Rani yang Kedua

Rani yang Kedua
Menghindarimu


__ADS_3

Menghindarimu


Aku masih berdiam di pinggir gerbang. Kulihat anak-anak berlalu lalang memasuki gerbang sekolah. Haruskah aku terus disini sampai menunggu bel berbunyi? Aku belum siap untuk bertemu dengannya. Apalagi setelah dia secara tiba-tiba menembakku. Bagaimana mungkin, mengajak pacaran orang yang bahkan baru dijumpai hari itu juga. Aneh!


Aku belum mengenalnya, dia juga belum mengenalku. Apa yang membuatnya ingin menjadikanku pacarnya? Banyak cewek-cewek lain, yang pasti begitu menginginkan jadi pacarnya kak Bintang. Buktinya, tadi mereka berkumpul begitu hebohnya. Apalagi setelah kak Bintang tebar pesona di panggung musik Sabtu kemarin.


Jika aku bertemu dengannya nanti, entah apa yang harus aku katakan. Bukankah aku cukup menolaknya saja? Tapi nyatanya hatiku ragu, bagaimana kata-kata yang tepat untuk menolak seseorang.


"Rania .... " seseorang menyapaku saat aku tengah melamun.


"Oh, Ringga. Baru datang?" ucapku sambil melihat-lihat naik apa dia barusan. Untuk anak-anak yang naik motor, pintu masuk lewat gerbang sebelah utara. Sedangkan gerbang yang sedari tadi aku tunggui ini adalah tempat pemberhentian anak-anak yang naik kendaraan umum ataupun diantar jemput oleh orang tua mereka.


"Baru aja nyampe. Kok kamu disini? Tumben."


"Nungguin kamu." jawabku pelan. Itu hanya alasanku saja, karena takut pergi ke kelas sendiri.


Lalu dicubitnya hidungku dan berkata, "Yuk masuk!", setelah itu dia merangkul pundakku. Nyaman rasanya di dekat Ringga.


Dan yaaa, kak Bintang masih menungguku di depan kelas. Dan ternyata di sampingnya ada Maharani yang penampilannya jauh lebih berkilau pagi ini. Terakhir kulihat kak Bintang tersenyum dengan lesung pipinya, tapi pemandangan itu sekarang hilang, berubah seratus delapan puluh derajat. Dia memandangku tajam, dengan raut masam yang sangat tidak bersahabat.



Ringga dengan wajah kalemnya, manis tapi terlihat dingin seperti es krim saat ini. Sedangkan aku? Muka bantal yang semalam tidak bisa tidur. Entah kantung mataku ini sebesar apa sekarang. Aku merasa seperti Upik Abu diantaranya putri dan para pangeran.



"Kenapa begitu ramai disini? Kita kedatangan tamu?" tanya Ringga, terdengar santai namun seperti membeku aku di sebelahnya. Dan benar, aku merasa menggigil, entah takut pada Ringga yang bertemu dengan Kak Bintang, atau aku sendiri yang takut karena belum siap bertemu dengan kak Bintang.


Aku menunduk, memandangi lantai. Tak berani aku menatap mata kak Bintang yang tajam bagai mata elang itu. Refleks aku melingkarkan tanganku pada lengan Ringga. Dia sepertinya tahu aku sedang takut. Dia memegang jariku dan berkata, "Ayo masuk."


Namun, sebuah tangan meraih lengan kananku, dan membuatku berhenti dan menoleh.


"Aku ada perlu dengan Rania." tegas Kak Bintang.


"Maksud dia apa, Rania?" tanya Ringga heran.


Aku masih menunduk, bagaimana caranya aku mengatakan bahwa semalam aku ditembak oleh seseorang yang belum aku kenal.


Teet... Teet... Teet...


Bunyi bel masuk ini menyelamatkanku. Beberapa anak bubar dan kembali ke kelas masing-masing. Menyisakan kami berempat di depan pintu kelas 1A.


"Rania, aku akan kesini lagi nanti istirahat. Oke?" Kak Bintang berbicara mendekat.


Aku masih masih mendiamkannya, aku melihatnya pergi berlalu begitu saja. Dari dalam kelas, Nava menghampiriku. "Rania, ada apa? Yuk masuk ..."


Ringga duduk di kursinya, sedangkan Nava menarikku sambil berkata, "Duduk sama aku aja ya? Rani biar sama yang lain."


Aku mengangguk untuk mengiyakannya.


"Kamu nggak duduk sama aku?" tanya Maharani.


"Hm, aku sama Nava aja."


"Kamu nggak lagi merasa bersalah padaku kan?"

__ADS_1


"Bersalah tentang apa?"


"Kamu pura-pura bodoh ya?", lalu Maharani menghentakkan kakinya ke lantai, dan pergi.


Selama pelajaran berlangsung, lagi-lagi aku tidak fokus. Sampai tiba di pergantian jam, Nava menanyaiku. " Rania, Kak Bintang tadi nungguin kamu dari pagi lho... Kamu tumben datangnya siangan?"


"Iya kah?" tanyaku heran.


Nava mengangguk, dan melanjutkan. "Rani pagi tadi juga nemenin Kak Bintang terus di depan. Ngajak ngobrol, tapi dicuekin terus sama Kak Bintang. Dia asyikan mainin HP, sambil terus ngelihat keluar. Beneran nungguin kamu. Penting banget ya kayaknya."


Aku diam, menyimak kelanjutan cerita Nava yang setengah berbisik, takut jika ada orang lain di depan atau di belakang kami yang mendengarnya.


"Eh, padahal, sepertinya Rani juga lagi dideketin sama Kak Jo. Ingat nggak, kakak OSIS yang waktu itu?"


Aku mengangguk, "Terus?"


"Kukira Rani juga suka Kak Jo, tapi kayaknya nggak deh!"


"Intinya apa Va?" tanyaku. Aku mungkin memang sedikit tidak peka.


"Ya ampun, Maharani itu naksi naksir Kak Bintang. Kamu nggak lihat Sabtu kemarin Maharani nyanyi bareng Kak Bintang di Panggung Musik?"


"Iya, aku tahu. Tapi aku nggak ngira aja Rani naksir sama Kak Bintang."


"Nah itu tadi, makanya dia lagi sebel sama kamu."


"Kok bisa?"


"Ya ampun Rania ...! Kalau dilihat-lihat Kak Bintang juga suka sama kamu deh! Itu yang bikin Rani cemburu sama kamu."


"Iya, aku tahu. Kamu sukanya sama Ringga kan? Hihihi. Tenang, aku dukung kamu sama Ringga kok! Cocok tahu!" Nava menyemangatiku.


"Tapi Maharani?"


"Kan udah putus. Rani juga udah move on dari Ringga kan? Nyatanya sekarang Rani mulai ngelirik Kak Bintang."


"Kamu yakin Ringga juga udah nggak ada perasaan sama Maharani?"


"Yakin seratus persen deh pokoknya!"


*****


Istirahat siang. Kutengok, Ringga sudah tidak ada di kursinya. Kini kami duduk sedikit berjauhan karena aku berpindah tempat di sebelah Nava, di bangku nomor dua dari depan, dekat pintu. Kemana dia?


"Rania, ke kantin yuk!" ajak Nava.


"Hm, Va..., Ringga mana ya? Kok udah nggak ada? Udah pergi ke kantin juga?"


"Ringga mana pernah ke kantin? Kamu cari aja di taman depan, kalau nggak gitu di lapangan basket."


"Oh, oke!"


"Lho, kamu nggak ke kantin ini?"


"Aku cari Ringga dulu!"

__ADS_1


"Hati-hati Rania ...."


Aku bergegas mencari Ringga. Entah kenapa, aku merasa butuh dia sekarang. Mengingat Kak Bintang yang sedari pagi mencariku, mungkin siang ini juga akan mencariku lagi. Ringga, dimana kamu?


Kuedarkan pandanganku ke segala arah. Kusipitkan mataku, memandang dari kejauhan. Berulang kali aku menoleh ke kanan kiri, berusaha mencarinya. Dan kini, pandanganku terhenti di sebuah punggung yang lebar, dengan badan nan tinggi. Di bawah pohon rindang, ada kursi yang terbuat dari batu bata yang dilapisi semen, dia terduduk disana sendirian.


"Ringga ...!" panggilku.


Dia menoleh, dengan senyum khasnya. Aku berlari menghampirinya. Dia masih terdiam di tempatnya tadi.


"Aku nyari-nyari kamu dari tadi." ucapku sambil terengah-engah.


"Kenapa?" tanyanya datar.


Aku duduk di sebelahnya dengan manyun. "Kamu yang kenapa?" tanyaku lagi.


Dia menunduk. Aku berdiri, lalu duduk berjongkok di depannya. Ku tengok wajahnya dari bawah.


"Ringga ..." panggilku pelan, "Kamu marah?".


" Nggak. Aku cuma khawatir." akhirnya dia berbicara.


"Khawatir?" tanyaku bingung.


"Cowok tadi bukannya yang kemarin yang nyanyi di panggung itu? Dia mencarimu? Kamu, pacaran dengannya?"


"Ringga ...," kuraih tangannya, "Aku cuma deket sama kamu."



"Kalau dia mendekatimu lagi, aku boleh memukulnya?"


"Jangan, jangan berantem. Aku nggak suka."


"Iya, aku nggak akan berantem."


"Janji?"


"Janji."


Kedua kelingking kami saling terpaut.


*****


Penasaran dengan ceritanya?


Jangan lupa untuk klik Favorit.


Serta beri rating bintang lima yaaa...


Tinggalkan komen di bawah. Kritik dan saran selalu saya nantikan.


Terimakasih.


Penulis Baru

__ADS_1


Hanny Achmad


__ADS_2