
"Ra...Indira!" suara panik Dirga memenuhi ruangan yang di dominasi warna putih itu.
"Dia kenapa Dir?" tanya seorang wanita paruh baya yang mengenakan jas putih layaknya seorang dokter.
"Gatau tan" ucap Dirga frustasi.
Dirga hanya mampu menatap cemas saat dokter memeriksa keadaan Indira. Dirga terus-menerus mengacak rambutnya frustasi dan tak berhenti berjalan mondar-mandir di depan brankar tempat Indira berbaring.
"Seharusnya kamu keluar kalau kamu terus-terusan mondar-mandir gitu,tante gak bisa konsentrasi meriksa Indira!" tegas dokter yang diketahui sebagai tante dari Dirga.
"Enggak!" jawab Dirga tegas dan langsung menghentikan gerakan absurd-nya.
"Coba ceritain sama tante gimana kronologinya kenapa Indira bisa pingsan gini" perintah dokter tersebut setelah selesai memeriksa keadaan Indira.
"Aku juga gak tau tan!" Dirga menghela nafas frustasi.
"Tadi aku bawa Indira ke rooftop terus pas Indira jalan ke pinggir rooftop tiba-tiba aja Indira pingsan,aku gak tau kenapa tiba-tiba Indira pingsan. Yang aku ingat raut wajah Indira yang seperti sedang ada dalam masalah,tertekan gitu" Dirga terus-terusan menghela nafas frustasi sambil menceritakan kronologi kejadiannya sampai Indira pingsan.
"Apa Indira gak ada cerita kalau dia lagi ada masalah?"
"Enggak Tan"
"Bukannya kalian deket banget ya?"
"Hmm"
"Oke. Kalau gitu kita tunggu sampai Indira sadar,setelah itu tante baru bisa kasih diagnosisnya. Tante mau ke ruangan dokter psikiater dulu" ucap dokter itu sebelum pergi meninggalkan Dirga.
Dirga sempat tercengang sepersekian detik saat tantenya menyebutkan dokter psikiater.
"Ngapain tante Rina ke ruangan dokter psikiater?" gumam Dirga bermonolog.
"Eunghh" suara lenguhan seseorang membuat Dirga langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Indira yang kini sudah membuka matanya.
"Ra kamu udah sadar?" tanya Dirga khawatir.
"Aku dimana Dir?"
Dirga tak menjawab,yang dia lakukan hanya menatap wajah Indira penuh rasa lega dan kekhawatiran yang masih kentara di wajah Dirga.
"Kamu kenapa liatin aku gitu?" tanya Indira bingung melihat sikap Dirga.
"Jangan gitu lagi,aku khawatir" jawab Dirga sambil menarik Indira masuk ke dalam rengkuhannya.
"Rara,kamu kenapa sayang?" ucap seorang wanita paruh baya yang baru saja nyelonong masuk dengan langkah tergesa mendekati Indira.
"Kamu gapapa kan sayang?" tanya wanita itu lagi.
"Enggak kok Bun" ucap Indira sambil memberikan senyum cerianya kembali.
"Bunda kok ada disini?" tanya Dirga yang merasa heran kenapa tiba-tiba Bundanya bisa ada di rumah sakit.
"Diam kamu! Kenapa kamu gak hubungi Bunda kalau Indira masuk rumah sakit?" tanya wanita itu garang.
"Sebenarnya yang anak Bunda itu aku atau Indira sih?" bukannya menjawab Dirga malah kembali bertanya pada Bundanya dengan nada merajuk.
__ADS_1
Dirga memang sosok yang hangat ketika berada di sekitar orang-orang yang di sayanginya dan dia akan berubah menjadi sangat dingin saat berada di lingkup umum.
"Kalian berdua itu anak Bunda,makanya Bunda khawatir banget saat Pak Yaji ngabarin Bunda tadi" seru Bunda penuh kasih.
Ah iya! Dirga lupa kalau tadi dia bersama Pak Yaji ketika membawa Indira ke rumah sakit. Memang tadi Dirga terlalu kalut ketika Indira tiba-tiba saja pingsan sehingga Dirga menghubungi Pak Yaji untuk menjemputnya.
"Permisi" seru seorang perawat yang masuk ke dalam ruang rawat Indira.
"Apakah anda keluarga dari pasien bernama Indira Alfiyana?" tanya suster itu menghampiri Bunda.
"Ah iya,ada apa ya sus?"
"Bisa tolong ikut saya ke ruang dokter sekarang?"
"Baiklah"
Bunda mengikuti kepergian suster tersebut meninggalkan Indira dan Dirga berdua di ruangan dengan bau obat yang menyengat itu.
"Sebenarnya aku kenapa Dir?" tanya Indira pada Dirga yang masih mengelus kepala Indira penuh kasih.
"Gapapa"
"Dirga! Aku serius" rajuk Indira karena Dirga hanya menanggapinya singkat seperti biasanya.
"Mau banget di seriusin?"
"Maulah!" spontan Indira menutup mulutnya ketika sadar bahwa pertanyaan Dirga adalah jebakan batman.
"Nanti ya kalo kita udah tamat kuliah,aku bakal seriusin kamu kok sayang" goda Dirga sambil mengerlingkan matanya jahil.
Selalu saja percakapan antara Dirga dan Indira akan berakhir dengan Indira yang akan menelan kekesalan karena Dirga tidak pernah serius dalam menanggapi ucapannya.
"Itu kenapa bibir di monyong-monyongin kek ikan **?" tanya Dirga
"Urus aja tuh rakyat kamu di kutub utara,gausah ngomong sama aku lagi" ketus Indira
"Dih,yaudah aku pergi" ucap Dirga sebelum melangkah pergi menjauhi tempat tidur Indira.
"Ishh kan ngeselin!" teriak Indira.
"Siapa?" tanya Dirga membalikkan badannya.
"Kamulah!"
"Oh"
Jawaban singkat Dirga semakin membuat Indira kesal setengah mati sehingga Indira melemparkan bantal dengan penuh rasa kesal ke arah Dirga. Untungnya Dirga dengan sigap menangkap bantal itu.
"Kamu ngelempar bantal gini biar apa?" tanya Dirga kalem sambil berjalan kembali mendekati Indira.
Indira hanya diam tak ingin menjawab pertanyaan absurd Dirga yang menurutnya sangat menjengkelkan.
"Oh atau kamu kode ya?"
"Kode apaan lagi sih Samsudin!" kesal Indira
__ADS_1
"Kode biar aku temenin kamu tidur disini makanya kamu kasih bantal ke aku,gitu kan?" tanya Dirga narsis.
"DIIRGAAAA KAMPRET!" teriak Indira sambil menarik rambut Dirga kesal.
"Hahahaha...aduh..duh..rambutku Ra" Dirga masih tertawa walaupun rambutnya sudah hampir lepas dari tempatnya karena jambakan maut Indira.
Di lain tempat,seorang dokter nampak dengan serius menjelaskan sesuatu pada seorang wanita paruh baya yang juga tak kalah serius mendengarkan setiap kata dari sang dokter.
"Jadi Indira mengidap Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) ?" tanya wanita paruh baya itu dengan nada khawatir yang sangat kentara.
"Bisa dibilang kalau PTSD yang di derita Indira masih tahap awal dan jika dibiarkan terus menerus maka Indira akan mengalami hal yang lebih parah dari sekedar pingsan" jelas dokter tersebut.
"Apakah Indira akan selalu pingsan ketika mengalami episode?"
"Tidak juga,hanya saja dia terlalu tertekan sehingga ketika episodenya muncul Indira pingsan seperti tadi"
"Bisakah Indira di sembuhkan Rin?" tanya Bunda Dirga yang menatap penuh harap pada dokter di hadapannya yang tak lain adalah adiknya sendiri.
"Bisa saja kak,tapi Indira harus meminum obat dan rutin konsul ke psikiater. Aku punya teman yang cukup ahli di bidang psikiater jadi mungkin aku bisa menghubunginya untuk menangani kasus Indira" jelas dokter Rina.
"Tapi bagaimana bisa Indira mengalami hal semacam itu? Dia tidak pernah menampakan gejala depresi atau semacamnya" ujar Bunda Dirga.
"Aku juga kurang paham tentang itu kak,jujur saja ini bukan bidang keahlianku tapi aku akan konsultasikan hal ini bersama dokter kejiwaan dan akan aku kabari lebih lanjutnya padamu" ujar dokter Rina menenangkan kakaknya.
"Baiklah,lakukan yang terbaik untuknya Rin"
"Aku akan usahakan kak. Oh iya,jangan beritahukan hal ini pada Indira....Aku takut dia akan semakin tertekan mengetahui hal ini" pinta dokter Rina.
"Oke,kalau begitu aku pamit. Terimakasih Rin,kabari aku jika ada info terbaru"
"Akan ku lakukan,tapi mengapa kamu yang ada disini kemana orang tua Indira?" tanya dokter Rina sambil mengantarkan Bunda Dirga keluar dari ruangannya.
"Kedua orangtuanya sangat sibuk dan jarang berada di rumah" jelas Bunda.
"Mungkin itu juga yang menjadi alasan Indira merasa tertekan" pendapat dokter Rina yang di angguki setuju oleh Bunda Dirga.
Di ruang rawat Indira dan Dirga masih sama-sama bungkam setelah kejadian pertengkaran yang membuat Indira kesal dengan Dirga.
Indira hanya melamun sedari tadi memikirkan mengapa dirinya bisa ada di rumah sakit. Seingatnya dia tadi berada di rooftop dan tiba-tiba dia terjatuh dari atas rooftop dengan suara Dirga di belakangnya.
"Dir" panggil Indira.
"Hmm" Dirga yang masih fokus dengan game-nya hanya memberikan tanggapan singkat.
"Tadi kamu dorong aku ya pas di rofftop?"
"Enggak"
"Tapi tadi aku inget banget kalo kamu itu dorong aku" kekeh Indira.
"Halusinasi kamu itu" ujar Dirga yang kini menatap Indira.
"Tapi nyata banget itu loh"
"Halu" sahut Dirga sebelum kembali tenggelam dalam mobile game-nya.
__ADS_1
"Apa aku gila ya?" tanya Indira dalam hati sebelum Bunda Dirga masuk dan mengajak Indira pulang karena kondisinya sudah membaik.