Rahasia (Who Are You?)

Rahasia (Who Are You?)
10. Kimi No Shiranai Monogatari


__ADS_3

Sebuah catatan rahasia itu dalam genggamannya. Seorang kurir baru saja mengantarnya di minggu pagi yang cerah. Tidak ada nama atau pun alamat pengirim. Hanya tertera alamat tujuan yang tidak lain adalah dirinya sendiri.


Catatan itu terlihat begitu usang, terdiri dari lembaran-lembaran terpisah lalu kemudian dibendel menjadi satu. Terlihat dari bentuk bendel yang masih baru, sepertinya ada seseorang yang berusaha keras untuk mengumpulkan lembaran kisah yang begitu mengharukan.


Lembar pertama.


Hari ini aku masuk sekolah dasar, Lisa menjemputku dengan mobil yang di kemudikan oleh ayahnya. Di samping sang ayah ada mamanya Lisa.


Rein tidak punya orang tua, dan Ran juga sudah pergi. Rein juga ingin berangkat diantar orang tua.


Meika membaca halaman pertama itu. Hatinya tersentuh. Tidak dapat ia bayangkan bagaiamana rasa sedih merambati jiwa Reina kecil. Bahkan kasih sayang keluarga pun begitu sulit atau memang tidak mungkin di dapatkan.


Lembar Kedua


Sudah dua tahun Ran pergi, Ran bilang akan kembali tetapi sampai sekarang Ran tidak kembali menjemput Rein.


Hatinya mengutuk seseorang bernama Ran itu. Bagaimana pun hatinya tega meninggalkan seorang gadis kecil yang belum tahu apapun mengenai kerasnya kehidupan.


Meika terus membaca, seluruh lembaran catatan itu berisikan sebuah kepiluan seorang anak. Rein, kisah pilu itu adalah cerita yang tidak diketahui semua orang. Selama Meika mengenal Reina, gadis itu selalu menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.


Hampir semua kisah itu tentang Reina dan seseorang yang bernama Ran. Dari kisah itu Reina memaparkan mengenai kebaikan Ran. Tetapi kenapa Ran meninggalkan Reina?


***


Piring-piring kotor sudah menumpuk di sisi meja, sang tuan telah beranjak dari sana. Tersisa beberapa pelayan yang sibuk merapikan meja dan mengurus sisa. Lalu tangisan bayi menjerit secara tiba-tiba. Kemudian emosi tersulut dari sang Tuan besar.


"Berisik, berapa kali ku katakan buang saja bayi itu." ucapnya penuh amarah


"Tidak ayah, bagaimana pun juga dia adikku. Kau sudah menghancurkan ibunya, haruskah juga kau hancurkan anaknya? aku juga anakmu, jika bayi ini adalah aku, apa kau juga akan menghancurkanku."


Bagi Tuan Wijaya, bayi itu adalah bukti yang harus dimusnahkan. Ia tidak ingin jika suatu saat keberadaan bayi itu akan merusak reputasinya di hadapan kolega. Sejauh ini ia masih bisa menyembunyikannya. Tetapi waktu dan takdir tidak ada yang tahu.


"Rein adalah kenang-kenangan dari Mila yang ku punya. Haruskah aku kehilangan lagi? bahkan ibuku sendiri juga tiada." ucap Rania dan berlalu dari hadapan ayahnya sambil membawa bayi Rein.

__ADS_1


Taksi membawanya. Sebuah panti asuhan tenlat Mila dibesarkan menjadi tujuan. Sudah hampir satu tahun ia tidak kesana. Anak-anak pun sudah tumbuh lebih besar, ada juga beberapa penghuni baru. Salah satunya adalah seorang bayi dalam pangkuan kepala panti.


"Ibu panti." Panggil Rania lembut


"Ran."


Kedua bola mata ibu panti menatap Rania dengan berkaca-kaca. Mungkin sebentar lagi akan mengalir bulir-bulir air mata.


"iya, ini Ran."


Rania menatap bayi dalam pangkuan ibu panti. Sekilas rupa sang bayi mirip dengan seseorang. Kemudian beralih menatap bayi Rein. Ia tersenyum tipis.


"Ini Rein, dia adikku. Bukankah kami terlihat serupa?" Rania memperkenalkan adik barunya kepada sang ibu panti.


"Kalian mirip ya, ini Mei, dia baru disini." Ibu panti juga memperkenalkan bayi dalam pangkuannya.


"Bolehkan jika Mei menjadi teman untuk Rein? Aku ingin melindunginya, tetapi aku tidak ingin dia kesepian."


***


Meika menutup buku catatannya. Ia mengambil tas tangannya dan pergi keluar. Setelah berpamitan kepada sang suami, ia melewati pintu. Udara segar dan ketenangan memberinya semangat. Catatan usang dari masa lalu menyemangatinya. Hidup tidak terus dalam duka. Manusia harus terus berjalan. Masih banyak gurun dan samudera yang perlu dilalui.


Pertemuan dan perpisahan adalah hal lumrah dalam kehidupan. Reina mengajarinya arti menikmati hidup. Berlaku baik dan menjaga apa yang sudah Reina korbankan untuknya. Hati, sebuah hati malaikat untuknya yang kehilangan harapan.


Bus kota berhenti di halte dekat rumahnya, lalu melaju semakin jauh dan berhenti di halte berikutnya. Pada pemberhentian itu, ada beberapa orang yang turun dan satu orang yang naik. Dari postur tubuhnya, Meika seperti mengenalnya.


Hoodie putih dengan celana jeans model robek disana sini yang sedang digandrungi kaum muda.


"Rania?" Sapa Meika dari kursi penumpang di dekat pintu depan.


"Ah Meika." balas Rania


"Aku gurumu, dasar anak nakal." omel Meika

__ADS_1


"Orang-orang tidak akan percaya jika kau guruku." jawab Rania


"Mau kemana?" Tanya Rania


"Game Center."


Rania terkejut mendengar jawaban gurunya. Masih ada saja orang yang berlagak dewasa dan pergi ke game center.


Rania duduk di kursi penumpang sebelah Meika, tidak ada pembicaraan hingga halte berikutnya mulai terlihat. Meika mengatakan ia akan turun dihalte itu. Rania hanya mengangguk saja. Sedangkan Meika tidak tahu jika muridnya itu akhirnya ikut turun.


Langkah-langkah yang saling mendahului. Rania masih terdiam dan mengikuti Meika yanh berjalan semakin cepat. Lalu pedagang permen kapas di depan lokasi game center membuat Meika harus terseret.


Yang mereka tahu Rania adalah gadis barbar.


Sebuah kisah yang tidak diketahui orang, Rania masihlah remaja biasa. Keadaan yang terkadang mengubahnya menjadi orang lain.


"aneh?"


Mereka tidak jadi masuk ke game center. Memilih pergi ke taman yang berlokasi di tepian danau kota. Di kursi taman mereka duduk dan Rania memakan permen kapasnya. Sesekali menawari gurunya. Penampilannya memang tidak cocok untuk memakan permen kapas.


"Ada banyak kisah yang tidak kau tahu. Sama seperti bagaimana takdir membawamu bertemu denganku. Mungkin tidak pada aku atau kamu yang hari ini. Suatu saat diri kita yang lain akan mengetahuinya." ujar Rania tiba-tiba


"apakah berarti pendapatmu berubah? apa kini keyakinanmu tentang keberadaan tujuh kembaran di dunia itu melebur lalu beralih dengan mempercayai reinkarnasi?" Tanya Meika


Permen kapasnya telah hilang, mencair dalam udara. Langit di atas masih biru seperti biasa. Burung-burung berterbangan bebas di angkasa raya. Angin tidak sejuk, terasa panas dan lembab. Rania menurunkan pandangannya. beralih pada sosok guru mungil disebelahnya.


"Mungkin seharusnya kita tidak berjumpa dimasa ini." katanya Rania tiba-tiba


"apa maksudmu."


"semua kisah ini terasa begitu acak, antara aku yang terlalu banyak fantasy atau mungkin dirimu yang tidak menyadari."


***

__ADS_1


__ADS_2