
Reina melambaikan tangan pada Meika yang baru saja turun dari mobilnya. Lalu keduanya saling melemparkan sebuah candaan seperti biasa.
"cukup, aku harus pergi. Sampai jumpa besok Mei!!!!" pamit Reina
"sampai jumpa besok Rein."
Lalu keduanya berpisah. Gedung-gedung yang berjajar disepanjang tepian jalan raya nampak begitu menjulang dengan kokoh. Seakan meneriakkan sebuah kesombongan bahwa kekuatan adalah segalanya dan tidak akan pernah hancur. Reina tersenyum tipis, mengejek gedung-gedung itu. Kemudian kembali terdiam dan menikmati perjalanan dihari yang telah menjelang senja.
Telephonenya berdering. Layar telephonnya menampilkan foto seorang pemuda dan juga dirinya. Pemuda itu adalah Raihan. Kekasihnya. Ia hendak mengangkat panggilan itu, tetapi ia mengurungkan niatnya dan memilih membiarkan telephonenya terus berdering. supir pribadinya berucap, menyuruh Reina mengangkat panggilan itu.
"Tidak apa, pak. Biarkan saja, terus jalan saja." jawab Reina sambil memerintah kepada supirnya dengan ramah.
Suasana rumah Reina nampak sangat sibuk. Beberapa koper berjajar rapi di depan rumah. Orang tua dan kakaknya terlihat sibuk menyiapkan beberapa barang. Ia hanya berjalan perlahan memasukki rumahnya dengan kepala yang dipenuhi pertanyaan."
"Mama? ada apa? kenapa semua barang kita di luar?" Tanya Reina bingung
"Kita harus segera pergi sayang. Perusahaan papamu sedang bermasalah dan akan butuh waktu lama untuk menyelesaikannya." Terang Mamanya
"Tapi sekolahku?" Tanya Reina
"Tangan kanan papa sudah mengurus semuanya. cepat bersiap karena satu jam lagi kita akan terbang."
Reina sangat lemas mendengar kabar itu. Bahkan ia belum sempat berpamitan pada teman-temannya. Terlebih kepada Meika sahabatnya dan juga Raihan, kekasihnya. Meski begitu, ia segera bersiap.
Disepanjang perjalanan menuju Airport Reina hanya terdiam. Ia ingin menghubungi Raihan, tetapi ia terus mengurungkannya. Mungkin itu jalan terbaiknya setelah ia mendengar rumor yang banyak tersebar di sekolah. Tentang Ia, Raihan dan Meika.
Sahabatnya, Meika. Menyukai kekasihnya sejak lama. Bahkan dari awal mereka berjumpa, di hari saat ketiganya terlambat sampai di sekolah. Meika jatuh hati pada pemuda yang dikenal disiplin itu, tetapi Meika memendam perasaannya hingga Raihan jatuh cinta pada Reina sang bintang sekolah.
Andaikan Reina tahu kenyataan itu, mungkin ia akan menolak Raihan dan mengalah untuk Meika. Ia menjadi merasa bersalah pada sahabatnya. Mencintai Raihan pun terasa berat. Tanpa sadar, air matanya pun mulai menetes.
Akan jauh lebih baik jika aku hilang
Biarkan mereka saling berinteraksi
Tumbuhkanlah cinta diantara mereka.
__ADS_1
***
Langit berubah gelap ketika Reina beserta keluarganya mulai terbang dengan burung besi itu. Dari atas tampak indahnya gemerlapnya lampu kota, lalu semakin jauh dan terlihat cahayanya menjadi kecil. Ia hanya terdiam. Perpisahan tanpa pamit. Meninggalkan cinta dan sebuah tanda tanya.
Perjalanannya berlangsung selama empat belas jam. Bahkan telinganya sampai sakit. Dia turun dari pesawat dan sejuknya musim semi mulai menyapa. Ini Jepang, negara yang paling ingin dia kunjungi. Hanya saja ia tidak mengira akan berkunjung dengan situasi seperti saat ini. Di luar bandara sudah ada mobil yang menunggu kedatangan mereka. Lalu mereka mobil itu membawa mereka ke sebuah tempat yang akan mereka tinggali untuk beberapa saat ke depan.
Sakura bermekaran di sepanjang tepian jalan. Sangat indah. Warna merah muda yang membawa kesan manis untuk sebuah cinta. Ia masih remaja. seorang anak SMA yang sedang dalam masa mencari jati diri. Terjebak dalam rumitnya percintaan remaja dan ujian persahabatan.
Aku pergi Mei, maaf tanpa pamit
Sekarang kesempatanmu..
Ambil saja Raihanku, jadikan dia milikmu
Ku lepaskan dia untukmu
***
Seharian Meika merasa gusar, sahabatnya tidak ada kabar sama sekali. Pihak sekolah juga sangat tertutup untuk hal menyangkut Reina. Berkali-kali ponselnya berdering. Nama Raihan tertera disana. Tentu pemuda itu juga sangat khawatir dengan keadaan kekasihnya. Meika tidak tahu apa yang terjadi.
"Meika."
Gadis itu mengangkat tangannya setelah mendengar namanya dipanggil.
"silahkan keluar meninggal ruangan." ujar pengajar di kelas itu
"saya pak?"
"iya kamu, Raihan bilang kalian ada event organiasis diluar sekolah hari ini. silahkan. kamu bisa menyalin catatan milik temanmu besok."
Meika segera berkemas dan meninggalkan kelas. Ia tahu Raihan berbohong dan untuk pertama kalinya ia tahu Raihan berbohong dari pihak sekolah. Keduanya berjalan menuju tempat parkir. Raihan segera mengambil motor dan menyalakan mesin.
"Mei, ayo naik!"
Meika masih bingung dengan apa yang terjadi. Bahkan ia tidak tahu Raihan akan membawanya kemana.
__ADS_1
"kita kemana Han?" Tanya Meika
"Ada sebuah tempat yang harus aku pastikan. Naiklah" Perintah Raihan
Keduanya segera pergi meninggalkan sekolah. Raihan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi yang membuat Meika sangat takut. Reflek ia memeluk tubuh Raihan dan pemuda itu tidak keberatan.
Tidak ada percakapan hingga mereka sampai di rumah Reina.
Keduanya lemas saat melihat kondisi rumah yang kosong dan tidak ada aktivitas sama sekali. Pintu pagarnya pun terkunci. Bahkan para pekerja di rumah itu pun juga tidak ada satu pun yang terlihat.
Raihan segera meraih ponsel dari kantong celananya. Menekan sebuah nama yang ada di layar pemintas telephone. Namun, panggilan itu tidak dapat tersambung. Ia mencoba mengecek seluruh akun media sosial milik Reina, tapi semua akun itu telah ditutup.
Meika terduduk dan bersandar pada pagar rumah mewah itu. Menekuk lutut dan menangis. Ia merasa patah hati sekarang. Kemarin ia masih bercanda dan seakan hidupnya baik-baik saja. Ia menghadapi seluruh kesulitan hidup dengan mudah karena Reina. Kini, sahabatnya itu hilang tanpa kabar. Ia hanya bisa menangis.
"Mei, berhenti menangis, kita pasti bisa menemukannya." ucap Raihan menenangkan Meika
"Bagaimana aku bisa tenang Han, hanya Reina yang bisa membuatku tenang. Kini ia hilang. Aku tidak masalah kehilangan pemuda yang aku cintai, tapi kehilangan Reina aku merasa mati."ucap Meika diantara tangisannya.
Raihan berkali-kali mengusap wajahnya kasar, mengacak rambutnya berkali-kali. Reina adalah gadis yang paling dia cintai. Senyuman manis dan pembawaannya yang riang, membuatnya begitu beray jika harus kehilangan. Terlebih sejak kemarin gadisnya itu seakan menghindar. Mengabaikan panggilannya dan tidak membalas pesannya sama sekali.
***
Reina menyalakan ponselnya setelah lebih dari seharian ia membiarkan ponsel itu mati.Terlihat ada beberapa panggilan tak terjawab dan ratusan pesan masuk. Ia hanya tersenyum getir. Tubuhnya merosot dibalik pintu kamarnya. Pandangannya memutar. Lalu ia bangkit dan berjalan menuju balkon kamarnya. Ada keramaian Tokyo yang nampak dalam penglihatannya.
Lalu ia kembali menatap ponsel dalam genggamannya. Ia mencoba mengetikan beberapa kata untuk seseoranh diseberang sana.
Mari kita putus, lupakan aku. Biarkan aku menjadi kenangan untukmu.
Jangan katakan padanya tentang hal ini. Jangan hubungi aku lagi.
Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja disini.
Tolong jaga sahabatku. Dia mencintaimu.
Tolong bahagiakan Dia.
__ADS_1
Pesan itu telah terkirim. Lalu Reina melepaskan sim card ponselnya dan melemparkannya sembarangan.