Rahasia (Who Are You?)

Rahasia (Who Are You?)
12. CERITA DARI MANTAN


__ADS_3

Dua cangkir teh melayangkan asap ke angkasa, ada aroma teh dan melati yang menenangkan. Dua orang yang sedang beranjak dewasa saling terdiam. Ada seorang bayi diantara mereka yang tengah terlelap. Wajah yang menggemaskan terlihat semakin manis kala menutup mata.


"Jadi baby Rein itu siapa?" Tanya Raihan


"Dia sekarang bayiku Han, bayi ini kenang-kenangan dari kakakku. Hanya saja situasi sekarang membuat dia terlibat dalam kehaluan Meika." Terang Reina


"Aku tidak tahu lagi harus apa. Semua terjadi begitu saja sejak kau hilang dan Mila bersama sahabatnya mati."


Percakapan itu tidak lagi berlanjut. Keduanya terdiam dalam angan masing-masing. Terlintas sebuah kenangan akan masa yang telah berlalu begitu saja.


"Rein, bagaimana dengan kita?" Tanya Raihan tiba-tiba.


"kita sudah berakhir Han, sayangi Meika, karena sebelum dia mengalami PTSD, dia sudah jatuh cinta padamu." ujar Reina.


"Tapi, dia hanya diam. Karena kita sudah terikat status. Aku ada diposisi serba salah Han, tapi aku ingin melepaskanmu untuknya. Lupakan aku, kita sudah berakhir. Tolong cintai meika seperti kau mencintaiku." Tambah Reina


***


Cinta, misteri, dan keluarga. Satu masalah kompleks. Reina ingin menangis menghadapi semua ini. Terlebih dengan ia harus berpura-pura sebagai orang lain. Raihan bercerita bahwa semuanya terjadi karenanya.


Malam telah tiba, Reina mencoba mengingat apa yang telah Raihan sampaikan padanya tadi. Tentang Mila dan Rania. Serta sebuah skandal dengan kepala sekolah lama.


Mila, saudari kembar Meika adalah seorang gadis nakal pengidap gagal hati. Gadis itu berulang kali memaksa Meika agar merelakan hatinya, supaya Ia tetap hidup. Meika selalu menolak. Ia merasa bahwa ia juga berhak atas hidup. Tetapi ditengah sakit itu, Mila terlibat skandal dengan kepala sekolah lama. Mila hamil, meninggalkan seorang bayi mungil yang kini dirawat oleh salah satu kerabat Meika.


Kepala sekolah lama pada akhirnya masuk penjara atas tindakkan bejadnya. Sedangkan Mila meninggal setelah melahirkan. Tidak ada yang tahu secara pasti, karena gadis itu menghilang sejak dia di drop out dari sekolah. Bahkan Meika beserta orang tuanya pun, telah membuat laporan orang hilang. Hingga pagi itu, sebuah box bayi datang ke rumah Rania ditemani sepucuk surat.


Reina beranjak menghampiri baby Rein. Bayi itu milik mendiang kakaknya, tetapi Meika dengan PTSD nya, menganggap bayi itu adalah bayi milik Mila dari hubungan gelapnya dengan kepala sekolah lama.

__ADS_1


"Maaf ya, bibi Reina membawamu dalam situasi sulit."


Bintang berkelip di angkasa, ada langit yang begitu luas sedang menyaksikan sebuah drama anak manusia. Secarik kenangan melayang. Tentang semua mimpi yang akan tersimpan dalam angan. Cinta, satu kata dengan sejuta makna. Masih ada sebuah cinta dari Reina untuk Raihannya, namun sahabatnya lebih utama. Meika telah banyak menderita karena Mila, bahkan orang tua Meika pun seakan menutup mata. Entah tipu daya apa, seolah mereka selalu berpihak pada Mila.


Hanya Viana, adik sepupu Meika dan Mila yang menjadi tempat pelarian disaat Reina sedang jauh di negeri orang. Bahkan gadis belia itu dengan sabar menemani Meika dengan segala imajinasinya.


Tok.. tok.. tok..


Terdengar tiga ketukan pada pintu kamar Reina, ia segera membuka pintu. Ada Raihan dibalik pintu itu.


"Dia sudah tidur?" Tanya Raihan


Reina hanya mengangguk dan menatap sepasang mata milik mantan kekasihnya yang melayangkan sebuah isyarat. Dengan pelan, Reina menutup pintu kamarnya. Turun ke lantai dasar dan menemui seorang pengasuh bayi yang sedang menonton drama televisi lokal.


"Maaf bibi, bisakah saya menitipkan Baby Rein? saya ada keperluan sebentar." pinta Reina pada pengasuh bayinya.


***


Langkah kaki mereka melaju diatas trotoar jalan. Sesekali kedua anak manusia itu melemparkan tatapan rindu satu sama lain.


"Apalagi yang ingin kau sampai kan Han?" Tanya Reina membuka topik


"Apa yang akan kau lakukan jika Meika sudah kembali tersadar dari PTSD nya?" Ujar Raihan


Langkah Reina tiba-tiba terhenti. Ia tidak terpikirkan akan hal ini. Meika saat ini tidak ingat jika Mila adalah saudari kembarnya dan Rania adalah sahabat dari Mila dengan wajah yang hampir serupa dengan Reina. Imanjinasi Meika merangkai cerita yang sangat aneh. Tentang reinkarnasi atau spekulasi tujuh kembaran.


"Aku masih percaya dengan spekulasi tujuh kembaran itu, dan aku bersama Rania adalah dua dari tujuh orang dengan wajah serupa. Tapi imajinasinya mengatakan kami ini bereinkarnasi. Han, aku tahu dia mencintaimu dan dia juga tidak ingin kehilanganku." terang Reina sambil menatap langit malam yang mulai diselimuti awan gelap. Tidak ada lagi ada bintang yang nampak berkelip disana.

__ADS_1


Raihan mengikuti arah pandang gadis pujaan yang kini berstatus mantan kekasihnya.


"Aku akan disini Han, tidak lagi meninggalkan Meika. Aku tumbuh bersamanya, PTSD itu ada karenaku. Aku benci kenyataan ini, sejujurnya berat bagiku melepaskanmu, dan kita berdua terluka dengan keadaan ini." Tiba-tiba Reina terisak. Dengan sigap, Raihan mencoba meraih tubuh yang lebih kecil darinya, mendekapnya dalam pelukan.


"Aku akan berusaha untuk melupakan masa lalu kita Rein."


***


Hujan turun perlahan, meneteskan air mata kesedihannya. Reina dan Raihan duduk pada kursi tunggu yang tersedia di halte bus. Mereka sedang berdiskusi untuk mencari jalan keluarnya.


"Aku tidak mengerti Han, kenapa Meika bisa berpikir bahwa Reina dan Mila itu berbeda jaman ya?" Tanya Reina bingung


"PTSD bisa membuat penderita berimajinasi pada hal semustahil mungkin Rein, seperti sekarang, dia dibayangi penyakit hati milik Mila, lalu Mila dan Rania itu meninggal. Dia yang percaya mitos reinkarnasi berpikir jika Reina bereinkarnasi dan dalam Imajinasinya, Rania itu kehilangan sahabatnya karena sebuah skandal dengan kepala sekolah lama." Terang Raihan


PTSD memang berbahaya namun bukan berarti tidak dapat disembuhkan.


"Lalu, dia berpikir bahwa kau, mengirimkan notaris yang membacaka wasiat bahwa aku harus menikahinya dan sekarang dia merasa telah menikah denganku." Lanjut Raihan


Selanjutnya hanya sebuah senyuman manis yang dapat ditampilkan Reina. Ia tidak tahu harus apa. Baginya, apapun kisahnya. Raihan harus bersama Meika.


Hujan malam itu mereda, langkah demi langkah mereka tempuh untuk kembali ke rumah.


Pintu rumah terbuka lebar ketika mereka tiba, ada Meika yang berdiri sambil menggendong baby Rein. Raihan dan Reina terdiam menatap Meika. Menunggu reaksi Meika, apakah gadis itu sedang dalam PTSD atau sudah sembuh.


"Sayang, kamu dari mana saja? Rania, kamu ada masalah lagi?" Tanya Meika.


Gadis itu masih dalam PTSD nya. Reina dan Raihan hanya tersenyum tipis, yang dapat mereka lakukan hanya terus mengikuti drama Meika. Pura-pura menjadi Raihan yang merupakan suaminya dan Reina yang menjadi Rania muridnya.

__ADS_1


__ADS_2