
Setelah melepas tanganya dari cengkeraman Vin, tangan Raya beralih ke kepala Vin, ia mengelus elus lembut kepala Vin, ia ingin sekali memeluk Vin, setelah bertatun tahun ia merindukan pria ini.
Saat sedang asik mengelus rambut Vin, tanpa sadar sang pemilik rambut ternyata terganggu dalam tidurnya dengan segera ia mengangkat kepalanya membuat Raya terkejut karena gerakan tiba tiba dari Vin.
"Ke ganggu yah?" Ucap Raya yang langsung menarik tanganya.
“Udah sadar? Apa yang sakit? Kepalanya pusing? Mau minum? Mau makan? Atau mau apa" Ucap Vin bertubi tubi yang membuat Raya pusing mendengarnya.
“Mau jadi pacar lo" ucap Raya dengan wajah seriusnya yang membuat Vin menjadi terdiam.
"Napa bengong?" Ucap Raya lagi.
"Ngg..nggak gak papa ko" ucap Vin yang sedikit gugup.
"Gak usah gugup gitu kali, lagian gua beneran" ucap Raya lagi dengan wajah serius.
"Becanda lu gak lucu Ray" ucap Vin.
"Tapi gua gak lagi becanda gimana dong?" Ucap Raya.
"Udah udah mending sekarang Iu makan dulu, terus istirahat, gua rasa ada yang harus lu ceritain karena lu udah keciduk sama gua" ucap Vin dengan wajah kesalnya.
"Kenapa kesel gitu mukanya? Gegara omongan gua tadi ya? Gua gak becanda Vin, gua serius, 5 tahun yang lalu Iu nembak gua kan makanya gua terima lu sekarang karena gua udah keciduk" ucap Raya.
"Mending lu makan dulu terus istirahat baru ngebahas itu" ucap Vin yang langsung meninggalkan ruangan Raya.
__ADS_1
"Mau kemana?" Ucap Raya.
"Ngambilin lu makan" ucap Vin.
"Minumnya jus ya jan lupa" teriak Raya karena Vin sudah mulai menjauh dari ruangannya.
Saat Vin mengambilkan makanan untuk Raya dengan segera Raya mencabut infusnya dan mengambil sebuah papper bag yang berisi pakaian miliknya ia tau itu, karena jika ia di bawa ke rumah sakit baik sepupunya atau salah satu dari anak buahnya membawakan pakaian untuknya karena Raya tidak suka berlama lama di Rumah sakit, setelah mengganti pakaiannya Raya langsung menyimpan pistolnya ke dalam saku Rok karena pakaian yang berada di dalam papper bag tersebut berisi kaos hitam polos dan rok pendek berwarna Hitam.
Ia memasukan pistol ke dalam saku roknya juga ke belakang punggung yang biasa terdapat tempat menyimpan pistol, setelah di rasa cukup dengan penampilannya Raya pun kembali ke bankarnya dan kembali rebahan di sana, baru saja rebahan Vin datang dengan tangan yang membawa nampan tak lupa dengan wajah terkejutnya ketika melihat penampilan Raya.
"Kenapa di lepas infusnya, kenapa ganti baju astaga Ray lo itu masih sakit bahkan lo baru sadar tadi dan lu bikin gua jantungan gegara ini" ucap Vin dengan tampang kesalnya lagi.
"Ya maaf" ucap Raya.
"Sini tangan" ucap Vin dengan sedikit membentak Raya.
“Mau di apain?" Ucap Raya,
“Infus lagi" ucap Vin.
“Gak usah, gua dah sembuh" ucap Raya dan mendapat tatapan maut dari Vin.
Setelah menginfus Raya, Vin menyuapi Raya makan.
"Kek bocil di suapin" ucap Raya.
__ADS_1
“Dari pada lu gak makan" ucap Vin.
"Orang mual makanya gak mau makan juga" ucap Raya.
"Yaudah ini terakhir" ucap Vin dengan memberikan satu sendok berisi makanan ke Raya.
"Ya iya terakhir orang dah abis" ucap Raya dengan wajah sewotnya.
"Wkwk yaudah istirahat" ucap Vin.
Tanpa menjawab ucapan Vin, Raya langsung membaringkan tubuhnya.
"Perasaan gua baru makan napa langsung tidur" ucap Raya dalam hati dan langsung mendudukkan dirinya.
"Kenapa duduk lagi?" Ucap Vin.
"Gua kan baru makan ' ucap Raya dan langsung mengalihkan pandanganya ke penjuru ruangan.
“Nyari apa?" Ucap Vin.
"TV tapi kagak ada" ucap Raya dengan wajah kesalnya.
"Yaudah lu kalo mau tidur tidur aja di kolong ada kasur kan, gua mau ngehalu dulu sampe 15 menit baru abis itu tidur" ucap Raya lagi.
"Yaudah lu juga halu aja dulu gua tungguin, pas lu tidur baru gua tidur" ucap Vin.
__ADS_1
“Yaudah gimana lu" ucap Raya yang langsung membaringkan tubuhnya dan tidur saat itu juga.
"Belum juga 1 menit dah tidur” ucap Vin dengan mengelus rambut Raya dan mencium keningnya.