RAGA

RAGA
Raga | 12


__ADS_3

Happy holiday, yeay!


Sore ini sangatlah cerah, angin berhembus dengan tenang. Kamar Meisya yang harum bunga lavender ini membuat kesan ketenangan didalamnya. Gadis cantik berambut cokelat itu kini tengah berkutat pada laptop berlogo buah apel digigit itu.


Meisya tengah membuat PPT bahan presentasi untuk besok, sepulang sekolah tadi, gadis itu langsung mengerjakan semua tugasnya karena ini sudah terlalu banyak dan dirinya pun sudah kelelahan.


Wanita paruh baya yakni usianya sudah berkepala lima ini menghampiri sang cucu, dielusnya kepala Meisya lalu bertanya, "Kamu fokus ngerjain tugas gini apa udah makan?" tanya Wina.


"Udah kok nek,"


"Yaudah sambung nanti aja, ada tamu tuh dibawah." ujar Wina. Meisya mengernyitkan dahinya, "Siapa nek? Raga?"


Wina menggidikkan bahunya, "Nenek juga gak tau, baru lihat juga. Mungkin teman smp kamu," kata Wina.


"Meisya kebawah ya nek,"


Meisya pun dengan perlahan menuruni anak tangganya , ia menuju pintu depan dan membuka pintu rumahnya.


"Loh, kak Viga?"


“hai”


"Emm, ada apa ya kak? tumben kesini," ucap Meisya.


"Kenapa? ganggu ya Sya?" tanya Viga kepada Meisya.


Meisya tersenyum kikuk, "Sebenernya sih iya, soalnya gue lagi ngerjain PPT kak, tapi emang ada urusan apa?"


"Gini, gue kan sekarang tinggal di apartement, nah gue ngerasa gue gitu-gitu aja. Bosen. Hmm niatnya sih mau ngajak lo pergi ke panti asuhan, lihat anak-anak disana." ucap Viga.


"Ah? kapan kak?"


"Sekarang, bisa? sebelum jam 9 gue udah anter lo balik lagi kerumah."


"Gue izin nenek dulu," ucap Meisya. Viga pun tersenyum.


Meisya pun izin kepada Wina, setelah mendapat izin, Meisya keluar dengan slinbagnya serta ponselnya.


"Ayo, kok malah main handphone," ujar Viga.


"Gue mau ngabarin Raga dul-"


"Gak usah." potong Viga cepat.


"Kenapa kak?"


"Ya gak usah aja. Dia kayaknya lagi dirumah Paula deh," ucap Viga.


Meisya mengangguk, "Ah ya-yaudah. Ayo kak,"


Sesampainya disebuah panti asuhan, Meisya dan Viga pun turun dari mobil. Kedatangan mereka disambut oleh para warga panti.


"Ih siapa tuh?"


"Cantik banget! Itu pacarnya? tapi kok kayaknya umurnya beda jauh ya,"


"Kakaknya cantik banget!"

__ADS_1


"Mau minta ignya ah hihihi.."


Meisya berjalan menuju panti tersebut, ia tersenyum ramah kepada anak-anak panti yang tengah menyapu halaman tersebut. Sekiranya usia mereka belasan tahun.


"Hai, ibu pantinya ada?" tanya Meisya kepada anak-anak yang ada disana.


"Hai kakak cantik, ada kok didalam. Diruangannya. Ayo kakak cantik aku antar."


Meisya tersenyum, "Namaku Meisya,"


"Ah ya kak Meisya, ayo masuk," ucap gadis kecil itu. Lalu ia mengarahkan jalan kearah ruangan ibu panti.


"Makasih ya," ujar Meisya.


Gadis itu tersenyum, "Sama-sama kak,"


Meisya dan Viga pun memasuki ruangan tersebut. Dan benar, Meisya melihat ada ibu panti disana. Lalu mereka berdua pun masuk.


"Permisi, ibu.."


"Eh iya, ada apa nak?"


"Bu saya sama teman saya mau izin lihat-lihat anak panti, boleh?" tanya Meisya kepada ibu panti.


"Boleh," jawab ibu panti seraya tersenyum. "Mari ibu antar."


Disana, banyak sekali anak-anak kecil yang tengah bermain. Ada juga ruangan dimana khusus bayi, Meisya tersenyum, setidaknya ia masih beruntung sempat bisa melihat wajah kedua orang tuanya, walau tidak selamanya. Tetapi bayi-bayi ini? bagaimanakah nasib mereka?


"Bagaimana bayi-bayi ini bisa disini bu?" tanya Meisya. Meisya melihat bayi-bayi lucu dari luar ruangan yang dipenuhi kaca. Jadi dirinya bisa melihat jelas.


"Kasihan banget ya Bu, padahal banyak loh pasangan suami istri yang belum dikasih keturunan, sampai-sampai mereka program hamil ratusan juta. Ini udah didepan mata, malah dibuang," ucap Meisya melirih.


Ibu panti hanya tersenyum, "Ya begitulah nak, kadang hidup itu penuh kejutan. Ada hal yang bisa bikin bahagia, tapi karena kebodohan kita tanpa kita sadari hilang. Bayi ini bayi yang sangat lucu-lucu, bahkan saat tumbuh dewasa nanti mereka menjadi anak-anak yang kuat, karena mereka dibesarkan tanpa orang tua mereka. Bayi juga sumber kebahagiaan, tapi dengan bodohnya mereka buang seenak hati mereka." ujar ibu panti. Meisya kembali melirik box bayi yang isinya adalah bayi-bayi lucu.


"Tuh Sya, pelajaran buat lo yang nanti jadi calon ibu. Jangan buang anak, bikinnya gampang, lahirannya susah." celetuk Viga dari belakang Meisya.


Meisya memukul lengan Viga pelan, "Ya gak lah, gila aja gue buang titipan Tuhan."


Setelah puas bermain dengan anak panti, Meisya dan Viga pun pamit kepada ibu panti untuk pulang.


"Jam berapa sekarang?" tanya Viga.


"Setengah sembilan," jawab Meisya.


"Sorry gue nganter lo pulang kayaknya bakal nyampe jam 9 deh, perjalanan dari sini kerumah lo lumayan," ujar Viga.


"Gak apa kok, makasih ya kak udah ngajak gue ke panti." ucap Meisya seraya tersenyum.


"Sama-sama."


"Raga masih selalu bela Paula? dan mentingin Paula daripada lo?" tanya Viga kepada Meisya.


"Ya.. Bisa dibilang gitu sih.." cicit Meisya pelan. "Tapi kan


Paula sahabatnya Raga,"


"Tapi lo juga punya hak Sya," tegas Viga.

__ADS_1


"Iya sih.. Tapi yaudah lah," kata Meisya seraya terkekeh.


"Dulu gue pernah suka sama Paula. Tapi, Paula sukanya sama Raga. Keliatan sih, dari dia gak mau jauh dari Raga aja udah keliatan. Cinta gue bertepuk sebelah tangan dong? Nah gue sempet mau merjuangin Paula sekali lagi, eh malah Paula celaka gara-gara gue."


"Celaka gimana maksudnya? kecelakaan?" tanya Meisya.


Viga mengangguk, "Gara-gara gue lagi emosi waktu itu, gue bawa mobil, dan Paula lagi sama gue." Meisya hanya mengangguk memberi jawaban.


"Oh iya, kenapa sih lo gak satu rumah sama Raga? lo kan abangnya," kata Meisya.


"Ada suatu kesalahan yang buat keluarga gue malu Sya," ucap Viga.


"Apa? Raga cerita sama gue katanya lo pergi dari rumah


karena mau mandiri." ucap Meisya.


"Gue ngelakuin kesalahan fatal. Ya gue tau ini aib, tapi gue percaya sama lo untuk cerita ini semua." ucap Viga seraya menoleh ke arah Meisya.


Meisya masih terdiam, gadis itu masih setia menunggu


cerita Viga.


"Gue hamilin anak orang."


Deg


Meisya menoleh kearah Viga, gadis itu menelan salivanya berkali-kali. Lalu memberanikan diri untuk menatap Viga kembali, "Ha-hamilin?"


Viga mengangguk. "Itupun bukan atas kemauan gue."


Meisya semakin mengernyit, "Maksud kakak?"


"Gue dijebak, pake obat. Ya lo udah dewasa pasti ngerti lah." ucap Viga.


"Terus sekarang gimana kabarnya si cewek itu?" tanya


Meisya.


"Dia mau dinikahin sama orang lain. Tadinya gue udah nawarin diri gue untuk tanggung jawab, tapi kata keluarganya cewek itu si cewek itu mau dijodohin sama cowok, nah si cewek gak mau. Nah pas banget nih kasusnya, karena si cewek gak mau hamil tanpa suami, mau gak mau dia harus nerima perjodohan itu." jelas Viga.


"Lo.. Serem juga ya.." cicit Meisya.


"Kenapa? lo mau juga?"


Meisya melotot, lalu memukul lengan Viga. "Amit-amit gue hamil diluar nikah!" katanya.


"Jangan sampe ya Sya, bahagiain nenek lo dulu, juga kedua orang tua lo. Pasti mereka bangga punya anak yang sukses kaya lo," ujar Viga seraya tersenyum.


"Iya kak, makasih. Udah sampe, gue turun ya. Makasih udah ngajak gue ke panti!" kata Meisya seraya melambaikan tangannya.


"Ah ya Sya, minta nomor ponsel lo, boleh?"


Awalnya sempat ragu, tetapi entah mengapa gadis itu memberikan nomor ponselnya kepada Viga. Setelah mendapatkan nomor Meisya, Viga tersenyum puas. Lalu cowok itu pergi dari pekarangan rumah Meisya.


"Lo emang harus gue didik, Ga." katanya tersenyum puas.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2