
Setelah kejadian yang mengganggu pikiran Indira di acara perayaan ulang tahun sekolah, Dirga benar-benar menjauh seperti keinginan perempuan itu.
Tak ada lagi Dirga yang menjemput dan mengantar Indira pulang atau sekedar duduk bersama di salah satu bangku kantin saat jam istirahat.
Bukan Dirga yang ingin tapi Indira lah yang memintanya untuk menjaga jarak.
"Anak-anak sekarang kalian bentuk kelompok kemudian buat sebuah penelitian tentang mutasi gen pada tumbuhan" perintah seorang guru paruh baya yang mengajar di kelas Indira.
Serentak semua murid di dalam kelas memilih pasangan kelompoknya masing-masing. Sisa Indira dan Dirga yang belum masuk ke dalam kelompok manapun.
"Dir, kamu masuk kelompokku aja" seru Dino.
"Mana mau dia gabung sama kita, pastinya satu kelompok sama Bu Ketos lah" cetus Rifki.
Sekilas Indira menoleh ke arah kelompok Dino yang berada dekat dengan tempat duduk Dirga. Mata mereka bertemu tatap saling berbicara lewat mata masing-masing, tampak jelas rasa bersalah dalam tatapan Indira dan seperti biasa Dirga tak dapat di prediksi apa isi pikiran dan hatinya saat ini.
Dirga bangkit dari duduknya lalu menghampiri Dino dan kelompoknya, tanpa di sangka Dirga ikut bergabung di dalamnya.
"Aku gabung" ucapnya ringkas.
Semua yang ada di kelompok tersebut menatap heran kepada Dirga dimana hal ini merupakan kejadian langka hampir selama tiga tahun mereka satu kelas, tak pernah sekalipun Dirga memisahkan diri dari Indira saat ada tugas kelompok.
"Ra, kamu sama aku aja gimana?" tanya Nisa.
"Iya"
Semua mulai sibuk berdiskusi tentang topik yang diberikan oleh guru Biologi mereka.
Indira mengambil kesempatan untuk mengetik sebuah pesan singkat kepada seseorang. Setelah itu dia ikut kembali kedalam diskusi kelompoknya.
Seseorang di kelompok lain merasakan getaran di sakunya dan membuka aplikasi chatting yang sangat-sangat sepi itu.
Tampak jelas raut kebingungan di wajahnya namun hanya sepersekian detik saja. Dia membaca isi pesan yang baru saja masuk itu.
"Terimakasih Dir" kurang lebih begitulah isi pesan teks tersebut.
Dirga menolehkan kepalanya ke tempat dimana si pengirim pesan itu duduk. Di lihatnya Indira sedang serius membahas topik diskusi kelompoknya. Sekilas jika ada yang memperhatikan, Dirga sempat mengulas senyum tipis tetapi hanya sepersekian detik lalu kembali dengan ekspresi datarnya.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Indira bergegas pergi dari kelasnya bahkan dengan langkah yang terburu-buru. Dirga yang melihat hal itupun merasa heran karena tak biasanya Indira bersikap seperti itu.
Dirga mencoba mengejar langkah kaki Indira tanpa sepengetahuan perempuan itu.
"Mau kemana dia?" monolog Dirga saat melihat Indira menuju ruang lab fisika yang sudah lama tak terpakai.
Dirga menghentikan langkahnya saat menangkap siluet Indira sedang berbincang dengan seorang laki-laki yang mengenakan seragam sekolah sama sepertinya namun dia belum pernah melihatnya sama sekali.
Dengan serius Dirga memperhatikan setiap gerak-gerik dari kedua orang di hadapannya.
__ADS_1
Tampak tangan laki-laki itu menyentuh bagian wajah Indira dan terlihat jelas bahwa Indira gemetar seperti merasa terganggu dan takut dengan laki-laki di hadapannya.
Dirga yang melihat itu merasa geram dan berniat menghampiri keduanya namun terhenti saat melihat Indira memeluk laki-laki di hadapannya.
Entah mengapa seperti ada yang sakit dalam diri Dirga saat melihat sahabatnya itu berada dalam dekapan orang lain.
Dirga memutuskan pergi dari tempat itu.
"Minggir!" sarkas Indira saat tahu bahwa Dirga sudah pergi dari tempat itu.
"Jangan teriak, kamu lupa ya aku siapa hmm?" tanya laki-laki di hadapannya.
"Berhenti Anton, biarin aku hidup tenang!"
"No baby, I can't"
"Kamu mau apa?"
"Kamu tanya aku mau apa?" tanya Anton dengan menyeringai memperkecil jarak diantara mereka. " Aku mau kamu bertanggung jawab atas kematian orang yang paling aku sayangi!" sarkas Anton penuh penekanan di tiap suku katanya.
"Tap-tapi itu semua bukan salahku!" teriak Indira frustasi.
"Kamu kira aku percaya gitu?" tanya Anton santai namun mampu mengintimidasi Indira.
"Kamu ingat seberapa menderitanya dia karena ulah kamu?" tanya Anton lagi.
"BODOH!" umpat Anton. " Aku gak akan lepasin kamu sebelum kamu tanggung jawab atas kematiannya, Indira sayang. Aku akan buat kamu merasakan kehilangan yang sama seperti yang kurasakan beberapa tahun lalu!" imbuh Anton sebelum pergi meninggalkan Indira yang sudah tergugu di atas dinginnya lantai lab yang telah usang.
"Bukan...bukan aku...bukan" racaunya dengan terus menarik rambutnya frustasi.
Karena sekolah sudah bubar dan lokasi lab yang tertutup sehingga tak ada seorang pun yang melihat keadaan mengenaskan seorang Indira yang terkenal dengan sikap tenang dan tegasnya.
Hari mulai sore, saat sayup-sayup sinar mentari mulai menyiratkan perpisahan. Indira memutuskan untuk pulang ke rumah setelah memperbaiki penampilannya walau masih terlihat jelas kedua matanya yang memerah akibat menangis terlalu lama.
Sesampainya di rumah Indira mengunci kamarnya dan mematikan seluruh penerangan yang ada padahal hari sudah menggelap. Tak ada cahaya selain cahaya tipis rembulan yang menembus tirai jendela kamarnya.
Indira terduduk di atas dinginnya lantai kamarnya dengan seragam sekolah lengkap masih membalut tubuhnya. Suara isak tangis mulai terdengar mengisi kekosongan kamar yang gelap itu.
"Maafkan aku! Itu bukan kesalahanku hiks...hiks...hiks" jerit Indira seperti ada sebuah tekanan yang sangat kuat menimpa tubuhnya.
Indira terus meracau dan menangis bahkan tanpa sadar dia sampai tertidur di atas dinginnya lantai kamar itu. Bahkan dalam tidurnya Indira terus saja meminta maaf, entah ditujukan kepada siapa permintaan maaf itu yang pasti Indira benar-benar merasa bersalah pada orang itu.
Keesokan harinya Dirga merasa bingung karena tak melihat keberadaan Indira di sekolah, bahkan tak hanya dia tapi beberapa orang yang ada perlu dengan Indira juga tak menemukan kehadiran Indira di sekolah.
Selama jam sekolah pikiran Dirga tak bisa fokus sedetik pun, yang ada dipikirannya hanyalah kondisi Indira. Dia sangat khawatir dengan sahabatnya itu.
Sepulang sekolah Dirga memacu mobilnya dengan kecepatan penuh agar cepat sampai ke rumah Indira, tempat yang sedaritadi menjadi tujuan utamanya.
__ADS_1
"Ra, Indira!" panggil Dirga dengan suara hampir berteriak saat memasuki rumah Indira namun hanya keberadaan Bi Inah yang ia temui.
"Rara dimana Bi?" tanya Dirga memburu.
"Di kamar den"
Dirga langsung berlari menaiki tangga menuju kamar Indira yang terletak di lantai dua rumah itu.
"Kok dikunci Bi?" tanya Dirga lagi kepada Bi Inah yang juga terlihat cemas.
"Bibi juga gak tau, tadi pas Bibi datang kamarnya memang gak bisa di buka. Bibi udah coba panggil non Indira tapi gak ada sautan"
"Kenapa Bibi gak telpon aku?"
"Tadi rencananya Bibi mau ke rumah aden tapi pas banget den Dirga datang"
"Ada kunci duplikatnya gak?" tanya Dirga lagi.
"Gak ada den" ucap Bi Inah khawatir.
Dirga tampak bingung dan segala macam emosi menjadi satu dalam dirinya. Tampak jelas di wajahnya kalau dia sedang kalut karena khawatir terhadap gadis di dalam sana.
"Bibi mundur" perintah Dirga yang dituruti oleh Bi Inah.
Brak...
Dirga mencoba mendobrak pintu kamar Indira.
Brak...
Brak...
Brak...
Pada percobaan ke empat akhirnya pintu kamar Indira terbuka dan menampakkan sesosok gadis yang tergeletak lemah di atas lantai kamar dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya.
Dirga dan Bi Inah berlari mendekati tubuh Indira.
"Ra, Ra bangun Ra" panggil Dirga menggoyang-goyangkan tubuh Indira namun tak ada respon sedikitpun.
"Den suhu tubuh non Indira sangat tinggi" ujar Bi Inah cepat.
Tanpa ba-bi-bu Dirga memeriksa kondisi Indira dan tanpa sengaja Dirga melihat pergelangan tangan Indira yang tertutup jaket terlihat jelas bekas luka yang cukup dalam dan bekas darah yang mulai mengering.
Bi Inah histeris melihat itu dan Dirga segera membawa Indira menuju rumah sakit terdekat.
"Apa yang kamu lakukan sebenarnya Ra?" tanya Dirga lemas saat meletakkan tubuh tak berdaya Rara ke dalam mobil.
__ADS_1