Rani yang Kedua

Rani yang Kedua
Dua Lebah


__ADS_3

Sore hari, aku duduk di kursi depan rumahku. Kulihat beberapa bunga mulai bermekaran, hasil ketelatenan ayah yang selalu merawatnya. Aku menatap salah satu bunga kesayanganku. Ia sedang merekah begitu indahnya. Ada dua lebah yang sedang menghinggapinya.



Melihat pemandangan itu, pikiranku entah kenapa membawaku kepada dua buah nama. Ringga dan Bintang. Apa dua lebah itu seperti mereka? Sedangkan aku adalah si cantik yang sedang bermekaran itu?


Ah ... Aku menyadarkan punggungku di kursi rotan ini, sambil kuusap layar di ponselku. Dengan pikiran melambung ke awang-awang.


"Ran, aku mau ngomong," tiba-tiba Stevi muncul begitu saja sambil menepuk pahaku.


"Eh, ada apa?" tanyaku gelagapan, karena tak melihat dia datang sebelumnya.


"Tentang Ringga,"


"Ringga?"


"Iya, kamu sudah di Whatsapp belum sama dia?"


Kugelengkan kepalaku.


"Coba kamu chat dulu deh! Aku jadi kepikiran kata-kata temenmu tadi, Nava."


"Emang Nava bilang apa?"


"Tadi pas kalian masih di dalam UKS, Nava sama siapa itu teman satu kelas kalian yang cowok?"


"Bayu?"


"Nah, iya Bayu. Mereka cerita, intinya kamu nggak perlu khawatir soal luka Ringga tadi. Ayahnya dokter, bundanya ahli gizi juga di rumah sakit. Aman kalau soal itu."


"Terus?"


"Nah, yang bakal jadi masalah, kenapa Ringga sampai terluka kayak gitu. Takutnya, orang tua Ringga nggak terima dan bakal mengusut kejadian tadi di sekolah. Padahal, tadi ketua kelas kalian bilang kan, kalau pihak sekolah jangan sampai terlibat tentang ini. Bakal jadi runyam kalau semua ikut campur."


"Aku harus gimana Vi?"


"Aku juga bingung sih ... Tapi, seumpama Kak Bintang datang ke rumah Ringga untuk minta maaf gitu gimana?"


"Nggak mungkin! Itu nggak mungkin banget Vi ...."


"Emang kenapa sih Ran?"


Aku terdiam, bingung harus menjelaskan mulai dari mana.


"Hm, jangan-jangan bener ya, Kak Bintang nembak kamu?"


Aku tercekat, darimana Stevi tahu tentang hal itu.


"Kamu kok,"


"Tahu? Iya, Kak Bintang sendiri yang bilang waktu itu sama Ringga. Aku cuma kebetulan ada disana mau jemput kamu, dan nggak sengaja mencuri dengar percakapan mereka."


"Oh ..." dengusku, aku bahkan nggak tahu kalau itu adalah awal mula pertengkaran mereka.


"Jadi, Kak Bintang kamu terima?"


"Ya nggak lah!" tegasku.


"Kamu tolak?"


Kugelengkan kepalaku.


"Ya ampun Rania, jadi Kak Bintang kamu gantungin gitu aja?"


Aku tertunduk. Entah karena apa tiba-tiba aku merasa begitu bersalah salah sekarang.


"Nava tadi cerita, kamu tahu nggak? Dari pagi Kak Bintang nyari kamu, bolak-balik pergi ke kelas kamu, istirahat nyari lagi masih juga nggak ketemu. Eh, siangnya pas bel pulang masih nggak ketemu juga. Kamu sengaja menghindar ya?"


Mendengar kata Stevi, wajahku memanas. Dan tanpa sengaja mataku berair dan mulai menumpahkan isinya. Jleb! Kata-katanya terlalu tepat untuk menggambarkanku sekarang.


"Kenapa sih Ran, kamu kok kayak gitu? Nggak kasihan apa?"

__ADS_1


Aku masih terdiam, menyeka mataku yang basah dengan tanganku.


"Kalau kamu memang nggak suka, kenapa nggak ditolak aja?"


"Aku takut Vi ..."


"Apa yang kamu takutin?"


Aku terdiam lagi.


"Kalau kamu menolaknya, itu akan lebih baik. Biar Kak Bintang tahu gimana perasaan kamu. Biar dia juga jelas gimana mau bersikap. Nggak kalang kabut kayak gitu kan?"


Aku masih terdiam mendengar omelan dari Stevi.


"Atau, jangan-jangan kamu dan Ringga sudah pacaran?"


Kugelengkan kepalaku.


"Hadeh, ini anak, dulu SMP sok-sokan jadi dukun curhat. Sekarang ngrasain sendiri kan, gimana rasanya jadi pasien cinta?"


"Vi ..." rengekku.


"Hm, yang satu suka tapi nggak nembak-nembak. Yang satu lagi, nggak disuka, eh malah nembak. Jadi heran. Trus kenapa kamu nangis sih?" ucap Stevi sambil mengusap-usap punggungku seolah memberikan semangat.


Air mataku kian membanjir. Rasa bersalah muncul bertubi-tubi. Andaikan saja, sejak semalam aku tegas menolak Kak Bintang, mungkin peristiwa tadi tidak akan terjadi. Andai juga, aku seharian tidak menghindarinya, mungkin Ringga juga tidak akan terluka. Andai saja aku tidak menggantungkan perasaannya, mungkin Kak. Bintang juga tidak akan terancam diskors karena berkelahi.


"Ran, aku ngomong gini bukan karena marah sama kamu. Aku ngomong gini demi kebaikan kamu. Kamu tahu kan, kita sahabatan dari orok."


Kudongakkan kepalaku, "Aku harus gimana Vi sekarang?"


"Gini deh, kamu chat Ringga dulu. Tanya gimana keadaannya sekarang. Tanya juga, respon orang tuanya gimana, mereka marah atau tidak. Nah, baru deh kamu chat Kak Bintang, minta maaf sama dia. Kamu ngerti kan?"


Aku mengangguk.


"Udah, cup. Sana, masuk rumah. Aku juga mau pulang, nggak kerasa mau Maghrib nih gara-gara dengerin curhatannya Tuan Putri," ucap Stevi sambil mencubit pipiku. Dia mengedarkan langkahnya menuju ke rumahnya yang persis ada di depan rumahku.


***


19.17


Aku mencoba chat Ringga duluan. Menunggu balasannya. Dia mengetik ....


[Iya Raniaku?]


[Gimana luka kamu, masih sakit?]


[Udah nggak kok, aku nggak papa.]


[Orang tua kamu, marah nggak? Setelah tahu kamu berantem?]


[Hm, ayah nggak papa. Wajar lah, namanya juga cowok. Tapi bunda yang khawatir.]


[Kamu dimarahin bunda?]


[Nggak lah, bunda sayang banget sama aku.]


[Syukurlah, aku khawatir Ringga.]


***


19.40


Aku baru saja mencari sebuah nama di kontak ponselku. Aku masih merasa ragu untuk mengirimkan pesan padanya. Keberanian diri meski tanganku sedikit bergetar.


[Kak Bintang ...]


Tring! Langsung dibalas.


[Rania?]


Belum sempat aku membalasnya, tiba-tiba ada telepon masuk. Tentu saja, dari Kak Bintang. Aku mengusap layar ke atas untuk menerima panggilan darinya.

__ADS_1


"Halo Rania," ucapnya dari seberang sana.


"Iya Kak,"


"Maaf soal tadi. Kamu marah?"


"Iya." tegasku, entah kenapa aku langsung menjawabnya tanpa berbasa-basi.


"Hm, maaf ya. Jadi, dia pacar kamu? Kenapa kamu nggak bilang? Tolong sampaikan maafku padanya. Aku, khilaf."


"Kak Bintang, aku juga minta maaf sama Kakak."


"Iya, aku ngerti kok."


"Kak Bintang maaf, aku..." kata-kataku terputus.


"Heem, aku maafin." jawabnya seolah tahu apa yang aku maksudkan.


"Udah, jangan nangis lagi. Aku juga yang salah, nggak tahu diri, tiba-tiba nembak cewek yang sudah jadi pacar orang. Hm, selamat deh atas hubungan kalian."


Hatiku tiba-tiba terasa sakit. Berulang kali dia mengucap bahwa Ringga pacarku. Aku bahkan bukan siapa-siapanya. Aku merasa tidak memiliki hubungan apapun dengannya meski kami saling suka.


"Rania ..."


"Ya Kak?"


"Apa aku masih boleh menelepon kamu seperti ini lain kali?"


"Hm, mungkin boleh."


"Hahahahaha, takut pacarmu marah ya?"


Lagi-lagi dia menyebut Ringga pacarku.


"Nggak Kak,"


"Kalau dia sampai marah sama kamu, biar aku hajar dia. Enak aja, marah-marah sama cewek cantik!"


"Kak Bintang, jangan ..."


"Iya iya Rania, aku bercanda. Aku nggak mau lihat kamu nangis kayak tadi. Jangan marah sama Kak Bintangmu ini lagi ya..."


"Iya Kak Bin,"


"Aku seneng denger kamu manggil aku gitu."


"Kak Bin?" entah kenapa aku juga suka memanggilnya begitu.


"Iya?"


"Selamat malam Kak Bin,"


"Malam juga, cepat tidur. Jangan begadang, jangan tidur malam-malam. Awas besok mata pandanya muncul lagi. Hahaha."


"Apa sih, hehe. Iya Kak, bye."


"Bye Rania."


Kututup panggilannya.


*****


Penasaran dengan ceritanya?


Jangan lupa untuk klik Favorit.


Serta beri rating bintang lima yaaa...


Tinggalkan komen di bawah. Kritik dan saran selalu saya nantikan.


Terimakasih.

__ADS_1


Penulis Baru


Hanny Achmad


__ADS_2