Rahasia (Who Are You?)

Rahasia (Who Are You?)
7. Kita dan Dunia


__ADS_3

Semilir angin sore menerbangkan angannya. Memandang jauh langit di atas sana. Masih nampak biru. Namun di ujung sana ada awan kelabu yang mulai merambat. Sebentar lagi akan hujan. Rania menatap rinai yang mulai turun menghujam. Semakin lama semakin banyak. Membuatnya terpaksa harus tinggal lebih lama di sekolah.


Hujan adalah musim yang disukai oleh Mila, sahabatnya yang seorang yatim piatu itu. Kenyataan itu membuat Rania merasa menjadi teman yang tidak berguna. Tentang di hari itu atau jika dia bisa mencium kebejatan itu lebih awal, mungkin hari ini mereka masih bersama menjalani petualangan mereka melawan dunia.


Angin yang dibawa hujan berhembus kencang, dingin mulai dirasa. Rania yang duduk di atas dudukan di depan kelasnya hanya dapat merapatkan hoodienya untuk mendapatkan sebuah kehangatan. Lalu netranya menatap bangunan diseberang. Lampu ruang guru itu nampak menyala. Mungkin hujan membuat ruangan menjadi gelap hingga harus menyalakan lampu.


Rania merasa bosan duduk sendirian disana. Hari ini dia tidak memiliki rencana apapun untuk mengisi waktu pulang sekolahnya. Tidak ada tawuran hari ini. Selain itu beberapa gadis enggan berteman dengannya karena dia ada dikelas berandalan sekarang. Sedangkan teman di kelas berandalannya memiliki kegiatan sepulang sekolah. Sebagian melalukakan pekerjaan part time.


Rania pun menerobos hujan dengan berlari secepat mungkin agar tubuhnya tidak terlalu basah. Ia tidak tahu mengapa ia menuju ruang guru. Hatinya berkata agar ia kesana.


Di dalam ruang guru itu terlihat seorang guru muda yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Ada beberapa berkas menumpuk di depannya. Di depannya ada secangkir minuman hangat. Terlihat dari asap yang mengepul di atas cangkir yang mungkin berisi teh.


Tangannya tersembunyi di dalam saku hoodie. Sneakernya menjadi sedikit basah.


"Kau belum pulang?"Tanya Rania masih di ambang pintu


Pertanyaan Rania membuat orang di dalam ruang guru itu sedikit terkejut dan mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Dia tersenyum pada murid nakal itu.


"Masih ada beberapa pekerjaan. Kau sendiri?" Guru muda itu pun bertanya kembali.


"Ayahku sedang pergi bersama ******* barunya. Dia menyuruhku untuk menunggu dua jam lagi. Padahal aku yakin dia tidak akan kembali dalam dua jam." Terang Rania dan mendekat ke arah Meika, guru muda yang tersisa di ruang guru.


"Kau menurut pada ayahmu ya?"


"Tentu saja tidak. kau pikir? Itu hanya alasan paling normal yang bisa ku katakan. Alasan sebenarnya aku terjebak oleh hujan." Terang Rania dan menatap Meika.


Rania melangkah masuk, mengabaikan kondisi sepatunya yang mungkin akan membasahi lantai ruangan. Ditariknya sebuah kursi dari deretan sebalah dan dibawa ke depan meja Meika. Hening sesaat. Tidak ada yang ingin memulai sebuah topik pembicaraan lagi. Hanya otak yang sibuk dengan pemikiran masing-masing. Lalu hujan membuat mereka rindu pada kenangan.


Awan kelabu di langit seakan menggambarkan rindu. Keduanya memiliki sebuah kenangan di masa lalu.


Bahkan tentang Reina, gadis misterius itu sangat menyukai hujan. Tetapi dulu, Meika dan Reina seperti berada pada dua alam yang berbeda ketika hujan itu mengguyur. Reina yang akan berlari menerobos rinai-rinai itu sedangkan Meika akan berdiam di tepian dan berteduh. Andaikan hari itu Meika bisa berlari bersama Reina.


"Kau punya teman istimewa?" Tanya Rania tiba-tiba.

__ADS_1


"Punya." Jawab Meika singkat dan kembali menatap berkasnya yang sebentar lagi selesai.


"Dimana dia?" Tanya Rania lagi


"Rumah Tuhan."


Rania tidak melanjutkan kembali pertanyaan. Dia tahu selanjutnya adalah kisah duka. Kemudian dia berbisik pada angin. Memohon doa agar semua orang diberi sebuah kebahagiaan.


"Rania." Panggil Meika


"ya?"


"Bisakah aku mendengar kisah tentang kelas berandalan?" Meika memintanya dengan lembut


"Tentu, aku akan menceritakannya."


Kelas berandalan diawali dari kisah seorang Rania. Gadis dari line VIP yang akhirnya memilih untuk keluar dan bergabung dalam deretan anak-anak yang mendapat perlakuan tidak adil.


Satu tahun lalu setelah kemenangan Rania bersama sahabatnya dalam olympiade nasional itulah sebuah konflik bermula. Rania mendapatkan mobil baru yang paling dia inginkan. Hari itu dia berpikir telah menjadi seorang anak dengan kisah hidup yang sempurna. Jelas diingatannya bagaimana Ayah beserta sang Ibu menyambutnya hangat, memberikan pelukkan kasih sayang ketika dia membuka pintu rumahnya. Ucapan selamat dan ungkapan bangga tidak berhenti keluar dari kedua orang tuanya. Sebuah kisah yang sempurna.


Duka benar-benar sewarna kelabu, dunia seakan membenci kebahagiaanya. Rania terpuruk dalam kesedihan. Dari kejadian itu sang ayah menjadi gila, sikapnya berubah tidak ada lagi sosok ayah yang beribawa, penuh kasih sayang serta mengabulkan semua permintaan Rania. Hidupnya menjadi berubah. Ayahnya menjadi sering pulang larut dengan kondisi mabuk berat, sumpah serapah lolos begitu saja dari mulutnya, serta membawa banyak wanita ke rumah. Ayahnya menjadi tidak peduli dengan Rania.


Rania kesepian, tetapi dia masih terus belajar. Hingga suatu hari dia siang yang cerah, Mila. Teman baiknya datang berkunjung dengan wajah tertunduk. Tidak biasanya gadis cantik itu nampak sedih.


"Ada apa? kamu ada masalah?" Tanya Rania pada sahabatnya.


Kedua sedang duduk di tepian ranjang milik Rania. Tiba-tiba saja Mila memeluknya. Tentu saja dia terkejut. Gadis yatim piatu itu tidak pernah terlihat sehancur hari itu.


"Kenapa?" Tanya Rania lembut


"Aku menyerah Ran, maaf." Setelahnya Mila berlari keluar, meninggalkan Rania.


Sejak hari itu, Mila menghilang, tidak lagi Rania temui dimana pun. Di panti tempatnya tinggal, di minimarket tempatnya paruh waktu atau di perpustakaan kota tempatnya belajar. Mila seakan lenyap dari dunianya.

__ADS_1


Dunia milik Rania benar-benar hilang. Hancur sudah seluruh impian. Ia seperti dilemparkan ke andromeda. Dia harus hidup dengan kisah baru dan tempat yang begitu asing.


Sekolah pun menjadi tidak menyenangkan. Semuanya terlihat abu-abu. Bahkan ketika semua orang menganggapnya anak manja serta mengucilkannya, hanya Mila yang menggenggam tangannya. Namun, Mila lenyap. Tidak ada satu pun orang yang mau berteman dengannya. Dunia remajanya seperti potongan drama hitam putih.


Lalu kabar menggemparkan itu datang dan semakin membuatnya putus harapan. Mila Drop Out dari sekolah. Rania melihat temannya itu mengemasi seluruh barang-barang yang masih tertinggal di lokernya sambil menangis. Semua anak-anak membentuk kelompok dan mulai menggunjing, melontarkan kata-kata tidak pantas yang tentu terdengar begitu menyakitkan. Rania merasakan betapa tajamnya kalimat tidak pantas itu perlahan menghujam seorang Mila.


Ketika Mila hampir sampai pada gerbang sekolah saat itulah sudah waktunya seluruh kenangan tentang kisah dunia bersama Rania akan segera berakhir. Dunia penuh warnanya hanya akan menjadi kenangan.


"Milaaaaaaaaaaaaaa!!!!"


Rania yang hari itu adalah seorang gadis manis yang dikenal begitu manja berlari sembari meneriaki nama teman terbaiknya.


Kedua saling bertatap. Air mata terlihat mengalir dari keduanya. Meskipun Rania tidak tahu apa yang terjadi, sebenarnya dia sangat ingin bertanya. Tetapi Dia tahu bahwa Mila akan lebih hancur jika ia bertanya sekarang.


"Kamu akan meninggalkanku?" Tanya Rania


"Aku akan selalu hidup bersamamu, selamanya aku temanmu. Tetapi mungkin bukan raga ini lagi yang disini. Aku harus pergi." Kata-kata Mila terdengar begitu menyedihkan.


Tanpa melambaikan tangan atau salam perpisahan maupun janji akan bertemu lagi esok. Mila pergi meninggalkannya. Rania sudah kacau, kakinya seakan menjadi begitu berat untuk berlari mengejar Mila. Lidahnya kelu serta bibirnya seakan terkunci rapat untuk berteriak lagi. Tubuhnya merosot, ia menangis tersedu meratapi semua hal yang dia tidak tahu dan mengapa tidak seorang pun memberitahunya.


***


"Dia hilang." Rania menutup kisahnya


"Lalu yang terjadi pada kemudian?" Tanya Meika penasaran dengan lanjutan kisah yang diceritakan oleh Rania


"Mungkin lain kali, aku harus pergi sekarang. Selain itu suamimu juga sudah tiba." Rania keluar dari ruang guru itu.


Hujan juga sudah mereda, garis-garis cakrawala pun sedikit-demi sedikit mulai mengintip melalui celah kelabu yang menipis. Tidak lama kemudian sinar senja benar-benar memandikan seluruh dunia. Seperti harapan baru yang muncul setelah rasa putus asa.


Meika menutup seluruh berkasnya dan meraih Handle bag yang terletak di atas meja. Dia keluar dari ruang guru dan menemui Raihan yang telah menunggunya di luar. Nampak senyum sumringah terukir di wajah pria yang telah berstatus sebagai suaminya. Meski pernikahan itu bukan mereka yang menginginkan.


Tentang hidup kita serta kisah yang kita ukir di dunia.

__ADS_1


Kamu yang berharga adalah bagian istimewa dari duniaku yang kelabu.


__ADS_2