
Jika ini sebuah drama, mungkin akan terdengar suara petir yang menggelegar. Kedua laki-laki ini seperti halnya telah mengibarkan bendera perang dan siap untuk menyerang kapanpun mereka mau. Tidak, tidak. Aku harus mengentikan ini.
Ringga sudah mendekat, suasananya hening. Entah kenapa Maharani dan yang lainnya, yang biasanya paling berisik, bahkan saat ini ikut diam seribu bahasa. Apa mereka juga sama-sama takut dengan situasi semacam ini?
Aku melangkah maju, dan berjalan menuju ke arah Ringga. Sebelum suasana hatinya semakin memburuk, aku harus menetralkannya.
"Ringga ..." ucapku saat jarak kami mungkin hanya tinggal satu langkah.
"Ya?" jawabnya. "Apa Ran?" sambungnya lagi.
"Hm ..." aku bingung mencari kata-kata untuk mengalihkan perhatiannya.
"Apa?"
"Aku ..." baru kali ini aku sulit memutar otak. Aku mohon otakku, tolong sekali ini saja berikan saja satu kata yang tepat untuk memecahkan suasana mencengkam ini.
"Iya Ran?"
"Aku ... Lapar."
"Ha ha ha ha ha ..." gelak tawa Ringga terdengar sangat renyah. Matanya yang membentuk bulan sabit itu terlihat begitu menggemaskan. Sepasang mata yang selalu membuatku rindu.
Aku sendiri merasa malu pada kata-kata yang kuucapkan. Kenapa bisa-bisanya aku berkata lapar pada saat sekarang ini. Tapi syukurlah, kata lapar itu adalah kunci untuk menarik mood Ringga hari ini.
"Aw, aw!" dia memegangi mulutnya.
"Kenapa Ngga?" tanyaku khawatir.
"Mulutku sakit gara-gara tertawa kelebaran. Hehehe," tapi dia masih tersenyum padaku. Lalu tiba-tiba tangan nakalnya mengarah ke hidungku, mencubitnya kecil, lalu berucap sambil sedikit membungkuk untuk menjajarkan tubuhnya yang tinggi agar sama denganku.
"Nanti biar diambilin makan Simbok ya ..."
Aku hanya menurut, mengangguk, mengiyakan perkataannya. Lalu tangannya menggandengku, dan berjalan menuju teman-teman yang ada di ruang tamu.
Aku merasa sedikit canggung saat Ringga menggandeng tanganku seperti ini. Apalagi di depan teman-teman, yang mungkin ada yang tidak suka dengan kedekatan kami. Dan juga, pada Kak Bintang yang kini mulai mengalihkan pandangannya. Kenapa Kak?
"Teman-teman, makasih ya udah datang. Aku udah nggak papa kok. Yuk kita ke taman belakang aja, biar bisa santai." ajak Ringga.
"Aseeeek... Kapan lagi nih main-main di rumah sekeren ini!" sahut Lisa.
"Udah lama lho Ngga, kita nggak main kesini," ucap Loli.
"Terakhir kesini pas Ringga musih pacaran sama Ran ..." kata-kata Luna terpotong. Tapi kami semua yang ada disini tahu, Maharani lah yang dimaksud oleh Luna.
"Aih, kenapa masih dibahas lagi sih ... Cinta monyetnya anak-anak juga, aku udah move on tahu! Dibilangin juga, masih dibahas terus. Udah ah! Yuk kita ke belakang." kata Maharani seraya berdiri dan berlalu, menuju taman yang dimaksud Ringga, diikuti oleh teman-teman.
"Aku kesana dulu ya," ucap Nava padaku yang masih berdiri mematung.
__ADS_1
Tersisa aku, Ringga, dan Kak Bintang.
"Ayo Ran," Ringga menarik tanganku yang masih dalam genggamannya.
"Bentar Ngga ..."
"Ada apa?" dia menoleh padaku yang tetap berdiri di tempat, tak bergeming meski dia telah mengajakku ikut ke taman menyusul teman-teman yang lain.
"Kak Bintang, mau ada yang dibicarain sama Ringga kan?"
"Oke," jawab Kak Bintang singkat, lalu berjalan mendekat ke arah kami.
"Hm... Kalian mau ngobrol berdua aja? Kalau iya, aku pergi kesana dulu." tanyaku.
"Nggak usah, kamu tetap disini aja Rania." cegah Ringga masih dengan genggaman tangannya yang erat, seolah enggan menjauh sedetik pun dariku.
"Baik," jawabku pelan.
"Mau ngomong apa Kak Bintang?" tanya Ringga. Semarah apapun, dia masih menjaga tata kramanya untuk selalu memanggil Kak pada pada kakak tingkatnya.
"Oke Ringga. Soal kemarin, aku minta maaf karena tiba-tiba aku nembak Rania. Aku nggak tahu kalau ternyata dia sudah jadian sama kamu." ucap Kak Bintang tenang, dengan sedikit ulasan senyum di bibirnya.
"Aku juga minta maaf, karena udah mukul kamu. Aku nggak nyangka pukulanku separah itu. Tapi, aku nggak akan minta maaf karena sudah menyukai Rania. Kalau kamu menyuruhku untuk berhenti menyukai Rania, aku nggak bisa, dan aku nggak mau." lanjut Kak Bintang, raut wajahnya berubah menjadi serius.
Begitu juga dengan Ringga, wajahnya kembali seperti saat pertama kali melihat Kak Bintang datang. Telapak tangannya terasa basah oleh keringat.
"Aku rasa, nggak perlu ada alasan untuk menyukai seseorang. Kalau aku tanya balik, kenapa kamu menyukai Rania? Kamu jawab apa?"
Ringga diam.
"Ha, kamu sendiri juga nggak punya alasan kan? Setiap orang berhak menyukai Rania, termasuk aku." ucap Kak Bintang seraya menarik lenganku, hingga aku tersentak dan berhambur ke arahnya, genggaman tangan Ringga pun tak sengaja terlepas begitu saja.
"Kak?" tanyaku heran.
"Tapi Rania bukan barang yang bisa diperebutkan seperti ini. Rania lah yang akan memilih siapa yang akan dia terima di hatinya. Bukan begitu Rania?"
Aku bingung harus menjawab apa. Lalu Kak Bintang mendorong badanku pelan, mendekat pada Ringga.
"Aku menerima hubungan kalian, bukan berarti aku berhenti sampai disini. Kalau sampai Rania terluka, atau setetes pun air mata dia jatuh gara-gara kamu, aku yang akan maju. Tapi tenang saja, aku nggak akan mengganggu hubungan kalian. Oke!" kata-kata Kak Bintang menyudahi peperangan yang cukup alot ini, lalu pergi dengan begitu santai ke arah taman belakang.
"Ringga ..." panggilku. Badanku hampir menempel padanya. Kutarik kecil bajunya, karena masih tak mengabaikan panggilanku.
"Ringga..." panggilku lagi, entah kenapa tiba-tiba kutempelkan wajahku pada dadanya, aku merengek. Kubenamkan wajahku disana, detak jantungnya terdengar jelas, iramanya begitu cepat, seperti halnya jantung seseorang setelah berlari maraton.
Kemudian dia menarik wajahku dengan kedua tangannya. Kedua telapak tangannya masih terasa basah, mengenai kedua pipiku. Dia memandang wajahku lekat.
__ADS_1
"Apa?" tanyanya pelan.
"Jangan marah ..." jawabku, disertai sedikit rengekan.
"Aku nggak marah,"
"Itu tadi?"
"Aku, cuma takut."
"Takut apa Ringga?"
"Takut jika ada orang lain yang lebih menyukaimu daripada aku. Aku nggak mau hati kamu berpindah ke yang lain."
Aku menggeleng, "Nggak akan Ringga ..." tegasku.
"Janji?"
Aku mengangguk, "Iya janji!"
Perlahan, senyumnya mulai terurai kembali.
Senyum tipis ini pun sudah sangat berarti untukku. Senyumnya yang mungkin hampir tak terlihat seharian ini.
"Rania ..." panggilnya setengah berbisik, kedua tangannya masih bertahan di kedua pipiku. Tak mau melepaskan sepertinya.
"Iya?" jawabku, lalu kuraih lengannya, dan ikut memegangnya dengan erat.
Perlahan wajahnya terasa lebih mendekat. Pelan, tapi pasti. Entah kenapa, secara pelan, mataku juga ikut terpejam, mengikuti irama. Kecupan Ringga mendarat ke keningku. Terasa hangat dan menjalar ke seluruh tubuhku.
Kesan pertama yang kurasakan. Deguban jantung yang begitu cepat tak bisa kuhalangi. Rasa bahagia, rasa sayang, rasa tak ingin terpisahkan, mengalir menjadi satu dalam sebuah kecupan manis di keningku.
Ringga, apa kini aku menjadi pacarmu?
*****
Penasaran dengan ceritanya?
Jangan lupa untuk klik Favorit.
Serta beri rating bintang lima yaaa...
Tinggalkan komen di bawah. Kritik dan saran selalu saya nantikan.
Terimakasih.
__ADS_1
Penulis Baru
Hanny Achmad