
Semua orang memiliki rahasia dan hak untuk menyimpan serapat mungkin. Begitu pula dengan apa yang telah disembunyikannya selama ini. Lelah tidak di rasa. Kebohongan sudah menjadi kenyataannya setiap hari.
Memandangnya seperti itu membuatnya sangat sedih. Kehidupan indah yang di bayangkan oleh seseorang disana hanya bentuk dari keinginan yang belum dapat terkabulkan. Tetapi, entah dikehidupan mana pun Meika dan Reina adalah sahabat. Jika pun reinkarnasi dan tujuh kembaran adalah sebuah fakta yang harus diyakini, mereka hanya akan terus mengingat bahwa mereka adalah sepasang sahabat.
Ketukkan pintu mengejutkannya dari aktivitas mengintip seseorang di dalam ruangan itu. Dia bergegas menuju pintu utama. Terlihat seorang wanita cantik yang menenteng tas tangan tersenyum padanya.
"Ku pikir kakak tidak akan datang, dia kembali berulah." lapornya kepada seorang wanita di hadapannya
"Tetapi dia masih mengingat tentang Reina kan?" Tanya seorang yang diketahaui merupakan seorang psikolog
"Ya dia masih mengingat Reinanya. Sudah ku katakan dikehidupan mana pun dan ingatan manapun, Meika dan Reina adalah sepasang sahabat." Terang seorang gadis dua puluh tahunan
Hari ini dia berulah. Setelah semalam pulang larut dari tempat kerja paruh waktu lewat tengah malam. Sesampai di rumah langsung terlelap. Lalu terbangun dengan kondisi tidak seperti biasanya. Tidak ada yang tahu bagaimana hal itu terjadi. Mungkin kematian Mila adalah penyebabnya.
Reina, sosok gadis dua puluh tahun itu hanya menyesali semuanya. Disaat Meika kehilangan Mila karena sebuah penyakit, Reina tidak disana. Hal itulah yang memicu PTSD dalam diri Meika.
Meika berulah dengan menjadikan dirinya pengidap gagal hati, sebuah penyakit yang menggerogoti diri Mila. Bahkan lebih sulit dimengerti lagi dia mengatakan bahwa dirinya sudah berusia dua puluh lima tahun, berprofesi sebagai pengajar dan memanggil Reina dengan sebutan Ran.
Keinginannya hari ini adalah ditemani Reina. Dia tidak ingin kehilangan siapa pun lagi.
Ran, Rania. Nama itu milik sahabat dari saudara kembar Meika. Gadis itu juga mati bunuh diri karena kehilangan Mila.
Kematian Mila dan Rania begitu sulit diterima oleh Meika. Andaikan dia tidak egois dan mau menyerahkan hatinya untuk Mila. Mungkin tidak akan membuat orang tua kehilangan anak mereka yang berharga. Di saat itu Reina tidak disana. Di tahun itu Reina pergi tanpa sepatah kata pamit.
Reina terpaksa meninggalkan Meika karena orang tuanya harus pindah secara mendadak keluar negeri karena urusan pekerjaan.
Imajinasi yang dimiliki Meika hari ini benar-benar konyol. Dia menganggap Reina mati, memanggilnya Ran dan menanyakan tentang masa lalu Mila. Bahkan Ran dianggap sebagai kakak Reina dari ibu yang berbeda lalu Reina adalah anak dari hubungan gelap Mila bersama ayah Ran.
"Lalu apa yang harus kulakukan Lina?" Tanya Reina kepada sang psikolog
__ADS_1
"Teruslah menjadi Ran untuk sementara waktu, ikutlah berpura-pura. Lalu pria yang dianggap suaminya itu siapa?" Tanya Lina
"Dia, temanku di SMA. Dia yang memberitahuku tentang Meika, serta mengenai kematian Rania dan Mila." Jawab Reina
Lina menepuk pelan bahu kecil Reina. Memberinya sedikit semangat untuk usahanya menyembuhkan PTSD milik Meika.
"Sekolah yang dijadikan tempat mengajar itu bagaimana?" Tanya Lina lagi
"Aku melakukan sedikit kebohongan. Aku menyewa satu ruang kelas tidak terpakai untuk melengkapi imajinasinya. Tentu menyewa beberapa orang yang tidak memiliki kesibukkan juga." Terang Reina
Raihan, pemuda dua puluh tahun yang sudah mengenal Reina, Meika, Rania dan Mila memiliki jasa besar dalam hal ini.
***
Rahasia besar Meika adalah keberadaan PTSD nya. Orang-orang tidak ada yang mengira jika Meika mengalami stres yang cukup parah. Yang orang lihat gadis itu sempurna, tidak seperti saudari kembarnya yang berpenyakitan. Tidak ada yang menyalahkannya tentang kematian Mila. Keduanya berada di panti asuhan yang sama. Keinginan mereka adalah memiliki orangtua sebaik orang tua Reina.
Mila mengidap penyakit gagal hati yang cukup parah, untuk terus hidup dia memerlukan donor hati. Tetapi selama itu belum ada pasien mati otak yang di donorkan hatinya. Donor organ bukan sesuatu yang banyak dijumpai.
Sepasang sahabat itu sedang duduk saling berhadapan diatas sofa panjang di rumah mereka.
Menceritakan kebohongan yang telah disusun adalah sebuah dosa yang selalu disesali Reina. Bahkan pertanyaan yang harus ditanyakannya setiap pagi juga cukup membuatnya sedih. Berusaha waras adalah keinginannya.
"who are you?"
Dia terus menanyai Meika seperti itu di pagi hari.
"Siapa pasangan sahabat terbaik?"
"masihkah kau ingat Reina?"
__ADS_1
Sejak Reina mendengar kabar tentang gangguan stres Meika. Ia memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya. Menemui sang sahabat yang sama sekali tidak mengenalinya. Terus memanggilnya dengan nama orang lain. Kemudian ia meminta pengertian dari kedua orang tua. Hingga kedua orang tua Reina memberikan sebuah rumah minimalis untuk keduanya tinggal. Memudahkan Reina untuk merawat Meika.
Reinkarnasi. Sebuah keyakinan yang ditemui dalam fiksi Asia. Sebuah keyakinan bahwa akan ada perputaran kehidupan dimana seseorang akan terlahir kembali. Mereka yang berhati mulia akan kembali menjadi manusia yang suci atau menjadi kupu-kupu cantik. Sedangkan untuk mereka yang jauh dari kebajikkan, hanya akan berinkarnasi menjadi binatang yang buruk.
Reina selalu menepis keyakinan Meika. Dia lebih mempercayai tujuh kembaran karena ia mendapati fakta tentang kemiripannya dengan Rania. Padahal tidak ada ikatan darah diantaranya.
"Ran, aku ingin mereka yang pergi terlahir kembali dan menemuiku agar aku dapat menebus seluruh dosaku."
Setiap yang terucap hanya sesal dan menyalahkan diri sendiri.
"Tidak ada reinkarnasi dalam dunia ini. Jika pun hal itu ada, apakah kamu benar-benar yakin jika Meika dan Reina masih dapat bertemu di kehidupan kedua mereka? Tidak dapatkah kamu berpikir tentang jarak perpisahan itu? mungkin saja Meika dan Reina tidak hanya terpisah jarak, bagaimana dengan terpisahnya masa?" Pertanyaan beruntun membuat Meika terdiam.
Seseorang yang dikenalinya sebagai Rania membuatnya berpikir.
"Aku hanya ingin sahabatku kembali. Berlari bersama dan bersenang-senang. Selama ini kami terhambat melakukan seluruh kebahagiaan itu karena keberadaan penyakitku. Tetapi ketika aku sembuh, dia malah pergi dengan meninggalkan hatinya disini."
"Jika begitu, anggap aku Reina, panggil aku Reina sesukamu."
Meika tersenyum dan memeluk Reina. Membisikkan sebuah kalimat untuk sang sahabat.
"tetapi aku masih gurumu di sekolah."
Meika belum sadar dari dunianya.
Beberapa saat yang lalu orang tua menelphone Reina. Menanyakan tentang kabar putri mereka. Semua orang tua pasti sangat khawatir dengan keadaan anaknya.
Lagi-lagi harus menarik dan menghembuskan napasnya perlahan. Mencari sedikit ketenangan.
Kehidupan memiliki rahasianya sendiri. Bertahan atau hancur. Kebohongan itu harus sampai kapan. Atau kapankah Meika berhenti dari imajinasi time travelnya, lalu dapatkan PTSD nya disembuhkan?
__ADS_1
Reina benar-benar ingin mengorbankan apapun agar sahabatnya sembuh dan menerima kenyataan.