Rahasia (Who Are You?)

Rahasia (Who Are You?)
Prolog


__ADS_3

Pagi yang indah disambut dengan kebahagiaan dari hati semua orang. Dia membuka tirai jendela kamarnya. Silau matahari pagi langsung menembus sepasang matanya.


Hari ini adalah peringatan seribu hari setelah kepergiaannya. Masih ia ingat bagaimana 'Dia' pergi tanpa sepatah kata pamit. Bahkan iya baru tahu bahwa 'Dia' sudah pergi setelah seorang notaris menemuinya untuk membacakan sebuah wasiat.


Meika, wanita yang sedang mengenang 'Dia' itu adalah Meika. seorang wanita dua puluh lima tahun yang baru saja melangsungkan pernikahannya dua minggu lalu. Sebuah pernikahan yang berlangsung tanpa kehadiran 'Dia'. Reina.


Seribu hari yang lalu Reina meninggalkannya setelah mendonorkan hatinya untuk Meika. Sungguh betapa mulianya seorang Reina. Sosok yang tidak pernah mau disebut sahabat, tetapi nyatanya lebih rela mengorbankan hidupnya untuk seorang seperti Meika.


Reina adalah gadis misterius yang ditemui Meika tiga belas tahun lalu.


Keduanya bertemu setelah tidak sengaja bertabrakan di koridor sekolah mereka. Hari itu keduanya masih mengenakan seragam putih biru dengan tampang polos khas anak-anak yang beranjak menjadi remaja.


Tubuh ringkih Meika yang terjatuh tidak merasakan sakit karena ternyata Reina menahannya dengan menarik sebelah tangannya. Reina dua belas tahun hanya tersenyum menunjukkan deretan giginya yang tertata rapi. Dia menuntun Meika untuk duduk di anak tangga yang tidak jauh dari koridor tempat mereka bertemu.


"Aku Reina, kamu siapa?" Dia memperkenalkan dirinya dengan menyodorkan tangannya kepada Meika.


"Meika." Gadis ringkih itu memperkenalkan dirinya dengan singkat.


Bagi Meika, tidak ada perkenalan dua anak manusia yang istimewa. Orang-orang hanya akan terlihat baik di saat perkenalan, setelahnya mereka akan terlihat seperti orang yang tidak saling mengenal. Hal seperti itulah yang membuat Meika enggan untuk memiliki teman. Baginya, teman hanya sosok yang membuatnya lebih tertekan dengan keadaan.


"apa kamu mengidap sebuah penyakit? tubuhmu terlihat begitu ringkih."


Saat perkenalan, seseorang akan lebih memilih untuk diam saat melihat kondisi orang yang baru saja ditemui. Namun Reina, gadis itu memilih untuk memiliki kesan lain di awal pertemuan. Meskipun ia tahu pertanyaannya terdengar tidak sopan.


"Apa kau mengidap gagal hati?" Tanya Reina lagi setelah tidak mendapat respon dari lawan bicaranya.


"kamu tidak sopan ya." Meika menjawab sambil terkekeh pelan


"Maaf, mulutku terlalu licin." Reina menyadari kesalahannya. Dia terlalu jujur dengan keadaan, itulah yang membuatnya memiliki kesan berbeda.


"Kamu benar, aku mengalami gagal hati, tetapi darimana kamu tahu?"


Tidak pernah ada seseorang yang menyadari tentang kondisi Meika sebelumnya. Semua orang lebih memilih mencari informasi di belakang Meika. Tentu hal itu membuatnya tersinggung, karena setelah mengetahui fakta. Mereka akan mulai menjauhinya dan pergi atau berpura-pura tidak saling mengenal.

__ADS_1


"jaundice, kebingungan mental dan tremor asteriksis. kamu mengalaminya kan?" ujar Reina


"Aku baru tahu ada seseorang yang bisa memperhatikan sedetail itu di awal pertemuan, atau jangan-jangan kamu sudah memata-matai keseharianku?" Diantara ketakjuban itu Meika melemparkan pertanyaan yang terdengar seperti lelucon di telinga Reina.


"Astaga, sungguh Aku baru melihatmu hari ini, aku sebenarnya tidak tahu mengapa aku bisa sebegitu perhatian terhadap sesuatu. Bahkan aku bisa mengingat halaman ke berapa dalam buku eksiklopedi tempatku menemukan tentang gagal hati. Aku membacanya ketika aku kelas empat sekolah dasar." tutur Reina


Hari itu bagi Meika adalah pertemuannya dengan keajaiban Tuhan. Dia merasa lebih hidup dan hatinya yang hampir kehilangan nyawa itu seperti diberikan satu lagi kesempatan untuk perpanjangan masa. Meika ingin bersama gadis itu lebih lama dan mendengar kisah ajaib lebih banyak lagi.


"Sudah ya, sampai bertemu di kelas." Reina beranjak, meninggalkan Meika yang masih terdiam di anak tangga.


Hingga tubuh Reina menghilang di balik ruangan di depan sana, Meika baru menyadari ucapan terakhir Reina tentang bertemu di kelas. Apakah mereka berada di satu kelas yang sama?


Ia segera berdiri, melangkahkan kakinya mengikuti arah kemana Reina berjalan. Meski pelan namun langkahnya terkesan pasti. Meskipun terkesan ada rahasia, tetapi baginya tidak ada keraguan setelah pertemuannya.


***


Kelas terkesan dingin, semua orang disana memandang tidak peduli. Semua sibuk dengan dunia masing-masing. Wajar, kelas ini adalah kelas unggulan. Semua yang ada di dalamnya adalah orang-orang yang hanya peduli dengan persaingan nilai raport. Ekor mata Meika menatap bangku nomor dua dari belakang yang terletak pada baris kedua dari dinding. Disana, Reina duduk manis dengan komik di tangannya. Telinganya tertutup dengan headphone.


Meika melihat bangku di kiri Reina yang bersebelahan langsung dengan dinding kelas itu masih nampak kosong. Dia pun memilih untuk meletakkan dirinya disana. Reina yang fokus pada komiknya nampak tidak peduli. Namun ternyata...


"Kamu tidak melihatku, bagaimana mungkin kamu tahu jika itu adalah aku?" Meika bertanya, ia tidak tahu jika gadis yang terlihat fokus pada buku komik itu menyadari keberadaannya.


"Aku melihatmu selama lima detik saat pintu ruang kelas itu terbuka." Reina menjawab sambil menunjuk ke arah pintu kelas.


"sepertinya kita bisa menjadi dua orang yang saling berjalan bersama. Bisakah seperti itu. Aku merasa harus percaya padamu." tutur Meika tiba-tiba.


"apa pun itu. Aku juga merasa bahwa kita akan terikat baik setelah perkenalan tadi."


Begitulah kisah pertemuan keduanya, hari pertama dalam tiga belas tahun lalu. Anak manusia yang tidak saling mengenal kemudian terikat baik tanpa sebuah kepura-puraan. Meski pun terkadang ada sedikit penyesalan tentang mengapa keduanya saling bersikap aneh seperti itu. Tetapi seiring berjalannya waktu, Meika menyadari bahwa Reina juga hidup dengan traumanya sendiri.


Tentang teman yang baginya hanya sebuah ilusi. Teman hanya seseorang yang pura-pura percaya untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Beberapa waktu setelah pertemuan pertama itu, Reina mulai bercerita tentang masa sekolah dasarnya. Dia tidak memiliki seseorang yang benar-benar menjadi temannya. Alasan klasik karena dia miskin. Dia bisa masuk ke sekolah menengah pertama favorite juga tidak lain berkat jasa kepada sekolah dasarnya. Wanita tua yang menjadi kepala sekolah dasar itu mengajukan Reina dalam program beasiswa.


"salah satu orang yang pura-pura berteman denganku ada di kelas yang sama. Sebenarnya dia gagal saat tes masuk kemarin, tetapi uang ayahnya lebih tebal dari harga dirinya." Reina menuturkannya disertai tawa miris.

__ADS_1


Kenyataan dalam hidup di jaman ini adalah uang berkuasa diatas segalanya. Bahkan harga diri seakan takluk pada kuatnya kuasa uang. Selama uang itu bertumpuk tebal, segala urusan teratasi begitu saja. Sangat menyedihkan.


"tidak adakah jalan damai diantara kalian?" Tanya Meika lalu menyedot kembali air mineral yang ada dalam botol ditangannya.


"Aku sudah mengajaknya untuk berdamai, tetapi baginya, berdamai denganku artinya kalah. Wajar saja orang bodoh berpikir seperti itu, bukan suatu keanehan. Memang otaknya saja dangkal." Reina mengejek dengan kesan yang cerdas.


Gadis dua belas tahun dengan pola pikir yang cukup bagus. Anak-anak diusia dua belas tahun biasanya belum beropini sejauh itu. Tetapi Reina adalah karakter lain yang tidak pernah ada dalam bayangan Meika.


"Bukankah kita menjadi terkesan seperti orang dewasa dalam balutan tubuh anak dua belas tahun?" Ujar Meika setelah mendengar penuturan Reina


"Mungkin kita sedang tersesat dalam tubuh yang salah."


Dan setelah tiga belas tahun berlalu, Meika tersadar, harusnya mereka membahas hal lain yang lebih kritis. Atau seharusnya ia bertanya darimana Reina berasal. Agar cerita mereka memiliki sebuah titik awal.


Kau hadir seperti angin malam


Tiba-tiba tanpa peringatan


Terasa, berbekas tetapi tak akan kembali


Mungkinkah ada reinkarnasi


Aku ingin berjumpa lagi


Siapa diantara kita yang menang


Spekulasimu tentang tujuh kembaran


atau Reinkarnasi yang ku utarakan


Ayo bertaruh, karena aku ingin lagi berjumpa


Tulungagung, 14 Juni 2020

__ADS_1


黒月栄光


__ADS_2