Rani yang Kedua

Rani yang Kedua
Dia yang Bernama Bintang


__ADS_3

Dia yang Bernama Bintang



Dia Dia Dia, cinta yang ku tunggu tunggu


Dia Dia Dia, lengkapi hidupku


Dia Dia Dia, cinta yang kan mampu mampu


Menemaniku mewarnai hidupku ....


Prok prok prok prok .... Suara tepukan tangan bergemuruh di sekitar panggung ini. Anak-anak yang sebelumnya terlihat saling berpencar melihat-lihat di stand ekskul lain, kini hampir semua berkumpul di stand ekskul musik ini. Ternyata, suara kakak yang satu ini punya daya tarik sendiri.


Aku tidak bisa sepenuhnya melihat penampilannya yang keren tadi. Karena ini nih, si Ringga masih berusaha menutup pandanganku dengan tubuhnya yang tinggi. Tinggiku yang hanya sebatas telinganya, hanya bisa membuatku menikmati suara kakak tadi, tanpa bisa melihat visualnya yang menurut beberapa cewek di sekitarku sih, katanya cukup ganteng.


Kucubit pinggang Ringga yang sedari tadi kekeh menghalangiku. "Aw, ampun. Hahaha." tawanya, lagi-lagi dengan mata sipitnya yang bergerak-gerak seirama dengan tawa yang keluar dari mulutnya. Pemandangan yang mempesona untukku.


Lalu, si kakak itu mulai membuka suaranya di depan microfon lagi, "Terimakasih, untuk teman-teman, khususnya untuk para adik kelasku tercinta. Selamat datang di Stand Ekskul musik. Buat kalian yang suka main musik apa aja, atau kalian yang jago nyanyi, yuk gabung bareng saya disini. Eits, jangan khawatir, nggak cuma saya aja. Ada kakak-kakak lain yang juga jago main musik."


Semua terdiam, menyimak baik-baik apa yang dikatakan kakak itu. Namun, tiba-tiba ada yang berseloroh, "Kak, lagu tadi kayaknya menghayati benget deh! Jangan-jangan 'dia' memang ada disini."


"Wah, ternyata kelihatan banget ya. Memang saat kita menyanyikan lagu, kita harus bisa membawakannya seolah kita betul-betul terhanyut dalam lagu itu. Nah, itu kunci biar lagu yang kita nyanyikan bisa dinikmati orang lain. Entah itu kita hanya sekedar akting, atau karena kita benar-benar merasakan inti dari lagu itu tadi." penjelasan kakak itu bagus juga. Aku sedikit melirik Ringga, dia manggut-manggut seolah mengiyakan perkataan kakak itu. Kedua tangannya yang disilangkan di dadanya menambah kelucuan Ringga di mataku.


"Emang ngerti?" tanyaku, sambil tersenyum mengejek.


"Ngerti donk, Ringga gitu." jawabnya sombong, namun malah semakin membuatku ingin terus menggodanya.


"Emang bisa nyanyi? Coba sana maju..." ucapku terkekeh.


Obrolan kami terhenti saat seseorang yang kami kenal tiba-tiba mengangkat tangannya, dan maju mendekati kakak itu di panggung.


"Kak, rasa-rasanya lagu itu ditujukan pada saya. Boleh saya maju ke depan?" ucapnya dengan percaya diri. Tidak lain dan tidak bukan, ya, dia adalah orang yang kami kenal. Maharani.


Beberapa anak menyoraki dengan suara "Huuuuuu ....", serta beberapa anak menyemangati dengan tepuk tangan yang keras.


" Ngapain sih dia?" kata Ringga setengah berbisik, namun aku tetap mendengarnya, karena kami berdiri saling berdekatan hampir tak ada jarak. Bukan sengaja, tapi memang kami semua berdesak-desakan untuk bisa menonton.


"Emang Maharani kenapa Ngga?" tanyaku penasaran.


"Nggak kenapa-kenapa. Cuma nggak suka aja!" jawabnya dengan raut wajah yang berubah.


Entah apa yang terjadi di masa lalu antara Ringga dan Maharani. Kukira, itu merupakan kenangan buruk yang tidak ingin dibicarakan olehnya. Dia sedang tidak berbohong, raut wajahnya mengatakan ketidak-sukaannya pada Maharani. Aku enggan bertanya lagi, aku tidak mau membuat moodnya memburuk lagi.

__ADS_1


Aku berusaha memancing senyumnya lagi, "Iya iya, kan sukanya sama... aku?"



Tebakanku tepat! Kini dia tersenyum lagi. Tanpa bertanya, dia kembali meraih tanganku, dan menggenggamnya. Dia menahan senyumnya, sambil terus menatap ke depan. Sedangkan aku sebaliknya, memperlihatkan barisan gigiku sambil terus menatapnya.



Dan kalian tahu, kini Maharani sudah naik di atas panggung. Bahkan microfon pun sudah ia pegang. Kepercayaan dirinya sudah kuakui empat jempol, dua jempol tangan dan dua jempol kakiku. Aku masih menebak-nebak, apa yang akan diucapkannya.


"Ehm, untuk kak Bintang, saya mengucapkan berjuta-juta terimakasih dari hatiku yang terdalam, atas lagu yang telah dinyanyikan tadi untukku. Dan sekarang, aku akan menyanyikan lagu untuk kak Bintang" ucap Maharani.


Oh, dari Maharani kini aku tahu nama kakak itu. Kak Bintang. Cukup sesuai, dengan penampilannya yang bersinar seperti bintang. Tapi aku merasa aneh, kupikir kak Bintang tidak berniat menyanyikan lagu tadi untuk Maharani. Karena dia sama sekali tidak menyimak apa yang dikatakan Maharani di atas panggung, karena pandangannya sekarang menuju ke ..., aku?



"Lihat lihat! Kak Bintang menatap sini! Siapa ya, yang dia lihat? Aku atau kamu?", " Akulah pasti!" obrolan dua anak cewek di sebelahku.


Betul saja. Hampir, aku merasa kikuk karena ada orang yang tidak kukenal tiba-tiba memperhatikanku dengan begitu lekat. Syukurlah, itu bukan aku. Aku mempererat genggaman tanganku pada Ringga, dan menundukkan kepalaku. Aku tidak mau lagi menatap Kak Bintang.


"Kak Bintang, coba mainkan lagu ini.." kata Maharani.


"Oke!" jawab Kak Bintang. Aku hanya mendengarnya tanpa melihat wajahnya.


Kau begitu sempurna


Di mataku kau begitu indah


Suara Maharani sedikit fals saat memulai lagu itu, lalu kudongakkan kepalaku untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya. Maharani mengarahkan microfon yang ia pegang ke penonton. Layaknya paduan suara, seketika semua cewek di barisan penonton ikut menyanyikan lagu ini.


Kau membuat diriku, akan slalu memujamu


Di setiap langkahku


Ku kan slalu memikirkan dirimu


Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu


Entah kenapa mendengar lagu ini, hatiku ikut tergetar. Tidak, aku bahkan tidak ikut menyanyikannya. Tapi aku dapat merasakannya. Petikan gitar akustik itu, betul-betul indah. Ada rasa cinta dan kekaguman yang kurasakan di setiap petikannya.


Janganlah kau tinggalkan diriku


Takkan mampu menghadapi semua

__ADS_1


Hanya bersamamu ku akan bisa


Mulai pada bait itu, yang semula kak Bintang hanya terdiam tanpa suara, dan hanya memainkan gitarnya, kini dia mulai ikut menyanyikannya.


Kau adalah darahku


Kau adalah jantungku


Kau adalah hidupku


Lengkapi diriku


Oh sayangku, kau begitu


Sempurna..


Riuh ramai semua yang ada disini ikut menyanyikannya. Aku tahu dari apa yang kulihat dengan mataku. Mataku berkeliling, semua mulut ikut tergerak mengikuti lagu. Tapi anehnya, seperti gerak lambat yang kurasa. Ataukah telingaku yang mulai tidak bisa mendengar sebagaimana mestinya.


Suara penonton yang ikut bernyanyi sama sekali tak terdengar olehku. Yang terdengar hanya dua suara. Ya, dua suara. Suara petikan gitar, dan suara Kak Bintang yang menyanyikannya begitu indah.


Oh sayangku, kau begitu


Sempurna..


Kak Bintang menutup lagu itu dan disambut tepuk tangan yang begitu meriah. Saat tepukan tangan mulai menggema, barulah kusadari bahwa telingaku kini kembali normal. Suara-suara di sekitar kembali terdengar jelas. Wajah-wajah yang semula bergerak begitu lambat, kini juga terlihat sebagaimana mestinya.


Banyak tanda tanya yang ada di benakku. Ada apa denganku? Apa yang terjadi sesaat tadi? Dan kenapa, kak Bintang masih terus saja menatapku?


Senyum yang terkembang di bibirnya pun terasa penuh misteri.


*****


Penasaran dengan ceritanya?


Jangan lupa untuk klik Favorit.


Serta beri rating bintang lima yaaa...


Tinggalkan komen di bawah. Kritik dan saran selalu saya nantikan.


Terimakasih.


Penulis Baru

__ADS_1


Hanny Achmad


__ADS_2