RAGA

RAGA
Raga | 20


__ADS_3

Ting!


^^^Raga A: Sya, buka pintunya, aku diluar^^^


^^^Raga A: Please^^^


Meisya A: Ya


Raga tersenyum senang. Setelah berjam-jam ia menunggu di depan rumah Meisya pun akhirnya gadis itu mau berbicara kepadanya.


Meisya membuka pintunya. Dan benar, Raga ada disana. Langit sangat mendung membuat Meisya khawatir akan cowok itu.


Meisya mendekat ke arah gerbang, dibukakannya pagar dan menarik Raga untuk masuk. Dan ya, langit menumpahkan airnya. Meisya segera berlari membawa Raga untuk masuk ke rumahnya.


"Duduk sini." perintah Meisya diangguki oleh Raga. Oh lihat lah. Cowok itu kini benar-benar berantakan. Ia sama sekali tidak membersihkan lukanya akibat berperang malam itu, rambutnya acak-acakan, kaos putihnya lusuh dan sangat kotor.


Raga terdiam. Entah cowok itu merasa bersalah membentak Meisya semalam. Tetapi jujur, pikirannya tengah kacau saat itu. Ditambah lagi disuguhkan bertengkarnya Meisya dan Paula.


"Mikirin apa? sini deketan." ucap Meisya lembut


seraya tersenyum. Raga pun mendekat, duduk disofa berhadap-hadapan dengan Meisya. Meisya mengobati luka Raga. Dengan pelan-pelan, namun akhirnya bersih dari darah dan kotoran.


"Buka bajunya," titah Meisya.


"Sya, malu.."


"Terus? mau dibiarin aja gitu sampe busuk? emang kamu kira aku gak tau kamu kena goresan pisau?!" omel Meisya.


Raga terkekeh, "Aw-"


"Makanya jangan ketawa dulu!"


"Iya-iya," Raga pun membuka bajunya. Meisya tak merespon apapun soal tubuh Raga. Ia segera membersihkan luka-luka yang ada ditubuh Raga.


"Aw-Pelan aja Ca.."


Meisya sengaja menekan handuk kecilnya pada luka yang parah, "AWWW!" jerit Raga.


"Dendam banget kayaknya.." cicit Raga.


"Makanya diem aja!"


Setelah setelai, Meisya memberikan baju Alpa kepada Raga. Dan cowok itu pun segera memakainya. Raga terbaring di sofa empuk milik Meisya, cowok itu menoleh ke arah Meisya. "Maaf Sya.. Aku minta maaf.."


"Aku maafin. Aku baru tau kalau Paula ada gangguan psikis, jadi ya wajar aja." kata Meisya.


"Makasih Sya, aku beruntung punya kamu." ujar Raga.


"Aku gak beruntung punya kamu,” balas gadis itu.


"Sya.."


"Udah tidur! Istirahat, biar besok bisa kuliah. Jangan absen melulu!"


Saat ingin tertidur, Raga mendapat panggilan. Meisya menoleh, "Angkat. Dari Paula." kata Meisya.

__ADS_1


"Halo?"


"Ga, lo dimana ya ampun?! Gue sendirian dirumah!"


Beep.


Raga memutuskan panggilannya. Ia mencari kontak orang lain untuk dihubunginya.


"Yo, ada apa Ga?"


"Dan, tolong jaga Paula dirumahnya. Gue lagi dirumah Meisya." ujar Raga.


"Siap!"


Beep.


"Loh kok?" tanya Meisya heran.


"Aku tidur ya? nanti malem bangunin," pinta Raga. Meisya pun mengangguk. Lalu gadis itu mengambil selimut untuk Raga dari kamarnya. Dan menyelimuti Raga sampai leher.


...🌸🌸🌸...


Hari sudah menjelang malam. Meisya sebenarnya tidak tega membangunkan Raga. Cowok itu sepertinya sangat kelelahan, tetapi Raga juga belum makan. Meisya pun membangunkan cowok itu, dan Raga pun bangun. Ia mengajak Raga untuk makan malam bersamanya dan juga neneknya.


"Loh, nenek baru lihat wajah kamu, kenapa Raga? kamu berantem lagi?" tanya Wina kepada Raga.


"Ya biasalah nek cowok," ujar Raga seraya terkekeh.


"Jangan sering-sering ya Raga," nasihat Wina.


"Kamu baik-baik aja kan sama Caca?" tanya Wina lagi.


Raga mendongak, lalu mengangguk, "Iya nek."


"Gak bertengkar kan?"


"Gak kok nek, kami baik." jawab Raga sopan.


"Gak sering buat Caca nangis kan Ga?"


Deg


"Raga?"


"Ah ya.. Emm-Anu-"


"Nenek ih, Raga kan lagi makan. Jangan ditanya-tanya gitu ih. Ga selesein makan kamu, abis itu kamu pulang. Takut Mama nyariin." Raga hanya membalasnya dengan anggukan juga senyuman simpul.


Setelah makan, Raga bergegas untuk pulang. Meisya mengantarnya sampai depan gerbang.


“Aku masuk." ucap Meisya singkat. Setelah itu, gadis itu pergi dari hadapan Raga.


"Ca?" yang dipanggil tidak menoleh. Entahlah, mungkin mereka berdua harus memikirkan bagaimana hubungan mereka saat ini. Hubungan yang sebenarnya tidak diinginkan oleh Meisya, bukan karena Raga, tetapi Paula.


Dari dalam rumah, Meisya mengintip Raga dan ternyata cowok itu masih ada disana. Sepertinya ia tengah menelfon atau ditelefon seseorang. Ya Meisya tahu, pasti itu adalah Paula.

__ADS_1


Pukul 10 malam ini, Meisya baru saja selesai belajar. Gadis itu masih simulasi UNBK esok sampai lusa. Setelah selesai belajar, Meisya pun beralih pada ponselnya. Sekitar satu jam yang lalu, Raga memberinya pesan. Tetapi karena ia fokus belajar ia tak membacanya tadi.


Raga A: Belajar yang rajinnnn yaaa Ca


Raga A: Biar dapet nilai yang memuaskan


Raga A: Jangan main hape terus!


Raga A: Love you Ca


^^^Meisya A: Makasih:)^^^


Meisya beralih aplikasinya menjadi Instagram. ia


terkejut, melihat Raga dan Paula tengah makan malam


bersama disebuah kafe. Padahal tadi Raga sudah makan


bersamanya, tetapi, pantas saja Raga makan sedikit tadi. Ternyata ia ingin menemani Paula.


"Cih, iya nyuruh jangan main hape terus, biar gak diganggu kalo lagi dinner?!" umpat Meisya kesal.


Raga A: Gak tidur Ca?


^^^Meisya A: Kenapa? pingin aku tdr? biar gak diganggu ya dinner nya ^^^


^^^Meisya A: Sorry deh, yaudah aku tidur. Have fun sayang!^^^


Raga A: Ca, gak gitu


Raga A: Meisya


Panggilan masuk dari Raga A...


Meisya segera mematikan ponselnya. Lagi-lagi Paula, entah mengapa, gadis itu benci mendengar nama Paula. Karena Paula, Raga berubah.


Tetapi, Meisya mencoba untuk meredakan egonya. la mencoba memahami, seperti yang dikatakan oleh Liona tempo hari. Ia mencoba mendewasakan diri, dengan cara mengerti Raga yang memiliki tanggung jawab atas sahabatnya itu.


La akan mencoba mempertahankan hubungannya dengan Raga. Tidak menuntut apapun dari Raga, tetapi, ia berhak untuk marah bukan?


Meisya sempat memikirkan hal ini beberapa kali, ia akan mencoba untuk mengerti posisi Raga. Tetapi, jika ia sudah mencapai pada titik lelahnya, ia akan mundur. Seperti yang dibilang oleh Liona dan juga teman-temannya.


Pagi hari yang cerah ini, Meisya sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ini adalah simulasi UNBK keduanya. Ia nampak bersemangat hari ini, entah mengapa, moodnya mendadak naik karena dapat kabar bahwa Alira dan anaknya-Zura mulai esok tinggal bersamanya. Ya, Alira seorang janda anak satu. Suaminya baru saja meninggal beberapa bulan yang lalu. Ia hanya tinggal berdua saja bersama anaknya. Dan mulai esok, ia memutuskan untuk tinggal bersama Meisya dan Wina.


Saat ingin membuka pagar rumahnya, alangkah terkejutnya Meisya melihat seorang lelaki berparas tampan tersenyum didepannya. Lelaki itu, lelaki yang dulu pernah menyukainya, bahkan mengejarnya. Lelaki itu tersenyum devil ke arah Meisya. Meisya menjadi takut.


Tubuhnya menegang, keringatnya bercucuran mengingat apa yang dikatakan oleh Dhirga. Ia harus hati-hati oleh lelaki didepannya ini. Karena Meisya tahu, ia ingin balas dendam.


"Halo, Meisya. Udah lama gak ketemu.." sapanya dengan senyuman liciknya.


Deg.


"Ma-Marsyel.."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2