Rahasia (Who Are You?)

Rahasia (Who Are You?)
8. Ketika Hujan


__ADS_3

Seberapa jauh kita melangkah


Seberapa banyak aku mencoba berubah


Aku masihlah orang yang sama


Menanti keajaiban bahwa hari ini hanya mimpi


Ketika Aku bangun, yang ingin kulihat adalah dirimu


Banyak hal yang ingin kusampaikan


Tetapi masa seperti tidak lagi berada diantara kita


Apa yang kusampaikan melalui angin akan hilang terguyur hujan.


Dirimu tidak akan mendengar seruan rindu ini.


Aroma tanah basah masih lekat dalam penciuman. Hujan menjelang senja tadi masih menyisakkan jejak. Seperti sebuah kenangan. Jam pasir di atas nakas kamarnya masih menghitung waktu dan sebentar lagi akan berbalik untuk kembali menghitung waktu dari awal.


Buku tugas terabaikan begitu saja. Dia beranjak dari meja belajarnya untuk menghampiri jam pasirnya. Setiap kali ia menatap jam pasir itu dia akan sadar waktu tidak akan berbalik seperti jam pasirnya.


Andaikan hari itu dia dapat mencegahnya. Menggenggam erat tangannya. Tentu hari ini cerita masih bersamanya. Mungkin saja malam ini mereka bisa mengadakan pesta piyama. Bercerita tentang pemuda yang disuka atau mungkin membicarakan tentang impian masa depan.


"Maaf Mila, aku bukan teman yang baik." Ucap Rania pada sebuah foto diatas nakasnya.


Dalam foto itu ada dirinya dan juga Mila. Foto yang mereka ambil ketika mereka memenangkan olympiade itu.


"Aku tidak pernah mengiranya. Tetapi percayalah bahwa aku akan menjaga kenang-kenangan itu dengan baik."


Kenang-kenangan itu akan Rania jaga sepenuh hatinya. Meskipun tidak serupa dengan Mila. Tetapi Dia tahu bahwa segala harapan Mila akan terus hidup dalam apa yang terlah ditinggalnya.


Hujan kembali mengguyur serta malam yang semakin menghening. Rania keluar dari kamarnya setelah mendengar suara tangisan. Terdengar pula bagaimana beberapa pekerja di rumahnya sedikit kerepotan.

__ADS_1


Ruang di ujung sana terlihat ramai. Ada lima pekerja rumah dan satu bayi berusia tiga bulan yang nampak rewel. Rania mendekat lalu para pekerja itu segera menepi, membuatkan sebuah jalan untuk Nona muda mereka.


"Ada apa dengannya?" Tanya Rania sambil membelai lembut wajah bayi itu.


"Dia sangat rewel nona, bahkan dia menolak susu formulanya." lapor salah satu pekerja


"Baiklah, biar aku yang mengurusnya, kalian siapkan makan malam, mungkin ayah akan pulang sebentar lagi." Perintah Rania lembut.


Direngkuhnya bayi mungil itu ke dalam dekapannya. Diambilnya sebotol susu formula yang masih terasa hangat dalam genggamannya. Rania membawa bayi itu ke kamarnya.


Baru beberapa langkah dia keluar. Sang ayah ayah yang baru saja pulang tidak sengaja berpapasan dengannya. Pertama pria itu menatap Rania lalu beralih kepada sang bayi dan mendecih pelan. Pria itu melewati remaja dan bayi mungil itu begitu saja. Namun, setelah tepat berada di belakang Rania, pria itu pun membuka suaranya.


"kau bisa saja mengantarkan bayi itu ke panti asuhan atau memberikannnya pada pasangan yang ingin mengadopsi bayi. Aku tidak mau publik membuat asumsi negatif tentang keluarga ini karena keberadaannya." Tutur ayah Rania dengan nada tegasnya


"Can you tell me?Why?bagaimana pun juga dia adikku. Aku akan tetap merawatnya, keberadaanya bukan sebuah aib yang tercipta karena kemauannya. Tapi ini adalah kesalahanmu. Kemana sosok ayah bertanggungjawab yang begitu aku banggakan?"


***


Seluruh menu makan malam telah tersaji diatas meja. Semuanya terlihat mewah dengan citarasa sempurna. Ciumlah betapa nikmat aroma yang menguap dari setiap masakkan yang masih hangat itu. Hanya saja semua itu tidak akan terasa nikmat, melihat betapa sepinya meja itu. Terlebih dua orang disana juga duduk berjauhan.


"Ran.." Panggilan lembut yang sudah lama tidak pernah terdengar. Bahkan seluruh pelayan disana juga merasakan hal itu.


Rania segera meletakkan sendok garpunya. Ia menatap ayahnya dengan datar. Hari ini dia bukanlah Rania yang sama seperti setahun yang lalu. Mungkin jika panggilan itu terjadi setahun yang lalu. Tentu dengan antusias Rania akan menjawab penuh semangat diikuti senyum manisnya.


"Guru baru itu, kalian terlihat akrab." Ujar sang ayah


"Dia sudah bersuami, jika pertanyaanmu ke arah kebejatan, aku akan menjelaskan bahwa Meika sudah bersuami dan suaminya bukan orang biasa." Tutur Rania tanpa menatap pada ayahnya


"Ayah tidak tertarik dengannya. Lagi pula bukan itu yang ingin ayah bahas Ran."


Ran, panggilan itu jujur membuat Rania rindu. Kini rasanya begitu buruk mengingat semua itu. Dapatkah sesuatu yang telah pergi datang kembali.


"Lalu apa yang ingin kau tanyakan?"

__ADS_1


"Apa dia mengajar dengan baik? Bagaimana perkembangan anak dari kelas bayangan? apakah anak berandalan itu sudah menunjukkan kesungguhannya?"


Obrolan di meja makan terasa seperti kepingan scene dari seril animasi Ansatsu Kyoushitsu dari negri Sakura, Jepang. Antara Rania dan Ayahnya terlihat sepeti Asano Kun dan sang ayah.


Rania meneguk air putih dari gelas yang baru saja diisi oleh pelayan. Setelahnya dia melanjutkan obrolan.


"Meika tidak buruk. Tetapi kami bukan berandalan. Uang-uang kotor itu yang merusak kami semua. Lalu masa lalu menghancurkanku sampai masuk kesana." Rania berdiri dari posisinya. Mengakhiri makan malam tanpa rasa. Hambar.


"Aku bisa kapan saja menarikmu kembali ke kelas A. Tetapi dengan satu syarat. Lepaskan bayi itu." Tuan Wijaya selaku ayah sekaligus kepala Sekolah Rania mengutarkan sebuah penawaran terbaiknya.


"Penawaran bagus, namun aku menolaknya. Bayi itu adikku. Bagaimana mungkin seorang ayah memisahkan hubungan kedua anaknya?" Rania mengatakannya dengan menatap tajam ke arah samg ayah.


Senyum iblis pun nampak jelas dari wajah sang Ayah.


"Ayah sudah menduga berandalan seperti akan menolak. Tetapi salahkah seorang ayah merindukan putrinya yang tidak bisa melakukan apapun dan selalu bergantung kepada ayahnya? Ran, Ayah ingin putri kecil ayah yang manis."


Mungkin drama keluarga ini begitu klise. Adegan pelukan ayah dan anak di ruang makan sungguh dramatis.


"Bukan kemauanku. Jika dulu kau tidak merusaknya. Mungkin Rania hari ini tetaplah Ran kesayanganmu. Tetapi kau hancurkan itu semua hingga menjadi kepingan debu yang melebur di angkasa. Menyatu tanpa bisa diperbaiki lagi. Aku akan tetap menghormati dengan menjaga identitas bayi itu. Begitu pula dengan para pekerja di rumah."


Semua berakhir. Satu babak drama keluarga berlalu. Tangisan bayi dari lantai atas terdengar seperti lagu penutup.


Guntur menggelegar pertanda potongan drama episode lanjutan ditayangkan sekilas. Lucu. Keluarga yang hancur terkadang begitu lucu hingga para penonton serta pemainnya tidak lagi mampu tertawa riang. Semuanya palsu.


***


Semua orang memiliki hak tentang rahasia hidup. Bahkan bayi mungil itu pun juga terlahir dengan identitas rahasia. Siapa dia? Kamu siapa?. Ketika bayi itu di temukan di bawah pagar rumahnya. Kondisinya baik-baik saja, walaupun bayi itu hanya diletakkan di sebuah kotak kardus bersama sepucuk surat. Bayi itu datang tanpa nama. Bahkan dalam surat itu sang ibu dari bayi juga tidak memberikannya nama.


Ranialah yang memberikan nama yang cantik untuk bayi perempuan gembil berkulit tan.


Kuberikan sebuah nama untukmu Rein. Pelafalannya terdengar mirip dengan pelafahan hujan dalam bahasa inggris. Kenapa Hujan? karena kamu adalah kenang-kenangan darinya yang sangat menyukai hujan daripada aku.


Keberadaan bayi itu menjadi rahasia dalam keluarga Wijaya. Suatu saat dimasa depan akan ada banyak pertanyaan tentang siapa bayi itu. Kisah Rahasia baru memulai babak. Rania berjanji untuk menjaga sebuah rahasia itu agar nama baik keluarga Wijaya baik-baik saja, bukan berarti mengabaikan Rein. Rania akan terus menjaga Rein meskipun ayahnya tidak akan menyetujuinya.

__ADS_1


Sejak hari itu. Rein adalah adiknya.


__ADS_2