
Malam ini, Affa dan Karlina menginap dirumah Meisya. Mendengar hal itu Wina sangat senang rumahnya ramai.
Kini mereka bertiga merencanakan ingin membeli stok makanan yang banyak untuk bergadang dan menonton film horor. Dan akhirnya, mereka pergi kesebuah pusat pembelanjaan yang ada di depan komplek perumahan Meisya.
"Biskuat nih Sya, kenyang!β seru Affa antusias.
"Ambil aja." jawab Meisya yang terlihat sibuk memilah-milih makanan.
"Sya, ini ya? gue suka banget! Jangan cokelat mulu, nih pedes ni enak banget." ujar Karlina.
"Iya ambil aj-"
BRUK
"Eh sorry-sorry gue gak sengaja!" pekik Meisya kepada orang yang tak sengaja ia senggol. Gadis itu membantu mengambil barang-barang yang berserakan di lantai.
"Meisya?"
Meisya menoleh, "Loh kak Viga?"
"Belanja apa Sha?" tanya Viga.
"Ini, stok makanan buat dirumah." jawab Meisya.
"Banyak bangett,"
"Iya buat gue, Affa, Karlina, Nenek, sama orang-orang suruhan Dhirga." ucap Meisya seraya memilah-milih makanan yang ada disana.
"Orang-orang suruhan Dhirga?" ulang Viga mengernyit.
Meisya mengangguk, "Gak tau tuh. Dirumah gue ada bodyguard yang dikirim sama Dhirga untuk ngelindungin gue dan nenek gue. Katanya, musuh mereka bangkit lagi gitu."
Viga hanya mengangguk, "Gue duluan." ucap Viga. Meisya menoleh lalu mengangguk saja membalas ucapan Viga. Setelah selesai, gadis itu pergi menyusul Affa dan Karlina.
"Udah?"
"Udah, yuk bayar." ucap Affa.
...πΈπΈπΈ...
Diperjalanan pulang, Meisya, Affa dan Karlina tengah berbincang ria didalam mobil milik Affa. Dipertengahan jalan, mobil yang Affa kendarai berhenti tiba-tiba karena segerombolan lelaki berdiri tepat didepan mobil mereka.
Ketiganya panik bukan main, Meisya berdoa dalam hati. Semoga saja di depannya ini ialah orang gila, bukan orang jahat.
"Anjir, megang piso Sya!" pekik Karlina takut.
"Lo semua tenang. Inget kata Dhirga. Mungkin, ini salah satu dari anak-anak Aftar. Diem didalem mobil, Fa lo hubungi Iqbal, Kar lo coba hubungi Remi, gue coba hubungi Raga." kata Meisya lalu diangguki oleh keduanya.
Tok Tok Tok
"Sya! Dia ngetuk kaca jendela!"
"Tenang! Gak usah banyak omong!" seru Meisya.
"Ga, angkat dong!" gumam Meisya.
__ADS_1
"Iqbal gak aktif lagi!" Affa benar-benar panik. Gadis itu menggigit jarinya seraya terus mencoba menghubungi Iqbal.
"WOY BUKA LO! KELUAR!"
Meisya tersentak. Gadis itu merapatkan dirinya pada Affa yang ada disampingnya. Menutup matanya seraya menyandarkan kepalanya kebelakang.
"Ga, angkat dong!"
"Remi gak aktif," cicit Karlina dari belakang.
"Udah tabrak aja kali Sya, mati juga biarin!" kata Affa. "Biar jera!" lanjutnya.
"Gila lo!" sentak Meisya. Kening gadis itu sudah dipenuhi oleh keringat. Jantungnya berdetak kencang, perasaannya benar-benar tidak enak. Raga kemana? mengapa disaat-saat seperti ini ia tidak bisa dihubungi?
"KELUAR LO!"
"Sya.."
"Tetep diem, gue lagi cari bantuan." kata Meisya mencoba untuk tenang.
^^^Meisya A: Kak? bisa tolongin gue gak?^^^
Viga: Kenapa sya?
^^^Meisya A: Dijalan gue dicegat sama anak Aftar.. Gue takut^^^
Viga: Gue kesana, sharelok
"BUKA PINTU MOBILNYA!"
TOK TOK TOK!
"KELUAR LO SEMUA! GUE MAU BALAS DENDAM!"
"Keluar anak manis.."
BUGHH
"Loh? Kak Viga? kok dia-Jangan bilang kalau lo yang nelpon dia untuk bantuin kita?β tanya Affa kepada Meisya.
"Lo mau ngandelin siapa?! Banci?! Mau terus disini sampe tubuh lo gak terbentuk?!" omel Meisya yang geram kepada Affa.
BUGH
Pukulan dan tinjuan dilayangkan oleh Viga. Pria itu menatap benci orang-orang yang ada di depannya ini.
"Pergi lo semua!"
Meisya dan teman-temannya bernafas lega karena ini sudah berakhir, Viga menyelesaikan aksi pukulnya dan menghampiri mobil Affa.
Meisya membuka kaca jendelanya, "Ma-makasih kak.."
"Sama-sama. Lo pada langsung pulang, hati-hati." ucap Viga kepada mereka bertiga. Mereka bertiga hanya mengangguk dan segera melajukan mobilnya.
...πΈπΈπΈ...
__ADS_1
Anak-anak Vhigor juga Liona baru saja selesai mengadakan acara makan-makan. Acara makan-makan karena Dhirga ke Indonesia, juga janji Raga kepada teman-temannya saat sebelum acara ulang tahun Paula diadakan.
Mereka semua telah sampai di basecamp, perut kenyang menghadiahi mereka.
"Gila, thanks Dhir, Ga!" ucap Leon membuka suara.
"Kenyang banget, enak-enak lagi makanannya. Lain kali traktir kita lagi Ga makan disana," kata Dandi.
Baru saja Raga membuka ponselnya, banyak sekali notif pesan dan panggilan dari Meisya. Entah mengapa, perasaan Raga sangat tidak tenang. Ia terdiam, mencoba perlahan menelpon Meisya.
"Angkat dong, Sya.." gumam cowok itu.
"Kenapa Ga?" tanya Dhirga.
"Meisya nelpon gue banyak banget, gue gak tau dia kenap-"
"Affa juga WhatsApp gue banyak banget." potong Iqbal sedikit cemas. Raut wajah keduanya benar-benar panik bukan main.
"Halo?"
"Sya? Kenapa telfon? Kamu ada apa?" tanya Raga khawatir.
"Tadi dijalan aku dicegat sama anak-anak Aftar. Kenapa sih gak stay handphone? Kemana aja hah?!β tanya Meisya kesal.
"Telat maap-maapannya." sinis Meisya memotong ucapan Raga.
"Udah ah aku mau tidur?" sambung gadis itu.
Beepp..
Meisya mematikan panggilannya. Jujur, Meisya marah kepada Raga. Tetapi gadis itu tengah malas untuk bertengkar. Maka dari itu lebih baik gadis itu mematikan ponselnya.
Affa: Yang bantu kita bertiga Viga
"Anjing!" umpat Iqbal seraya menendang meja yang ada disana.
"Kenapa Bal?" tanya Liona.
"Affa dan Karlina lagi nginep dirumah Meisya. Dan mereka keluar sendiri bawa mobil Affa karena emang jam antar supir yang Dhirga kirim cuma sampe jam 5 sore. Mereka keluar beli makanan, dan pas diperjalanan pulang, mereka dicegat sama anak-anak Aftar." jelas Iqbal.
"Dan yang nolong mereka.. Viga."
Rahang Raga mengeras. Cowok itu betul-betul emosi kepada siapapun yang berani ingin menyakiti gadisnya. Saat Raga ingin berdiri, Dhirga menahannya. "Sekarang mereka baik-baik aja kan?" tanya Dhirga.
"Ya."
"Kita atur strategi penyerangan malam ini. Besok, kita obrak-abrik markas Aftar." kata Dhirga.
"Dan untuk Meisya dan temannya, gue akan nginap
disana malam ini, sampai penyerangan selesai." ucap
Lioni.
"Gue bakal jaga Paula dirumahnya.β kata Rama.
__ADS_1
"Kumpulin anak-anak Vhigor dan gue akan minta bantuan sama anak-anak Viktor." kata Dhirga lagi. Semua anggota Vhigor mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan oleh Dhirga.
BERSAMBUNG...