RAGA

RAGA
Part 4


__ADS_3

"Rara,ini mau diletak dimana?"


"Bagusan yang ini atau yang itu Ra?"


"Ra sini bentar deh"


"Ra.."


"Rara.."


Orang yang dipanggil pun tak henti hilir mudik dari sudut ruangan yang satu ke sudut yang lainnya.Nampak suasana yang sangat ramai di seluruh bagian sekolah. Semua sibuk dengan tugasnya masing-masing tak terkecuali Indira yang memang meng-handle acara. Indira mondar-mandir sedaritadi karena banyaknya siswa yang meminta bantuan atau pun sekedar saran.


"Ra diem di tempat!" perintah seorang siswa yang sedaritadi memperhatikan kegiatan mondar-mandir Indira dari tempatnya berdiri.


"Ha? Kenapa Dir?" tanya Indira seraya melangkahkan kakinya mendekati objek yang menyuruhnya diam tadi.


Dirga tak menjawab. Tangannya fokus merapihkan anak rambut Indira yang lepas dari ikatannya karena Indira terlalu banyak bergerak sedaritadi.


Hal itu tak luput dari perhatian para siswa dan siswi yang berada di ruangan tersebut. Ada sebagian yang berdecak iri karena melihat kedekatan Indira dan Dirga,ada pula yang usil menjahili mereka dengan suara-suara menggoda.


"Romantis banget pangeran kita uwuu.." teriak salah seorang siswa.


"Aduh yang beginian disebut sahabatan? Sayang banget dong" sahut yang lainnya.


"Mau juga dong dirapihin" ucap yang lainnya lagi. Begitu terus sampai suasana aula menjadi ramai.


"Diam,lanjutkan saja pekerjaan kalian" seru Dirga dingin yang otomatis mampu membungkam suara-suara ramai sebelumnya.


"Dirga gak boleh gitu" seru Indira.


"Duduk disini dan jangan bergerak"


"Loh gak bisa gitu dong! Ini waktunya udah mepet banget tau gak?" protes Indira tak habis pikir dengan kelakuan Dirga mengingat acara pesta ulang tahun sekolah akan diadakan besok hari dan Dirga malah menyuruhnya untuk berdiam diri.


"Kenapa gak bisa?"


"Ya karena persiapan kita belum mateng dan acaranya tuh tinggal besok"


"Yaudah" jawab Dirga kalem.


"Yaudah apa?" Indira membeo.


"Yaudah-diem-disini" ucap Dirga final dengan penekanan disetiap suku katanya.

__ADS_1


"Tap-" ucapan Indira terpotong saat mendapati tatapan horor dari Dirga dan Indira tak punya nyali untuk melawan saat tatapan tajam Dirga mengultimatum dirinya.


Dirga menjauh dari tempat Indira duduk dan melanjutkan tugasnya mendekor ruangan. Dari tempat duduknya Indira memperhatikan Dirga yang tengah serius memasang sebuah bingkai foto besar di tengah aula,tanpa sadar Indira menaikkan sudut bibirnya membentuk senyum tipis.


"Ekhem.." tegur suara lain yang menyadarkan Indira dari dunianya.


"Gausah diliatin terus kali" goda orang itu sambil terkikik geli.


"Ihh Nisa apaan sih" keluh Indira.


"Ganteng ya?" tanya Nisa lagi.


"Siapa?"


"Itu" tunjuk Nisa pada arah dimana Dirga sedang sibuk mengerjakan sesuatu bersama siswa lainnya.


"Dirga ganteng? Minus kamu nambah ya?" tanya Indira sambil tertawa tak lupa dia juga melihat kacamata yang dipakai Nisa.


"Seriusan Rara. Hati-hati loh zaman sekarang tuh gak ada yang namanya hubungan antara cowok dan cewek sebatas sahabatan" sahut Nisa.


"Dih apaan,buktinya aku bisa tuh" cuek Indira sambil bangkit dari duduknya karena ada yang meminta bantuannya.


"Ngeyel sih" kesal Nisa karena respon cuek Indira kembali muncul kepermukaan.


Indira masih duduk termangu di tengah aula outdoor dimana tempat itu sudah di hias sedemikian rupa dengan pentas besar berada di tengahnya tempat para artis yang diundang menampilkan kemampuan mereka.


Seseorang yang berdiri tak jauh dari tempat Indira sedaritadi tidak melepaskan tatapannya dari Indira. Tatapannya sendu seakan menyiratkan rasa belas kasih sekaligus kekhawatiran pada objek yang dilihatnya.


"Ra pulang yuk" suara Dirga mengalihkan perhatian Indira yang sedaritadi sibuk melamun sekaligus menghilangkan sosok yang mengamati Indira sedaritadi.


"Udahan?" tanya Indira yang dijawab anggukan kepala oleh Dirga pasalnya tadi Dirga memintanya untuk menunggu karena powerbank milik Dirga tertinggal di aula indoor.


"Berat gak?" tanya Dirga sambil mengambil alih tas yang dijinjing oleh Indira.


"Lumayan sih,baik banget sih" goda Indira seraya menarik pipi Dirga yang membuat si empunya meringis tidak suka. "Sahabat siapa sih ini?"


"Vania" jawab Dirga meninggalkan Indira dengan sejuta tanya.


"Vania siapa? Pacar baru kamu? Kok gak bilang sih?" serbu Indira yang hanya dibalas senyuman singkat oleh Dirga."Ihh Dirga narsis!" ketus Indira.


"Masuk,mau gelap ini" sahut Dirga membiarkan pertanyaan Indira mengambang tanpa jawaban.


Indira mengikuti ucapan Dirga dengan perasaan dongkol ia masuk kedalam mobil. Di sepanjang perjalanan tak ada yang membuka suara,Indira yang masih dongkol memilih tetap mengunci mulutnya sedangkan Dirga yang memang pada dasarnya irit bicara membiarkan saja tanpa ingin memulai percakapan lebih dulu.

__ADS_1


"Gak mau turun?" tegur Dirga begitu sampai di depan rumah Indira.


Indira hanya diam saja tak bergeming dari tempatnya. Dirga juga diam bingung harus melakukan apa,dia mengacak rambut frustasi menghadapi Indira yang mendiamkannya sedaritadi.


"Ra beneran deh,bagusan kamu tuh marah-marah daripada diem terus gini" keluh Dirga frustasi.


Masih tidak ada jawaban. Dirga pun diam kembali.


"Ra udah hampir dua jam ini loh" keluh Dirga lagi saat kesabarannya sudah berada di batas terakhir. Tapi Indira tetap diam.


"Oke fine!" pasrah Dirga."Vania itu nama iguana milik kak Tari" ucap Dirga frustasi.


"Ha?" Indira membeo dengan tatapan menyelidik masih tidak habis pikir dengan ucapan Dirga.


"Iya aku gak bohong Ra" ucap Dirga menunjukkan keseriusan dirinya.


Tanpa kata atau kalimat selamat malam,Indira keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Dirga yang menatap kepergiannya nanar.


"Huftt..." Dirga menghela nafas frustasi sebelum menjalankan mobilnya kembali menuju ke arah rumahnya yang berjarak dua rumah dari rumah Indira.


"Bodoh banget" ucap Dirga menutup pintu mobilnya kasar.


Sesampainya di dalam rumah Dirga melihat kakaknya,Tari sedang sibuk mengurus peliharaannya.


"Baru pulang dek?" tegur Tari.


"Hmm"


"Kenapa tuh muka kusut banget kek kanebo kering?" tanya Tari lagi. Memang berbeda sifat Tari lebih hangat di banding Dirga.


"Ini semua tuh gara-gara si Vania" ucap Dirga berapi-api menunjuk iguana yang berada di tangan kakaknya itu.


"Lah kok salah Vania sih? Dia daritadi diem aja loh dek,lagian kapan kamu ketemu sama Vania kan dia baru kakak bawa pulang tadi sore?" seru Tari heran melihat tingkah adik sepupunya yang menyalahkan iguana peliharaannya.


"Bodoamat dah" ketus Dirga sebelum pergi meninggalkan Tari yang masih heran melihat adiknya. Pasalnya saat dia datang tadi sore dengan iguana miliknya itu rumah dalam keadaan kosong karena Dirga belum pulang dari sekolahnya sedangkan kedua orang tua Dirga sedang ada acara di luar kota.


Tari memang merupakan kakak Dirga tapi kakak sepupu bukan kandung karena kakak kandung Dirga sudah tenang di surga.


"Apa iya adek gue stres karena tekanan belajar?" Tari bermonolog sambil berusaha menidurkan iguana dalam gendongannya. "Kalau iya,gue harus bawa dia ke psikiater besok!" putus Tari pada akhirnya.


_________________________________


Nah loh,itu Dirga mau dibawa ke psikiater sama kakaknya. Gimana ya jadinya? Penasaran gak sih? Kasih jejak ya sayangku :)

__ADS_1


__ADS_2