Rahasia (Who Are You?)

Rahasia (Who Are You?)
13. MILA DAN RANIA


__ADS_3

Mereka masih SMA, seharusnya kisah penuh warna baru saja dimulai. Dari gedung kelas yang terdiri atas dua lantai dan mereka berada di lantai atas. Menatap intens ke arah anak-anak lain yang sedang mendribble bola basket di lapangan basket. Semua orang tahu, ada sang bintang di lapangan itu, Reina.


"Tujuh kembaran itu nyata ya, aku pikir aku sudah bertemu salah satunya. Bahkan nama belakang kami pun sama." ujarnya membuka topik percakapan.


"Entahlah, aku merasa aneh saat kau membahas hal itu denganku. Bagiku, tujuh kembaran dan reinkarnasi hanya topik pembahasan Meika dan Reina." Timpal Mila


Rania hanya tertawa kaku. Mila, sahabatnya itu sangat anti dengan pembahasan yang biasa dia dengar dari saudari kembarnya.


"Sudah sore, dapatkah kita pulang?" Tanya Rania


"Iya, boleh" Jawab Mila


Lalu Rania meraih ransel milik Mila dan membawakannya untuk gadis pengidap gagal hati tersebut.


Dari ruang extrakurikuler tari modern, terputar sebuah musik yang cukup keras. Mila selalu berhenti sejenak untuk melihat para anggota extrakurikuler yang sedang menari.


"Andaikan aku tidak terlahir begitu lemah dengan penyakit aneh ini " ucap Mila sambil meremat kedua tangannya.


Hidupnya terasa menyedihkan, sesekali ia menyalahkan Tuhan atas semua hal yang dialaminya. Bahkan, mengapa Tuhan menciptakan ia dan Meika dengan berbeda. Seharusnya mereka menjadi satu orang saja agar salah satunya tidak mengalami kekurangan.


"Bukan salah dari saudarimu, dan bukan pula salah dari Tuhanmu." ujar Rania seakan mengerti apa yang sedang ada dalam benak Mila.


Mereka telah berteman cukup lama. Rania tahu bagaimana Mila ingin sekali hidup seperti orang kebanyakkan.


Lalu, dari depan mereka ada seseorang yang sedang berlari dengan baju basketnya. Itu Reina, seorang bintang yang bersinar paling terang. Gadis dengan segala keberuntungan yang dapat membuat orang iri padanya. Dia terlahir dari keluarga kaya raya, cantik, pintar dan multitalenta.


Seulas senyum tipis dan anggukan kepala seakan mewakili ucapannya untuk menyapa Mila dan Rania.


"Mei, ayo pulang." Teriak Reina dari ambang pintu ruang tari modern


"Sebentar ya Rania..." ucap seorang pelatih tari


"saya Reina bu, bukan Rania." jawab Reina dengan nada sedikit kesal.

__ADS_1


Beberapa orang sering salah memanggil Reina dan Rania. Keduanya nampak serupa, hanya saja kulit Reina berwarna tan sedangkan Rania berkulit putih. Mereka memiliki nama belakang yang sama, sehingga orang mengira bahwa keduanya adalah sepasang anak kembar. Tidak, keduanya tidak memiliki ikatan darah. Sebuah plot twist ketika mereka bertemu dan menjadi salah satu sahabay dari kembar Mila dan Meika.


"Ayo Rein!" Ajak Meika yang sudah selese dari kegiatannya.


Sebelum benar-benar pergi, Meika menatap Mila dan bertanya.


"Kau mau bergabung dengan kami? Reina di jemput ayahnya hari ini." tawar Meika pada kembarannya.


"Aku alergi berdekatan dengan orang populer." Jawab Mila angkuh dan segera menyingkir dari sana. Diikuti oleh Rania


"Kita memiliki fisik yang serupa, tetapi nasib sangat berbanding terbalik ya." ucap Rania


Mila dan Rania, sepasang sahabat yang selalu merasa bahwa kehidupan mereka sangatlah buruk. Rania hanya seorang yatim piatu dari dia berusia sepuluh tahun. Sebuah kecelakaan pesawat telah menewaskan kedua orang tuanya yang sedang melakukan perjalanan bisnis keluar kota. Seluruh aset peninggalan orang tuanya diambil alih oleh kerabat dari orang tuanya. Lalu, paman dan bibinya membawa Rania ke sebuah panti asuhan. Hingga dia berusia tiga belas tahun, seorang pria berusia empat puluh tahunan datang untuk mengadopsinya. Dia adalah kepala sekolah tempat ia mengenyam pendidikan SMA.


***


Kepala Sekolah itu tidak benar-benar baik pada Rania, tidak jarang gadis itu mendapatkan sebuah pukulan pada tubuhnya. Pria itu menjadi kurang waras setelah istrinya meninggal. Rania diperlakukan seperti seorang budak dan tidak jarang pula pria itu membawa pulang gadis-gadis malam untuk menghangatkan ranjangnya.


Dulu, pria itu memang sangat menyayangi Rania seperti anaknya sendiri. Namun, semenjak istrinya tiada dia menjadi orang yang kasar dan selalu menyalahkan Rania atas kematian istrinya. Ya, andaikan hari itu Rania mau pulang sendiri menaiki sebuah bus. Mungkin kecelakaan itu tidak terjadi. Hujan lebat, pandangan buram dan jalanan licin. Semua adalah salah Rania.


"Hai Mila, ayo pulang bersama. Saya akan mengantarmu sampai rumah." ajak ayah angkat Rania


Ada sedikit firasat tidak baik ketika ayah angkatnya mulai menawarkan tumpangan untuk Mila, sebelumnya. Hal itu tidak pernah terjadi.


Mila merasa hatinya menghangat ketika ayah angkat sahabatnya menawarkan sebuah tumpangan. Dalam pandangan Mila, ayah angkat Rania adalah sosok pria yang sempurna. Bahkan jika dia diberikan sebuah kehidupan kedua, Ia ingin terlahir dan berpasangan dengannya.


"apa tidak masalah jika saya bergabung, pak?" Tanya Mila


"sudah tidak apa-apa. Kamu kan temannya Rania. Ayo masuk. Saya lihat kembaranmu juga sudah pulang bersama sahabatnya." jawab ayah angkat Rania


Mobil itu membawa ketiganya, menembus jalanan beraspal di tengah kota. Rania hanya terdiam sepanjang jalan. Tentu hal itu aneh bagi Mila.


"kamu kenapa Ran?" Tanya Mila yang merasa bahwa sikap sahabatnya sangay aneh.

__ADS_1


"Mila mau langsung pulang atau mampit dulu?"


"Saya mau mam....


"Dia harus pulang yah, ini waktunya Mila minum obat dan istirahat." Potong Rania tiba-tiba


"eh tidak masalah kok, aku sudah bawa obatku. Jadi aku bisa main dulu. Nanti biar aku telphone mamaku." jelas Mila


***


Sebuah rumah megah laksana istana dalam film nampak jelas dalam pandangan. Mobil yang mengangkut tiga penumpang itu telah memasukki halaman. Setelah mobil itu berhenti, nampak ada beberapa orang yang sigap berdiri di samping mobil untuk membukakan pintu.


Mila menatap takjub rumah Rania. Meski pun ini bukan pertama kalinya ia berkunjung. Rasanya, ia selalu takjub dengan rumah itu.


"Mila, ayo masuk!"ajak ayah angkat Rania


"eh iya."


Rania hanya mengekor dari belakang. Ia merasakan firasat tidak enak. Ada perasaan khawatir yang tidak dapat ia jelaskan.


Kini kedua gadis itu sudah duduk di atas ranjang milik Rania. Mila yang duduk berhadapan dengannya terus berceloteh banyak hal. Hingga, topiknye berubah menjadi sebuah harapan masa depan.


"Ran, jika kau diberikan sebuah kesempatan kedua untuk hidup. Apa habg kau mau?" Tanya Mila dengan wajah seriusnya.


"Kau percaya hal itu?" Rania malah balik bertanya


"Ayolah Ran, jawab saja!" Paksa Mila


"oke oke, jika aku diberikan kesempatan kedua, aku ingin tinggal dengan orang tua kandungku." Jawab Rania lirih


Mila hanya memandang sahabatnya dengan ekspresi sedih. Ya, semua anak pasti ingin hidup bersama orang tuanya


"kau sendiri, jika diberi kesempatan kedua untuk hidup. kau ingin apa?" kini giliran Rania yang mencoba melemparkan pertanyaan.

__ADS_1


"Sederhana, aku ingin hidup sehat dan menikah dengan pria seperti ayah angkatmu."


Jawaban dari Mila telah berhasil membuat Rania terdiam dengan tatapan terkejut.


__ADS_2