
Ponsel itu berdering, ada satu pesan masuk yang langsung mematahkan hatinya. Reina yang tercinta memutuskannya. Raihan segera menekan tombol panggilan. Namun sayang, panggilan itu sudah tidak dapat terhubung. Sepanjang malam dia terjaga, memikirkan sebuah kenyataan yang menyakitkan. Untuk pertama kalinya dia jatuh cinta dan patah hati.
Ponselnya kembali berdering, sekarang ada nama gadis lain yang tertera disana. Raihan segera mengangkatnya. Terdengar isak tangis dan ketakutan.
"Han, tolong aku. aku takut."
Pemuda itu segera beranjak dari tidurnya. Mengganti celana pendeknya dengan celana jeans panjang, lalu segera meraih jaket yang tergantung pada balik pintu kamarnya. Tidak lupa mengambil kunci motornya dan bergegas. Langkahnya yang tergesa-gesa terdengar berisik hingga membangunkan orang tuanya.
"Han, kamu mau kemana nak?" Begitulah pertanyaam dari ibu Raihan yang terkejut melihat anaknya tergesa-gesa pada dini hari.
"Temanku meminta tolong ma, sepertinya ada tindakkan tidak benar di rumahnya." terang Raihan
"Tidak seharusnya kau ikut campur nak." cegah Ayah Raihan
"Dia meminta tolong, sepertinya ini kasus penganiayaan. Reina pernah menceritakan kasus ini padaku. Aku mohon izinkan aku ma, pa." Pinta Raihan dengan setulus hati
Melihat Raihan yang memohon membuat orang tuanya memberikan izin. Tidak lupa mengingatkan Raihan agar menghubungi mereka jika terjadi sesuatu.
***
Motor Raihan melaju seperti angin, jalanan pada dini hari yang sepi. Tentu membuat hal itu terasa begitu mudah. Dua puluh menit kemudian dia telah sampai di rumah Meika. Rumah mewah diantara lahan kosonh yang tidak memiliki tetangga. Kiri kanan rumah itu hanya kebun tebu dan bangunan kosong yang lama ditinggalkan. Meika nampak duduk di halamana dengan wajah ketakutan. Di depannya ada sepasang orang dewasa yang menatap murka pada Meika. Seorang pria hendak memukul Meika dengan stick golf, namun tindakkan itu dihentikan oleh Raihan yang tiba-tiba melayangkan sebuah pukulan ke wajah Tuan Prasetya.
"kurang ajar, bocah kurang ajar, siapa kau?!" Murka Tuan Prasetya
"siapa aku tidak penting, tetapi tindakkan anda tidak dapat dibenarkan." jawab Raihan dengan berani.
Raihan adalah pemuda yang rajin olah raga dan mengikuti seni bela diri. Tubuh terlatih dan begitu lihai menjatuhkan Tuan Prasetya.
"Saya sudah merekam tindakkan anda sebelumnya dan mengirimkan bukti itu kepada pihak yang berwajib. sebentar lagi kepolisian akan menjemput kalian."
__ADS_1
***
Tidak lama kemudian terdengar sirine kepolisian. Tuan dan Nyonya Prasetya segera di ringkus.
"Anda ditangkap dengan tunduhan penganiayaan. Anda berhak untuk tetap diam dan menyewa pengacara." Begitulah suara tegas anggota kepolisian yang memborgol kedua tangan Tuan dan Nyonya Prasetiya.
Meika masih terisak ketakutan. Raihan menarik Meika dalam pelukannya. Ia ingin bertanya, tetapi melihat Meika yang tidak dalam kondisi baik. Ia mengurungkan niatnya dan berpikir lebih baik memberikan ketenangan untuk Meika.
***
Pagi menyapa terlalu cepat. Raihan yang lelah memilih izin tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. Sedangkan Meika sedang dalam perawatan dokter untuk beberapa luka yang ia dapatkan dari orang tua angkatnya.
Meika keluar dari ruang perawatan. Nampak Raihan menunggu diluar dengan wajah menghadap ke atas. Pemuda itu nampak kacau.
"Han.." panggil Meika dengan lembut
Pemuda itu mengarahkan pandangannya pada Meika, ia memandang kasihan melihat luka memar dan beberapa luka yang terbungkus perban.
"Tidak Han, aku tidak apa-apa." jawab Meika
"baiklah, aku akan mengurus administrasinya. Lalu kita pulang." ujar Raihan, lalu beranjak menuju tempat administrasi.
***
Raihan mengajak Meika pulang ke rumahnya, terlebih karena sekarang tidak ada sesiapa di rumah lamanya. Orang tua angkatnya sudah ditangkap polisi dan Raihan sendiri juga tidak melihat Mila, saudara kembar Meila disana.
Orang tua Raihan menyambut hangat kehadiran Meika. Mereka segera memberikan sebuah pelukan yang begitu nyaman, agar Meika tidak merasa takut dan sendirian. Selain itu, juga telah disiapkan satu kamar untuk Meika. Mereka dengan senang hati menerima kehadiran gadis malang itu.
Setelah membersihkan diri dan sarapan pagi, Raihan mengetuk pintu kamar Meika. Dengan segera gadis itu membuka pintu dan mempersilahkan masuk.
__ADS_1
"ada apa, Han?" Tanya Meika sambil menatap luar melalui kaca jendela.
"aku tidak melihat Mila dari semalam. Dia dimana? apa yang terjadi? Apa orang tua angkat kalian melakukan hal lebih buruk kepada Mila?" Tanya Raihan
"Tidak, justru mereka sangat menyayangi Mila. itulah faktor yang menyebabkan mereka berlaku buruk padaku." terang Meika
"maksudnya?"
"apapun yang terjadi pada Mila, mereka selalu menyalahkanku. seperti semalam. kami tidak tahu. Mila hilang, Han." terang Meika sedih
Raihan tertegun mendengar penjelasan gadis di depannya.
"Apa kalian sudah mencoba bertanya pada Rania?" Tanya Raihan. seingatnya, Mila dan Rania cukup dekat. sama seperti Meika dan mantan kekasihnya. Reina.
Mengingat Reina membuat pemuda itu sedih. Gadisnya juga menghilang begitu saja. Memutuskannya tanpa alasan yang jelas. Hanya karena kesetiaannya pada Meika, Reina tega memutuskannya. Namun, Raihan tahu. Reina adalah gadis cantik berhati malaikat.
"Kenapa semuanya menjadi seperti ini Han? aku kehilangan sahabat dan saudaraku? apa salahku Han? apakah salah jika aku ingin hidup. Orang tua angkatku, mereka menginginkan aku mati dengan mendonorkan hatiku pada Mila." Terang Meika dengan wajah sedih
Raihan terkejut dengan penuturan Meika. Apakah hal seperti itu adil? setiap makhluk memiliki hak masing-masing untuk hidup. Tidak ada lagi pembicaraan diantara keduanya. Raihan segera berlalu dan merenungi apa yang telah terjadi.
***
Raihan dan Reina, orang bilang mereka pasangan serasi. Dia benar-benar jatuh cinta pada gadis berkulit tan itu. senyuman manis dan suaranya yang begitu lembut selalu menghangatkannya. Meskipun terkadang terdengar melengking ketika sedang kesal. Raihan rindu. dua hari terasa sangat lama, ia masih ingin menunggu gadisnya. Tetapi, ia tidak tahu apakah gadis itu akan kembali dan memberikan kesempatan.
Di sisi lain ia juga bingung, mengapa Reina menitipkan sahabatnya, apakah karena kasus ini. Mengapa Reina begitu yakin bahwa Raihan mampu menjaga dan membahagiakan Meika. Haruskah juga ia mencoba mencintai Meika? segela pertanyaan itu terus berputar dalam otaknya. ia hanya remaja yang belum mampi berpikir kritis. Hidupnya tidak pernah serumit ini sebelumnya. Kemarin lusa ia masih berkumpul bersama temannya, bercanda dengan gadisnya. sekolah seperti biasa dan berlaku seperti remaja pada umumnya. kemudian, ketika masalah ini datang, siap tidak siap. Raihan dituntut untuk lebih kritis dan dewasa.
Ia sedang patah hati, tetapi ia harus kuat untuk Meika yang telah ditinggalkan untuknya.
"Rein, apa yang harus aku lakukan?" Begitulah tanya Raihan sembari memandangi wajah cantik Reina dalam ponselnya.
__ADS_1
Ibunya memanggil, beliau hendak keluar untuk berbelanja dengan sang ayah. Beliau berpesan untuk tidak melakukan tindakkan aneh, mengingat ada dua remaja berbeda gender di rumah itu.
bersambung . .