
Panggil Rania
"Rania..." panggil Ringga padaku.
"Iya, ada apa?"
"Nanti aku boleh menghubungimu kan?"
Aku hanya mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum kecil untuknya.
Teeet... Teeet... Teet...
Bel berbunyi tiga kali, pertanda waktu telah berada di pukul tujuh tepat. Semua anak bergegas masuk kelas dan menduduki kursi yang telah dipilihnya. Dan Maharani, kini telah duduk di sampingku. Kursi di sebelah Ringga juga sudah terisi, seorang anak laki-laki, entah siapa namanya.
Sesaat kemudian, beberapa kakak tingkat mulai masuk ke dalam kelas. Berdiri di depan, dan memperkenalkan dirinya, bahwa mereka adalah pengurus OSIS. Aku tidak terlalu memperhatikan mereka. Pandanganku hanya tertuju pada punggung seseorang di depanku.
"Rani... Tolong maju ya.."
Aku tersentak kaget begitu mendengar namaku dipanggil. Secepat kilat aku berdiri, tanpa sengaja aku berbarengan dengan seseorang di sebelahku. Maharani. Jelas saja, memang itu nama kami berdua.
Melihat kami yang sama-sama berdiri, si kakak tingkat sedikit terheran.
"Rani?"
"Kak... Mereka berdua ini sama-sama Rani lho... Hayo, pilih yang mana?" Lisa selalu bisa ceplas-ceplos.
"Maksudku, Rani yang cantik."
Aku tertunduk malu. Karena aku yakin, bukan akulah Rani yang dimaksud. Aku duduk. Sedangkan Maharani maju ke depan sesuai permintaan kakak OSIS.
Aku mendengar anak-anak berbisik, saling membicarakanku. Fiuuuuh.... Kenapa harus seperti ini???
*****
Waktu istirahat tiba.
"Rania, yuk ke kantin sama aku.." ajak Nava.
Sepertinya dia anak yang baik. Setelah aku mengiyakan, dia menggandeng tanganku, seolah kita sudah begitu akrab. Padahal, kita baru saja berkenalan tadi pagi. Aku, masih sedikit canggung. Tidak terlalu mudah akrab dengan teman baru.
Kami berjalan menuju kantin yang terletak di belakang kelas kami, sehingga kami harus melewati kelas I A sampai G.
"Rani... Rani... Rani..."
Aku reflek menengok kepalaku mencari sumber suara.
Nava menepuk tanganku pelan, dan memberi isyarat dengan menggelengkan kepala. Jangan menoleh, aku paham maksudnya.
Betul apa yang dipikirkan Nava. Mereka memanggil namaku bukan karena ingin menyapaku. Namun karena ingin mengolokku yang bernama nama sama dengan si cantik Maharani.
Sampai aku dan Rani duduk di kantin pun, mereka tak berhenti memanggilku. Bahkan ketika aku akan menyuapkan sesendok bakso ke mulut, rasanya aku mual. Rasa lapar pun tiba-tiba jadi hilang.
"Rani... Rani... Rani..."
Aku merasa muak. Baru kali ini aku membenci nama "Rani" yang selama ini menurutku adalah nama yang indah.
"Rani... Cantik... Ehm.... Hahahaha"
Tawa mereka yang mengolokku semakin menjadi. Kugenggam sendok dengan, dengan segenap kekuatan aku akan berteriak.
"Cukup!!!"
Bukan, itu bukan suaraku. Melainkan Nava yang berdiri di sebelahku sambil menggebrak meja dengan cukup keras.
"Kalian bisa nggak sih, nggak nganggu Rania. Plis, disini tempat makan. Biar kami makan dulu. Sampe susah ditelen ini makanan. Ngerti nggak sih kalian? Hah?"
Terdiam.
"Memang kenapa kalau namanya Rani? Nggak ada hubungannya dengan si Maharani ya! Cukup, nggak usah banding-bandingin mereka. Kalau mau manggil, manggil yang baik. RANIA."
"Udah Va...", bisikku pelan.
Nava menoleh padaku.
"Tuh, si Rani nya aja selow. Kenapa elo jadi yang sewot?", ucap seseorang di gerombolan.
"Bi, ini untuk 2 makan dan 2 minum." Kuberikan selembar uang kepada bibi Kantin. Aku menggandeng Nava untuk pergi. Selera makan kami betul-betul hilang.
*****
Pukul 20.01
Di kamarku yang tenang. Aku sedikit bersantai setelah membaca-baca buku pelajaran. Aku termasuk anak yang tertib, belajar adalah kewajibanku, tak pernah terlewat olehku.
Tring!
Sebuah suara pesan di ponselku di atas meja. Aku bukan tipe anak yang kemana-mana selalu memegang ponsel. Aku membawanya ketika aku hanya membutuhkannya.
[Rania....]
__ADS_1
Chat masuk dari aplikasi berwarna hijau muda. Kulihat foto profilnya. Terlihat foto candidnya sambil membawa bola basket. Sepertinya akan menembakkan bolanya ke dalam ring.
Siapa cewek yang tidak terpesona melihat ketampanannya?
Aku terpaku memandangi fotonya. Sampai lupa, aku mengabaikan pesan masuk darinya.
Tring!
Berbunyi lagi. Ringga lagi. Haha! Aku tertawa.
[Online, tapi kok ga dibales?]
Akhirnya aku mengetik balasan untuknya.
[Iya Ringga...]
[Wah, akhirnya dibales. Masih belajar?]
[Baru aja selesai. Kamu lagi apa?]
[Tadi habis main game. Trus ingat kamu.]
[Kenapa ingat aku?]
[Ga boleh? Jangan-jangan kamu udah punya pacar đŖđĢđđđ]
Melihat chatnya berisi emot menangis, membuatku tergelitik.
[Kalau udah punya emang kenapa?]
[âšī¸ Aku tunggu sampai putus]
Hahahaha.... Tawaku betul-betul pecah malam ini.
"Rania, kenapa ketawa sendiri di kamar?" suara ibu dari luar.
"Nggak papa Bu, ini nonton film lucu."
"Udah selesai belajar?"
"Udah Bu."
"Ya udah, jangan sampai malam-malam nontonnya."
"Iya Bu..."
[đ Rania...]
[Iya? đ]
[Siapa pacarmu?]
[Pengen tau?]
[Ga mau lihat đ]
Kukirimkan foto padanya.
[Ganteng kan pacarku?]
Aku menggodanya.
[Aduh! Aku kalah deh dari dia đ]
[Kenapa?]
[Dia selalu ada di deket kamu. Namenin kamu bobok. Kalau kamu sedih, dia langsung kamu peluk.]
[Trus?đ]
[Jadi pengen gantiin dia.]
[Emang kamu sendiri ga punya pacar?]
Dia mengetik.... Lama.... Apa yang akan ditulisnya?
[Apa aku terlihat seperti cowok yang punya pacar?]
[Ga tau]
[đ]
[Biasanya cowok ganteng itu pasti udah punya cewek]
[Wah, Rania muji aku nih! ]
[Ngerasa ganteng? Berarti beneran punya cewek tuh đ]
__ADS_1
[Cewek cantik biasanya juga pasti punya pacar.]
[Tapi aku ga cantik kok]
[Siapa yang bilang begitu? Sini aku hajar!]
[Ringga galak. Takuuuut đĨē]
[Kan belain kamu đ]
[Iya... ]
[Eh, aku kirimin foto cewek yaa. Asli cantik banget! Jangan ngiri ya kamu...]
Foto cewek? Siapa?
Kuunduh foto yang masih terlihat samar. Dan...
Deg! Itu fotoku kan?
[Gimana, cantik banget kan?]
Aku masih belum menjawabnya. Mukaku memerah sekarang. Aku begitu malu. Dia betul-betul menganggapku cantik?
[Halo... Rania... Tidur ya?]
[Rania... Maaf... Kamu marah ya? Karena aku tadi memfotomu sembunyi-sembunyi?]
Aku menjawabnya....
[Ga marah kok]
[Trus?]
[Iya, ga papa]
[Aku simpan foto kamu di HP ku ya?]
[Buat apa Ringga? đ ]
[Kalau aku kangen. Bisa langsung aku pandangi.]
[đđđ]
[Nih, aku kirimin fotoku juga. Simpen ya?]
[Aku nggak minta đ]
[Kan aku yang ngasih. Ga mau? âšī¸]
[Dibilangin nanti ada yang cemburu]
[Si tedy bear?]
[Iya...]
Entah malam ini sepertinya di langit tidak lagi bertabur bintang. Tapi bertabur bunga-bunga. Rasanya begitu indah, dan membahagiakan. Gemas rasanya. Rasanya begitu manis. Permen apapun tak bisa menyamai rasa manisnya.
Kuunduh foto yang dia kirim, sambil diiringi debar - debar dalam hati. Sedetik pun terasa lama untukku yang tak sabar ingin melihat wajahnya. Foto seperti apa yang dia kirim? Foto berseragam sekolah? Atau foto saat dia bermain basket seperti di foto profilnya tadi?
[Rania... Met tidur ya... Mimpi indah..]
[Met bobok juga Ringga...]
[Ralat!!! Mimpiin aku ya...]
[Semoga đ]
Dan aku pun berharap, ketika aku memejamkan mata, wajahmu yang kulihat dalam mimpiku.
*****
Catatan: kata dalam kurung [...] \= kalimat dalam chatting
*****
Penasaran dengan ceritanya?
Jangan lupa untuk klik Favorit.
Serta beri rating bintang lima yaaa...
Tinggalkan komen di bawah. Kritik dan saran selalu saya nantikan.
Terimakasih.
Penulis Baru
__ADS_1
Hanny Achmad