
Apa Ini yang Namanya Jatuh Cinta?
Saat kubuka pertama kali mataku di pagi hari, biasanya aku langsung beranjak dari tempat tidurku untuk segera ke kamar mandi.
Namun tidak untuk pagi ini.
Kusempatkan sejenak, mengambil ponsel di meja belajarku. Kuusap layar, kubuka galeri dan kupandangi fotonya.
Rasa yang menjalar ini membuatku lebih bersemangat untuk memulai hari. Entah apa namanya, aku bahagia.
Kupandangi fotonya yang tersenyum dengan begitu hangat. Dan jarinya membentuk "love" membuat hatiku makin tergelitik.
Entah apa yang kusukai darinya. Wajahnya yang tampan, kepribadiannya yang ramah, atau memang kepiawaiannya mengambil hati wanita? Entahlah, apapun itu, aku bahagia.
Kubuka beberapa pesan yang belum terbaca.
Satu pesan dari Ringga.
[Selamat pagi cantik... Sampai ketemu di sekolah.]
Tergerak jemariku untuk membalas pesan darinya.
[Met pagi juga Ringga... Sampai ketemu juga nanti!]
*****
Aku dan Stevi berangkat bersama. Kami beriringan dari tempat parkir menuju kelas.
"Perasaan kamu beda deh Ran hari ini?" Stevi memakukan wajahnya untuk memandangiku dengan seksama.
"Apa sih? Nggak ada ah!" mendorong mukanya jauh-jauh dariku.
Aku sedikit sebal melihat mata Stevi yang menyelidik. Tampilannya selalu terlihat santai dan cuek. Tapi jangan pernah membuatnya penasaran. Dia akan terus mencari tahu sampai menemukan jawabannya.
"Ah.... Aku tahu apa yang yang beda dari wajah kamu!" Stevi berkata seolah dia menang.
"Apa?"
"Kamu tambah cantiiiiik...." ucap Stevi sambil mencubit gemas pipiku.
"Au au au!" teriakku dengan memukul pelan tangannya berkali-kali agar melepaskan cubitannya.
Dia masih terkekeh-kekeh dengan bahagia. Sepertinya ada yang dia ketahui, entah apa itu.
Hampir saja. Aku takut jika dia sampai tahu kalau hari ini aku memakai sedikit lip gloss berwarna merah muda di bibirku. Baru saja aku membelinya kemarin sore di Minimarket ketika aku sedang berbelanja. Harganya yang promo membuatku ingin membelinya. Jika tidak promo, mana mungkin aku akan mengeluarkan uang untuk lip gloss yang mungkin tidak penting ini?
Aku dan Stevi terpisah saat kami harus masuk ke kelas masing-masing. Aku berbelok ke kelasku 1A, sedangkan dia masih lurus menuju ke 1E.
Ketika aku masuk, pandanganku mengelilingi seisi kelas. Tidak ada. Ya, tidak ada Ringga disana. Harapanku, aku langsung bisa bertatap muka dengannya.
Bangkunya masih kosong. Padahal aku ingin dia melihatku memakai lip gloss baruku ini.
__ADS_1
Beberapa teman sudah duduk di kursinya, beberapa masih asyik mengobrol di depan kelas. Maharani, Lisa dan teman-temannya sudah ada disitu. Ternyata mereka selalu berangkat lebih awal dariku.
Maharani sudah duduk di kursinya sambil memainkan ponselnya. Kepalanya tertunduk pada layar kecil di depannya. Sepertinya dia membuka aplikasi Instagramnya. Kulirik dengan ujung mataku. Waw, folowersnya banyak!
Saking asyiknya, dia tidak menyadari kalau aku sudah duduk di sebelahnya.
"Hai Rani.." sapaku.
Dia sedikit terkaget. "Hai juga! Dari tadi? Maaf aku nggak lihat kamu datang." jawabnya.
"Baru aja kok! Akunmu apa? Boleh aku follow?"
"Boleh banget! Nih... Nanti aku follback!" jawabnya kegirangan.
Kami saling saling follow. Ku scroll postingannya. Wah... Sudah ratusan. Foto-fotonya bukan ala-ala remaja biasa.
"Kamu model ya?" tanyaku penasaran.
"Iya, kok tahu?"
"Foto kamu bagus-bagus. Nggak bakal ngira kalau kamu masih SMA. Kayak udah profesional." pujiku.
"Ah, berlebihan deh... hehehe." katanya sambil menyenggol lenganku.
"Eh bentar! Kamu pakai lip gloss? Bagus! Merk apa?" tanyanya menyelidik.
Aku mengeluarkan lip gloss baruku dari kotak pensilku. Memang brand ini baru launching produk barunya dengan harga cukup terjangkau untuk anak sekolah.
Percakapan kami dibuyarkan dengan kedatangan Ringga.
"Pagi Rania... Semalam nyenyak tidurnya?" Ringga menyapaku.
"Pagi juga. Nggak bisa tidur aku. Hihi.." tawa kecilku.
"Kenapa? Mikirin aku?" suara Ringga berbisik di telingaku.
Wajahku seketika memerah karena malu, wajahku begitu dekat denganku. Aku sampai tak bisa mengontrol irama detak jantungku. Sikap usilnya begitu mengusik hatiku.
Dia tertawa terbahak-bahak. Dia merasa berhasil menggodaku. Matanya yang menyipit ketika tertawa, menambah pesona tersendiri untuknya. Bahkan deretan giginya yang putih sangat indah di mataku.
Aku reflek mencubit pipinya dengan gemas. Dia malah makin girang melihatku yang sebal padanya.
"Apa? Cubit aja.. Terus.. Wek..Wek.. Nggak sakit.." godanya.
Sesaat aku lupa bahwa saat ini kami berdua ada di kelas. Seisi ruangan memandangi kami dengan tatapan heran. Aku melepaskan cubitanku dari pipi Ringga.
"Ehm... Ada yang lagi PDKT nih rupanya..." Lisa menyindir kami.
"Dunia serasa milik berduaaaa..." si Luna juga.
"Kukira pendiem anaknya, alah ternyata sama aja!" Loli juga ikut menghakimi.
__ADS_1
"Tapi ya nggak di depan Rani juga donk... Rania! Kamu beneran nggak tau apa pura-pura aja? Kamu tahu kan, kalau Rani mantannya Ringga!" Luna memulai debatnya.
"Hei hei hei... Kenapa namaku disangkut pautkan? Aku santai aja kok! Lagian, Ringga berhak donk move on dari aku..." Maharani seolah membelaku.
"Ringga! Kamu juga! Mau-maunya aja sih digodain sama cewek gatel gini!" ucap Loli sambil menunjuk ke mukaku.
Plak!
"Aw!!" Loli berteriak kesakitan setelah Ringga memukul tangannya yang mengarah ke wajahku.
"Jangan macam-macam ya kalian semua. Terutama kamu! Lisa, Luna, Loli. Hubunganku dengan Rania nggak ada hubungannya sama kalian. Nggak usah ikut campur!" Ringga mulai marah.
Aku masih tertunduk, dengan sejuta rasa yang berkecamuk di dalam hati.
"Udah ah Ringga... Kamu juga jangan marah gini. Lisa, Luna, dan Loli kayak gitu karena mikirin perasaanku. Mungkin dikiranya aku masih cemburu kali... Haha!" tawa Maharani, entah dimana kelucuannya.
"Kalian mikirin perasaan Maharani, tapi kalian malah nyakitin perasaan Rania, ngerti nggak! Awas aja kalau kejadian kayak gini terulang lagi!" tegas Ringga pada mereka.
Lalu Ringga datang menghampiriku, menepuk-nepuk bahuku, dan menyuruhku duduk di kursiku.
"Aku akan selalu belain kamu, oke? Kamu nggak perlu khawatir" dia masih bisa tersenyum di hadapanku.
Sepanjang hari ini, kudengar Trio L (Lisa, Loli, dan Luna) masih terus saja membicarakanku di belakang. Pandangan beberapa orang juga terlihat aneh padaku.
Bahkan, Maharani yang duduk disampingku, setelah kejadian tadi masih saja mendiamkanku. Aku bingung, apakah dia betul sudah tidak ada perasaan apa-apa pada Ringga, atau ternyata hanya menyembunyikan saja perasaannya di depan teman-temannya.
Banyak pertanyaan yang muncul di benakku. Dan semuanya berlalu tanpa ada jawaban.
Sepanjang kegiatan hari ini kulalui begitu saja, karena pikiranku berjalan sendiri entah kemana.
Sedikit kusesali keakrabanku dengan Ringga, menyebabkan pertikaian semacam ini.
Ringga... Oh Ringga...
Betulkah ini yang kurasakan adalah cinta?
Jika iya, mengapa rasanya sesakit ini?
*****
Penasaran dengan ceritanya?
Jangan lupa untuk klik Favorit.
Serta beri rating bintang lima yaaa...
Tinggalkan komen di bawah. Kritik dan saran selalu saya nantikan.
Terimakasih.
Penulis Baru
Hanny Achmad
__ADS_1