Rahasia (Who Are You?)

Rahasia (Who Are You?)
5. Sebuah Harapan ketika Senja


__ADS_3

Tubuh kurus itu terbaring tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Hanya butiran kristal bening yang mengalir dari kedua bola matanya. Begitulah yang terjadi ketika ia baru saja tersadar dari tidur panjangnya. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia terbaring disana. Terakhir yang diingat dia sedang duduk di tepian lapangan basket menyaksikan teman sekelasnya yang sedang mengikuti pelajaran olahraga.


Pintu ruang rawat inap terbuka menampakkan sosok yang begitu ia percaya. Reina. Datang dengan kantong kresek yang ia tahu berisi brownies kesukaanya.


"Hai!" Sapa Reina


Reina selalu datang di waktu yang tepat. Dia seperti peramal yang bisa memprediksi waktu.


Sudah tahun kelima keduanya terikat dalam ikatan pertemanan. Menjadi saling percaya dan sedikit demi sedikit Meika mulai membaik dari depresi berkepanjangannya.


Sebelumnya, Meika hanya gadis yang sudah hampir putus asa tentang kehidupannya. Ia merasa Tuhan terlalu berlebihan memberikan beban pada hidupnya. Yang selalu dia lakukan hanya menangis sendirian di sudut kamarnya. Memandangi obat-obatan yang sewaktu-waktu harus di telannya. Belum lagi jika tiba-tiba ia harus terbangun di ranjang rumah sakit.


Ketika teman-temannya bisa berlari, bermain kesana kemari. Dia hanya dapat duduk di tepian dan memandang kebahagiaan itu. Jika memaksa hanya sakit yang dirasa.


Hingga Reina, gadis kecil misterius itu hadir dan mengubah segalanya. Kejujurannya tidak membuatnya merasa tertekan. Justru Meika merasa lebih hidup. Masih begitu kuat diingatan bagaimana Reina menyebutkan penyakit itu. Meski pun terkesan kejam, Meika sama sekali tidak tersinggung.


Semua orang hanya memandang kasihan padanya, tetapi Reina tidak. Meika sama seperti yang lain. Kelemahan yang dimilikinya hanya sebuah hal yang sama sekali bukan sesuatu yang harus disayangkanh dengan. Ketika orang lemah mendapatkan belas kasihan. Mereka tidak akan senang. Justru belas kasihan itu membuat seseorang semakin tertekan dengan keadaan. Membuatnya terlihat begitu lemah dan tidak mampu melakukan apapun. Reina tahu tentang rasa itu.


"Rein?"


Sepotong brownis dalam genggaman tangan pucat itu kembali di letakkan ke dalam kotak. Meika menatap wajah berantakkan temannya. Reina tidak pernah rapi ketika memakan sesuatu. Hanya terlihat sempurna di depan kalayak umum. Jika sedang dengan Meika. Reina tetaplah manusia apa adanya.


"Ahahahahahha." Reina menampilkan mata bulat seperti tatapan anak polos yang menunjukkan kebingungannya.


"Ada apa?"


"Ya Tuhan, aku tidak mengerti bagaimana seorang idola sepertimu bisa sangat berantakkan ketika memakan sebuah brownies." ujar Meika sembari menahan tawanya.

__ADS_1


"Tidak ada yang tahu. Mereka hanya tahu bahwa Rein adalah sosok yang sempurna." ujar Reina tidak peduli


Meika pun mengambil kembali brownies yang baru saja diletakkan. Menggigitnya sedikit lalu mengunyah perlahan sebelum akhirnya di telan melewati tenggorokkannya.


"Rein, bisakah aku hidup lebih lama lagi?" Terdengar begitu menyedihkan ketika Meika menanyakkan hal seperti itu.


Kini berganti Reina yang harus berhenti mengunyah browniesnya. Dia benci mendengar keluhan Meika seperti itu.


"Kenapa? Berhenti mengatakannya. Jika kau percaya kau akan hidup, tentu saja kau akan hidup. Jika kau putus asa dan memilih menyerah tentu semuanya akan terhenti."


Meika tertegun mendengar penuturan dari Reina. Temannya itu memang tidak pernah memandanganya sebagai orang yang lemah. Bahkan perlakuannya selalu biasa saja.


Orang lain akan memilih meninggalkan Meika dengan ucapan lembut tetapi membuat Meika merasa begitu lemah tidak berdaya. Seakan tidak ada yang bisa dilakukannya. Tetapi Reina selalu berkata "Ayo, jika nanti butuh bantuan katakan saja. Kita harus saling membantu."


"Rein, apa artinya aku memiliki kesempatan juga seperti yang lain? seperti hidup bahagia, memiliki pasangan dan juga membangun sebuah keluarga di masa depan?" Tanya Meika dan pandangannya beralih pada pemandangan kota yang dapat dia lihat dari jendela ruang rawat.


"Pilihannya adalah, kemauanmu untuk mewujudkan atau menyerah pada keadaan. Jika kau terus berusaha tentu saja tidak ada yang tidak mungkin. Hatimu bukanlah alasan untuk berhenti. Jadi berhentilah merasa tertekan dengan semua ini. Percayalah aku akan bersamamu untuk semua impianmu." Tutur Reina lalu memutuskan untuk membereskan sisa brownies mereka dan beranjak pergi.


"Semua terjadi begitu saja, membuatku merasa seperti karakter yang keluar dari cerita Anime. haha." Hanya Reina yang berucap dengan keajaibannya.


Tidak lama kemudian orang tua Meika datang. Reina segera pamit dan menghilang dari ruangan itu.


"Meika, bagaimana? kamu sudah lebih baik?" Seorang wanita berusia awal empat puluhan bertanya dengan lembut


"Aku baik-baik saja ibu, kapan aku bisa pulang?"


Dia tidak benar-benar baik, perasaannya masih begitu berat untuk bisa berdamai dengan keadaan. Namun untuk Reina, dia akan berusaha. Agar mereka bisa berlari sampai garis kemenangan bersama.

__ADS_1


Setiap manusia memiliki porsi penderitaan dan kebahagiaan yang sama.


Berat atau ringan hanyalah cara pandang seseorang untuk mengghadapinya.


Sinar jingga senja mulai merambat, pemandangan kota seketika bermandikan cahaya yang nampak seperti mendapat berkah Tuhan. Di angkata kedua tangan kurusnya. Dia tunjukkan telapak tangannya seakan menyapa sang senja. Meski harus sedikit menyipitkan mata, ia tersenyum ketika merasakan kehangatan sesaat itu. Dia seperti melihat harapan.


"Reina selalu berjuang untuk hidupnya, aku juga harus melakukan hal yang sama. Pilihanku adalah mewujudkan setiap harapan itu." Batinnya berucap.


***


Bersama sepeda kesayangan Reina menyusuri jalanan perkotaan. Dia terlihat berkilau bermandikan jingga sang senja. Bibirnya tidak henti bersenandung ria. Rasa syukur akan nikmat Tuhan atas setiap hembusan napas kehidupannya adalah sebuah anugerah. Dari Meika ia belajar untuk lebih menghargai hidup. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk bisa bergerak bebas seperti dirinya.


Mungkin Meika memiliki keluarga yang sempurna tetapi dia juga memiliki kekurangan. Benar kata orang, Tuhan itu tidak mungkin menciptakan sesuatu dengan berat sebelah.


Tuhan aku bersyukur atas kehidupan yang kau berikan.


Tidak semua orang mendapatkan anugerah hidup sepertiku.


Mungkin aku belum setaat itu padamu.


Tetapi ijinkanlah aku untuk bersyukur.


Tuhan, jika aku nanti datang kepadamu, akankah ada seseorang yang bisa menggantikanku untuk menjaganya.


Orang bilang ada tujuh orang yang serupa terlahir ke dunia ini. Jika benar, dapatkah Meika dan Reina yang lain bertemu dengan keadaan yang jauh lebih baik dari kisah Meika dan Reina yang saat ini.


Reina berhenti mengayuh sepedanya dan terhenti diatas sebuah jembatan. Di bawahnya ada sungai dengan aliran yang tenang. Airnya bergerak selaras serta nampak jernih. Sesekali tercipta gelombang yang berbeda ketika beberapa orang di tepian sana melemparkan kail pancingnya. Bapak-bapak tua yang sudah pensiun itu memang biasanya memancing disana. Sebagian sudah beranjak pulang dengan membawa hasil pancingan dan sebagian lain masih mencoba peruntungannya.

__ADS_1


Dua orang kakek-kakek diantara sekian pemancing sore itu menarik Reina hingga membuatnya berhenti sesaat. Mereka terlihat seperti dua sahabat yang sudah sangat lama membuat kisah bersama. Salah satunya terlihat menceritakan kisah lucu dan satunya tertawa mendengarnya. Mereka sedang memberesi alat pancing mereka. Mungkin sebentar lagi mereka pulang. Cukup dengan dua kakek-kakek itu, Reina kembali mengayuh sepedanya. Sebelum itu, dia berbalik sebentar memandangi bangunan rumah sakit mewah yang menjulang tinggi. Diantara sekian ruangan disanalah Meika di rawat.


"Besok kita punya cerita baru. Aku akan terus berjuang untuk hidupmu. Jadilah sang Vega untuk Deneb sepertiku. Suatu saat akan ku pertemukan dengan seorang Altair yang kelak akan menjagamu serta membantu mewujudkan setiap harapan masa depanmu."


__ADS_2