
Duduk di belakang kemudi motor, diiringi merdu hembusan angin sore, memeluk cowok di depanku dengan mesra, menyandarkan kepalaku di punggungnya, itu adalah impianku. Saat bertemu dengan Ringga, aku berharap itu akan terwujud dengannya.
Aku gadis biasa, dengan impian sederhana. Tidak muluk-muluk, sederhana. Duduk berdua dengan raut wajah masing-masing yang cerah ceria di atas motor, itu sudah merupakan kebahagiaan untukku. Tapi, kenapa itu terjadi dengan Kak Bintang?
Aku masih terheran dengan sikapku. Bagaimana mungkin aku bisa memeluknya di sepanjang jalan. Aku seperti membuka celah untuknya agar bisa semakin mendekat padaku.
Tidak, tidak! Bukan itu yang aku harapkan! Aku bukan cewek yang mudah mendua begitu saja, meski aku belum pernah pacaran selama ini. Aku yakin, hatiku jujur, bahwa aku menyukai Ringga dari pertama kali kami saling bertukar pandangan.
Jatuh cinta pada pandangan pertama! Ya, itu yang kami rasakan saat itu. Sungguh manis, bahkan kalau diingat-ingat sekali lagi, aku berterima kasih pada Stevi yang membuatku harus bertabrakan dengan Ringga. Thanks Stevi, ini berkatmu!
Lagi-lagi ada kata tapi. Tapi, Kak Bintang yang tiba-tiba datang dengan suara merdunya yang juga masih terngiang-ngiang di telingaku sampai saat ini, sungguh itu bukan rasa jatuh cinta. Apalagi saat malam-malam dia menembakku lewat telepon, aku hanya berpikir dia orang aneh yang mungkin hanya mengerjaiku. Namun semakin kesini, aku semakin ingin mengenalnya. Orang seperti apa dia, kenapa dia menyukaiku, bagaimana bisa dia begitu perhatian padaku, aku penasaran tentangnya.
Ups! Aku memukul sendiri kepalaku. Hilang, hilang, hilang. Kumohon, hilanglah dari ingatanku Kak Bintang. Kenapa bayanganmu terkadang menyelinap hadir di saat kerinduanku pada Ringga juga masih melanda?
Aku membasuh mukaku di wastafel toilet. Memejamkan mata, berusaha membuat pikiranku kembali segar dengan aliran air ini. Tak kusadari ada dua orang di sebelahku. Mereka sama-sama memandangi cermin di depan wastafel ini.
"Hai ..." aku menyapa mereka. Anehnya, tak ada satupun orang yang menyahut sapaanku.
Grek! Salah satu pintu toilet terbuka, ternyata Lisa. Pantas saja di sebelahku juga ada Luna dan Loli yang tiba-tiba hanya mematung, tak berucap apapun padaku.
Pandangan mata mereka tak bersahabat seperti biasanya. Ada apa lagi ini? Bisik hati kecilku. Tak kuhiraukan mereka yang sepertinya masih memandangiku, seakan ingin bersiap-siap untuk menerkamku dengan cuitan mereka.
Aku mengalihkan pandanganku ke cermin, dan memoles lip gloss merah muda nomor 06 di bibirku, warna kesukaanku. Aku tidak sempat memakainya saat di rumah tadi karena tergesa-gesa.
"Eh Ran ..." salah satu dari mereka kini bersuara.
"Kamu segitu ngefans nya sama si Rani ya?"
"Rani? Maharani maksud kalian?" tanyaku.
"Iya lah! Siapa lagi?" suara cempreng Loli.
"Maksud kalian apa? Langsung to the point aja," serangku.
"Awalnya, kamu deketin Ringga. Kamu tahu kan? Ringga itu mantannya Rani. Dan sekarang, kamu ternyata juga ikutan pakai lip gloss persis seperti yang dipakai Maharani. Merknya sama, warnanya juga sama!" ujar Luna.
"Dan kamu pasti juga udah denger kan, kalau Kak Bintang itu gebetannya Rani. Kamu sengaja deketin Kak Bintang juga sekarang? Ngikutin dandanannya Rani, pengen jadi cantik kayak Rani juga? Pengen tenar juga? Ngerebut cowok-cowok yang ada di sekitar Rani?" ucap Loli bertubi-tubi.
Huft, kuhembuskan nafas pelan, mengumpulkan keberanian untuk membalas mereka.
"Tentang Ringga, betul aku suka sama dia. Bukan karena dia mantannya Rani atau apalah. Aku nggak peduli soal itu. Tentang lip gloss, aku sudah pakai ini sejak lama, sebelum Rani memakainya. Terus," tiba-tiba kalimatku dipotong oleh Lisa yang sedari tadi diam.
__ADS_1
"Terus maksud kamu, Rani ngikutin kamu beli lip gloss itu juga? Hahaha, kamu pikir kita percaya? Rani itu ratunya make up, koleksi make up nya itu udah bejibun. Dia selalu pertama kali yang punya make up keluaran terbaru. Ngerti?"
"Rania, Rania. Jadi fans boleh, tapi jangan halu juga! Pake bilang Rani yang ngikutin kamu segala," sahut Loli.
"Jadi lip gloss ini masalah buat kalian?"
"Iya, nggak usah niru-niruin Rani. Kalian itu beda level!" seru Luna. Makin lama perkataan mereka semakin menyakitkan hati.
"Rania, aku selama ini udah berprasangka baik tentang kamu ya ... Tapi kejadian lusa, itu sungguh membuatku menyimpulkan kalau kamu bukan cewek baik-baik seperti yang aku kira." tegas Lisa.
"Apa lagi sih? Aku kenapa?"
"Jangan kamu kira, kami nggak tahu kalau kamu habis boncengan dengan Kak Bintang sepulang dari rumah Ringga."
Deg! Bagaimana mereka bisa tahu tentang kejadian itu? Bagaimana aku harus menjelaskannya?
"Nah, kamu diam kan? Berarti betul apa yang kami lihat." ucap Lisa.
"Itu tidak seperti yang kalian pikirkan!" belaku.
"Sebagai teman Ringga, aku ikhlas dia deket sama kamu. Tapi Kak Bintang? Kamu mau menikung teman kamu sendiri? Hah?" kata-kata Lisa semakin meninggi.
"Gini ya Ran. Kalau kamu pikir, setelah kamu sekarang jadi sama Ringga, terus kamu tenar, itu salah besar! Jangan jadi ulat di antara Kak Bintang dan Rani! Ngerti nggak?" tambah Luna juga semakin menyudutkanku.
"Jadi, kalau kamu masih mau berteman sama kami, jauhi Kak Bintang! Awas aja kalau masih kegatelan!" ancam Loli padaku. Lalu mereka pergi begitu saja tanpa mempedulikan perasaanku bagaimana sekarang.
*****
"Rania ..."
"Hm?"
"Nih ..." ucap seseorang di depanku saat aku masih berkutat dengan catatanku yang belum selesai. Aku selalu terbiasa menghiasi catatan pentingku dengan bolpoin aneka warna. Kudongakkan kepalaku. Ah, Ringga disana. Selalu dengan senyum manisnya. Dia menyodorkan selembar kertas untukku.
"Makasih ..." jawabku dengan senyum tak kalah manis dengannya.
Selembar angket berada di atas mejaku. Aku membacanya dari atas sampai bawah. Meneliti setiap pilihan yang ada disana.
"Jadi, pilih ekskul apa Ran?"
"Hm, belum tau. Kalau Ringga apa?"
__ADS_1
"Kamu tahu lah ..."
"Iya juga ya. Enak sih jadi kamu Ringga, udah ngerti passion kamu dimana." ucapku sambil bertopang dagu.
"Kamu masih bingung?"
Aku mengangguk.
"Nggak pengen ikut cheeers aja?"
Aku menggeleng dengan muka sedih. "Aku nggak bisa dance Ngga, aku nggak pede."
"Ya udah, yang penting jangan ekskul ..." kata-kata Ringga terpotong, dengan raut wajah yang tiba-tiba sedikit berubah.
"Jangan ekskul apa Ringga?" tanyaku penasaran.
"Hmm, yang penting jangan ekskul sepak bola, ntar kamu paling cantik sendiri disana, hehehe."
"Huuu ..." kumanyunkan bibirku.
"Ya udah, kamu pikir dulu baik-baik, nggak usah terburu-buru. Masih ada waktu seminggu lagi, sebelum acara 'Si3 Camp' nanti. Oke, aku keluar dulu." pamitnya, sambil mencubit pipiku pelan.
'Si3 Camp' adalah program tahunan yang sangat dinantikan seluruh siswa baru SMA Putra Bangsa. Dimana semua ekskul di sekolah ini akan menunjukkan Aksi, Prestasi, serta Kolaborasi mereka yang dikemas dalam kegiatan camping di bumi perkemahan pinggiran kota sebelah, yang berada di lereng gunung.
Setelah kegiatan itu, aku harus memilih ekskul apa yang akan aku geluti selama dua tahun ke depan nanti.
"Kalau aku jelas ekskul musik lah, biar bisa makin dekat sama Kak Bintang, betul nggak? Kapan lagi, bisa diajari nyanyi, main musik sama cowok seganteng itu ..." suara Maharani di belakangku langsung memecah lamunanku.
Ekskul musik?
Haruskah aku membuang jauh-jauh pikiranku untuk masuk ke ekskul itu? Tentu saja, untuk menghindari Kak Bintang, agar aku tidak terus menerus berada di pusarannya.
*****
Penasaran dengan ceritanya?
Jangan lupa untuk klik Favorit.
Serta beri rating bintang lima yaaa...
Tinggalkan komen di bawah. Kritik dan saran selalu saya nantikan.
Terimakasih.
__ADS_1
Penulis Baru
Hanny Achmad