
Dia Dia Dia
"Rania, kok bengong?" tangan Ringga melambai-lambai di depan mukaku.
"Eh... ya? Apa?" aku tersentak kaget.
"Kamu nglamun ya?"
"Ehm .... Iya, maaf .... Aku jadi nggak fokus."
Aku sedang berdamai dengan hatiku.
Kutepis pikiran aneh di kepalaku, kemungkinan terburuk pun aku tak mempedulikannya. Aku akan menjadi air kini, cukup mengalir saja. Mengikuti arus yang ada di depan mata. Tanpa harus memikirkan, mungkinkah ada batu besar di depan sana. Atau malah, di depan sana ada ujung berupa tebing tinggi, hingga air yang semua mengalir tenang, terpaksa harus menjadi air terjun ke bawah. Apapun yang akan ada disana nanti, akan aku lalui.
Jantung, fikiran, dan hatiku sudah berjalan beriringan dengan senada. Aku membetulkan rambut di sekitar telingaku dan hendak menaruh tanganku di atas meja, tapi ternyata ....
Tak sengaja, tanganku mendarat tepat di atas tangan Ringga. Kedua tangan kami bersentuhan. Kami sempat sama-sama menatap jemari kami seolah sedang berpegangan. Satu detik, dua detik. Dia pelan-pelan akan menggenggamnya. Namun sebelum itu terjadi, aku menarik tanganku dengan cepat.
Ringga menyadari itu. Aku tak mau berurusan lagi dengan teman-teman jika aku melakukan ini di dalam kelas. Aku tak mau jadi bahan perbincangan teman-teman saat aku sedang tidak ada di kelas. Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama.
"Mau keluar kelas?" tanya Ringga.
Aku mengangguk.
"Dingin kan? Nih! Pakai jaketku." suruhnya.
Aku menerima jaketnya yang menurutku pasti akan kedodoran di badanku. Meski bingung karena aku sama sekali tidak merasa dingin, aku tetap mengikuti permintaannya tanpa banyak protes.
Dia mengajakku berjalan-jalan di koridor kelas. Hampir di semua kelas ramai teman-teman. Ada yang asyik mengobrol, bermain HP, laptop, bahkan lari-larian. Iya, memang masa-masa SMA akan melewati hal-hal yang sedikit kekanak-kanakan untuk menghibur rasa jenuhnya.
Di hari terakhir masa orientasi ini, merupakan puncak acara penyambutan siswa baru. Setiap kelas di jenjang tiga membuat bazar makanan. Kelas di jenjang dua akan bergabung dengan ekskulnya masing-masing, untuk membuat bazar mempromosikan ekskulnya agar menarik hati adik kelas. Yup, betul! Hari ini kelas satu menjadi raja dan ratunya.
Kami sudah berjalan menjauh dari deretan ruang kelas satu. Tiba-tiba Ringga memakaikan hoodie ke atas kepalaku.
"Kok tiba-tiba?" tanyaku keheranan.
"Udah, jalan aja lihat depan. Menunduk juga boleh, hehehe.." jawabnya.
Aku merasa aneh, mamakai jaket kedodoran dan hoodie di kepala seperti ini. Lalu Ringga merapikan rambutku yang sedikit berantakan karena tertutup hoodie.
Anehnya, dia tersenyum. Menimbulkan tanda tanya besar di dalam kepalaku. Lalu kami berjalan lagi.
"Hm... Rania, boleh kan?" tanyanya.
"Apa?" jawabku.
Lalu jari telunjuknya sedikit tersentuh di jariku. Aku belum merespon apa-apa. Masih melanjutkan jalan meski dengan pelan. Dari satu jari, dua jari, tiga jari, perlahan tapi pasti dan empat, lalu lima jari. Kelima jarinya berpegangan dengan jari-jariku. Aku menyambutnya dengan menggenggam tangannya.
__ADS_1
Deg, deg, deg!
Suara jantungku tiba-tiba berdetak dengan begitu girangnya. Bermula dari jari tangan, lalu menjalar ke semua tubuh. Getarannya, indahnya, manisnya bahkan terasa di ujung lidahku.
Kami berpegangan tangan. Ya, sangat erat. Seakan salah satu dari kami tak akan pernah melepasnya. Ayunan tangan kami, senada dengan langkah kami. Pelan, tap tap tap. Seperti ada irama musik yang mengiringi kami berdua.
Sungguh aku bahagia hari ini. Aku menunduk menahan tawaku. Aku terlalu malu untuk menatapnya saat ini. Aku hanya berani meliriknya dari ujung kanan mataku.
Ringga... Dia juga sama denganku. Menundukkan wajahnya. Sambil mengulas sedikit senyum di bibirnya. Hatiku berkata untuk menatap wajahnya lekat-lekat. Namun fikiranku berkata, jangan Rania... Kamu akan sangat mabuk hari ini jika pandangan matamu dipenuhi wajahnya Ringga.
Aku kini tahu apa maksud Ringga menyuruhku memakai jaketnya, bahkan menutup sebagian wajahku dengan hoodie nya yang besar.
Agar dia leluasa bersamaku. Tanpa perlu khawatir akan gunjingan teman-teman di belakangku. Ah, sudahlah! Aku tidak mau memikirkan itu sekarang. Itu hanya akan menjadi duri di kebahagiaanku saat ini.
Kami menikmati jalan-jalan ini, masih tetap bergendengan tangan dengan mesra. Berjalan di area bazar makanan milik kakak kelas di jenjang tiga. Sesekali kami mampir, mencicipinya, lalu membelinya. Ringga yang terus-terusan membayar jajan yang kami beli, karena tangan kanannya masih bebas untuk bergerak. Sedangkan tangan kananku masih mengait erat dengan tangan kirinya. Bahkan, untuk makan pun, dia dengan begitu manisnya menyuapiku. Beberapa kali pasang mata memperhatikan kami, dan kami tak menghiraukannya.
Tiba di bazar ekskul jenjang dua. Ada ekskul pramuka, PMR, musik, padus, tari, lukis, teater, dan berbagai cabang olahraga. Deretan paling depan ada stand kakak OSIS, yang menyambut kami. Aku masih mengingat ada salah seorang kakak yang entah namanya siapa, yang kemarin di hari pertama membuatku malu gara-gara nama Rani yang sama. Sepertinya dia sedikit mengingatku. Dia memperhatikan wajahku, lalu melirik tanganku yang terpaut erat dengan tangan Ringga.
Sepertinya kakak OSIS itu hendak menghentikan langkah kami. Tapi kami berlalu begitu saja tanpa menghiraukan dia. Namun ternyata sebuah tepukan di pundak kanan Ringga menghentikan kami. Ringga spontan menoleh dan melepaskan genggaman tangannya.
"Hai bro... Cewek lu?" tanya kakak itu.
"Kalau iya, kenapa?" tegas Ringga.
"Gue kira lo sama Rani. Jadi, boleh donk Rani nya buat gue?" tanyanya lagi sambil menyeringai.
"Terserah!" ucap Ringga sambil menggandengku lagi, dan beranjak pergi.
"Oh tadi, kak Leo."
"Aku nggak suka sama dia."
"Betul! Jangan suka sama dia. Suka sama aku aja!"
"Ha ha ha ha ha" tawaku pecah begitu saja. Iya iya Ringga, aku akan suka sama kamu aja. Dia juga tertawa, saking gemasnya, dia mencubit kedua pipiku. Anehnya, tidak terasa sakit, malah terasa geli di sudut hatiku.
"Lepas ah Ringga, malu tahu dilihatin temen-temen." ucapku sambil tersipu.
"Ketawa gini terus ya ..., aku suka! Bikin gemes tahu nggak?"
"Nggak mau! Nanti tiap hari kamu nyubitin kayak gini." jawabku sambil memanyunkan bibir.
"Eh ... Rania, kesana yuk!" Ringga menunjuk sebuah stand dengan panggung kecil. Disana terduduk seorang cowok dengan gitarnya.
"Ehm, semua sudah siap? Mau request lagu apa?" ucap cowok itu dengan microfon.
Beberapa anak cewek yang duduk di kursi depan menyebutkan beberapa judul lagu. Bersahut-sahutan, saling sebut judul lagu yang cukup familiar di telinga kita.
Aku mengajak Ringga mendekat, ingin tahu lagu apa yang nantinya akan dia nyanyikan. Kursi di depan panggung sudah terisi semua. Memang hanya disediakan sedikit kursi, hanya sekitar dua puluh kursi saja. Kami yang tidak kebagian kursi, cukup melihatnya dengan berdiri di pinggir, dan melingkari panggung yang tepat ada di tengahnya.
"Okey, lagu ini aku persembahkan untuk seseorang yang ada disini." ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Jreng... Gitarnya mulai dibunyikan. Tak sabar, lagu apa yang akan dia perdengarkan.
Akhirnya, akhirnya aku temukan
Wajah yang mengalihkan duniaku
Membuat diriku sungguh-sungguh
Tak berhenti mengejar pesonanya
Kan ku berikan yang terbaik
Tuk membuktikan cinta kepadanya
Dia Dia Dia, cinta yang ku tunggu tunggu
Dia Dia Dia, lengkapi hidupku
Dia Dia Dia, cinta yang kan mampu mampu
Menemaniku mewarnai hidupku
(Afgan: Dia dia dia)
Semua menikmatinya lagunya. Ada yang bertepuk tangan, bahkan ikut bernyanyi bersama juga.
Di sela-sela dia melihat ke kunci gitarnya, dia juga mengarahkan pandangannya terfokus pada satu titik. Entah kenapa aku merasa dia melihatku. Aku menoleh ke kiri kanan. Mungkin ada seseorang yang dia kenal di sekitarku.
"Kamu kenal dia?" tanya Ringga tiba-tiba.
"Nggak, ketemu aja baru ini. Kenapa?" aku balas bertanya.
Spontan, Ringga menarik tubuhku di belakang tubuhnya. Seolah dia menghalangi sesuatu yang ada di depannya.
"Ringga, apa sih? Mau lihat itu..." rengekku.
"Nggak boleh... Pokoknya nggak boleh." tegasnya.
Apa sih Ringga? Batinku kesal. Menurut kalian kenapa, apa yang terjadi?
*****
Penasaran dengan ceritanya?
Jangan lupa untuk klik Favorit.
Serta beri rating bintang lima yaaa...
Tinggalkan komen di bawah. Kritik dan saran selalu saya nantikan.
Terimakasih.
Penulis Baru
__ADS_1
Hanny Achmad