
Roller Coaster
Aku masih saja teringat kejadian kemarin. Ketika teman-teman menyudutkanku saat di kelas. Rasanya untuk memulai semangat kembali bersekolah, sangat sulit.
Ya, aku memang sepenakut ini. Seumur hidup baru sekali ini mendapatkan pengalaman yang menakutkan, menurutku. Dianggap tidak baik, centil, penggoda, hiks... Aku bukan anak yang seperti itu.
"Hoi nglamun!" Nava mengagetkanku yang sedang melamun.
"Kaget aku Va..." sahutku.
"Mikirin apa sih sampe kayak gitu?" tanyanya lagi.
Aku hanya terdiam, sambil memanyunkan bibirku.
"Gara-gara Trio L kemarin? Bukannya kemarin mereka sudah minta maaf?" Nava mulai menyelidik.
Memang betul sepulang sekolah kemarin mereka langsung meminta maaf padaku. Tapi entah di sudut hatiku mengatakan, bahwa mereka sama sekali tidak tulus. Mereka hanya terpaksa, mungkin karena takut atau merasa nggak enak pada Ringga.
Aku teringat kejadian kemarin...
"Rania... Aku minta maaf ya... Aku nggak ada maksud apa-apa. Kamu mungkin nggak tau, tapi si Rani itu sahabatku. Yang nyomblangin mereka waktu SMP dulu juga aku. Aku masih belum terima aja kalau mereka putus." ucap Lisa mengawali permintaan maafnya.
"Kalau aku sih cuma ikut-ikutan aja... hehehe" ucap si Loli. Mendengarnya saja aku malas.
"Aku juga! hehehe.." si Luna pun juga sama.
Mudah ya, bagi mereka. Setelah melakukan itu padaku, lalu tiba-tiba datang meminta maaf seolah itu bukan apa-apa. Oke, Maharani mungkin memang teman mereka, sahabat mereka! Tapi, membela sahabat dengan cara merendahkan orang lain menurutku adalah hal yang sangat tidak layak.
"Rania... Kamu beneran masih sebel sama kita?" Lisa bertanya lagi.
"Nggak kok... Cuma masih kaget aja. Aku nggak ngira kalian bakal kayak gitu ke aku." jawabku.
"Ya kami juga nggak ngira tiba-tiba Ringga bisa akrab banget gitu sama kamu." si Loli mulai penasaran.
"Ringga bukan anak yang gampang ramah sama orang yang baru dikenalnya." Luna pun mulai menanyaiku.
"Hm.." aku mulai tersenyum sinis pada mereka.
"Kenapa kalian nggak tanya langsung pada Ringga? Bahkan aku baru hitungan hari mengenalnya. Aku sama sekali belum tahu Ringga itu bagaimana anaknya. Aku hanya sekedar tahu, dia baik, ramah, periang." jawabku.
"Jangan-jangan Ringga suka sama kamu?" kata Lisa.
"Nggak mungkin deh! Secara kamu itu nggak ada apa-apanya di banding Maharan.." belum selesai Loli berkata, mulutnya sudah dibungkam Lisa dengan tangannya.
__ADS_1
"He he he... Nggak usah kamu dengerin omongan dia." Lisa mungkin merasa tidak enak padaku karena ucapan Loli.
"Aku ngerti kok. Aku tahu diri juga. Aku bahkan tidak ada secuil apapun yang bisa disandingkan dengan Maharani." jawabku dengan tenang.
"Nah.... gitu kamu tahu! Harusnya kamu jangan deket-deket sama Ringga deh..." ujar Luna.
"Kalau Ringga yang maunya dekat sama aku, gimana?" aku berlalu meninggalkan mereka yang tercengang dengan kata-kataku.
*****
Hari ini adalah penutupan masa Orientasi. Seminggu berlalu begitu saja. Dari mulai berkenalan dengan teman satu kelas, sampai kejadian kejadian menghebohkan kemarin.
Aku terkadang masih heran, kenapa aku bisa berkata seperti itu pada mereka. Mungkin diamku saat mereka menyudutkanku kala itu, membuat sebuah keberanianku muncul dengan sendirinya.
Entah, bagaimana aku harus berekspresi pada mereka ketika bertemu. Haruskah aku tersenyum ceria, seolah tak pernah terjadi apa-apa? Atau aku harus bersikap acuh tak acuh, agar mereka tak mengulangi lagi perbuatannya?
"Hai Rania!" Lisa menyapaku saat aku baru memasuki kelas.
"Hai!" reflek aku menjawabnya sambil tersenyum.
Ternyata dia bersikap biasa saja padaku. Sebetulnya dia anak yang ramah, bahkan dia juga anak yang pertama kali menyapaku di hari pertama sekolah. Hanya saja, kejadian kemarin membuatku harus berhati-hati lagi.
"Kamu berangkat sama temen kamu yang kelas E itu ya?" tanyanya, seraya duduk di kursi yang biasanya ditempati Maharani.
"Hm... Namanya Stevi ya.. Kapan-kapan aku sapa deh! Kalau aku ketemu sama dia." ucap Lisa.
"Iya, dia anaknya supel kok! Kayaknya cocok juga kalau ngobrol sama kamu.." sahutku.
Obrolan kami mengalir begitu saja, tanpa mengingat hal-hal buruk yang pernah terjadi. Sampai aku tak menyadari bahwa seseorang telah duduk di kursi depanku, badannya menghadap ke arahku.
Aku memandangnya. Dia tersenyum. Lalu tatapan wajahnya beralih ke Lisa yang ada di sebelahku. Mulut Ringga terlihat komat-kamit tanpa suara. Tapi mendengar langsung pun, aku bisa membaca gerak bibirnya.
"Ngapain kamu? Pergi." (dari mulut Ringga, tanpa suara).
Seolah paham dengan mulut Ringga yang komat-kamit seperti dukun yang sedang memantrai pasiennya, Lisa langsung beranjak dan berkata, "Iya iya, aku pergi..."
"Galak banget sih...", Aku menertawainya.
"Kamu nggak diapa-apain lagi kan?" tanya Ringga.
"Nggak kok, Lisa cuma ngajak ngobrol.." jawabku santai.
"Awas aja kalau kayak kemarin..." katanya sambil menggerakkan jari-jarinya hingga terdengar suara kretek kretek kretek dari jarinya.
"Eh, nggak boleh gitu kali sama cewek.."
__ADS_1
"Kan demi kamu...." ucapnya begitu manis sambil mengerjapkan matanya.
Ya ampun.... Dia menggodaku lagi. Jika saja es di kutub utara bisa meleleh karena pemanasan global, maka aku cukup dengan melihat tatapan matanya yang menggemaskan itu. Dengan mata sipit, bibir terkembang seolah ada magnet disitu yang membuat jantungku seperti menemukan irama yang senada.
Melihatnya berjuta-juta kalipun, meski di seluruh hidupku aku terus menerus melihatnya, aku tak akan pernah merasa bosan.
Hampir saja aku lepas kendali ingin mencubit pipinya. Akal sehatku mengatakan, "TIDAK RANIA! CUKUP SEKALI KAMU MENGACAUKAN SEISI KELAS DENGAN TINGKAHMU!!"
Aku kembali memgontrol emosiku, membuat jantungku tak lagi bertabuh seperti genderang. Aku berusaha sesantai sikap Ringga.
Apakah disini hanya aku yang merasakan debaran-debaran ini?
Apakah Ringga juga merasakan hal yang sama?
Aku memasukkan jawaban-jawaban positif di kepalaku.
Ya, tentu saja Ringga merasakan hal yang sama. Dia pasti juga menyukaiku. Ringga begitu santai, mungkin karena sudah terbiasa.
Tunggu, tunggu! Terbiasa? Terbiasa apa?
Hati kecilku saling bertanya jawab kembali.
Apakah Ringga sudah terbiasa melakukan sikap-sikap manisnya itu pada banyak cewek? Sehingga mungkin baginya, momen seperti ini sudah menjadi hal yang biasa untuknya.
Jawaban-jawaban negatif juga muncul beriringan begitu saja. Sekuat apapun aku menghalaunya, kemungkinan-kemungkinan seperti itu pasti ada.
Wajah tampan, populer, dan juga ramah. Siapa yang tak menyukainya? Siapa juga yang akan menolak berpacaran dengannya? Sudah berapa kali kamu menjalin hati dengan cewek lain? Aku cewek ke berapa untukmu? Bahkan, Maharani pun sempat singgah di hatimu.
Kenapa rasanya aku seperti dimainkan oleh roller coaster. Sesaat aku bahagia dibuatmu, namun sesaat kemudian aku dijatuhkan dengan segala kebimbangan yang ada di benakku.
*****
Penasaran dengan ceritanya?
Jangan lupa untuk klik Favorit.
Serta beri rating bintang lima yaaa...
Tinggalkan komen di bawah. Kritik dan saran selalu saya nantikan.
Terimakasih.
Penulis Baru
Hanny Achmad
__ADS_1