
Sudah beberapa minggu ini Meika mendengar musik kpop setiap paginya. Adiknya yang bernama Viana yang merupakan mahasiswa tahun pertama sedang demam dengan single terbaru dari IU. Lagu yang konon memiliki banyak teori tentang kisah pesahabatan sang penyanyi.
Meika bahkan beberapa kali mendapati adiknya menyanyikan lagu tersebut dengan lirik yang asal tertangkap oleh telinganya, tentu hal itu membuatnya merasa sangat risih.
"berhenti menyanyikan lagu yang kamu tidak benar-benar tahu liriknya." begitulah ucap Meika setiap mendengar nyanyian sumbang dari adiknya.
"selalu begitu. Sudahlah sayang biarkan saja adikmu bernyanyi." Raihan, Suami Meika selalu seperti itu. Memberikan pembelaan untuk Viana.
Lagu yang terus di dengar telinganya setiap pagi itu seperti membawa kekuatan magis. Dimana Meika dapat merasakan bagaimana seluruh rasa dari sang penyanyi tertuang dalam lagunya itu.
Meika bukan penggemar Kpop, begitu pula dengan mendiang Reina. Malahan orang yang sudah dikenalnya lama itu adalah penggemar budaya Jejepangan.
Tetapi lagu yang berjudul Eight dari IU yang di produseri oleh salah satu member boygroup terkenal dari negeri gingseng itu cukup membuat ingatannya melayang jauh ke masa itu. Lagi-lagi segalanya menjadi tentang Reina.
So are you happy now
lirik pertama itu seperti pertanyaan yang harus dia tanyakan pada Reina.
Apakah Reina bahagia setelah meninggalkannya dengan berbagai rahasia. Atau kah di alam baka, gadis itu berpikir untuk meminta terlahir kembali. Mungkin bereinkarnasi.
Tetapi Meika ingat bahwa Reina bukan orang yang mempercayai reinkarnasi. Reina lebih percaya dengan orang yang terlahir kedunia dengan tujuh kembarannya.
"aku lebih percaya jika ada tujuh orang yang mirip di dunia ini."
Waktu terus berputar, Raihan dan Viana yang telah selesai dengan sarapan masing-masing pun sudah bersiap untuk mengawali rutinitas mereka. Raihan harus berangkat ke kantor dan Viana berangat ke kampusnya. Gadis sembilan belas tahun itu ada kelas pagi.
Meika pun akhirnya berangkat juga, secara terpisah karena arahnya berlawanan dari suami dan adiknya.
Dia sampai di sekolah tempatnya magang sepuluh menit sebelum pelajaran di mulai. Akhirnya dia kembali ke lingkungan sekolah. Suasana yang sebenarnya bukan yang dia rindukan. Bagi Meika, sekolah seperti tahapan hidup yang seharusnya tidak dilewatinya. Namun seperti karma, hingga dewasa dia malah terjebak di lingkungan sekolah.
Kelas pertamanya adalah kelas yang terkenal dengan kenakalan penghuninya. Anak-anak temperamen yang sulit diatur dan masuk dalam jajaran kelas anak di bawah rata-rata. Bisa disebut inilah kelas neraka.
Ia sedikit berdebar ketika mulai melangkah masuk ke dalam kelas. Siswa disana mengabaikannya begitu saja. Guru tidak ada nilainya di hadapan mereka. Ketika Meika mengucap salam sekali pun, mereka tetaplah dengan aktivitas masing-masing. Dia ingin menangis sekarang.
"bisakah aku meminta sedikit perhatian dari kalian?" ujar Meika dengan sedikit menaikan nada bicaranya.
"hei teman-teman ada guru baru." tidak sopan dan terdengar begitu merendahkan.
"masih muda juga, eh malah terlihat seumuran kita
__ADS_1
"jangan-jangan cosplayer menyamar jadi guru
"HAHAHAHAHA."
BRUAAAAAAKKK!!!!!!
Tiba-tiba pintu kelas dibanting dengan keras hingga semua penghuni yang liar itu mendadak terdiam. Semua menatap ke arah pintu. Disana terlihat seorang gadis dengan hoodie hitam, sebagian rambutnya yang tidak tertutup tudung hoodie itu nampak berwarna hitam dan merah. Roknya lima belas sentimeter di atas lutut, kaos kakinya pendek dan hampir tidak terlihat, lalu sepatunya juga sneaker putih dengan corak baby blue. Pelanggar aturan.
Gadis itu berjalan melewati Meika begitu saja. Seakan dia tidak melihat guru magang yang sedang berdiri disana.
Namun, dua langkah dari setelah melewati Meika, dia berhenti secara tiba-tiba. Memutar tubuhnya. Hingga pandangan keduanya saling bertemu.
"Mila
"Reina
"sepertinya bukan, orang mati tidak ada yang terlahir kembali." Dia tersenyum sinis dan kembali berjalan.
Meninggalkan Meika yang masih tercekat, wanita dua puluh lima tahun itu tidak mempercayai penglihatannya. Mungkinkah.
Dia meraih selembar kertas berisikan daftar nama penghuni kelas tempatnya magang. Bola matanya nampak intents menatap setiap barisan nama.
"kau mencari namaku? Ku beritahu satu hal, namaku bukan Reina. Aku Rania." Gadis itu seakan tahu apa yang sedang dicari olehnya.
Meika sangat terkejut sekarang. Ketika menemukan nama Rania, ia melihat nama belakang murid nakal itu terlihat sama dengan seseorang. Tetapi dia menepisnya, banyak orang di negeri ini dengan nama belakang yang sama.
Rania wijaya, absen dua puluh tujuh
"kau tidak ingin menyampaikan sesuatu? aku dengar dari ayahku, kau adalah guru magang di sekolah ini. Apa kau sedang tertimpa kesialan hingga harus mengajar kelas neraka." Rania berkata seperti itu dengan kakinya yang diletakan di atas meja.
Rania beranjak dari bangkunya, berjalan ke depan dan menatap Meika, guru barunya dengan tinggi sekitar lima belas sentimeter dibawahnya.
"Kau kecil sekali, padahal kau itu guruku loh." ejek Rania
"Tetapi aku gurumu, tidak bisakah kau berlaku sopan." tegur Meika atas sikap tidak sopan dari muridnya.
Murid-murid lain hanya menatap interaksi dua orang berbeda usia itu dengan diam tanpa suara. Rania adalah bos di kelas itu. Tidak ada yang boleh merusuh aksinya. Semuanya hanya diperbolehkan untuk duduk dan melihat atau mengikuti perintahnya.
"hei teman-temanku, lihat aku. Ayo kita buat kesepakatan. Jika guru baru kita ini bisa membuat kita mendapatkan posisi pertama paralel IPA, maukah kalian membiarkannya mendapatkan posisi di sekolah ini?" Semuanya terkejut mendengar pernyataan dari Rania.
__ADS_1
Rania, gadis tujuh belas tahun yang dikenal sering menjadi biang masalah itu adalah anak dari sang kepala sekolah. Dia baru saja membuat pernyataan yang memiliki maksud bahwa dia berambisi untuk menjadi seorang juara.
"Apa kamu bersungguh akan belajar?" Tanya Meika
"Tergantung, apakah orang lemah sepertimu bisa membuatku belajar? asal kau tahu ya aku tidak butuh menjadi pintar untuk menang." Tutur Rania sambil mendekatkan wajahnya kepada guru mungilnya.
***
Jam istirahat akhirnya tiba. Wajah-wajah membutuhkan tambahan energi nampak dari seluruh muridnya. Meika tersenyum tipis karena berhasil membuat murid XI-IPA-4 itu mengikuti pelajarannya. Meskipun hal itu tidak lepas dari perintah Rania pada teman sekelasnya. Gadis nakal itu memang tidak memperhatikan pelajaran Meika, dia malah terlihat sibuk dengan layar smartphonenya. Namun, dia terus mengingatkan siapa pun teman sekelasnya yang berani mengabaikan pelajaran dari Meika.
"Hai bu guru."
Meika yang sedang membereskan peralatan mengajarnya terperanjat mendengar sapaan dari salah satu muridnya
"iya ada apa?" Tanya Meika seramah mungkin
"cara mengajarmu menyenangkan. Tetapi jangan pernah membuat Queen bosan ya." Tutur sang murid
"Queen?"
"Rania, dia yang paling pintar diantara kami. Sebenarnya dia tidak mempunyai catatan buruk dalam akademis, tetapi karena suatu hal dia ada disini. Padahal dia anak kepala sekolah. Harusnya dia bisa ada diposisi teraman di sekolah ini."
"Berhenti berucap omong kosong, Leo. Kau akan membuatnya salah paham denganku." Rania menyahut perkataan murid yang sedang berbicara dengan Meika, yang diketahui bernama Leo dari penuturan Rania.
Leo segera pergi meninggalkan dua orang yang berstatus guru dan murid itu.
Hening, kini di ruang kelas itu hanya tersisa seorang murid nakal dan guru magang. keduanya saling bertukar tatap tanpa berucap. Hanya bola mata mereka yang terus berputar seakan memastikan sebuah hal yang memang seharusnya menjadi kepastian akan kisah seseorang.
"Melihatmu, aku merasa menang dari seseorang. Tidak ada yang namanya reinkarnasi. Tujuh kembaran di dunia itu baru benar. Jika memang reinkarnasi kenapa lebih tua." Rania tersenyum sinis kemudian keluar dari ruangan kelasnya.
Tersisa Meika seorang dengan pikirannya yang kacau. Rania dan Reina mereka adalah dua karakter dengan wajah serupa serta pandangan tentang kehidupan yang sama. Tujuh kembaran di dunia. Meskipun Rania menentang teori reinkarnasi, tetapi di mata Meika. Rania adalah perwujudan dari reinkarnasi itu sendiri.
"Raniaaaa!"
Meika berlari keluar ruangan dan memanggil Rania yang berjalan belum terlalu jauh. Gadis itu berhenti sejenak. Seperti scene drama. Ia memutar tubuhnya seakan diikuti sebuah slow motion dan angin dramatis yang bertiup dan menerbangkan helaian rambutnya hingga menutupi sebagian dari wajahnya.
"ada apa?" Dia bertanya dengan ekspresi wajah menyebalkan
Tetapi Meika mengabaikan wajah itu dan melanjutkan apa yang harus dilakukannya.
__ADS_1
"Apa yang lebih kau percaya? Reinkarnasi atau tujuh manusia yang terlahir serupa?" Tanya Meika tanpa peduli dengan siswa yang berlalu lalang diantara dramanya.
"Jika kau ingin tahu, jangan biarkan aku lari dari kisahmu saat ini." Rania menjawabnya lalu segera melanjutkan langkah kakinya. Meninggalkan Meika dengan rasa penasarannya.