Rani yang Kedua

Rani yang Kedua
Mencoba Mengenalmu


__ADS_3

Rasanya semalam lebih lega, setelah menuntaskan masalahku dengan Kak Bintang. Perasaan takut yang pada awalnya menghantuiku, tiba-tiba lenyap begitu saja. Menolaknya, mungkin terasa menyakitkan. Tapi ternyata, lebih menyakitkan ketika kita harus menggantungkan perasaannya.


Pagi ini kuhirup udara dalam-dalam dari hidungku, kurasakan kesejukannya merasuk dan memenuhinya ruang-ruang dalam hatiku. Menyegarkan, menenangkan.


Saat kujejakkan kakiku di sekolah, entah kenapa hal yang pertama ingin kulihat yaitu, dia.


Bukan, bukan Ringga. Tapi, Kak Bintang. Hati kecilku berharap, dia mendatangi kelasku seperti kemarin. Menantiku dengan sabar, meski telah kuacuhkan seharian.


Aku berjalan pelan, menolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan. Tak ingin pandanganku terlewat satupun dari orang yang berlalu lalang. Berharap, salah satu diantaranya kutemukan dia.


"Heh, nyari apaan sih dari tadi?" Stevi mengagetkanku.


"Nggak nyari apa-apa."


"Kok dari tadi celingukan gitu? Siapa sih?" Stevi juga ikutan mencari sesuatu.


"Hus, nggak perlu tahu! Ayo jalan lagi!" pintaku pada Stevi, dengan menarik lengannya.


Aku dan Stevi terpisah saat aku sudah sampai di kelasku. Dia melambaikan tangannya.


"Dah Ran, sampai ketemu nanti!" ucapnya semangat.


Aku masuk ke dalam kelas, dan sepertinya Maharani sudah menungguku. Tatapannya sedikit aneh, tangannya disilangkan di depan dadanya. Apa lagi ini?


"Ada apa Ran?" tanyaku polos.


"Tuh, Ringga nggak masuk," ucapnya sedikit kasar.


Kuabaikan dia, dan kutaruh tas di bangkuku, di sebelahku sudah ada Nava yang sedang asyik dengan bukunya.


Benar saja, mana mungkin Ringga akan masuk sekolah dengan wajah memar seperti kemarin, aku tak bisa membayangkannya. Kulirik kursi yang biasanya didudukinya, kosong.


"Hei, Rania!"


"Apa lagi?"


"Jaga tuh, si Ringga. Jangan macam-macam sama Kak Bintang."


"Iya," jawabku singkat.


"Aku lagi PDKT sama Kak Bintang ya sekarang, ini aku umumin sekalian buat temen-temen di kelas ini. Jadi, buat cewek-cewek yang ngerasa ngefans sama Kak Bintang, please kalian mundur teratur aja deh! Karena saingan kalian, terlalu berat. Kalian nggak mau kan, saingan sama aku?"


Heran, kepercayaan dirinya udah mentok sampai langit ke tujuh mungkin ya. Maharani ini membuatku geleng-geleng kepala.


"Nggak usah kamu peduliin si Rani itu ..." Nava mengingatkanku.


"Rani aku?" tanyaku basa-basi, dan mulai duduk di sebelahnya.


"Bisa bercanda ya kamu sekarang,"


"Hehehe,"


"Eh, gimana temen kamu Stevi kemarin sudah ngomong kan sama kamu?"


"Sudah, kamu ya yang cerita ke dia?"


"Iya, maaf soalnya aku bingung gimana cara ngomong ke kamu. Kalau Stevi kan udah lama jadi sahabat kamu."


"Makasih ya Va, kamu udah perhatian banget sama aku."

__ADS_1


"Sama-sama ... karena dari awal aku lihat kamu, aku udah suka sama kamu Rania, rasanya pengen banget jadi sahabat kamu. Apalagi setelah tahu kalau Ringga tertarik sama kamu. Aku pengen jadiin kalian best couple tahun ini deh rasanya!"


"Ssssttt, jangan keras-keras dong, malu tahu!"


"Biarin, hehehe. Eh Ran, misal kita nanti jenguk Ringga gimana? Kamu ikut kan?"


"Hm, apa aku boleh ikut?"


"Kamu itu wajib banget malah, biar Ringga nya cepet sembuh, hihihi."


"Nanti siapa aja yang ikut?"


"Belum tahu sih, coba nanti aku obrolin sama Ryan dulu. Hmm, misal Kak Bintang diajak gimana?"


"Ya, diajak aja ..."


"Maksudku, kamu yang ajak dia,"


"Kenapa aku?"


"Ran, siapa lagi coba kalau bukan kamu?" Nava mengisyaratkan kalau aku lah penyebab pertengkaran mereka kemarin. Baiklah, aku akui.


"Kalau dia nggak mau gimana?"


"Dicoba dulu Rania ..."


Aku mengangguk, mengiyakan permintaan Nava.


***


Istirahat pertama, aku bergegas mencari kelas Kak Bintang. Sesuai dengan info yang kudapat dari Nava, dia ada di kelas 2A. Ini kedua kalinya aku kesana. Kali pertama saat orientasi, saat kami dikenalkan dengan seluruh area sekolah ini.


Canggung rasanya, ada di antara kakak kelas. Mereka menatapku, seperti halnya aku ini orang asing. Aku berusaha seramah mungkin. Kuukirkan senyum di bibirku, kuanggukkan kepalaku untuk menyapa setiap kakak kelas yang berpapasan.


"Nyari siapa?" tanya salah seorang penghuni kelas ini. Nampak dari bedge yang dipasang di lengan bajunya sebelah kanan.


"Kak Bintang, dimana?"


"Oh Bintang, tuh di taman depan." ucapnya sambil menunjuk seseorang di arah taman. Ya, setiap kelas memiliki taman masing-masing yang leluasa dipakai setiap anak untuk mengobrol atau bersantai saat istirahat.


"Terimakasih Kak," aku mengangguk padanya. Lalu segera kuhampiri seorang cowok yang sedang duduk di kursi taman. Hampir semua kursi di taman sekolah dipasang permanen, terbuat dari batu bata dan semen yang dibentuk sedemikian rupa.


"Kak Bintang ..."


Dia tidak mendengarku. Dia terlihat masih asyik mendengarkan sesuatu lewat earphone yang terhubung dengan ponselnya. Matanya dipejamkan sambil sedikit mulutnya ikut bernyanyi meski tanpa suara.


"Kak Bin ..." panggilku sambil menepuk pundaknya pelan.



"Rania ..." sepertinya dia kaget dengan kedatanganku.


"Hmmm, Kak, maaf aku ganggu waktunya"Nggak kok, nggak ganggu. Duduk sini," ucapnya sambil melepas earphone dari telinga, lalu mempersilakanku duduk di sebelahnya.


Kursi disini hanya cukup untuk dua orang saja. Jadi aku hanya duduk di ujung agar tidak terlalu dekat dengannya.


"Ada apa Rania?"


"Pulang sekolah repot nggak Kak?"

__ADS_1


"Nggak kayaknya, ada apa?"


"Kakak, misalnya nanti ikutan jenguk Ringga gimana?" tanyaku pelan, karena sedikit takut dan ragu.


"Oh, nanti mau jenguk Ringga ya?"


"I-iya ..."


"Aku, harus ikut kah?"


"Heem, maksudnya biar kalian bisa baikan, nggak marah-marahan lagi,"


"Hm, oke ... siapa aja yang ikut?"


"Bareng teman satu kelas, ehm, perwakilan."


"Kamu juga ikut kan?"


"Iya ..."


"Oke, nanti kumpul dimana?"


"Kalau nggak di kelasku, mungkin di tempat parkir. Eh, nanti aku telpon Kakak deh!"


"Kamu telpon aku?"


Aku mengangguk, sambil menyisir rambutku ke belakang telinga dengan jariku. Canggung rasanya.


"Oke, aku tunggu kabar kamu nanti," ucapnya sambil tersenyum. Sepasang lesung menghiasi pipinya, membuatnya bertambah manis kala itu.


"Aku, pergi dulu ya Kak,"


"Iya, mau aku antar?"


"Nggak perlu, aku bisa sendiri kok!"


"Oke, hati-hati ya ..."


"Iya, dah ..." refleks kulambaikan tangan saat beranjak pergi darinya. Akupun sedikit kaget dengan tanganku sendiri. Langsung kutarik ke belakangan karena malu.



Tapi hal itu membuat Kak Bintang semakin tersenyum lebar. Dia melambaikan tangannya juga ke arahnya. Bingung dengan rasa canggung yang tak berkesudahan ini, kubalikkan badanku dan berjalan setengah berlari untuk segera kembali ke kelas.


Aneh, begitu aneh! Rasanya, baru kemarin aku menghindarinya, bahkan sempat marah padanya. Tapi hatiku dibalikkan seketika, karena rasa bersalahku padanya. Akulah biang dari pertengkaran kemarin. Aku ingin segera menyudahinya. Aku tak ingin kemarahan mereka berlarut-larut hanya karena aku.


Apa yang akan terjadi nanti? Antara Ringga dan Kak Bintang?


*****


Penasaran dengan ceritanya?


Jangan lupa untuk klik Favorit.


Serta beri rating bintang lima yaaa...


Tinggalkan komen di bawah. Kritik dan saran selalu saya nantikan.


Terimakasih.

__ADS_1


Penulis Baru


Hanny Achmad


__ADS_2