
Bukan pertama kali aku dibonceng naik motor oleh seorang cowok. Bahkan beberapa saat lalu, aku pun dibonceng oleh Ryan si ketua kelasku. Tidak ada rasa apapun, biasa saja seperti saat aku berboncengan dengan Stevi.
Tapi kenapa saat ini aku merasa kikuk sendiri? Aku berusaha duduk sampai di ujung belakang jok motor. Berharap tidak sampai berdekatan apalagi memegang tubuh Kak Bintang yang ada di depanku ini.
"Rania," dia menoleh seraya berucap dengan sedikit berteriak karena suaranya hampir tertelan angin yang berhembus di sekitar kami.
"Apa Kak?" jawabku masih dengan posisiku.
"Kamu takut?" tanyanya dengan seringai yang terlihat manis dari samping
"Nggak lah ..."
"Bener?"
"Iya, apa sih!"
Tiba-tiba motor melaju kencang melewati jalan dengan markah kejut (polisi tidur), hingga badanku sedikit terlonjak karena kaget.
"Aw!" teriakku, dan tanpa sengaja badanku merapat ke Kak Bintang, tanganku pun melingkar di pinggang, sampai menyentuh perutnya. Aku kaget tidak hanya karena guncangan itu, tapi juga karena tanganku yang durhaka ini bisa-bisanya menyentuh perut seorang cowok. Dan celakanya, telapak tanganku ini dengan jelas merasakan otot perutnya yang keras. Betul-betul keras, tidak ada lemak perut yang biasanya terasa empuk.
Mukaku terasa panas, menahan malu atau entah apa ini yang kurasakan. Inikah pesona roti sobek yang sering kubaca di komik? Selama ini terbayang pangeran tampan, dengan hiasan kotak-kotak di perutnya. Sungguh luar biasa indah, apalagi tidak hanya kita bayangkan, namun benar-benar kita rasakan dengan tangan kita sendiri.
Aku menggelengkan kepala, menyadarkanku. Membuang jauh-jauh pikiran kotor yang sempat terlintas dalam benakku. Kutarik tanganku yang sempat melingkari perut Kak Bintang.
Dia menoleh. Lalu mengurangi laju motornya.
"Kenapa?" tanyanya.
"Apanya?" aku balik bertanya, dengan kedua tanganku kini memegangi tali helm.
Senyumnya seketika menghilang. Wajahnya berbalik, melihat ke depan. Laju motornya pun beranjak semakin kencang. Aku dibuat takut olehnya. Kupegangi kemeja putihnya dengan kedua tanganku. Entah kenapa, bukan menjadi pelan tapi malah lebih kencang dari sebelumnya. Belum lagi kami melewati jalan raya sore yang cukup ramai.
Berulang kali dia menyalip mobil, truk, dan entah kendaraan besar apalagi. Kupukul-pukul pundaknya. Tapi sepertinya itu tak berarti apa-apa untuknya.
Kututup mata untuk menghilangkan rasa takutku, dan ... Hup! Tanganku kembali melingkar di pinggangnya. Tak sengaja aku memeluknya dengan erat. Menyandarkan kepalaku di penggungnya.
Perlahan kubuka mataku. Pemandangan jalanan terlihat pelan seperti gerak slow motion. Apa Kak Bintang sudah mengurangi kecepatannya? Tapi, kenapa terlihat sepelan ini? Setiap orang di jalan terlihat bercakap-cakap satu sama lain, namun gerak mulut mereka benar-benar pelan, sangat pelan.
Telingaku berdenging, sakit. Kututup pelan mataku. Kurasakan nyaman bersandar di punggung Kak Bintang. Harum tubuhnya memenuhi hidungku. Sedekat itukah kita sekarang? Ngiiiing, bunyi di telingaku berangsur menghilang.
"Rania ..." ucapnya sambil menggoyangkan lenganku pelan.
Kubuka mataku, dan menarik tanganku dari badannya. Sedikit kukucek mataku, mengedarkan pandangan di sekitar. Apa yang baru saja kulewatkan? Ini dimana? Apa aku tertidur?
__ADS_1
"Dimana ini Kak?" tanyaku kebingungan.
Yang jelas ini bukan rumahku. Ini masih di pusat Kota. Mataku mengelilingi sekitar. Apa aku diculik?
"Ayo makan dulu ..." ucapnya pelan, sambil membukakan helm dari kepalaku, aku masih kebingungan dibuatnya.
"Tapi ini dimana?"
"Masuk aja, jangan banyak tanya..."
"Aku nggak lapar,"
Krucuk krucuk krucuk ... Bunyi itu berasal dari perutku yang tak tahu diri. Aku menggigit bibirku, menahan malu.
"Iya, Rania nggak lapar. Yang lapar tuh cacing di perut." balas Kak Bintang sambil menunjuk perutku.
Dia memesan menu, aku menungguinya di kursi. Sesekali dia melihatku, sambil menanti pesanan datang. Aku salah tingkah karenanya. Lalu dia membawa nampan, dengan dua piring nasi, dua ayam goreng tepung lezat, beserta ice tea dan lemon tea.
Aku tergoda dengan menu di meja makan ini. Tanpa berpikir panjang aku langsung mencuci tangan, dan memakannya dengan lahap. Lapar sekali perutku ini. Sepertinya aku tadi tidak sempat makan siang di jam istirahat. Di rumah Ringga pun, tak ada secuil makanan pun yang masuk ke perutku. Gara-gara sepiring mie goreng yang membuatku mual. Entah mulai kapan, aku begitu membenci segala bentuk mie. Hmm, darimana Kak Bintang tahu bahaa aku tidak suka mie, dan bahwa ayam goreng tepung ini adalah makanan kesukaanku?
"Enak?" tanya Kak Bintang.
Apa makanku belepotan? Apa cara makanku aneh baginya? Biarlah, biar saja. Biar dia merasa ilfeel denganku, dengan begitu mungkin dia tidak akan menyukaiku lagi. Tidak ada beban lagi untukku.
"Kak Bin, makasih makanannya. Aku ditraktir kan?" tanyaku polos. Jelas saja, aku sedang tidak bawa banyak uang untuk membayar makanan yang sudah kumakan tadi.
Tangannya tiba-tiba hampir meraih pipiku. Aku menghindar.
"Kenapa semua cowok suka pegang pipi sih?" tanyaku.
"Ringga juga gitu?"
Aku terdiam.
Dia juga diam, lalu berdiri dan pergi meninggalkanku. Dia marah?
"Kak Bin ..." aku mengikutinya dari belakang.
Dia masih diam dan terus saja berjalan.
"Kak, maaf ..." aku mendahuluinya, dan berdiri di depannya.
__ADS_1
"Maaf karena?"
Entah kenapa aku tiba-tiba meminta maaf.
"Sudah membuatku cemburu?" jleb, jawabannya tepat.
"Huft, gini ya rasanya jadi orang kedua."
Aku menunduk, memandangi ujung sepatuku. Tangan Kak Bintang mengelus rambutku, pelan. Aku serasa memikul beban, mendapat perhatian seperti ini darinya.
Aku tak bisa membalas rasa sukanya. Tak bisa berbuat apa-apa untuknya. Tak kuasa untuk menolak perasaannya. Seharusnya aku tidak seperti ini. Seharusnya aku tidak memberikan jalan untuknya agar bisa dekat denganku.
Aku mundur dua langkah, agar tangannya tak lagi berada di kepalaku. Dia maju mengikutiku. Mengelus rambutku sampai ke pundak. Aku merasakan aliran sayang dari setiap sentuhannya.
"Nggak papa. Aku akan tetap menunggu kamu. Jangan merasa terbebani. Suka atau tidak, aku akan tetap tetap sayang sama Rania. Jangankan hanya hitungan hari, bertahun-tahun pun aku siap untuk nunggu kamu."
"Kakak jangan suka sama aku,"
"Itu perintah?"
Aku mengangguk.
"Nggak bisa. Meski dihukum mati pun, aku nggak akan bisa membuang rasa ini."
Ringga, maafin aku. Aku tidak sampai hati untuk membenci Kak Bintang. Aku betul-betul tak kuasa menolak perasaannya. Tapi aku juga tidak bisa membalasnya, karena sudah ada Ringga di hatiku.
Dengan pikiranku yang mengelana menuju ingatan bersama Ringga, tapi tubuhku sekarang memeluk erat sosok di depanku. Dengan motor yang melaju begitu kencang, dia tak membiarkan aku melepaskan pegangan tanganku padanya. Kenapa aku seperti ini?
*****
Penasaran dengan ceritanya?
Jangan lupa untuk klik Favorit.
Serta beri rating bintang lima yaaa...
Tinggalkan komen di bawah. Kritik dan saran selalu saya nantikan.
Terimakasih.
Penulis Baru
Hanny Achmad
__ADS_1