Rani yang Kedua

Rani yang Kedua
Mie Goreng


__ADS_3

"Woi, bagi donk, cemilannya. Jangan dimakan sendiri!" kudengar suara Lisa yang sedikit cempreng memenuhi seisi taman belakang. Teman-teman bercanda tawa, saling berebut makanan kecil yang disajikan Simbok.


Disana digelar alas karpet yang nyaman di atas rerumputan. Aku dan Ringga tidak bergabung dengan mereka. Kami duduk di pinggir kolam ikan, yang gemericik air dari pancuran kecil menjadi suara latar yang cukup indah bagi kami.


Kami masih saling menyunggingkan senyum. Kecupan Ringga masih terasa jelas di ingatanku. Beberapa saat yang lalu itu terjadi, dan selesai tanpa diikuti kata-kata yang berarti dari Ringga. Aku menantikan kata-kata darinya, bahwa dia menyukaiku, bahwa dia menyayangiku, bahwa dia tidak mau kehilanganku. Tapi itu tidak terjadi.


Apa dia juga sedemikian malu, sampai tak bisa berkata-kata. Oh Ringga, aku akan menantikan semua itu darimu. Aku akan menunggu selama apapun itu.


Aku melirik Ringga, matanya membentuk bulan sabit meski terlihat dari samping. Sesekali dia menatapku, menyibak rambut yang ada keningku. Terkadang mengusap kepalaku, menyingkirkan rambut yang menutupi pipiku dengan menyelipkan rambutku ke belakang telinga. Hal-hal manis itu dilakukannya tanpa bersuara sedikitpun.


"Kenapa sih?" tanyaku heran.


"Cantik banget tahu!"


Aku mengerucutkan bibirku bibirku ke arahnya. Di membalas dengan cubitan manja di pipiku. Kami sama-sama tertawa.


Tak sengaja terlihat oleh sudut mataku. Kak Bintang yang sedari tadi memandangi kami. Dia duduk sendiri, di kursi menghadap karpet yang diduduki teman-teman.


Aku merasa aneh karena dia memandangiku. Tiba-tiba terngiang kata-kata Kak Bintang tadi, bahwa dia akan tetap menyukaiku apapun yang terjadi. Rasanya, sedikit menjadi beban di hatiku. Kenapa dia harus berucap seperti itu pada Ringga. Tak heran jika Ringga begitu terlihat marah. Meski terkadang muncul pikiran aneh di benakku. Siapa aku bagi Ringga, hingga hanya dia yang boleh menyukaiku?


Kutepis pikiran-pikiran itu. Aku tidak mau bayangan itu membuat sirna kebahagiaanku hari ini. Terlebih lagi melihat Ringga. Cowok yang sedari pertama kali aku melihatnya, sudah membuatku jatuh hati. Bisa sedekat ini dengannya, aku sudah sangat bersyukur. Kecupan hangat darinya yang mendarat di keningku sesaat tadi, rasanya masih melekat hingga sekarang. Rasa manis, berdesir kecil dalam hati. Rasa-rasa aneh yang baru kali ini kurasakan.


"Non, silakan dimakan dulu ..." suara Simbok mengagetkanku. Beliau membawa sepiring mie goreng dengan sayuran dan ayam suwir, tidak lupa ada kerupuk udang di pinggiran piring. Siapapun yang melihat pasti akan tergoda dengan hidangan ini. Apalagi asap putih dari mie goreng itu yang masih terlihat mengepul di atasnya. Membuat mata yang melihat pasti tidak akan sanggup untuk menolaknya.


Tapi itu untuk orang normal. Tidak bagiku yang punya phobia aneh. Aku membenci mie. Segala sesuatu yang terbuat dari mie aku tidak suka. Melihatnya saja, sudah terbayang bagaimana bentuknya yang panjang seperti cacing yang mengeliat. Belum lagi, ada minyak di antara mie itu yang membuatnya terlihat basah dan licin seperti belut. Hueeeek!


Aku menahan rasa jijik dan mual. Aku tidak ingin membuat kecewa Simbok dan Ringga untuk hidangan yang dibuatkan khusus untukku.


"Dimakan Rania, tadi katanya lapar. Apa mau aku suapin?" ucap Ringga.


"Hehehe, aku masih kenyang Ringga."


"Tadi katanya lapar?"


"Tadi iya, tapi sekarang udah kenyang pakai banget!" jawabku sambil memegang perut.


"Kok bisa gitu?"


"Kenyang gara-gara ngelihatin kamu terus nih, jadinya nggak mau yang lain, hehehe ..." elakku.


"Sekarang gombalnya makin pinter ya... Belajar dari siapa sih?" kata Ringga, sambil mencubit hidungku. Entah kenapa hidungku ini selalu menjadi bulan-bulanan kegemasannya.

__ADS_1


Huft, tentang mie goreng selesai sudah. Aku berhasil meletakkannya di meja tanpa membuat kecewa atau curiga pada Ringga.


Aku melihat teman-teman yang terduduk di karpet. Hampir semua toples kue kosong. Aku heran bagaimana mereka menghabiskan semua itu. Sirup dalam botol pun habis, seolah ada lubang di bawahnya yang membuat cairannya itu menghilang. Menyisakan gelas-gelas kosong yang berserakan. Sepertinya teman-teman bersiap untuk pulang. Mereka mulai memakai tasnya.


"Bro, makasih ya. Habis nih! Bilangin Simbok jangan kapok didatangin kita. Kalau ada makanan yang perlu dihabisin, panggil aja kita." seru Bayu yang terlihat kenyang.


"Eh, enak aja bilang kita. Kamu aja kali Bay!" celoteh Luna.


"Hampir separuh ini tadi kan kamu semua yang makan!" sahut Loli.


"Hehe, iya deh iya, jangan protes gitu napa." jawab Bayu.


"Kak Bintang kok nggak gabung sih tadi? Nggak enak badan?" kata Maharani yang terlihat berjalan mendekati Kak Bintang.


"Nggak kok! Belum kenal aja sama teman-teman kamu. Nggak ada yang diobrolin juga." jawab Kak Bintang.


"Yah, tahu gitu tadi Rani temenin Kak Bintang,"


"Udah nggak papa. Mau pulang sekarang?"


"Iya, yuk pamitan Kak!"


"Ada aku aja dia berani senyum-senyum sama Rania. Gimana kalau aku nggak ada?" gumam Ringga, tapi aku masih bisa mendengarnya meski pelan.


"Jangan marah-marah terus. Cepat masuk ya, jangan bikin aku lama kangen." ucapku seraya memegang pipinya, tempat dimana pukulan Kak Bintang mendarat, dan menyisakan bekas lebam biru. Aku mengelusnya, berharap seperti peri yang bisa membuat luka itu menghilang.


Ringga menyambut tanganku. Mengelus tanganku yang masih memegangi pipinya. Dia memejamkan matanya, menikmati setiap belaian tanganku.


"Kamu jangan pulang bisa?"


"Masih kangen?"


Dia mengangguk. Rasanya aku juga enggan berpisah dengannya seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, waktu dan tempat yang tidak memungkinkannya.


Aku menarik tanganku pelan, namun tangan Ringga masih tak melepasnya. "Nanti disambung via HP ya? Udah mau sore ini."


Meski terasa berat, akhirnya dia menjawab, "Oke, kamu hati-hati ya Rania ..."


Aku mengangguk, melambaikan tanganku padanya, dan berjalan meninggalkannya.


Hampir saja aku terlena dengan Ringga sampai melupakan teman-teman. Bagaimana Ryan? Bukankah aku tadi berbarengan dengan dia?

__ADS_1


Aku berjalan dengan sedikit berlari menuju ke halaman depan. Dan benar saja, sudah sepi. Ya ampun, cepat sekali mereka pergi. Apa mereka melupakanku? Atau, aku sendiri yang melupakan mereka karena terlalu asyik bersama Ringga?


Tiiin!


Suara klakson motor. Berasal dari motor yang hanya terpaut beberapa meter dariku. Aku tak melihatnya tadi.


Bruuuuum. Motor itu menghampiriku. Wajah pemilik motor itu tertutup oleh helm. Bukan Ryan, bukan juga Bayu.


Dia mengarahkan sebuah helm pink milikku. "Nih!"


Kenapa ada padanya? Batinku.


Aku menerimanya masih dengan heran.


"Ryan buru-buru pulang, mamanya telepon. Aku suruh antar kamu. Nggak papa kan?" suaranya sedikit terhalang helm yang dia kenakan.


Aku mengangguk, dengan pasrah memakai helm.


"Udah, naik. Bisa kan?"


Aku sedikit kesulitan naik motor Ninjanya yang tinggi ini. Dengan terpaksa aku memegang pundaknya, untuk tumpuan tanganku. Aku membetulkan rokku, agar tidak tersingkap nantinya.


Deg, deg, deg.


Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar seperti ini? Apa karena di depanku sekarang adalah, Kak Bintang?


*****


Penasaran dengan ceritanya?


Jangan lupa untuk klik Favorit.


Serta beri rating bintang lima yaaa...


Tinggalkan komen di bawah. Kritik dan saran selalu saya nantikan.


Terimakasih.


Penulis Baru


Hanny Achmad

__ADS_1


__ADS_2