Rani yang Kedua

Rani yang Kedua
Terluka


__ADS_3

Terluka


Teeeeeeeet ...! Bel berbunyi panjang yang sudah dinantikan semua anak. Berakhir sudah pelajaran hari ini, semua bergegas membereskan buku dan segala peralatan lainnya. Begitu juga denganku. Apalagi Nava tadi memberitahuku jika Kak Bintang lagi-lagi saat istirahat tadi kesini untuk mencariku. Dan hasilnya zonk karena aku buru-buru keluar kelas untuk mencari Ringga.


Dan saat ini, aku juga harus segera keluar kelas sebelum Kak Bintang menemukanku di kelas ini. Tanpa ba bi bu aku langsung keluar kelas dan pergi tempat parkiran motor sambil menunggu Stevi. Aku berjalan setengah berlari. Dan ketika sampai di tempat parkir, masih belum terlalu ramai oleh teman-teman. Mereka mungkin masih bersantai di kelas mereka sambil mengobrol.


Kesempatkan untuk mengirim chat untuk Stevi. Aku khawatir dia akan menjemputku di kelas.


[Vi... Aku udah di motor kamu. Langsung kesini aja.]


Kutunggu beberapa saat, pesanku belum dibaca. Kusandarkan badanku di motor Stevi sambil menunggu balasan darinya. Tapi tiba-tiba ponselku berdering. Stevi?


"Ran, dimana kamu?"


"Aku udah di parkiran, nungguin kamu."


"Ya ampun, kamu balik ke kelasmu deh!"


"Ada apa?"


"Ringga berantem sama kakak kelas, nggak tau siapa. Cepetan!"


Aku segera bergegas lari, kembali ke kelasku. Apa yang terjadi? Kenapa bisa Ringga berantem? Siapa kakak kelas yg dibicarakan Stevi? Apa jangan-jangan dia, kak Bintang?


Berkali-kali aku hampir terjatuh, di benakku hanya ada Ringga saat ini. Aku takut dia kenapa-kenapa.


Tidak! Tebakanku benar. Langkahku terhenti, melihat kerumunan di depan mataku. Beberapa anak cowok di kelasku berusaha melerai. Ada Bayu teman sebangku Ringga yang memegangi tubuh Ringga, dia terlibat kewalahan menahan Ringga. Dan Ryan ketua kelasku, dia memegangi kak Bintang yang ternyata jauh lebih liar. Kakinya menendang-nendang ke segala arah.


Kenapa dengan mereka berdua? Sesaat pikiranku kosong, namun aku kembali tersadar saat melihat sudut bibir Ringga mengeluarkan darah. Aku berhambur ke arahnya.


"Ringgaaaaaa!" teriakanku menghentikan perkelahian itu.


Semua mata tertuju padaku. Kulihat Maharani, Lisa, Luna, Loli, Nava ketakutan melihat pertengkaran Kak Bintang dan Ringga. Mereka menahan tangis, karena bahkan mereka tak bisa berbuat apa-apa untuk melerai mereka.


"Cukup Kak, cukup! Mau apa lagi kamu sekarang? Ha?" selorohku pada Kak Bintang. Amarahnya terlihat mulai meredam. Kutolehkan pandanganku ke Ringga. Menyedihkan. Aku tidak sanggup melihatnya. Seragamnya berantakan, kemejanya keluar dari ikat pinggangnya, bahkan kancing bajunya terlepas entah kemana.


"Ringga... Kamu nggak papa?" ucapku lirih, ragu-ragu kupegang pipi kirinya yang terluka.


"Tolong yang lain bubar, masalah ini cukup kita aja yang tahu. Jangan sampai pihak sekolah mengetahuinya. Tolong!" ultimatum dari sang ketua kelas seketika dipatuhi. Mereka semua bubar. Terkecuali Nava dan Stevi, mereka menghampiriku. Sedangkan Maharani, kulihat dia mendekat pada Kak Bintang.


"Ga, lo ke UKS dulu deh!" ucap Bayu yang sedari tadi memegangi tubuh Ringga.

__ADS_1


"Aku antar ya..." kataku pelan.


"Rania, cepet kamu antar Ringga." sahut Nava.


"Kasihan Ringga.." timpal Stevi.


Aku segera memapah Ringga, tangannya kulingkarkan di leherku. Aku memegangi badannya. Dia terlihat meringis menahan sakit, tangan kanannya memegangi perutnya.


"Rania, aku masih perlu ngomong sama kamu!" Kak Bintang mulai bersuara. Ryan sudah melepaskannya, dia mendekat ke arahku. Penampilannya juga terlihat acak-acakan, namun tak terlihat luka di wajahnya.


"Nggak ada yang perlu omongin!" tegasku padanya. Tak kuhiraukan dia, aku kembali memapah Ringga.


"Tunggu Rania," ucapnya sambil memegang lenganku.


Kuhempaskan tangannya dengan kasar, diikuti tatapan marahku padanya. "Jangan pernah berbuat seperti ini lagi!"


Di UKS. Saat sudah jam pulang sekolah, tak ada lagi yang piket untuk menunggui ruangannya. Bayu, Stevi dan Nava sempat mengantar kami sampai depan pintu UKS. Mereka memilih menunggu di luar untuk membiarkanku dan Ringga berdua saja disini.


Ringga duduk di pinggir ranjang tempat tidur UKS. Aku mencari kapas dan Betadine untuk mengobati lukanya.


"Sakit?", tanyaku saat kuoleskan obat di ujung bibirnya yang memerah.


"Masih lebih sakit disini." kata-katanya menyudutkanku. Entah rasa bersalah atau sedih yang kurasakan saat ini, aku hanya bisa tertunduk. Tenggorokanku tercekat rasanya, aku tak bisa bersuara. Bulir-bulir hangat menjatuhi pipiku, mataku membanjir tak tertahan lagi, isak tangisku menggema di ruangan kecil itu.


"Maafin aku... Maafin aku..." kutarik kedua tanganku, untuk menutupi wajahku. "Hu.. Hu.. Hu.."


"Jangan nangis..."


"Gara-gara aku, kamu terluka kayak gini. Aku yang tadi nyuruh kamu untuk nggak berantem kan?"


"Laki-laki sejati nggak akan pernah ingkar janji."


"Tapi kamu kenapa sampai berantem kayak tadi?"


"Dia, bener nembak kamu?"


Aku terhenyak oleh ucapan Ringga. Betul, dia menembakku semalam. Aku belum menjawabnya, aku terus menghindarinya seharian ini. Seakan, aku takut jika aku harus berkata tidak pada Kak Bintang. Sebuah ketakutan yang tidak berdasar.


"Jadi benar, dia nembak kamu?"


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Kamu, juga suka sama dia?"


Kugelengkan kepala segera, tak mau Ringga berpikir yang tidak-tidak tentangku. Bulir air mataku jatuh.


"Aku nggak bakal rela kalau ada orang lain yang suka sama kamu. Hanya aku yang boleh. Titik. Kamu keberatan?"


Kugelengkan kepala lagi. Lidahku masih terasa kelu untuk menjawab semua pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkannya.


"Lalu, kenapa nangis lagi? Aku nggak papa." ucapnya seraya mengusap bulir-bulir yang masih membasahi pipiku. Setiap usapan tangannya di pipiku terasa begitu lembut, menghangatkan, menenangkan. Lalu kedua tangannya meraih tanganku, menggenggamnya. Dia masih duduk di pinggir ranjang, sedangkan aku masih berdiri di hadapannya. Dia mendongak ke wajahku, untuk menatap kedua mataku.


"Aku, memang nggak bisa menjanjikan banyak hal. Tapi, aku minta sama kamu untuk terus menyukaiku sampai kapanpun. Oke?"


Aku hanya bisa mengangguk. Mengiyakan permintaan kecil darinya. Menyukainya sampai kapanpun? Itu sudah pasti akan kulakukan. Tapi kenapa, rasanya masih sedikit mengganjal di hatiku.


Dia menyukaiku. Aku menyukainya. Apakah kita resmi berpacaran sekarang? Oh no! Belum. Dia bahkan tidak memintaku untuk menjadi pacarnya sekarang. Dia hanya memintaku untuk selalu menyukainya. Itu sedikit aneh bagiku.


Tapi, kenapa malah Kak Bintang sama sekali belum kukenal, tiba-tiba langsung menembakku. Memintaku untuk menjadi pacarnya. Memangnya siapa aku? Apa istimewanya aku bagi Kak Bintang? Apa pacaran hanya main-main saja untuknya?


Sedangkan Ringga, yang sedari awal sudah membuatku terpikat dengan segala ramah tamahnya, tingkah lakunya yang begitu manis, tidak juga memintaku untuk menjadi pacarnya.



Lagi-lagi hati kecilku meragukannya. Meski hari ini telah kulihat dengan mata kepalaku sendiri, dia berkelahi dengan Kak Bintang hanya gara-gara aku. Entah dia cemburu atau bagaimana, aku pun masih bingung.


Sementara sekarang, Ringga masih memegangi kedua tanganku. Kepalanya tertunduk. Seolah ada beban berat di atas kepalanya. Apa itu, aku sama sekali tidak berani menanyakannya. Kami berdua hanya terdiam. Saling menyemangati satu sama lain dengan genggaman yang kian erat.


*****


Penasaran dengan ceritanya?


Jangan lupa untuk klik Favorit.


Serta beri rating bintang lima yaaa...


Tinggalkan komen di bawah. Kritik dan saran selalu saya nantikan.


Terimakasih.


Penulis Baru


Hanny Achmad

__ADS_1


__ADS_2