Rahasia (Who Are You?)

Rahasia (Who Are You?)
2. ENEMY


__ADS_3

Reina dua belas tahun adalah gadis kecil yang terus berjuang untuk berdamai dengan musuhnya. Sudah sejak tahun terakhir sekolah dasar mereka menjadi musuh. Meika tahu hal itu ketika tidak sengaja mendengar percakapan Reina dengan musuhnya di koridor menuju kantin.


Hari itu telah senja, hanya segelintir anak yang masih terlihat berkeliaran di sekitar sekolah. Mereka adalah remaja yang aktif dengan kegiatan extrakurikuler.


Reina adalah gadis yang aktif di bidang kepanduan sedangkan musuhnya itu seorang anak OSIS dengan kedok seorang malaikat. Padahal kenyataanya, gadis itu adalah iblis. Jika bukan Reina, mungkin sudah hancur.


"Aku lelah, sampai kapan kita harus bersikap seperti ini? apa yang kau mau?" Reina bertanya dengan nada sarkasnya


Sedangkan dilain sisi, Meika mengintip. Dia melihat musuh Reina itu malah memasang wajah menantang.


"Kau menyerah? payah." ejeknya


"Hei Lisa, Aku bukannya menyerah, tetapi berhubungan dengan orang bodoh sepertimu hanya membuang waktuku. Jika kau pintar, seharusnya kau mencari sekolah yang jauh lebih baik kan? tetapi kau malah memilih sekolah dan kelas yang sama denganku? Kenapa? Kau takut tanpa kehadiranku disisimu? lihat siapa yang lemah dan payah disini. Loser."


Setelah dialog terakhir itu terdengar langkah kaki yang mulai mendekat ke arah Meika. Tentu gadis pengidap gagal hati itu cukup panik. Ia takut jika Reina kecewa karena mendapatinya menguping pembicaraannya dengan sang musuh. Meski sebenarnya hal itu bukan sebuah kesengajaan.


"berhenti, Aku tahu kamu disana. Tidak apa aku tidak marah. Percakapan kami bukan suatu hal yang harus dirahasiakan. Ayo pulang, sudah senja. Aku akan mengantarmu."


Reina segera menarik pergelangan Meika. Meninggalkan Lisa disana dengan rasa kesal di dalam dirinya.


Tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibir Reina di sepanjang jalan pulang. Dia hanya mengayuh sepedanya perlahan dan membonceng Meika. Di kiri kanan jalan dia melihat para pedagang kaki lima yang mulai membuka lapak. Beberapa melambaikan tangan kepada Reina agar gadis kecil itu mampir kesana.


"terimakasih pak, lain kali Rein mampir."


Rein, itulah panggilan Reina. Terdengar seperti panggilan untuk anak laki-laki tetapi dia suka. Dia bilang nama laki-laki membuatnya lebih kuat. Kuat menghadapi kenyataan pahitnya hidup di usia yang masih terbilang muda.


"Aku akan bercerita, apa kau akan mendengarkanku? masih ada satu gang lagi sebelum sampai di rumahmu." Reina membuka percakapan setelah hampir sampai di rumah Meika.


"Aku akan merequest." ucap Meika


"Aku tidak membuka request."


"Tidak peduli, kau harus menceritakannya padaku. sekarang!" Meika mengatakannya dengan nada yang seakan-akan tidak ingin Reina menolak permohonannya.


Tanpa Meika tahu, Reina yang sedang memperhatikan jalanan tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Tentang Reina dan Lisa. Gadis misterius itu memulai ceritanya.


Dulu sekali kedua gadis itu adalah teman kecil yang tidak terpisahkan. Mereka sangat kompak dan saling menyanyangi. Perbedaan hanya terletak pada Reina yang terlahir dengan ketidakberuntungan yang tidak pernah ia katakan pada siapa pun sedangkan Lisa adalah gadis yang terlahir dengan sendok emasnya.


Ketika masih anak-anak, Lisa kecil selalu dititipan ke tempat tinggal Reina. Tentu saja Reina sangat senang dengan kedatangan temannya. Mereka menghabiskan hari dengan bermain bersama. Hal itu telah terjadi di jauh masa sebelum mereka masuk jenjang pendidikan.


Bagi Lisa, seorang Reina adalah adik lucu, bermata besar, hidungnya mancung dengan rambut panjang yang lurus. Kulitnya mungkin lebih gelap dari milik Lisa tetapi terlihat manis. Diantara ciri fisik yang dimiliki Reina, Lisa sangat iri dengan rambut lurus panjang Reina. Karena Lisa sendiri terlahir dengan rambut kriting yang membuat rambutnya terlihat lama untuk panjang.


"Harusnya aku punya rambut cantik seperti Reina." tutur Lisa kecil sembari membelai twinstail milik Reina kecil


"Kenapa? rambut kakak Lisa juga bagus, lucu." Reina memuji dengan sungguh-sungguh.


Tetapi Lisa kecil malah semakin kesal. Dia berdiri dan meninggalkan Reina. Hal seperti itu sudah sering terjadi. Tentu Reina akan mengejarnya dan memberikan sedikit hiburan kecil.


"kalo sudah besar nanti, Reina antar kakak Lisa ke tempat yang punya helm besar. Nanti rambut kakak Lisa akan jadi seperti milik Reina."


Kakak dan adik, seperti itulah kedekatan keduanya. Waktu terus berjalan hingga mereka mulai masuk sekolah dasar. Tidak ada yang berubah meski pun keduanya menjumpai banyak teman baru. Bahkan Lisa, selalu di garis terdepan untuk melindungi Reina saat mendapat ejekan dari anak-anak lain.


Hanya saja semuanya berubah ketika sebuah bakat muncul diantara mereka.


Otak yang cerdas dan ketrampilan yang layak untuk mendapatkan apresiasi. Sejak tahun pertama, Reina selalu mendapatkan peringkat terbaik diantara angkatannya. ketrampilan seninya juga bagus. Perlombaan lukis tingkat sekolah dasar yang diikutinya selalu mengharumkan nama sekolahnya.


Reina menjadi sering keluar mewakili sekolah. Entah untuk olympiade ataupun perlombaan seni. Hingga semakin banyak waktu yang berubah bakatnya semakin bertambah. Dia mengusahai beberapa bahasa asing di usia belia. Tentu hal seperti itu adalah pencapaian yang bagus. Namun, efek terburuknya adalah munculnya rasa iri yang semakin besar di hati yang lain. Lisa.


Ketika kelas empat sekolah dasar hubungan keduanya merenggang, mereka menjadi jarang berbicara. Bahkan beberapa kali Reina mencoba bertanya tentang apakah yang salah diantara mereka. Namun, Lisa mengabaikannya begitu saja. Ketika kenaikkan kelas itulah hubungan mereka akhirnya terputus begitu saja.


Sejak kenaikkan kelas lima hingga mereka naik kelas enam hubungan yang memburuk itu cukup berdampak untuk kehidupan Reina. Dia menjadi sering diringsak oleh teman-temannya. Caci makian menjadi sarapan paginya. Reina menjadi pribadi yang tertekan, di kala sendirian ia menjadi lebih sensitiv. Hidupnya menjadi lebih berat.


Puncaknya ketika tahun terakhir. Lisa membuat keputusan untuk mengakhiri ikatan mereka.


"Aku harusnya mendapatkan seluruh perhatian itu. Tetapi kenapa harus kamu Rein, Aku benci ketika semua orang memujimu, Aku kesal saat semua hal baik itu ada padamu. Aku ini cantik, kaya tetapi kenapa harus kau. Kau ingat Rein? Lisa benci dilampaui orang lain. Tidak peduli jika pun itu adalah Reina, ayo kita akhiri saja. Kita musuh mulai hari ini."


Persaingan tidak sehat semakin menjadi. Putusnya persahabatan mereka menjadi titik awal Reina mengalami trauma.


"Kenapa pada akhirnya aku harus kehilangan rasa percaya pada orang lain? Ku pikir memang tidak bisa percaya pada siapa pun."

__ADS_1


Reina menjadi pendiam, hari-harinya aja dia habiskan untuk membaca eksiklopedi di perpustakaan sekolah. Ketika pulang pun dia juga tidak lagi berharap bahwa Lisa akan berkunjung ke tempat dia tinggal.


Kegiatannya hanya belajar.


***


Reina mengakhiri ceritanya ketika sampai di depan rumah Meika. Disana, di pintu gerbang rumah Meika. Berdiri dua orang sepuh yang tersenyum menyambut kedatangan keduanya. Salah satu dari dua orang sepuh yang biasa disapa mbah uti itu mengajak Reina untuk mampir sebentar. Tetapi dengan sopan gadis muda itu menolak dengan alasan hari sudah mulai gelap.


"lain waktu saya akan mampir. Maaf saya harus pulang. Daaaaa sampai jumpa besok di kelas ya Meika."


Begitulah cerita Reina dan musuhnya yang hanya meliputi garis besar saja. Meika tahu ada banyak hal yang di sembunyikan Reina si gadis misterius itu.


"Meika, seseorang yang baik itu selamanya akan terus seperti itu. cobalah untuk percaya, mbah uti yakin dia tidak akan membuatmu kecewa."


Kisah hari itu akhirnya berakhir dengan Meika ringkih yang harus masuk ke dalam rumahnya. Meskipun beberapa saat sebelum masuk ke dalam dia masih memperhatikan tikungan depan tempat Reina menghilang bersama sepedanya.


Hanya saja tanpa Meika tahu,Reina belum benar-benar pergi. Dia masih disana, tertutup oleh pagar tetangga di dekat tikungan. Memegangi sepedanya dan merasa bahagia. Hari itu dia juga ingin kembali percaya pada orang lain serta membuat sebuah ikatan.


Hai angin senja, bertiuplah


Bisikan ketulusanku padanya


Aku ingin meletakan satu kepercayaan padanya


Hei bintang senja berikan satu senyumanmu padanya


Sampaikan bahwa aku bahagia bertemu dengannya


Hai rembulan yang akan datang


Sinarilah malamnya dan jaga dia saat aku tidak disana


Pada langit senja beserta seluruh isinya,


Aku berjanji untuk terus berlaku baik padanya.

__ADS_1


__ADS_2