
Pemimpin tawuran, pemilik nilai terburuk, anak miskin, korban broken home dan segala kasus kenakalan remaja lainnya. Begitulah isi dari kelas 11-IPA5 menurut rumor yang beredar. Semua penghuninya tercipta bermasalah. Tidak ubahnya dengan Rania. Setiap hari dia selalu datang dengan luka yang baru.
Rania terlahir dari keluarga terpandang. Ayahnya adalah Kepala Sekolah Menengah Atas tempatnya menuntut ilmu.
Mungkin secara garis besar dia terlihat begitu bermasalah. Sering bergabung dalam tawuran antar sekolah, datang pergi ke sekolah semaunya dan tidak menghormati guru. Sebenarnya dia memiliki alasan mengapa begitu benci dengan sekolah. Baginya sekolah hanyalah kedok untuk terciptanya kejahatan tertutup.
Lagi-lagi ia menarik dan menghembuskan napasnya dengan kasar. Perjalanan ke sekolah terasa begitu membosankan. Dia duduk di samping kursi pengemudi. Seperti biasa dengan earphone terpasang di kedua telinganya yang tertutup oleh tudung hoodienya. Tanganya yang terletak di jendela mobil sedang menyangga wajahnya yang suram.
Di sebelahnya, ada sang ayah yang sedang menata aktingnya agar terlihat bagus. Gerbang sekolah sudah di depan mata. Setelah mobil terparkir, pria dewasa itu akan pura-pura seperti ayah yang perhatian kepada anak perempuannya.
Rania lelah dengan kehidupannya yang secara terus menerus tanpa tujuan. Bahkan dia sendiri tidak mengerti mengapa harus melakukannya. Menjadi bermasalah hingga harus masuk ke dalam kelas berandalan.
Mobil yang di tumpangi Rania bersama ayahnya pun berhenti. Rania keluar dengan wajah datarnya seperti biasa, sedangkan sang ayah dengan perannya yang dimainkan sangat sempurna.
"Belajarlah yang rajin ya sayang." Tangan besar itu mengusap pelan pucuk kepada yang tertutup oleh tudung hoodie itu.
Rania menepis kasar tangan ayahnya. Dia benci drama pagi yang membuat mereka terlihat seperti keluarga bahagia umumnya. Orang-orang tidak tahu siapa Ayahnya yang sebenarnya, karena pria berjabatan kepala sekolah itu tidak seperti yang orang lain lihat.
"Berhentilah bersikap menjijikkan seperti itu." Gadis tujuh belas tahun itu segera menyingkir. Meninggalkan sang ayah yang tersenyum seperti iblis berkedok malaikat.
"Hati-hati dengan lukamu Rania." Pesan dari sang Ayah yang sebenarnya hanya agar terlihat sebagai sosok penyayang.
***
__ADS_1
Meika turun dari taxi online yang mengantarnya ke tempat kerja. Setelah memastikan penampilannya baik dia pun melangkah masuk ke area sekolah itu. Lima menit lagi jam pelajaran akan di mulai. Meskipun dia baru masuk kelas pada pelajaran ke empat. Tetapi pagi itu dia nampak lebih bersemangat.
Ketika hendak memasukki ruang guru, Meika melihat Rania yang berjalan menuju kelasnya yang berseberangan dengan ruang guru. Dalam jarak yang tidak terbilang dekat itu tanpa sengaja pandangan keduanya bertemu lalu waktu terasa membeku. Seakan mendukung keduanya untuk saling berinteraksi lebih lama lagi. Walau pun pada akhirnya Rania memilih untuk mengabaikan guru magang itu dan masuk ke kelasnya.
Meika tersenyum tipis, melihat Rania sudah cukup membuatnya lebih bersemangat. Dia juga penasaran tentang Rania sang Queen. Penghuni kelas berandalan itu mengatakan dialah yang terbaik.
Bunyi bel yang terdengar nyaring itu adalah pertanda bahwa pelajaran akan berganti. Hari ini memang bukan hari pertama lagi tetapi Meika masih saja memiliki sedikit keraguan itu.
"Berapa lama lagi kau akan mematung disana. Kau kemari sebagai guru yang akan mengajari kami. Bukan sebagai hiasan pintu kelas kami."
Ucapan Rania membuat semua penghuni kelas tertawa setelahnya.
Hari ini Meika sudah bertekad tidak akan kalah dari muridnya. Dia pun menguatkan tubuhnya agar berhenti untuk berdebar ragu. Sekuat mungkin dengan pasti. Kaki yang beralaskan hak tinggi itu mulai melangkah masuk dan Meika melirik sekilas ke arah Rania. Gadis itu tersenyum tipis padanya.
Pesawat kertas adalah isi harapan Reina yang di terbangkan jauh ke atas. Hanya saja seperti takdir, pesawat kertas yang melambung tinggi itu selalu jatuh pada Meika.
Lalu adegan pesawat kertas terulang hari ini. Setelah tersenyum tipis, Rania melemparkan pesawat kertas ke arah Meika. Semula pesawat kertas itu melambung tinggi ke atas lalu terjatuh tepat pada Meika. Dengan reflek dia pun menangkap pesawat kertas itu.
"Selamat datang di kelas berandalan. Menyerah sekarang atau beradu dengan kami. Seperti yang telah ku katakan, jika berhasil membuat kami menjadi juara pararel, tentu kau akan mendapat imbalan yang sepadan." Ujar Rania sambil membuat pesawat kertas barunya.
"Ku anggap pesawat kertas ini mewakili harapan kita. Harapan kalian untuk menang pararel dan harapanku untuk posisi di sekolah ini. Aku akan menunjukkan pada kalian bahwa cara mengajarku yang terbaik."
Anak-anak dari kelas berandalan itu pun mulai bersiap. Mereka nampak lebih rapi dari biasanya. Tetapi Meika melihat ada yang aneh dari seragam mereka semua. Bedge kelas mereka terlihat berbeda semua. Dalam kelas itu tidak satu pun menggunakan bedge kelas 11-IPA5. Seperti Rania, gadis itu melepaskan hoodienya. Nampak serius dengan pelajaran yang akan dia dapatkan hari ini. Seragamnya lebih rapi. Name tag yang dia gunakan adalah model pin, dasi yang dia gunakan memiliki dua garis strip di atas logo sekolah. Bedge kelasnya menunjukkan A. Bukan bedge dengan nama jurusan dan angka kelas. Meika tidak memperhatikan hal itu kemarin pada pertemuan pertama.
__ADS_1
"Kalian tidak memiliki bedge kelas yang sama?" Tanya Meika pada muridnya.
"Kau baru menyadarinya? Kami memang tidak memilikinya. Kelas ini hanya kelas bayangan. Bahkan bangunan kelas ini terpisah kan dan terletak paling ujung. Sebelah itu juga gudang. Kami ini terbuang." Terang Rania
Kelas 11-IPA5. Kelas itu tidak benar-benar ada. Seperti rumor yang beredar, kelas itu yang terburuk. Tetapi anak-anak disana sebenernya tidak seburuk itu. Mereka hanya lelah dengan kenyataan yang tidak adil hingga mereka pun putus asa. Terus menerus di tunjuk sebagai orang rusak hingga mereka pun akhirnya melakukan kerusakkan itu.
"Rania dari kelas VIP. sedangkan kami semua adalah campuran dari kelas IPA1 hingga IPA4. " Tutur Leo
Anak-anak kelas itu ada disana karena perlakuan tidak adil. Permainan uang membuat beberapa anak cerdas harus menjadi yang terburuk. Banyak anak-anak orang kaya yang berotak sampah ingin posisi sempurna. Lalu ada pula anak yang menjadi kambing hitam dari kejahatan orang lain dan banyak alasan lain yang sangat tidak adil.
Untuk Rania. Gadis itu dari kelas VIP. Sebuah kelas yang paling murni, hanya yang berotak brilian yang dapat berada disana. Penghuninya adalah orang-orang terpilih dan langganan olympiade. Tahun lalu, piala-piala yang kini terpajang di ruang kepala sekolah itu adalah hasil kerja kelas Rania dan sahabatnya dalam sebuah Olympiade tingkat nasional. Andaikan tidak ada insiden itu mungkin mereka akan mengikuti olympiade internasional. Tetapi Rania malah terjebak dalam kelas berandalan.
"Lalu Rania, apa yang kamu lakukan hingga harus kemari?" Tanya Meika penasaran dengan alasan Rania.
"Urusan pribadi." Jawab Rania singkat dan melipat hoodienya untuk dimasukkan ke dalam ranselnya.
Alasannya akan membuatku mendapatkan ingatan tentang kepayahanku.
"Buatlah kami semua mendapatkan keadilan. Aku disini untuk memperjuangkan keadilan itu. Bantu kami membersihkan para sampah." Pinta Rania dengan menatap intents pada Meika.
Rania yang serius membuat Meika mengingat kembali tentang Reina dan segala tekadnya. Tiba-tiba saja lagu berjudul EIGHT dari IU yang biasa diputar Viana setiap pagi seakan terdengar pelan di telinga Meika. Lagu itu seperti menghubungkan kisah antara ia, Rania dan Reina yang ada di alam sana.
Bagaimana mungkin aku lupa? Kamu selalu sama di masa mana pun. Tidak peduli seberapa jauh kamu pergi atau tersesat dalam perjalanan waktumu. Kamu akan tetap kembali padaku sebagai sosok yang sama.
__ADS_1
"Berhenti menatapku IBU GU RU ME I KA." Interupsi Rania penuh penekanan saat menyebut nama gurunya.
Mendengar itu, tentu Meika segera beralih dan mulai mengajar anak-anak yang disebut bermasalah.