
Meika yang sibuk dengan kenangannya hanya terdiam saat di dalam mobil jemputannya. Beberapa kali suaminya menegur tetapi hanya sesaat dan dia kembali melayang ke masa itu. Senja yang tidak terlupa. Dia selalu ingin bertanya tentang darimana Reina berasal.
"Kamu memikirkannya?" Tanya Raihan yang khawatir pada istrinya.
"Sepertinya begitu." Jawab Meika sekenanya.
"Apa ada sesuatu yang membuatmu memikirkannya? kau ingat, sudah seribu hari berlalu." Tutur Raihan agar istrinya tidak terus berlarut dalam duka
"Kenapa semudah itu? bagaimana dengan kenangan kalian?" Kini Meika membalikan ucapan Raihan.
CEO muda itu terdiam dibalik kemudi. Duduk memandangi langit biru yang sebentar lagi akan berganti senja. Lampu lalu lintas tidak kunjung menghijau membuat waktu benar-benar terasa berhenti. Raihan ingin menangis sekarang.
Reina, kenapa gadis itu terlalu sulit dilupakan. Sungguh dusta jika ia berkata sudah melupakan gadis manis pemilik lesung di pipi kanan itu. Siapa pun yang telah terikat akan terus terjebak disana.
"Aku mencintaimu. namun, dapatkah aku memohon agar kamu memenuhi semua yang kumau? tolong nikahi Meika."
Hari itu adalah hari terakhir sebelum akhirnya mereka dipisahkan oleh takdir yang lebih kejam dari Milky Way Galaxy yang memisahkan Altair dan Vega. Reina menghilang dan seorang notaris yang membacakan sebuah wasiat. Reina, memintanya untuk menjaga Meika.
Lampu lalu lintas itu akhirnya menghijau. Mobil yang dikendarai Raihan bersama sang istri melaju perlahan membelah jalanan beraspal. Ketika keduanya sampai di perempatan berikutnya, kedunya terpaksa harus menepi. Ada dua rombongan anak SMA yang sedang berselisih. Kedua rombongan itu masing-masing membawa alat pemukul.
"Kita harus putar balik." ajak Meika kepada suaminya
"Tidak bisa Mei, kita tidak bisa melakukannya ini jalanan satu arah."
Sial, Meika mendecih pelan dan masih bisa di dengar oleh suaminya.
"Kalian benar-benar berbeda ya, dulu kami pernah ada disituasi ini. Dia malah keluar iseng menyalakan aplikasi sirine dari smartphonenya." Terang Raihan
"Dia lebih menyukai perdamaian. Sedangkan aku bukan orang yang mau membuang energiku." Meika menuturkannya sembari menatap ke depan.
Ia terkejut ketika mendapati salah satu dari kelompok tawuran itu adalah muridnya. Rania. Gadis itu masih mengenakan hoodie yang sama, hanya saja rok pendeknya itu telah berganti dengan celana training panjang. Dia berdiri di line terdepan dengan pemukul bisbol di tangan kirinya.
"Astaga Raniaaaaaa!!!!"
Meika terpekik, dia langsung keluar dan berlari menuju dua kelompok anak muda yang sedang memulai aksinya, tidak peduli dengan apa yang baru saja diucapkannya tentang membuang sebuah energi.
Dengan terpaksa Raihan mengikuti istrinya. Tawuran adalah hal yang berbahaya. Meika tidak peduli jika dia harus berada dalam situasi seberbahaya itu. Hatinya terlalu takut jika sesuatu hal buruk terjadi pada Rania.
Mereka baru bertemu hari ini dan sudah merasa begitu dekat. Membuat Meika meyakini tentang teori reinkarnasinya.
Reinkarnasi memang serupa tetapi tidak sama, aku yakin dia adalah reinkarnasi dari Reina
__ADS_1
"Berhenti!!!!!!" Meika terus berteriak agar anak-anak itu berhenti.
Hingga aksi mereka terhenti karena sirini polisi. Mereka semua lari, sekejap meninggalkan tempat itu. Tetapi Rania,gadis itu seperti kehilangan jiwanya. Menatap kosong ke arah Meika yang terus berteriak memanggil namanya. Rania memandang datar guru muda itu. Lalu menyeka darah yang mengalir pada pelipis kanannya. Luka bukan hal baru baginya.
"Kamu ikut kami ke kantor kepolisian untuk dimintai keterangan."
Akhirnya Satuan Polisi Pamong Praja menyeret Rania ke kantor kepolisian. Meika beserta suaminya pun turut serta.
***
"Tindakkan yang kamu lakukan itu sangat berbahaya, mau sampai berapa kali lagi? Kamu ini masih muda, perempuan kenapa harus begini?" Begitu ocehan dari kepala polisi yang terdengar seperti bunyi radio rusak di telinga Rania.
Kantor kepolisian bukan hal baru. Dia sudah sering masuk kesana ditanyai ini itu untuk melindungi teman-temannya. Bahkan dia tahu sebentar lagi ayahnya akan datang, memarahinya disana dan memukulnya tanpa ampun.
"Sudahkah anda menghubungi ayah saya?" Satu pertanyaan mengejek akhirnya keluar dari bibir gadis muda itu.
"Permisi, saya guru sekolahnya Rania. Saya akan menjadi walinya."
Rania langsung melihat ke arah sumber suara. Senyum kemenangan dia tunjukkan kepada polisi tua dengan perut buncit disana.
"Hei pak tua kau tahu? nasibku sedang beruntung hari ini."
"Anda suaminya?" Tanya Rania ketika ketiganya telah keluar dari kantor kepolisian.
"Aku baru tahu jika di jamanmu masih ada yang menggunakan bahasa kaku seperti itu." Jawab Raihan
"Itu belum menjawab pertanyaan saya." kata Rania dengan datar
"Iya, dia suamiku. Apa kamu pernah berjumpa dengannya sebelum ini? atau dikehidupan sebelumnya?" ujar Meika
Rania menaikkan salah satu alisnya seakan memunjukkan bahwa dia sedang bingung. Dia tidak menyangka bahwa guru muda itu sangat meyakini sebuah teori reinkarnasi.
"Jadi anda masih meyakini tentang teori reinkarnasi itu?" Rania bertanya hal seperti itu ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil.
Meika dan Raihan akan mengantarkan siswi nakal itu untuk pulang.
"Jika benar reinkarnasi itu ada, kenapa dia tidak lahir kembali? kenapa dia malah terlihat menjadi lebih tua?" tambah Rania
Tidak ada yang berucap, hening terjadi di sepanjang jalan, Raihan pun hanya bertanya tentang tempat tinggal Rania dan gadis itu menjawab agar ia di turunkan di depan minimarket dekat koramil.
"Terimakasih untuk tumpangannya. Oh ya Meika!"
__ADS_1
"Aku gurumu, tidak seharusnya memanggilku dengan nama seperti itu." Meika sedikit kesal ketika Rania memanggilnya tanpa tambahan nama penghormatan.
Lagi-lagi gadis muda itu malah menunjukkan senyuman menjengkelkan. Menompang dagunya dengan tangan kanan yang dia letakkan pada jendela mobil yang berhadapan langsung dengan sang guru.
"Aku tidak bisa memanggilmu seperti itu. Aku ingin tahu mengapa kau berlari ke arahku, padahal kau tahu hal itu sangat berbahaya. Aku bukan Reina mu. Orang mati tidak akan kembali. ku beritahu satu hal. Aku lebih meyakini teori tujuh kembaran."
Angin malam terasa begitu membelai, menghapus jejaknya yang memudar seiring berjalannya malam. Kegelapan menelannya. Dia menghilang di gang kecil diantara minimarket dan perumahan warga. Hanya bayang-bayang samar yang tertangkap pada netra Meika dan Raihan. Lalu menjadi gelap. Rania sudah menghilang.
Mobil itu kembali melaju. Menembus gemerlap sorot lampu kota di malam hari. Tetapi kegemerlapan itu tidak mampu menyinari kegelapan hatinya. Wanita berstatus guru magang itu semakin larut dalam duka.
"Kau lihatkan? Dia terlihat sama. Aku yakin itu reinkarnasi."
***
Masih membekas diingatan bagaimana Rania memukul lawannya dengan tongkat baseball. Menciptakan luka pada tubuh lawannya dan tersenyum tipis yang terlihat sangat licik. Tubuh gadis itu juga terlihat begitu lihai, fisiknya seakan tercipta bukan untuk merasakan sakit. Hal itu terlihat bagaimana dengan begitu tenang dia menyeka darah segar yang mengalir dari luka barunya.
Meika terus memikirkan tentang peristiwa tawuran itu, sehingga dia menjadi gelisah. Dia bangun dari posisinya. Berjalan menuju dapur dan mencari air dari lemari pendingin. Menuangkannya ke dalam gelas dan meneguknya sedikit kemudian dia duduk di kursi ruang makannya. Diluar sedang turun hujan. Tidak terlalu deras tetapi rinai-rinainya cukup membuat basah. Kaca-kaca jendela rumahnya mulai berembun lalu dinginnya angin mulai merambat masuk melalui jendelanya yang belum benar-benar tertutup.
Dia menutupnya, saat itu pula dia mendengar suara samar. Sebuah seruan rindu. Di dalam ruang kerja, terlihat Raihan sedang memandangi bingkai foto seseorang.
"Aku melihatmu hari ini. Di masa ini kamu adalah jagoan. Kamu terlibat tawuran yang dulu adalah hal yang paling kamu benci? kenapa kamu melakukannya sekarang?aah aku terlalu rindu, kalian tidak sama. sepertinya aku terbawa Meika dengan teori reinkarnasinya." Raihan mengucapkannya sambil menyeka air mata rindu. Lalu membelai pelan wajah dalam bingkai foto itu.
Foto yang mereka ambil di masa SMA.
Meika melihatnya, hatinya terasa sedikit sakit. Saat dia mulai mencintai Raihan tetapi hati itu belum bisa dia miliki. Ia tahu pernikahan mereka hanyalah wasiat dari Reina. Namun apakah salah jika sebuah rasa akhirnya ada diantaranya dan Raihan.
***
Tentang Rania, dia berharap ayahnya akan memarahinya ketika dia pulang larut atau sekedar bertanya darimana dia mendapatkan luka baru di dahinya. Semua itu hanya ekspetasi berlebih bagi Rania.
Andaikan hari ini guru magang itu tidak datang untuk membelanya mungkin dia akan berinteraksi dengan ayahnya. Meskipun itu juga merupakan interaksi yang buruk. Setidaknya mereka akan berbicara. Kini dia terlalu lelah untuk berharap, memilih untuk segera masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan diri. Memandangi langit-langit kamarnya. Melambungkan kerinduan pada sosok sahabat yang tidak akan lagi dia jumpai.
"Aku bertemu salah satu kembaranmu. Tetapi konyolnya dia orang dewasa yang mempercayai sebuah reinkarnasi. kekonyolannya itu membuatku hari ini terbebas dari kasus anarkis pelajar."
Pintu kamarnya terbuka secara tiba-tiba, menampilkan wajah kaku dari ayahnya. Rania segera mengubah posisinya. Duduk di atas kasurnya dan memandangi sang ayah.
"ciiiih, kenapa aku harus khawatir pada anak sepertimu."
"Kau pikir aku mau di khawatirkan oleh pria bejat sepertimu? kenapa kau harus menjadi ayahku."Maki Rania pada ayahnya
Lalu pintu kamarnya tertutup secara kasar.
__ADS_1