
Ringga Namanya
Stevi masih terus menarik tanganku. Dia bahkan tak tahu kalau aku menabrak seseorang karenanya. Sampai kami tiba di depan sebuah kelas. Sebuah papan kecil di atas pintu depan tertulis I A.
"Wah... jadi gini wajah anak-anak pintar. Banyak yang pake kacamata ya... Ran, contekin aku ya nanti kalau ada PR. Hehehe." Stevi terkekeh di sela-sela bisiknya di telingaku.
"Kamu mau ikut masuk?"
"Nggak ah! Takut ketularan pinter!" ucapnya sambil ngeloyor pergi meninggalkanku.
Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas. Beberapa pasang mata tertuju padaku. Ada beberapa gerombol anak, aku yakin mereka berkumpul sesuai SMP mereka masing-masing.
Wah, enaknya, jika sudah punya yang dikenal di kelas ini. Aku masih merasa asing karena belum kenal dengan siapapun di kelas ini. Kulihat mereka memakai sepatu bagus, tas bagus, jam tangan keren. Orang kaya! Batinku pelan. Sedangkan aku hanya memakai seadanya. Tapi tak apa, aku teringat pesan ayah dan ibu.
"Jangan pedulikan penampilan teman-temanmu nanti Nduk... Jadi diri kamu sendiri. Sederhana. Seperti Rani yang ayah dan ibu banggakan. Nggak usah minder, kalau ada yg pakai motor bagus, tas bermerk, yah itu karena mereka keluarga kaya. Biar, mereka memang mampu membelinya. Nggak perlu iri, sabar ya... Kuncinya sekolah itu untuk menuntut ilmu."
Kata-kata ayah bergaung di telingaku. Benar. Aku tak perlu rendah diri. Cukup jadi Rani saja. Rani yang selalu dibanggakan ayah dan ibu.
Aku berjalan pelan, sambil melihat-lihat dimana ada bangku kosong. Karena beberapa bangku sudah terisi tas.
"Hei, dari SMP mana?" tanya salah seorang diantara kerumunan.
"Ehm... Dari SMP Pelita 02"
"Salam kenal, aku Lisa dari Pelita 01. Kenalin nih temen-temen dari Pelita 01 semua"
Mereka menjabat tanganku satu per satu sambil mengenalkan nama mereka. Lisa, Putri, Nava dan Ela. Tak seperti yang kubayangkan, mereka ramah. Mungkin aku saja yang terlalu banyak menonton drama tentang anak-anak sekolah yang jahat. Itu ternyata hanya ada di film, saudara! Haha, aku tertawa dalam hati.
"Namaku Rani"
"Rani??" mereka seolah terkejut saat menyebutkan namaku.
"Hey Rani. Ini ada kembaran kamu nih!" ucap salah satu diantara mereka, dan perkataan itu ditujukan pada seorang cewek di kerumunan belakang.
Serentak mereka semua ikut menoleh ke sumber suara. Dan salah satunya melangkah mendekati kami yang tepat di ujung dekat pintu masuk kelas. Langkahnya mantab, tanpa ragu, dia anak yang percaya diri, pikirku.
"Oh ya... Kamu juga Rani?", kata cewek itu sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tanganku.
Kuterima tangannya dengan jabatan yang cukup erat.
Kalau kamu berfikir tentang cewek cantik? Nah, dialah mungkin orang yang tepat disebut cewek cantik. Dari atas sampai bawah, penampilannya sungguh rapi. Jam tangan berwarna pink menghiasi tangannya. Roknya? Sedikit lebih pendek dari rok teman-temannya. Atau mungkin karena dia memang lebih tinggi?
Yup, betul! Dia tinggi semampai, langsing, berkulit putih, rambutnya lurus dan panjang. Dan kamu tahu, dia sangat wangi! Aku heran, apakah anak SMA memang harus seperti ini? Entah kagum, entah merasa aneh, tapi wajah cantiknya kurasa dipoles dengan make up. Meskipun masih cukup dibilang natural, aku yakin dia memakai cream wajah, juga liptint berwarna pink kemerahan. Dan bulu matanya yang lentik? Hm, dia memakai mascara.
Sedangkan aku? Jangan tanya! Aku hanya memakai bedak tabur tipis dan sedikit lipbalm agar bibirku tidak kering saja.
"Hai... Namaku juga Rani. Rania Saputri" kataku setelah sedikit terkagum dengan penampilan Rani yang ada di depanku.
"*Kebetulan banget ya, nama kita sama. Aku dari Pelita 01. Kamu?"
"Pelita 02*" jawabku singkat.
__ADS_1
Lalu seseorang bernama Lisa menengahi kami, seraya merangkul pundak kami sambil berkata, "Hei... Rani satu dan Rani dua. Rani dari SMP Pelita satu, dan Rani dari SMP Pelita dua." Sambil memandang Rani dan aku secara bergantian.
"Panggil aku Rania saja." ucapku pelan.
"Nggak ah... Asyik Rani satu dua aja deh!" Lisa memaksa.
"Kalau aku terserah temen-temen aja enaknya gimana. Yang jelas namaku, Maharani! " tegasnya.
Ah, Maharani ya? Dari nama saja sudah terlihat bahwa dia mungkin lebih segala-galanya dari pada aku. Oh, Rani. Kenapa nama kita harus sama? Kenapa kita satu kelas?
"Hei, kita satu bangku aja yuk!" kata Maharani membuyarkan lamunanku.
"Hmm... boleh, kalau kamu nggak keberatan." kataku.
"Taruh aja tas kamu. Itu, di sebelah meja yang ada tasnya warna pink!" ucapnya sambil menunjuk bangku di deretan nomor dua dari depan, pas lurus dengan papan tulis.
Pilihan tempat duduk yang tepat, pikirku. Segera aku menaruh tas ransel hitamku di bangku yang dia maksud.
"Rania, kalau kamu nggak nyaman duduk di sebelah Rani dan mau pindah tempat, kamu sama aku aja nggak papa"
Tiba-tiba seseorang bernama Nava mendekatiku. Dia berperawakan agak kecil, sedikit lebih pendek dariku. Wajahnya juga kecil, senyumnya terkembang agak lebar. Dan sebentar-sebentar, dia membetulkan letak kacamatanya. Mungkin itu menjadi ciri khasnya.
"Bangkuku ada disana." Nava menunjuk bangku yang lurus denganku, namun berada di dekat pintu.
Aku tidak mengerti maksudnya. Kenapa dia mengajakku duduk dengannya? Sedangkan Maharani sudah menawariku duduk di sebelahnya. Aku merasa tak enak padanya jika tiba-tiba aku berpindah tempat dan duduk di sebelah Nava.
"Maaf Nava... Aku disini saja ya.." Jawabku pelan, mengimbangi suaranya yg juga lirih.
Aku membuka ranselku, dan mengambil botol minum. Terasa kering tenggorokanku. Aku meneguknya, sekali, dua kali, dan...
Uhuk! Aku tersedak bersamaan dengan masuknya seseorang ke dalam kelas. Mulut dan daguku basah oleh air. Aku berusaha mengelapnya dengan tangan.
Dan, kedua mata kami beradu. Oh, dia cowok bermata indah tadi. Dia tersenyum melihatku. Dan kurasa, dia berjalan ke arahku. Aku menoleh ke kiri kanan, memperhatikan sekitar. Apakah cowok ini betul akan menghampiriku? Apakah benar dia tersenyum padaku?
"Hei... Tanggung jawab. Kamu tadi yang nabrak aku kan?"
Tiba-tiba dia sudah duduk di kursi tepat di depanku. Badannya menghadapku, kedua tangannya diletakkan di sandaran kursi.
"Halooo... Kok bengong?" Tangannya melambai-lambai di depan mukaku. Cakep. Ganteng. Tampan. Semua kata itu tiba-tiba muncul secara bersamaan di dalam benakku.
"Oh... hai..." akhirnya aku bersuara.
"Syukurlah... Kamu sekelas denganku. Aku tadi mencari-carimu di kelas lain. Eh, ternyata kamu disini."
"*Kenapa mencariku? Oh... Tentang tadi. Aku minta maaf, aku betul-betul nggak sengaja menabrakmu."
"Kamu minta maaf? Nggak mau. Ganti rugi donk... hehehe."
"Apa?"
__ADS_1
"Nih*..." Ucapnya sambil menyodorkan ponselnya. Dia tersenyum lebar. Memperlihatkan gigi-giginya yang putih.
Aku menerima ponselnya, masih bingung dengan tingkahnya.
"Ketik nomor HP kamu. Oke. Trus nama kamu."
Aku mengikuti arahannya, dan mengembalikan ponsel padanya.
"Rania. Secantik wajahnya." Dia memandangku lekat-lekat. Senyumnya kembali mengembang. Matanya terlihat berbinar-binar ketika sedang tersenyum.
Aku menunduk. Menahan malu. Mungkin, baru pertama kali ini ada orang yang terang-terangan memujiku. Entah, mungkin wajahku memerah. Aku takut, mungkin ada yang mendengar ucapannya.
Lalu aku dikagetkan dengan getar dari dalam tasku. Aku mencarinya. Ada telepon masuk dari nomor tak dikenal di ponselku.
"Save ya... Ringga Saputra. Aku duduk di depanmu ya?"
"Iya.." Aku mengangguk.
Entah seperti apa wajahku sekarang, aku benar-benar tak bisa mengontrol ekspresiku. Saking senangnya, aku takut jikalau wajahku tidak tersenyum, tapi malah melotot.
Aku masih memandangi layar di ponselku. Ringga. Kubaca berulang-ulang namanya. Kenapa dia tertarik padaku? Aku takut, jika aku merasa ke-GR-an. Mungkinkah dia memang selalu bersikap seperti ini pada cewek lain? Selalu baik? Selalu bicara dengan manis?
Dan, tiba-tiba sebuah permen diletakkan di mejaku. Ringga lagi. Ada kata-kata yang tertulis di balik bungkus permen itu. Hai Cantik.
Lagi-lagi aku meleleh. Kupandangi punggungnya dari belakang. Bahkan dari belakang pun terlihat tampan. Kupegang erat-erat permen itu. Kugenggam. Kubuka lagi untuk membacanya. Kugenggam. Kubuka lagi untuk membacanya. Begitu berulang-ulang. Sampai sebuah suara muncul mengagetkanku.
"Ringga, kenapa duduk disini sih? Minggir sana, jauh-jauh! Jangan deket-deket sama aku!" Maharani berbicara setengah membentak.
"Suka-suka aku." jawab Ringga.
"Ringga... Jangan-jangan kamu disini karena pengen deket sama Rani lagi. Trus, balikan lagi, ehemmmm..." kata Lisa menambahi. Diiringi sorakan beberapa anak di belakang.
Balikan? Ringga dan Maharani?
Deg! Berfikir apa aku ini. Dengan mudahnya berbunga-bunga di depan Ringga. Aku bahkan tidak tahu kalau mereka berdua pernah pacaran. Ringga dan Maharani. Sama-sama ganteng dan cantik. Dilihat dari sudut manapun, mereka pasangan yang cocok. Sedangkan aku ini apa? Hanya kerikil kecil di pinggir jalan.
Haha! Rania, Rania... Aku menertawai diriku sendiri. Bisa-bisanya aku hampir terpesona dengan Ringga. Ujung-ujungnya hanya aku yang sakit hati. Kuremas permen dalam genggamanku. Menahan malu dan rasa kecewaku.
*****
Penasaran dengan ceritanya?
Jangan lupa untuk klik Favorit.
Serta beri rating bintang lima yaaa...
Tinggalkan komen di bawah. Kritik dan saran selalu saya nantikan.
Terimakasih.
Penulis Baru
__ADS_1
Hanny Achmad