
Di langit malam pada bulan Juli akan ada sebuah keajaiban. Tentang kisah cinta yang menakjubkan. Adakah yang ingin tahu. Baiklah, biarkan Reina menceritakannya pada semua orang.
Perkemahan anak muda di kala liburan semester itu dimulai. Hari ini akan menjadi sebuah hari yang panjang bagi Reina dan juga teman-temannya. Meski pun dia tidak bisa melakukan perkemahan itu bersama Meika.
Anak-anak pecinta alam akan melakukan sebuah camp di pegunungan. Mereka berangkat sore hari ketika matahari sudah mulai turun dari singgahsananya.
Dia mengencangkan kembali simpul sepatunya lalu meneguk air mineralnya sebelum memulai sebuah langkahnya. Langkah-langkah kecil dan pasti itu dimulai. Tebing-tebing curam terlihat begitu berbahaya. Reina berpegangan erat pada akar-akar tanaman yang menjulur liar di sepanjang jalur pendakiannya. Di depannya ada seseorang yang selalu siap untuk membantunya.
"Bisakah aku meminta bantuanmu, sepertinya kakiku tersangkut akar." Pinta Reina pada seseorang pemuda di depannya.
Tentu saja pemuda itu berbalik dan membantu melepaskan kaki Reina dari jeratan akar liar.
"Lain kali hati-hati. Jika lelah katakan. Ayo bergegas yang lain sudah semakin jauh." ajaknya
"Aku duluan ya." Reina pun berjalan mendahului pemuda itu. Sesekali mereka membuka obrolan ringan.
Rombongan pendaki tiba di lokasi camp ketika malam telah tiba. Lekas saja mereka membagi tugas, mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam. Salah satu dari rombongan itu mengeluarkan kompor portable dari ranselnya. Di jaman modern seperti ini tidak ada lagi perkemahan memasak dengan kayu bakar, begitu ucapnya. Tetapi sebagian dari mereka tetap mencari ranting-ranting kering untuk menyalakan unggun sebagai penghangat malam yang dingin.
Ketika semua telah selesai, Reina berjalan menembus ilalang liar dan pohon-pohon jati raksasa yang tumbuh di lereng-lereng gunung. Dia mendengar rumor ada sebuah batu besar yang menjadi lokasi terbaik untuk melihat bintang. Sejak kecil Reina menyukai bintang-bintang yang selalu bertaburan di galaksi bima saktinya.
Reina berbaring di atas batu besar disana. Memandangi langit berbintang atau kadang beralih menatap gemerlap lampu di bawah sana yang membuat langit seakan berbalik. Lampu-lampu kota itu nampak membuat daratan menjadi seperti langit yang berbintang. Semilir angin malam itu menggerakkan helaian anak rambutnya, membuatnya tersenyum. Nikmat Tuhan mana lagi yang harus Ia dustakan. Semuanya terasa begitu sempurna untuk kisahnya yang berantakkan.
Direntangkan kedua tangan kurusnya. Menikmati setiap hembusan angin malam yang sebenarnya bukan hal yang bagus untuk kesehatannya.
"Kenapa sendirian? Tidak mengajakku."
"Bukan begitu Han, aku hanya sedang menyaksikan sebuah kisah yang indah di atas sana." Reina mengatakannya tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. Kedua netranya masih menatap kelap kelip bintang di langit yang hitam.
__ADS_1
"Apakah tentang Orihime dan Hikouboshi sama lagi?"
"Di momen ini aku lebih suka menyebut mereka Vega dan Altair." Reina menjawabnya dengan senyuman dan mengalihkan pandangannya sekilah ke arah lawan bicaranya.
"Raihan." Panggil Reina pada pemuda di sebelahnya
"Ya?"
"Apakah kau Altair?" Reina melemparkan satu pertanyaan yang membuat pemuda yang disapa Raihan itu menatapnya bingung.
Hening sesaat, sepasang anak manusia itu kehilangan kata-katanya, memandang jauh langit yang sama. Bintang bersinar seakan memberikan harapan.
"Jika Aku seorang Altair, apakah itu artinya kau akan menjadi Vega?" Raihan berbalik melemparkan sebuah pertanyaan untuk Reina, kekasihnya.
"Tidak. Jika aku menjadi Vega, Milky way akan memisahkan kita. Ada orang lain yang lebih tepat menjadi Vega untuk Altair yang kucinta. Aku tidak ingin berpisah denganmu." Tutur Reina sembari bangkit dan memeluk Raihan.
Pemuda itu cukup terkejut tetapi akhirnya membalas pelukkan dari kekasihnya. Setelah beberapa saat keduanya saling melepaskan pelukkan kemudian memandang satu sama lain.
Semua orang yang mengenal Reina akan mencintainya, dan hanya orang bodoh saja yang memusuhinya. Reina adalah bintang dengan sinar paling terang diantara yang lain. Kehadirannya dalam kisah hidup orang yang ditemuinya seperti berkah Tuhan yang tidak pernah bisa dinilai dengan angka. Dia terlalu istimewa.
"Tentu aku tahu itu Rein, kamu adalah sebuah bintang untuk hati setiap orang, dan kamulah yang bersinar paling terang." Jelas Raihan sambil memegang kedua bahu Reina
"Oleh karena itu Han, aku bukanlah Vega. Aku adalah Deneb karena dialah pemilik sinar paling terang diantara kisah itu." tutur Reina kemudian turun dari batu tempatnya berada, berjalan menjauh dari sana.
Raihan mengejarnya dan berusaha menggapai pergelangan tangan Reina. Gadis itu terhenti sesaat. Sebuah kunang-kunang melintas di depannya.
"Han, Meika bilang orang mati akan menjadi kunang-kunang sebelum akhirnya bereinkarnasi, apa kau percaya?" Tiba-tiba Reina berbalik dan bertanya pada Raihan.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum sembari menyembunyikan kedua tangan dibelakang punggung mungilnya. Membuat Raihan pun ikut terhenti untuk ikut melihat kunang-kunang yang melintasi jarak diantara keduanya.
"Kunang-kunang itu melintas seperti Milky way diantara Altair dan Vega. Jika aku Deneb, aku tidak perlu berpisah denganmu." ujar Reina yang masih menatap kunang-kunang itu.
"Kenapa kembali pada pembahasan mitologi Yunani lagi? bukannya pertanyaanmu tentang reinkarnasi? Ku beri tahu satu hal Rein, aku tidak percaya dengan reinkarnasi, jika benar reinkarnasi itu ada, kenapa populasi manusia selalu bertambah, bukankah harusnya populasi itu tetap karena yang mati terlahir kembali?" Percakapan itu pun berakhir
Mereka kembali ke lokasi perkemahan dengan bergandeng tangan. Sesekali Reina menatap ke langit untuk memastikan Deneb masih bersinar disana. Menghubungkan kisah cinta untuk Altair dan Vega.
Aku ingin terus terhubung diantara mereka yang kucinta, menyatu dalam ikatan yang tidak akan terputus selamanya.
Terkadang kisah seperti ini hanyalah kisah dramatis yang biasa ditemui dalam drama percintaan remaja.
Altair akan tetap disana, menjaga sang Vega. Lalu Deneb adalah kawan yang setia. Mengorbankan sinarnya untuk kisah cinta kedua kesayangannya.
***
Unggun gembira itu hanya tersisa bara. Reina terduduk dengan memegangi cangkir coklatnya. Salah satu teman dalam camp itu memberikannya begitu saja. Semua orang menyayanginya. Bukan hal aneh jika seseorang bertanya padanya sudah makan atau belum lalu saat Reina menjawab belum mereka secara tiba-tiba menyuapinya. Sesayang itu mereka.
Dia terus memikirkan gadis ringkih yang terikat dengannya. Ikatan mereka seakan tidak dapat terputus oleh apapun. Ia berpikir tentang ucapan Meika beberapa saat lalu mengenai harapan hidup. Temannya itu hampir putus asa. Semakin hari durasi hidupnya semakin menipis. Penyakit itu semakin menggerogoti jiwanya.
Dari penuturannya Meika ingin juga merasakan jatuh cinta dan dicintai. Sama seperti yang dialami oleh Reina. Dari sisi Meika, hidup Reina terlihat sempurna. Meski pun Reina terus menyembunyikan fakta hidupnya. Dia sehat, di kelilingi banyak orang yang penuh cinta tentu saja memiliki seorang pujaan hati.
"Rein, seperti apa rasanya dicintai? pasti menyenangkan menjadi sepertimu. Sedangkan aku? tidak ada satu pun yang mau mencintaiku karena aku terlahir dengan penyakit sialan ini."
Ucapan Meika kala itu terdengar menyakitkan. Adakah cara untuk mengeluarkan gadis itu dari tekanan hidup. Mungkin sisi sempurna Meika adalah keberadaan keluarganya yang sangat damai.
"Ya semua terlahir dengan kekurangan dan kelebihannya. Aku diberikan hidup dan temanku malah berjuang untuk perpanjangan durasi hidup."
__ADS_1
Secangkir coklat dalam genggamannya mulai mendingin. Hilang pula minatnya untuk kembali meneguk meskipun sedikit. Bintang-bintang yang bersinar dengan harapan seperti menyapa. Dia mengangkat kembali kepalanya disambut oleh milyaran kilau di atas sana. Deneb istimewa selalu ingin dia puja. Lalu Altair bersinar dengan kegagahannya dan Vega seakan begitu redup serta jauh untuk digapai. Hanya Deneb yang berada diantaranya yang bisa menghubungkan jarak yang dipisahkan oleh Milky Way.
"Aku memiliki cinta dan nyawa. Itu membuatku terlihat sempurna di mata Meika. Semua orang berhak untuk bahagia. Aku memiliki kontrak hidup lebih panjang dan cinta dari seorang pemuda. Aku sudah bahagia sekarang, ini sudah cukup. Bolehkan jika sisanya untuk Meika saja. Kurasa kehidupan akan lebih adil dengan begitu." Reina pun meletakkan cangkirnya di tepian tikar yang menjadi alasnya merenung. Lalu dia pun berbaring dengan memandangi bara yang telah menghitam menjadi arang hingga malam membawanya terlelap dalam hamparan padang penuh harapan.