
...AYO BANTU LIKE DAN KOMENTAR YAA ...
Hanya bunyi jarum yang terdengar saat ini diruangan rawat gadis cantik berambut cokelat ini. Raga. Cowok itu terus saja menggenggam tangan mungil gadisnya, seolah-olah mengharapkan respon dari gadisnya. Jujur, Raga menyesali perbuatannya sendiri. Ia merasa bodoh. la menyesal tidak menjawab panggilan dari Meisya tadi.
Ini pukul 3 pagi, anak-anak Vhigor setia menemani Raga diruangan rawat Meisya. Gadis itu belum sadar. Untung saja, cidera yang dialami Meisya tidak terlalu parah. Tinggal menunggu gadis itu sadar saja.
"Sya.. Bangun.. Aku mohon.." lirih Raga.
"Gue gak tega liat peri kecil Vhigor dipakein masker oksigen gini," kata Gaga pilu, cowok itu terus saja menatap Meisya yang masih belum sadar itu.
Raga belum mendapat informasi dari Affa dan Karlina apa yang sebenarnya terjadi. Barulah saat ini ia ingin mempertanyakannya kepada kedua sahabat Meisya ini.
Affa dan Karlina sama-sama duduk di kursi roda, karena keduanya masih sangat lemas, belum kuat jika berdiri.
"Jadi gimana Fa, Kar?" tanya Raga lirih kepada Affa juga Karlina.
"Sebelumnya, apa lo ada masalah sama Meisya?" tanya Affa kepada Raga. Raga sempat terdiam, cowok itu menghela nafasnya kasar. "Gue cuekin Meisya seharian ini, gue kesel dia ketemuan sama cowok," kata Raga.
"Hm, ini nih, lo kebiasaan Ga. Lo selalu beransumsi tanpa lo tau apa yang sebenarnya terjadi. Lo gegabah, childish lo." sinis Karlina kepada Raga. Ya, Raga terima perkataan itu. Karena itu memang benar.
Saat Affa ingin menjelaskan, jari jemari Meisya bergerak. Raga sontak menoleh ke arahnya, menunggu gadis itu sadar.
Meisya mulai membuka matanya perlahan, semua orang yang ada disana menunggu gadis itu sadar. Dan akhirnya, mata Meisya terbuka sempurna. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekitar, disana ramai, ia pun melihat ke arah lain. Disana ada Affa dan Karlina yang tersenyum ke arahnya.
"Sya.." panggil Raga.
"Enghh-"
"Jangan dipaksain dulu.."
"Gak apa kok, udah mendingan.." jawab Meisya seraya tersenyum. Gadis itu melepas masker oksigennya, dan Raga pun meletakkan benda itu ditempatnya.
Meisya tersenyum, "Muka-muka kalian penuh sama tanda tanya tentang kronologi gue dan temen-temen gue," ujar Meisya.
"Sya.. Aku minta penjelasan.." ucap Raga.
"Yang?"
"Kamu ketemuan sama cowok di kafe."
"Oh jadi ini yang buat kamu nyuekin aku seharian?" Meisya terkekeh. "Itu bang Alpa." pernyataan Meisya membuat Raga dan yang lainnya terdiam. Terkejut serta syok karena Raga sudah berpikir macam-macam hingga ia mengabaikan Meisya seharian ini.
__ADS_1
"Aku ketemuan sama orang dan gak mau dianter kamu itu sengaja. Aku mau beli kado untuk Paula lewat Tanteku, dia jual product tas ori. Dan aku mesen jam tangan lewat bang Alpa. Untuk apa? hadiah Anniversarry kita yang kedua tahun Ga minggu depan." Meisya tersenyum kecut. "Aku lupa kalo kamu gak tau muka bang Alpa,"
"Tadinya buat kado, eh udah ketahuan deh hehe.." Meisya terkekeh, menghapus air matanya yang mengalir.
Raga dan yang lainnya masih terdiam.
"Seharian kamu cuekin aku. Aku bingung Ga harus apa, sedangkan acara ulang tahun Paula sebentar lagi. Kamu gak bisa jemput aku, akhirnya aku bareng Affa. Dijalan mobil Affa mogok, kita gak sempet cek bensin. Singkat cerita kita bertiga jalan karena takut acaranya udah selesai. Dan dijalan.. Kita dijahatin sama orang yang gak kita kenal." jelas Meisya panjang lebar. Raga dan teman-temannya sangat terkejut, bagaimana tidak? ini semua terjadi karena kesalahpahaman antara Raga dan Meisya.
"Aku minta maaf Sya.. Sumpah aku bener-bener nyesel.."
"Kamu selalu begitu Ga. Ngelakuin kesalahan, minta
maaf, ngulang lagi, terus minta maaf lagi." ucap Meisya.
"Dan kamu bilang nyesel? telat Ga. Udah bonyok gini,"
ujar Meisya seraya terkekeh.
"Ciri-ciri orangnya gimana Sya?" tanya Remi.
"Bahasnya besok aja, sekarang lo semua tidur. Dan dibawah ada karpet, ini udah pagi. Seenggaknya kalian istirahat biar gak ngedrop." kata Meisya. "Tuh ada bantal sofa tiga, nih bantal gue satu, rame-rame ya hehe.."
"Fa, Kar, kan di ranjang lo pada ada bantal dua, satu oper r kesini deh," ujar Meisya. Affa dan Karlina pun mengangguk lalu mengambil bantal mereka.
"Sama-sama, makasih juga kalian mau nemenin gue disini. Udah ih pada tidur." ucap Meisya. Semua pun siap dengan posisinya masing-masing,
bersiap untuk bertempur dengan mimpi. Meisya
tersenyum ketika semua sudah terlelap, begitupun Raga,
cowok itu tertidur disamping brankar Meisya.
"Aku harap gimanapun keadaannya, kamu tetep disini
Ga."
...🌸🌸🌸...
Pagi hari yang cerah, ruangan rawat Meisya masih penuh dengan buaya-buaya darat dibawahnya. Gadis itu terbangun dan terkekeh, beginikah cara tidur anak-anak yang ditakuti oleh warga jalanan?
__ADS_1
Remi memeluk Dandi dari samping, Rama tertidur dengan kaki diatas leher Troy, Troy tertidur dengan tangan yang membentang luas diatas wajah Gaga. Meisya terkekeh, lucunya mereka. Yang kalem hanya Rama, Leon, dan Ratras.
Meisya mengusap rambut Raga, cowok itu duduk di samping brankarnya. Lihatlah, Raga saja tidak terusik saat Meisya mencoba membangunkannya pelan-pelan, sepertinya cowok ini benar-benar kelelahan.
"Ga.. Bangun.." akhirnya Raga pun terbangun.
"Pagi, Caca.." sahut Remi dari bawah.
"Pagi Rem.."
"Mau pada sarapan pake apa kalian?" tanya Meisya kepada anak-anak Vhigor, Affa, dan juga Karlina.
"Apa ya?" pikir Raga.
"Terserah peri Vhigor aja deh," sahut Troy.
"Kalo terserah gue, gue kasih nasi sama garem doang. Gak apa nih?"
"Ya jangan itu juga dong, nanti kita semua jadi dartingan
semua." ujar Leon.
Meisya terkekeh, "Terus mau apa?"
"Bubur aja udeh, bubur yang ada dibawah rumah sakit tuh, enak keknya orang rame mulu." sahut Ratras.
"Biar gue yang beli," kata Raga. "Pada tunggu sini," kata cowok itu.
Raga pun keluar dari kamar rawat Meisya, cowok itu berjalan menuju lobby bawah untuk mencari tukang bubur ayam. Ketika sampai di lobby bawah, alangkah terkejutnya cowok itu melihat Paula ada disana.
Gadis itu tengah melambaikan tangan kepadanya, "RAGA!" seru gadis itu bersemangat.
"Ga, sumpah loh, kado paling mewah itu kado dari Meisya! Gue mau ucapin terima kasih ke dia!" ucap Paula antusias. Gadis itu memekik kegirangan, lalu memeluk Raga dengan erat. “Gila! Pinter banget Meisya milih barang, gue suka!" kata Paula.
"Bagus kalo lo suka." balas Raga.
"Oh iya, Meisyanya mana?" tanya Paula.
"Ada diatas, kamarnya lo udah tau kan?" tanya Raga dan Paula pun mengangguk.
"Gue mau beli bubur ayam, lo mau?"
__ADS_1
"Mau! Gue tunggu di kamar rawat Meisya ya! Bye!"
BERSAMBUNG...