangun hubungan yang cuma-cuma, berantem cuma gara-gara masalah sepele." ujar Liona.
"Waah. Dewasa banget pemikiran kakak," salut Karlina.
__ADS_1
Ya, mereka bertiga sudah terbuai obrolan dengan Liona. Liona tersenyum lega, setidaknya mereka bertiga tak lagi memikirkan pasangan masing-masing yang tengah perang malam ini.
"Lo semua juga pasti ada pemikiran dewasa. Cuma, kan semua orang beda-beda. Cara berpikiran orang pun beda-beda." kata Liona.
"Kak.. Apa aku boleh nanya sesuatu sama kakak?" tanya Meisya pada Liona.
Liona tersenyum, "Nanya aja, Sya."
"Aku kan udah ngejalin hubungan lama sama Raga. Tapi, selama sekolah aja Raga prioritasin aku full. Sisanya ke sahabatnya, Paula." ucap Meisya.
"Ah ya, gue tau dia dari Dhirga. Lanjut." kata Liona.
"Semakin kesini, Raga semakin menomorduakan aku. Alasan dia selalu untuk Paula itu karena dulu Paula pernah dilecehin, disekap dan sebagainya yang katanya pelakunya kak Viga."
"Aku selalu ditinggalin sendiri dimanapun aku lagi sama Raga, karena Paula. Aku pernah diingkari janjinya sama Raga, karena Paula. Aku pernah ngalah waktu, karena Paula. Aku pernah dituduh, karena Paula. Aku pernah dibentak, karena ulah Paula." ujar Meisya menjelaskan.
"Ya emang, kalau aku larang jatuhnya aku egois. Tapi, apa salah kalau aku minta hak aku sebagai pacarnya? Iya tau kak, cuma pacar. Tapi seenggaknya kami menjalin hubungan."
"Apa yang harus aku lakuin kak disaat kayak gini? Aku emang harus selalu mengerti Raga, atau lebih baik mundur?" tanya Meisya kepada Liona.
"Ya oke, ini masalah lo cukup rumit ya Sya. Posisi lo berat bahkan kalau diambil logikanya pun salah satu solusinya lo emang harus mundur. Karena biar gimanapun, Paula sahabatnya Raga. Dan kita gak bisa mengubah status itu dengan sengaja maupun gak sengaja."
"Lo ikuti alurnya. Lo ikuti dulu maunya Raga. Lo percaya sama dia. Gampangnya gini deh, kalo lo mau lanjut dan lo pikir masih kuat diginiin, lo harus terima resikonya. Kalo emang lo gak tahan sama posisi kayak gini, lo mundur. Itu lebih baik. Oke gak harus asing, lo jadi temannya pun gak apa."
"Makasih kak. Setidaknya, aku lega berbagi cerita sama
kak Liona." kata Meisya seraya tersenyum.
"Kalian itu lagi masa-masanya punya pikiran yang labil. Mau ambil tindakan, tapi antara ragu sama penasaran. Jadi, misal nanti kalian ambil keputusan, apalagi nih, Meisya, misalnya nanti lo udah bener-bener capek sama Raga, jangan gegabah." kata Liona.
"Makasih banyak kak," Meisya hanya dapat mengatakan itu kepada Liona. Meisya tersenyum kecut, ternyata menjadi dewasa itu tidak mengingat umur.
"Kalo lo, ada masalah sama Iqbal?" tanya Liona kepada Affa.
"Kok kakak tau aku lagi deket sama Iqbal?โ tanya Affa penasaran.
Liona terkekeh, "Ya anggap aja gue cenayang. Ada gak?"
Affa menggeleng, "Gak ada si. Selama ini baik-baik aja. Gak tau dibelakang," ujar Affa seraya terkekeh.
"Keliatan kok, Iqbal anaknya setia dan bisa jaga komitmen." ucap Liona seraya tersenyum.
"Ah ya, gue lupa!" pekik Meisya seraya menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Apa?" tanya Karlina.
"Kak Liona kan anak psikologi, pantes.."
"AH YA! KITA LUPA!" seru Affa dan Karlina bersamaan. Liona hanya terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Ternyata ketiga gadis ini seru juga menurutnya.
...๐ธ๐ธ๐ธ...
"Gue gak mau Ger!"
"Pau, lo harus makan, kalo gak lo bisa sakit.."
"Gue bilang gak ya gak! Gue maunya sama Raga, bukan lo, Geri!" bentak Paula kepada Geri.
"Lo gak usah munafik, lo sebenernya udah jijik kan sama gue? gue penyakitan Ger! Lebih baik lo pergi, gue gak mau lo disini!" usir Paula tajam.
"Oke gue akan pergi setelah lo makan." tegas Geri.
"Pergi, Ger! Pergi!" Paula menangis. Geri segera membawa gadis itu kepelukannya. Paula yang tadinya memukul-mukul dada Geri dengan kencang, kini kian mengendur pelukannya. Gadis itu masih saja menangis, Geri mengusap kepala Paula dengan sayang.
"Pergi... Ger..." lirih gadis itu.
"Gue gak akan ninggalin lo, Pau." tegas Geri kepada Paula.
"Gue penyakitan Ger! Jantung gue udah gak berfungsi lagi Ger.. Pergi.. Gue tau lo jijik sama gue.." gumam Paula dengan nada yang sangat lirih.
"Gak Pau, gak! Gue gak akan pergi, gue akan disini nemenin lo sampe Raga datang." ucap Geri.
"Gue mau keluar kamar, gue mau cari Raga!" sentak Paula seraya memberontak.
Geri memeluk tubuh gadis itu dari belakang, menahan tubuh Paula yang semakin liar memberontak. Dini dan Feri hanya meringis melihat itu, Paula tersiksa, gadis itu tersiksa karena penyakitnya.
"Nak.."
"Mah.. Paula mau nyari Raga.. Please izinin Paula..."
โSayang, kamu lagi sakit, Raga pun lagi sibuk nak..โ ujar Feri kepada Paula.
"Sibuk? Pasti sama Meisya kan?!" sentak Paula. "Dia itu penghancur hubungan Paula sama Raga!"
"Paula mau buat perhitungan sama Meisya sekarang!" tenaga Paula menjadi sangat kuat, gadis itu berhasil meloloskan diri dari Geri juga kedua orang tuanya. Geri segera mengejar Paula, takut gadis itu berbuat macam macam pada meisya
BERSAMBUNG....
__ADS_1