
Teeeet ... Teeeet ... Teeeet ...
Bel panjang berbunyi, pertanda selesainya pembelajaran hari ini. Seharian terasa kosong, tanpa Ringga. Aku begitu merindukannya. Senyumnya, gelak tawanya, dan terkadang juga saat dia diam yang penuh misteri, itu juga kurindukan.
Aku teringat, seharian tadi aku bahkan tidak memegang ponsel sama sekali. Bergegas kubuka ponsel di dalam tas ranselku. Kuusap layar untuk membuka kuncinya. Ada beberapa pesan masuk yang sedari pagi belum kubuka. Kuperiksa satu persatu, ada sebuah nama disana, Ringga.
[Rania, kangen ... Maaf hari ini aku nggak bisa masuk sekolah.]
Pukul 07.29 tadi pagi.
Segera kuketik balasan untuknya.
[Baik-baik ya Ringga ... Buat istirahat, lekas membaik ya ... ]
Tring! Dia langsung membalas chatku.
[Baru dibalas 🤗]
[Maaf Ringga, aku baru lihat HP. Tunggu ya, aku ada kejutan buatmu.]
[Apa itu?]
[Rahasia 😜]
[Penasaran 😚]
"Rania, ayo udah ditungguin temen-temen tuh!" Nava menegurku yang terus-terusan asyik di dunia chatting bersama Ringga.
"Iya, maaf ..."
"Chat sama siapa sih?"
"Ringga. Aku baru aja pegang HP, ternyata dia ngechat aku dari pagi.]
" Ehm, ada yang kangen rupanya. Yuk, sambil jalan ngobrolnya."
"Eh Va, siapa aja jadinya yang ikut?"
"Kita, Bayu, Ryan, terus ..." kata-kata Nava terputus.
"Siapa?"
Nava mengisyaratkan dengan kedua alisnya, "Tuh ..."
Ternyata ada Maharani dan Trio L. Mereka sudah siap di depan kelas.
"Eh, kalian naik apa?" tanya Lisa padaku dan Nava.
"Aku sama Bayu." jawab Nava.
"Hm, aku masih nunggu Stevi sih! Dia mau kuajak sekalian rencananya." jawabku.
"Ran, yuk pulang," tiba-tiba Stevi datang. Lalu aku bergegas menghampirinya.
"Eh Vi, aku sama temen-temen sekelas mau jenguk Ringga. Yuk, kamu juga ikut." ajakku pada Stevi.
"Oh, Ringga nggak masuk ya Ran. Tapi gimana ya? Aku tadi udah janjian sama temen-temen juga, mau ada tugas kelompok. Jadi ini aku buru-buru pulang, ganti baju terus berangkat lagi rencananya."
__ADS_1
"Hm, ya udah Vi. Kamu pulang duluan aja. Aku kesana sama temen-temen aja kalau gitu. Kamu langsung pulang aja."
"Nanti pulangmu gimana?"
"Nggak papa Vi, nanti aku nebeng Bayu atau Ryan."
"Maaf ya Vi, nggak bisa nemenin kamu. Salam untuk Ringga."
"Oke, nanti aku sampein."
"Eh, kamu nunggu di depan gerbang ya, aku kasih helm kamu, oke!"
"Oke Vi, makasih."
Yah, ini resikonya kalau tidak punya motor sendiri. Aku harus nebeng teman jika mau kemana-mana.
"Ran, gimana Stevi?" Nava menghampiriku.
"Dia nggak ikut, ada tugas kelompok."
"Ya udah nanti kamu sama Ryan aja. Aku sama Bayu. Yuk buruan ke depan, takut mereka nunggu lama." ajak Nava sambil menggandeng tanganku.
"Eh Va, terus Maharani tadi gimana?"
"Jangan ditanya, mereka naik mobil Loli. Biasa, si Loli bokap nyokapnya orang gede semua, tiap hari antar jemput mobil."
"Oh ..." jawabku singkat. Wah, levelnya sangat jauh berbeda denganku. Motor pun, aku bahkan nggak punya.
"Nggak usah heran Ran, nggak usah minder juga. Aku tiap hari naik bus kok, hehehehe. Sama-sama nggak punya motor ya kita ..." ucap Nava, seolah bisa membaca pikiranku.
"Iya Va ... Kayaknya kita beneran cocok deh!" aku menggandeng erat dia.
Sesampainya kami di depan pintu gerbang, Bayu dan Ryan ketua kelasku sudah menunggu di atas motornya.
"Udah siap? Ayo berangkat!" ajak Ryan.
Nava sudah naik di atas motor bersama Bayu. Aku teringat Kak Bintang, aku sampai lupa belum menghubunginya tadi.
Tuut ... Tuut ... Tidak diangkat oleh Kak Bintang. Kemana dia?
"Rania, telepon siapa?" tanya Ryan padaku.
"Eh, Kak Bintang." jawabku.
"Oh, dia udah pulang duluan, mau ganti baju dulu katanya. Nanti nyusul kok, kalau udah nyampe rumah Ringga nanti aku share location. Udah, yuk cepetan naik!"
"Iya."
*** RUMAH RINGGA ***
Rumah megah, berpagar besi tinggi. Tidak salah kalau memang ayahnya seorang dokter, yang mempunyai kedudukan tinggi di salah satu Rumah Sakit besar di kota ini.
Kami memarkirkan motor di luar pagar. Bayu memencet bel, dan sesaat kemudian pintu gerbang terbuka secara otomatis, diikuti datangnya seorang ibu paruh baya yang menyambut kamu. Yang jelas itu bukan Bundanya Ringga, sepertinya beliau adalah asisten rumah tangga disini.
"Teman-temannya Den Ringga ya?" tanya ibu itu.
"Iya Bu," jawab kami bersamaan.
__ADS_1
"Eh, ada Mas Bayu juga. Teman-temannya diajak masuk Mas. Den Ringga ada di kamar atas. Mau jenguk ya?"
"Iya Mbok, ini ada yang lagi kangen sama Ringga kayaknya." celoteh Bayu sambil berjalan di belakang si Mbok, sedangkan kami hanya mengikutinya.
"Yang mana mas Bayu?"
"Tebak aja sendiri Mbok, hehe."
Kukira Bayu sedikit pendiam anaknya, tapi ternyata dia tergolong ramah, terutama pada Simbok ini.
"Eh Ryan, udah ngabarin Kak Bintang?" tanyaku.
"Udah kok, barusan aku share location. Paling bentar lagi nyampe dia."
"Silakan duduk dulu ya ..." Simbok mempersilakan kami duduk di ruang tamunya yang luas.
Aku dan Nava mengamati sekitar. Perabotan di ruang tamunya mewah dan elegan. Kami saling bertatapan, lalu sama-sama tersenyum. Ya, pikiran kami sama, tertegun dengan rumah mewah milik keluarga Ringga ini.
Kemudian dari arah luar terdengar rombongan yang baru datang. Siapa lagi kalau bukan Maharani, Lisa, Luna, dan Loli. Tidak, belum selesai. Ternyata ada Kak Bintang juga disana.
Saat melihatku, dia tersenyum lebar, memunculkan sepasang lesung pipinya yang indah.
"Hai guys, udah lama?" ucap Lisa.
"Baru lima menitan kok." jawab Nava.
"Hai bro!", sapa Kak Bintang pada Ryan, dan saling bersalaman khas anak gaul. Oh, mereka sudah akrab rupanya.
"Hai Rania ..." sapa Kak Bintang padaku.
"Ehm, kok cuma Rania yang disapa." ucap Maharani sambil berdiri di depanku, sengaja menghalangi pandangan Kak Bintang padaku. Setelah sekian detik, dia beranjak pergi, sambil melengos dengan begitu sinisnya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap kekanak-kanakannya itu.
Dan, seseorang yang kita tunggu-tunggu kini hadir. Ringga terlihat baru keluar dari kamarnya di lantai atas, lalu dia menuruni tangga. Senyumnya mengembang saat menatapku. Baru hari ini tidak bertemu, rasanya serindu ini padanya. Kulebarkan juga senyum di bibirku, tak ragu-ragu menampilkan deretan gigi-gigiku.
Dari badannya, dia terlihat baik-baik saja, hanya memar di sudut bibirnya yang menyiratkan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Tapi, tiba-tiba senyum itu perlahan menghilang, berubah menjadi tatapan tidak suka. Dan, pandangannya kurasa tidak lagi tertuju padaku, tapi pada .....
Kak Bintang yang berdiri di sebelah kursi yang kududuki!
Apakah perkelahian kemarin akan terulang lagi? Aku berharap, mereka bertemu hari ini untuk berdamai. Tapi, jantungku mulai menandakan bahwa kini aku sedang takut. Kuremas tanganku sendiri untuk menenangkan hatiku yang tak karuan.
Kutolehkan kepalaku pada Kak Bintang. Sama! Tak ada senyum yang tampak di wajahnya. Aku harus bagaimana sekarang?
*****
Penasaran dengan ceritanya?
Jangan lupa untuk klik Favorit.
Serta beri rating bintang lima yaaa...
Tinggalkan komen di bawah. Kritik dan saran selalu saya nantikan.
Terimakasih.
Penulis Baru
__ADS_1
Hanny Achmad