
Sisi lain...
Plakkkk
Suara tamparan menggema ke seluruh penjuru ruangan yang berada di rumah itu.
"INI SEMUA SALAH LU TAU GAK HAH" bentak Ahnan dengan menampar Dela ntah sudah yang ke berapa kali.
"Tapi gua lakuin ini karna gua cinta sama lu, harusnya lu sadar dong, harusnya lu ngertiin perasaan gua" ucap Dela.
"Ngertiin ngertiin, kalo lu mau di mengerti harusnya lu juga ngerti perasaan Raya gimana, dasar perempuan gak tau malu, Raya udah baik sama lu kenapa lu lakuin ini" ucap Ahnan yang berusaha memendam emosinya.
"Tapi gua cinta sama lu dan gua gak mau ada orang lain yang milikin lu" ucap Dela.
"Lu cuman terobsesi sama gua, lu gak suka sama gua" ucap Ahnan yang langsung membuat Dela terdiam di tempat.
Ahnan pun langsung menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya bersiap untuk tidur.
"Mau ngapain lu?" Ucap Ahnan ketika melihat Dela yang sudah berbaring di tempat tidur.
"Tidur lah" ucap Dela santai.
__ADS_1
"Nggak lu tidur di kamar tamu sana" ucap Ahnan.
"Kan kita udah suami istri" ucap Dela.
"Gua bilang nggak nggak ya, cepet keluar dari kamar gua atau gua pake kekerasan" ucap Ahnan yang langsung di turuti Dela.
Bukanya tidur di kamar tamu Dela lebih memilih tidur di salah satu Sofa yang berada di kamar Ahnan. Karena malas untuk berdebat Ahnan pun membiarkanya.
Skip pagi...
Matahari sudah terbit dan Ahnan pun sudah bangun, malah ia sudah mandi. Ketika hendak sarapan ia melihat Dela yang masih tertidur pulas, karna tidak mau ambil pusing Ahnan pun membiarkanya tanpa mau repot repot membawakan makanan untuk Dela.
Setelah selesai dengan semua persiapannya, Ahnan pun berangkat menuju sekolah, karena saat pernikahan Dela dan Ahnan di adakan tertutup hanya beberapa orang yang mengetahui maka dari itu baik Ahnan maupun Dela tetap melanjutkan sekolahnya.
Sesampainya di sekolah Ahnan langsung memarkirkan mobilnya di parkiran dan berjalan menuju kelasnya, selama di perjalanan banyak anak anak yang membicarakan Kepindahan Raya.
Dengan rasa penasaran yang menggunung Ahnan pun menanyakan keberadaan Raya kepada salah satu murid yang sedang lewat.
"Liat Raya?" Ucap Ahnan.
"Raya kan pindah, lu gak tau? Lu kan pacarnya ah tau jangan jangan dia pindah gegara lu selingkuhin dia ama si munafik Dela kan, parah lu dapet berlian ko mulung tu kucing eh batu maksudnya" ucap salah satu siswi dengan santainya.
__ADS_1
"Dia pindah kemana?" Ucap Ahnan.
"Ya gua kagak tau emang gua emak nya, coba lu tanya abang abangnya sono' ucap siswi tersebut dan langsung meninggalkan Ahnan.
Setelah mendengar ucapan siswi tersebut Ahnan pun langsung berjalan menuju kantin untuk menemui salah satu kaka dari Raya.
"Misi boleh gabung?" Ucap Ahnan.
"Kalo lu mau cari keberadaan Raya , dia dah gak ada di sini dia dah pindah" ucap Rahmat.
"Dia pindah kemana bang?" Ucap Ahnan.
"Kalo masalah itu gua kagak tau" ucap Rahmat.
"BOHONG LU TAU KAN?" Ucap Ahnan dengan mencengkram bahu Rahmat.
"LU FIKIR GUA BOHONG HAH, GUA JUGA KAGAK TAU DIA KEMANA, HARUS NYA LU SENENG DONG DIA DAH PERGI DARI KEHIDUPAN LU, MENDING LU URUSIN AJA SI DELA, GAK USAH SOK SOKAN PEDULI AMA ADEK GUA" ucap Rahmat dengan emosinya karena Sebelum Raya dan kembarannya pergi mereka mengunjungi keluarga Rahmat dan menjelaskan semuanya yang terjadi, Rahmat dan kaka kakanya pun terkejut karena kedua orang tua mereka yang menemukan Raya dan Leon ketika para penculik lengah, namun bukanya mengembalikan Raya dan Leon ke pada ke dua orang tuanya, orang tua Rahmat malah mengangkatnya menjadi anak dan memakai marga milik keluarga Raya, awalnya mereka tidak percaya, namun setelah di berikan bukti oleh Leon akhirnya mereka pun percaya, saat sedang menjelaskan bertepatan dengan datangnya kedua orang tua Rahmat dan kaka kakanya kemudian mereka pun menanyakan kebenaran dalam masalah ini, ternyata semua yang di katakan oleh Raya benar, dengan kecewa dan berat hati Rahmat dan kaka kaka yang lain pun membiarkan Raya dan Leon pergi untuk menemui orang tua kandungnya.
Bugh....
Rahmat menonjok Ahnan.
__ADS_1
"Jangan fikir lu bisa mainin perasaan adek gua, mulai saat ini lu jauh jauh dari Raya kalo mau hidup lu dan keluarga
lu aman" ucap Rahmat dan langsung pergi meninggalkan kantin meninggalkan Ahnan yang masih terduduk di lantai dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya.