
Pagi ini masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya,tak ada yang berubah hanya waktu yang membawanya berjalan terlalu cepat.Kini aku sedang duduk di sebuah meja makan di sebuah rumah yang sudah sangat ku hafal setiap inci sudutnya.
"Lagi-lagi harus menunggu" keluhku sambil memainkan ponsel pintar dalam genggamanku.
Kepalaku refleks bergerak melihat ke arah tangga dimana seorang tuan putri dari rumah ini berjalan menuruni tangga dengan tergesa-gesa sambil memasangkan sebuah pin di seragam sekolahnya.
"Sudah lama?" tanyanya begitu sampai di hadapanku.
Aku tak memberikan respon apapun selain ekspresi datar andalanku.Bukan aku tak ingin memberikan respon pada gadis yang sudah sejak kecil menjadi sahabatku ini,tapi memang beginilah aku.Aku hanya akan menjawab apabila pertanyaan yang diajukan sangat penting dan aku akan bertanya jika benar-benar perlu.
Ku lihat dia hanya terdiam menatap piring sarapan paginya yang belum tersentuh sedikit pun.
"Jangan ngelamun,kesiangan" tegasku sebelum bangkit dan membiarkan gadis bernama Indira itu sibuk menghabiskan segelas susu coklatnya.
Hari ini aku sengaja membawa mobil karena ada jadwal latihan basket yang mau tidak mau aku harus pulang larut hari ini.Dan karena Indira selalu ikut denganku,aku selalu membawa mobil ketika pulang agak terlambat agar Indira bisa beristirahat di dalam mobil sambil menungguku selesai latihan.
"Kenapa senyum?" tegurku saat melihat Indira terus tersenyum sedari tadi.
"Emang gak boleh? Senyum kan ibadah" sahutnya tanpa pikir panjang.
"Gila"
__ADS_1
"Kamu bilang aku gila?" tanyanya membeo.
"Bukan,lihat!" aku mengarahkan kedua mataku ke arah trotoar agar Indira mengerti apa yang ku maksud.
"Hahahaha... gila banget tuh cewek bedua. Mending yang di rebutin ganteng lah ini apaan hahahaha..." tawanya lepas begitu saja dan hal itu membuat jantungku bekerja sedikit lebih cepat seperkian detik.
Sesampainya di sekolah aku memarkirkan mobilku dan disitu Indira masih terus berusaha mengendalikan tawanya yang belum juga reda.Ku putuskan untuk meninggalkannya terlebih dahulu.
"Jangan lupa bahagia,sayang" ucapku sambil menepuk-nepuk kecil kepalanya sebelum pergi meninggalkannya di dalam mobil.
1...
2....
"DIRRRGAAAAAAA!" sesuai dugaanku Indira akan berteriak nyaring sampai semua makhluk yang ada di sekitar parkiran menatap ke arah mobilku aneh.
Tanpa ku sadari kedua sudut bibirku tertarik ke atas membentuk sebuah lengkung kecil yang sangat jarang ku tampilkan.
Indira Alfiyana,dia sosok gadis yang sangat manja menurutku tapi dia hanya akan menunjukkan sisi manjanya ketika berada dalam lingkup orang-orang terdekatnya seperti aku dan kedua orangtuanya.Maklum saja dia adalah anak tunggal yang selalu ditinggal dalam waktu yang lama oleh kedua orangtuanya.Indira akan berubah menjadi gadis yang tegas dan berwibawa tinggi saat berada dalam balutan jas OSIS SMA RAJAWALI,iya dia adalah ketua Osis sekolah kami.
Kalau aku sendiri,hidupku tak semenarik yang kalian kira.Hidupku terlalu datar untuk diceritakan.Aku lahir dengan menyandang nama Pramodya di belakang namaku,otomatis memberiku sedikit tekanan karena bisnis penerbangan Pramodya's Air sudah cukup dikenal dikalangan para sultan se asia.Aku memiliki seorang kakak perempuan yang sekarang tinggal terpisah dengan kami,iya dia tinggal di alamnya dan kami tinggal di alam kami.Kakakku bernama Intan Pramodya,dia seorang aktivis muda semasa hidupnya namun naas sebuah tragedi di masalalu merenggut nyawanya sehingga membuatnya harus tinggal terpisah dengan kami.
__ADS_1
"Dirga!" panggil seseorang yang hanya berjarak sepuluh meter di depanku.
"Dirga,aku mau ngomong sebentar sama kamu"
Tanpa perlu menjawab aku langsung membawa langkah kakiku menuju taman belakang,karena aku tau pasti apa yang akan di bicarakan oleh orang yang berjalan mengikutiku ini.
"Dir,kamu tau kan kalo aku suka sama kamu?" tanyanya to the point.
Aku hanya menaikkan kedua alisku menatapnya tajam.
"Aku suka sama kamu sejak pertama kali kita ketemu di toko buku waktu itu dan itu sudah berlalu sejak dua tahun yang lalu.Bisakah kamu ngehargai perasaanku sedikit saja?"
"Maaf!" ucapku seraya bangkit ingin segera pergi dari tempat itu.
"Apa ini semua gara-gara si cewek bossy itu?Apa karena Indira kamu ngabaikan perasaanku?Kamu tau di luar sana banyak cowok yang memintaku menjadi pacarnya tapi aku menolak mereka hanya demi kamu Dirga!"
serunya menggebu-gebu sampai nafasnya pun tak teratur.
Aku kembali berjalan mendekatinya,sangat dekat sampai aku bisa mendengar suara degup jantung perempuan dihadapanku ini.
Ku tatap dalam kedua matanya yang terlihat sangat kesal.
__ADS_1
"Jangan sangkut pautkan orang lain dalam masalahmu,terima saja para cowok itu toh aku gak minta kamu untuk mengejarku kan?" ucapku pelan nyaris tanpa emosi sedikitpun yang tersirat dalam ucapanku.
"Kamu menyukai seseorang bukan berarti orang itu harus bertanggung jawab untuk membalas perasaanmu,Gea" jelasku lagi sebelum pergi menuju kelasku.