Rani yang Kedua

Rani yang Kedua
Awal Perjumpaan


__ADS_3

Awal Perjumpaan


Hai! Namaku Rania Saputri. Teman-teman biasa memanggilku Rani.



Genap lima belas tahun usiaku kini. Usia yang sudah cukup tepat disebut remaja yang mulai bisa merasakan yang namanya cinta.


Dari sekian anak remaja di SMP dulu, aku termasuk anak yang belum mengenal pacaran. Apa aku cupu? No! Aku hanya berfikir, rasanya sudah cukup menyenangkan ketika kita bermain dengan teman laki-laki, tanpa harus terikat kata PACARAN. Berbeda dengan beberapa temanku yang sudah berulang kali putus dengan pacarnya. Dan kamu tahu? Aku yang sama sekali belum pernah pengalaman pacaran ini selalu jadi tempat curhat mereka ketika sedang berantem, bahkan sampai akhirnya mereka putus, dan terkadang balikan lagi.


Mereka bilang, aku anak yang manis. Oh, aku terharu ketika mereka mengucap itu.


Dibilang cantik, mungkin lebih banyak yang lebih cantik dariku. Jadi, aku pun tidak begitu percaya diri untuk mengatakan bahwa aku cantik.


Kalau kamu? Apa kesan kamu ketika mendengar nama Rania?


Baik hati, pintar, tidak sombong, hihihi...


Hmmm... Semoga hal-hal yang baik saja ya ketika kamu memikirkanku.


Hari ini adalah hari pertamaku resmi menjadi siswi SMA Putra Bangsa. SMA ini adalah salah satu SMA favorit di kotaku. Bahkan, dari lima ratusan siswa yang mendaftar, hanya dua ratus sepuluh siswa yang diterima di sekolah ini. Dan akulah salah satu siswa yang beruntung itu. Beberapa teman SMP ku pun banyak yang tidak diterima. Hanya ada tujuh siswa saja yang diterima disini. Stevi, Dila, Novan, Agus, Ridho, Dani, dan aku.


*****


Angin pagi berhembus kencang menerpa wajahku yang sebagian tertutup kaca helm. Terkadang, suara angin terasa berisik di telinga, karena Stevi yang memboncengku, melajukan motor dengan sedikit ngebut. Sepanjang jalan raya, di sebelah kanan dan kiri dihiasi hamparan sawah yang mulai menguning, siap untuk berbakti pada petani.


"Stevi, pelan! Jangan ngebut donk!"


"Tenang Ran, santai aja kamu di belakang. Dijamin aman!"


Ya, Stevi ini temanku sedari kecil. Mungkin sedari kami bayi, kami sudah berteman. Bagaimana tidak? Rumahnya tepat di depan rumahku. Kami dilahirkan di bulan yang sama, namun di tahun yang berbeda. Dia satu tahun lebih tua dariku. Dia masuk SD umur tujuh tahun, sedangkan aku enam tahun. TK, SD, SMP, kami selalu satu sekolah. Dan sekarang, di SMA pun kami berbarengan.


Aku bersyukur, Stevi mau memboncengku ke sekolah dengan motornya. Jika tidak, aku akan ke sekolah dengan naik sepeda. Jarak tujuh kilo mungkin akan membuatku ngos-ngosan ketika sampai sekolah. Karena di rumah hanya ada satu motor. Satu-satunya motor yang dipakai ayah setiap hari mengajar. Ya, beliau adalah guru SD di desaku. Menjadi PNS bukan berarti hidup bermewah-mewahan seperti di pikiran orang pada umumnya. Setiap bulan, ayah selalu menyisihkan sekian ratus ribu untuk ditabung, demi kuliahku dan adikku Rina kelak.

__ADS_1


Aku jadi ingat, suatu malam ayah menepuk-nepuk pundakku dengan pelan.


"Maaf ya Nduk (panggilan sayang orang tua pada putrinya), ayah belum bisa beliin kamu motor. Dek Rina juga masuk SMP. Biayanya dibagi-bagi dulu. Ayah sudah bilang sama pak Udin, kalau kamu sekolahnya biar bareng Stevi dulu. Nggak papa kan?"


"Iya ayah.." Aku hanya bisa mengiyakan apa kata ayah, tanpa berani untuk membantahnya.


Tiba-tiba lamunanku dibuyarkan oleh teriakan Stevi.


"Heh, kamu nggak turun?" kata Stevi sambil melepas helm yang dikenakannya.


"Hehe... Nggak kerasa udah nyampe."


Aku sedikit terkaget, karena perjalanan yang biasanya ditempuh 15 menit, terasa begitu saja terlewati. Kulepas helm, dan menaruhnya di jog motor. Sambil kupandangi wajahku di kaca spion, untuk membetulkan rambutku yang mungkin berantakan karena tiupan angin yang cukup kencang di perjalanan tadi.


"Udah, nggak usah ngaca-ngaca. Cantik cantik." Stevi berucap sambil menutup kaca spion dengan tangannya.


"Cantik apanya? Kalau nanti rambutku acak-acakan, dikiranya kamu jalan sama Hagrid loh!" candaku.


"Hahahahaha...." tawa Stevi terdengar begitu renyah.


Kami berdua menyusuri jalan dari parkiran menuju ke halaman sekolah. Sudah ramai anak yang berdatangan. Seragam yang kami pakai bermacam-macam. Karena masih masa orientasi, kami masih memakai seragam SMP. Kain yang dibagikan oleh SMA belum selesai dijahit.


Kutengok kanan kiri, hampir tidak ada wajah yang kukenal. Hanya Stevi yang jalan dengan sedikit cepat berada di depanku. Sebentar saja kulihat dia sudah berhambur di kerumunan anak-anak. Mereka saling berebutan untuk melihat kertas yang tertempel di papan pengumunan.


"Ran! Coba kesini. Cari namamu. Kamu di kelas apa?" kata Stevi sambil mengayun-ayunkan tangan untuk memanggilku mendekat.


Aku mencoba menyibak kerumunan, dan mencari namaku. Satu detik, dua detik, ya! Rania Saputri. Namaku terpampang di lembaran paling kiri. Kelas 1 A.


Kulihat Stevi masih berusaha mencari namanya.


"Yah... Aku di 1 E Ran, bakalan jauh deh kelas kita.. Kamu enak nih, kelas unggulan. Pake AC. Kalau aku? Ada kipas angin aja udah syukur." gerutu Stevi sambil keluar dari kerumunan.


Ya, aku tahu bahwa kelas 1A ini adalah kelas unggulan. 15 anak dari seleksi DANEM tertinggi, dan 15 anak dari jalur prestasi. Dan aku termasuk anak yang dari jalur prestasi. Beruntung? Ya, mungkin aku beruntung, berkat angka 1 yang selalu menghiasi raporku selama SMP di setiap semester. Juga karena beberapa piagam lomba yang aku miliki, cukup untuk membuatku lolos masuk ke SMA ini dan bisa ke kelas unggulan dengan beasiswa.

__ADS_1


"Yuk, ke kelasmu. Aku pengen lihat wajah anak-anak pinter kayak gimana" ucap Stevi semangat sambil menggadeng tanganku.


Padahal kalau dipikir, Stevi ini cukup pintar waktu SMP. Dia selalu masuk 10 besar di kelasnya. Namun, saat UAN (Ujian Akhir Nasional), dia mendapatkan hasil yang cukup saja. Nilai yang sangat mepet dengan standar yang diberikan SMA agar bisa lolos.


Stevi ini anak yang selalu bersemangat dalam hal apapun. Awalnya dia terasa menggandeng tanganku, tapi lama kelamaan terasa seperti menarik tanganku. Karena irama langkah kami yang tidak sama. Langkah kakinya cenderung cepat, sedangkan aku sedikit pelan. Sehingga aku perlu sedikit berlari untuk mengikutinya. Sampai saat tanpa sangaja pundakku menyenggol lengan seseorang di depanku dengan kasar.


Aku membalikkan wajahku, kulihat dia memungut sesuatu seperti pulpen di tanah. Oh, pulpennya terjatuh saat aku tak sengaja menyenggolnya. Sepersekian detik kemudian mata kami bertatapan.


Ah, ya... Kedua bola mata kami beradu


Saling ingin menyapa dalam kejauhan


Saling mengukir senyuman di bibir


Dua hati yang sama-sama terusik



Siapa cowok itu?


*****


Penasaran dengan ceritanya?


Jangan lupa untuk klik Favorit.


Serta beri rating bintang lima yaaa...


Tinggalkan komen di bawah. Kritik dan saran selalu saya nantikan.


Terimakasih.


Penulis Baru

__ADS_1


Hanny Achmad


__ADS_2