
Tak Bisa Tidur
Tring!
Terdengar suara notif masuk dari ponselku. Betul saja. Aku sudah menunggu-nunggu kabarnya sejak tadi. Malam Minggu terasa hampa tanpa tegur sapa darinya lewat chat.
Apalagi mengingat kebersamaan kita di sekolah tadi. Hampir sepanjang waktu tanganku tak lepas dari genggamannya. Bisa memandang matanya, hidungnya, bibirnya, serta bibirnya yang tak henti-hentinya menguraikan senyuman, dari jarak yang begitu dekat. Semua hal indah tentangnya muncul begitu saja dalam ingatanku.
[Rania ... ]
Chat masuk dari Ringga saat jam di ponselku menunjukkan angka 21.05. Aku buru-buru menjawabnya.
[Iya Ringga?]
[Kangen ... 😞]
Hahaha, gemas hatiku saat membaca chat darinya.
[Baru tadi seharian kita bareng 😁]
Aku berbohong. Berpura-pura biasa saja. Padahal dalam hati, kerinduanku padanya melebihi apapun saat ini. Menunggu kabar darinya pun sejak sore tadi membuatku begitu gelisah.
[Tapi masih kangen, gimana dong? 😔]
[Sabar Ringga, Senin kita ketemu.]
[Aku sedih, aku kangen, aku masih pengen ngobrol. Tapi ini mataku berat banget 😑]
[Ringga ngantuk?]
[Iya, habis tanding basket sama temen-temen tadi. Sampai rumah langsung tepar gini.]
[Huum, ga papa. Kamu tidur dulu gih. Besok kita sambung lagi ngobrolnya.]
[Tp aki msk pngn ngbrpl]
Kubaca chatnya yang tidak begitu jelas. Banyak typo disana. Ringga, kamu kelihatannya benar-benar sedang capek. "Tapi aku masih pengen ngobrol" , mungkin itu maksud dari chatnya.
[Met tidur Ringga, istirahat yaaa]
Dan betul saja, kulihat ponselnya sekarang offline. Chat dariku belum terbaca olehnya. Ringga, aku kangen. Betul-betul kangen padamu sekarang.
Kupeluk erat boneka bear di sebelahku. Berharap bisa mengurangi kerinduanku pada Ringga saat ini.
"Ringga, jahat ya kamu," ucapku sambil menunjuk pada boneka, seolah dia adalah Ringga yang bisa mendengar.
"Sekarang kamu tidur. Padahal aku kangen. Sebel sama Ringga pokoknya!" kataku lagi sambil mencubit gemas kedua pipi bonekaku. Namun tiba-tiba ....
Kudengar nada dering ponselku berbunyi. Apa tiba-tiba Ringga terbangun dari tidurnya? Padahal baru lima menit berlalu dari kita terakhir saling chatting. Bergegas kulihat ponselku.
Bukan! Ini bukan Ringga. Nomor tak dikenal yang masuk dalam panggilan teleponku. Dan sebuah foto profil terpampang memenuhi layar ponselku.
Siapa cowok ini? Kenapa dia ...? Wait, wait!
Dia, Kak Bintang?
__ADS_1
Aku ragu, apakah aku harus mengusap layar ponselku ke atas untuk menjawab panggilannya, ataukah aku harus menolaknya?
Ya benar! Terpaksa kutekan tombol merah untuk menolak panggilannya.
Entah kenapa, jantungku berdebar luar biasa. Helow Rania, ini hanya panggilan masuk. Dia hanya menelepon kamu, kenapa kamu sepanik ini? Aku menggigit ujung bibirku, dan menggenggam erat ponselku.
Ada apa gerangan dia menghubungiku? Di malam seperti ini? Darimana juga dia tahu nomor WhatsAppku? Entah kenapa aku jadi parno begini. Kenapa aku begitu takut? Dia hanya telepon.
Sesaat kemudian, ponselku berdering lagi. Masih dari orang yang sama. Kutenangkan dadaku, yang disana ada jantungku yang iramanya tak beraturan. Kuusap layar ponselku ke atas, dan ...,
"Halo," ucapku sedikit ragu.
"Rania?" suaranya dari seberang sana.
"Iya, ini siapa?" aku pura-pura tak mengenalnya.
"Aku, Bintang. Kamu ingat?"
"Maaf, Bintang siapa?" aku sedang berpura-pura amnesia.
"Hahaha, Rania. Aku tahu kamu ingat aku."
"Nggak, mungkin kak Bintang salah sambung,"
"Nah, tuh ingat."
Celaka! Aku salah ucap. Refleks kubungkam mulutku dengan tangan kiri, sambil menunggu respon darinya.
"Rania belum tidur kan?"
"Kamu kenapa? Takut sama aku? Bingung, aku tahu nomor kamu darimana, iya?"
"Iya, sih."
"Hahahaha, kalau itu rahasia."
"Hm, Kakak kenapa telepon aku?"
"Cuma mau bilang selamat malam Rania ..."
"Selamat malam juga,"
"Rania, suka nggak lagu yang aku nyanyiin buat kamu tadi?"
"Lagu yang mana?"
"Tuh kan, pura-pura lagi."
"Iya, suka. Bagus. Eh, bukannya lagu tadi buat Maharani?"
"Siapa? Aku nggak kenal. Aku kenalnya cuma sama kamu."
"Hm ..., "
"Rania, kamu belum punya pacar kan?"
Deg! Aku bingung, haruskah aku menjawab kalau aku sudah punya pacar? Apakah aku boleh menyebut Ringga sebagai pacarku? Aku cukup dekat dengannya, meski baru hitungan hari. Ah, entah kenapa aku merasa terjebak disini. Dan akhirnya kujawab, "Belum."
__ADS_1
"Rania, jadi pacarku ya?"
Tik tok tik tok tik tok, jarum jam di meja belajarku terdengar begitu jelas. Pelan. Jarum itu bergerak sangat pelan di telingaku. Tik. Tok. Tik. Tok.
Lagi-lagi gejala 'slow motion' ini melandaku lagi. Persis seperti siang tadi di sekolah saat aku mendengarnya bernyanyi. Aku takut.
"Rania, jadi pacarku ya?" dia mengulangi lagi pertanyaannya.
Tanpa berucap apapun, langsung kututup teleponku. Kutekan tombol power untuk menonaktifkannya, dan meletakkan ponselku begitu saja di atas meja. Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur, kupeluk boneka bear dengan harapan agar aku merasa nyaman. Kupaksa kedua mataku untuk terpejam. Namun, tidak bisa.
Bayang-bayang wajahnya yang sedang bernyanyi dan memainkan gitarnya sambil menatap ke arahku, terus menerus muncul di pelupuk mataku. Bahkan saat aku memejamkan mataku, bayangannya menjadi semakin jelas terlihat.
Kenapa aku jadi begini? Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kak Bintang jadi seperti virus, yang tiba-tiba datang dan membuatku gelisah seperti ini.
*****
"Ran, kamu kok nggak semangat gitu? Tumben, ini hari Senin loh! Biasanya kamu paling heboh." ucap Stevi pagi-pagi saat aku baru saja sampai di depan rumahnya.
"Nggak tahu nih," jawabku sedikit malas. Ini karena aku kurang tidur semalam. Terakhir aku melihat jam itu sudah tengah malam, hampir jam dua. Badanku berguling ke kiri kanan, mencoba segala posisi yang nyaman untukku tidur. Mataku berat, namun tak bisa tertidur dengan lelap.
Jika ini memang sihir dari kak Bintang, aku berharap agar segera musnah. Kupanjatkan semua doa yang kubisa, namun tak merubah apapun. Aku mulai tersadar pukul lima pagi. Bahkan aku sendiri tidak tahu kapan aku memulai tidur lelapku.
"Woi, senyum, senyum!" Stevi menarik pipiku. "Nanti bakal ketemu Rangga lho, ehm ...." lanjutnya.
"Ringga?" tanyaku.
"Nah, tuh ngaku sekarang. Semangat ya!" ucap Stevi menyemangatiku.
Dan benar saja, mengingat tentang Ringga membuat nuansa berbeda dalam diriku. Aku sempat berfikir, darimana Stevi tahu tentang Ringga? Aku sama sekali belum menceritakan padanya.
Saat sampai di sekolah, aku sedikit terheran karena di depan kelasku begitu ramai anak yang sedang berkumpul. Entah apa atau siapa yang membuat keriuhan itu. Dan aku terhenyak, ketika kami sempat bertatap mata. Di sela-sela gerombolan anak perempuan, aku melihat bayangannya. Tersenyum, hampir melambaikan tangannya, namun aku segera berbalik arah kembali berjalan tak berarah, berniat untuk mengabaikannya.
Namun setelah aku berjalan beberapa saat, aku sedikit menyesal. Lesung pipi. Ya, aku baru tahu jika dia ternyata mempunyai lesung pipi yang hanya muncul ketika dia tersenyum.
Tidak, tidak! Oh, Rania ..., sedang tidak waraskah kamu sekarang? Bagaimana mungkin bisa rasa takut dan rasa kagum datang dengan bersamaan?
Diantara tanda tanya itu, aku berdiri terpaku di pinggir gerbang sekolah tanpa tahu harus berbuat apa.
*****
Penasaran dengan ceritanya?
Jangan lupa untuk klik Favorit.
Serta beri rating bintang lima yaaa...
Tinggalkan komen di bawah. Kritik dan saran selalu saya nantikan.
Terimakasih.
Penulis Baru
Hanny Achmad
__ADS_1