Reinkarnasi Sang Dewa Bumi

Reinkarnasi Sang Dewa Bumi
BAB 12 - Ahli Tingkat Menengah vs Ahli Tingkat Guru


__ADS_3

Pemuda bertopi yang dari tadi mengejar Sata tiba-tiba berhenti. Ia terkejut melihat Sata yang tadinya selalu berlari, kini malah berhenti dan terlihat sedang mengeluarkan sebuah keterampilan bela diri. Dia terus memerhatikan Sata dari kejauhan.


"Keterampilan bela diri pemuda ini sungguh lain dari yang lain. Teknik bela diri apa yanng digunakannya?! Teknik tersebut belum pernah aku temui di dunia tengah. Sepertinya jika aku bertarung dengannya, hal ini akan menjadi pertarungan yang sangat menarik." ucap pria bertopi sambil memerhatikan Sata yang tengah membuat formasi.


...************...


Pemuda bertopi itu kemudian berlari menghampiri tempat Sata berdiri. Dia tiba-tiba tidak bisa bergerak. Ketika dia membuka mata, ia mendapati dirinya berada di sebuah dimensi pararel yang tidak diketahui.


"Hoho... hebat juga kau anak muda. Dengan tingkatan bela dirimu yang masih tingkat menengah level empat, kau dapat mengeluarkan teknik sekuat ini. Tapi... pastinya ini tidak akan bertahan lama." ucap pemuda bertopi.


Sata pun membalas ucapan dari pemuda bertopi tersebut. Tapi, hanya suaranya saja yang keluar dari dimensi pararel. Sedangkan raganya tidak terlihat seujung jari pun.


"Salam hormat Senior! Saya tidak akan berani melawan Senior. Saya hanya ingin bertanya mengapa Senior mengejar saya?!" ucap Sata dengan sopan.


"Haha... aku hanya merasakan aura ular hitam itu darimu, Nak. Tapi, jika kau ingin memilikinya tak apa. Namun... sebagai syaratnya aku mempunyai satu permintaan." sahut pemuda bertopi dengan sopan.


"Apa permintaan anda, Senior?!" tanya Sata penasaran


"Tentu saja mari kita bertarung. Siapa yang menanglah yang akan mendapatkan ular itu." jawab pemuda bertopi itu dengan semangat.


"Baiklah saya terima tantangan anda, Senior. Mohon bimbingannya." ucap Sata sambil memunculkan dirinya di dalam dimensi pararel.


"Hoho... rupanya masih sangat muda. Aku akui kehebatanmu. Silakan memulai serangan terlebih dahulu." sahut pria bertopi itu sambil menyodorkan tangannya ke arah Sata.


Sata kemudian mulai menyerang pemuda bertopi itu. Sata pun mengeluarkan berbagai keterampilan bela dirinya yang terkuat. Namun, pemuda bertopi tersebut mampu menghadapi setiap serangan dari Sata dalam keadaan tenang dan tak terluka sedikitpun.


"Haha... apakah hanya segini kemampuanmu anak muda?!" ucap pemuda bertopi itu sambil tersenyum.


"Padahal aku telah diuntungkan karena bertarung di dalam dimensi pararel buatanku. Sepertinya menyerang dengan keterampilan bela diri saja tidak akan mempan karena kekuatanku masih lemah. Sepertinya aku harus menggunakan teknik gabungan antara Ahli Bela Diri dan Ahli Peracik." batin Sata menyusun rencana.


"Kenapa kau diam saja anak muda?! Kalau begitu sekarang giliranku menyerangmu." sahut pemuda bertopi itu tiba-tiba


"Teknik Angin Menembus Tulang!" tiba-tiba angin yang sangat besar berhembus di dalam dimensi pararel tersebut.


"Sungguh kekuatan yang sangat hebat walau berada di dalam tekanan Formasi Bintang." batin Sata kagum.


"Tameng Jiwa Tingkat Atas!" tiba-tiba ada benteng dari cahaya yang sangat besar di hadapan Sata.


Benteng cahaya tersebut mampu menahan serangan elemen angin yang sangat besar dari pemuda bertopi. Pemuda bertopi itu menatap Sata dengan penuh kekaguman. Kemudian, ia tiba-tiba berjalan mendekat ke arah Sata.


"Fyuhhhhh! Yang tadi hampir saja. Jika telat mungkin aku sudah tamat." gumam Sata sambil bernapas lega.


"Aku harus waspada terhadap serangan tiba-tiba darinya." Sata kini bersikap begitu serius mengenai pertarungannya.


"Kita akhiri saja pertarungannya anak muda." pinta pemuda bertopi itu tiba-tiba.


...*************...

__ADS_1


Sata tidak menghentikan Formasi Bintang dan Tameng Jiwa begitu saja. Dia tidak percaya pada ucapan pemuda bertopi tersebut. Ia beranggapan bahwa ucapan pemuda itu hanya omong kosong belaka.


"Apa Senior mengira saya akan benar-benar percaya?! Serangan Senior tadi begitu hebat, mana mungkin saya akan percaya dengan senior begitu saja." ucap Sata dengan tegas.


"Hahaha! Sungguh anak muda yang tak pantang menyerah. Bakatmu ini sangat hebat dan langka. Kau hanya menyerangku dengan teknik bela diri tanpa menggunakan elemen apa pun. Diliat dari kekuatan jiwamu, kau adalah Ahli Peracik tingkat delapan. Pantas saja kau bisa menahan seranganku walau masih di tingkat menengah level empat. Jika kau bisa masuk ke Perguruan Ryusei pasti ketua akan sangat senang. Haahhh! Namun sekarang dia sedang terbujur kaku." ucap pemuda bertopi itu tiba-tiba bicara panjang lebar.


"Terima kasih atas pujian dari Senior. Namun, kekuatan saya ini masih belum seberapa dibandingkan kekuatan Senior." jawab Sata tetap merendah.


"Haha! Kau terlalu rendah diri, Nak. Aku sebenarnya mengejar-ngejar ular hitam itu hanya karena ingin mengambil sepuluh buah sisiknya untuk bahan pil obat. Namun, ular itu malah menyerangku, jadi aku terpaksa menyerangnya kembali." ucap pemuda bertopi sambil tersenyum.


"Apa anda ingin membuat pil tingkat tinggi sampai harus ada sisik dari ular hitam yang merupakan binatang buas tingkat atas level tujuh?!" tanya Sata penasaran.


"Hoho... itu benar anak muda. Aku ingin membuat Pil Pembangkit Spirit untuk menyembuhkan guruku yang sedang terbujur kaku karena spiritnya terluka akibat sengatan petir di Kolam Petir saat meningkatkan tingkatan ahli bela dirinya." jawab pemuda itu.


"Hanya tinggal sisik itu saja yang kurang dari semua bahan yang telah ku kumpulkan. Lalu, aku pun sedang mencari Ahli Peracik tingkat delapan yang bisa aku percayai untuk membuat pil tersebut. Haahhh! Ahli Peracik di dunia tengah ini sangat langka.


Walaupun keberadaannya mudah dicari, tapi mereka tidak mudah di ajak bekerjasama dengan seorang Ahli Bela Diri jika tidak mendapatkan imbalan yang setimpal. Masalah imbalan aku tidak masalah, yang menjadi masalahnya adalah para ahli peracik tingkat delapan itu sudah berpihak ke perguruan lain." sahut pemuda bertopi lagi dengan panjang lebar.


"Apa anda tidak mencoba mencari di Perkumpulan Ahli Peracik?!" tanya Sata tiba-tiba.


"Haahhh! Aku sudah mencoba hal tersebut. Tapi... mencari Ahli Peracik ke Perkumpulan Ahli Peracik itu sangat susah karena mereka tidak mau berurusan dengan hal di luar Ahli Peracik." jawab pemuda bertopi itu dengan ekspresi lelah.


"Aahhh! Sebelumnya aku belum memperkenalkan diriku. Namaku adalah Osamu Hamasaki. Aku menjabat sebagai Pelaksana Tugas Kepala Perguruan Ryusei.Bisa juga disebut sebagai Kepala Perguruan sementara. Kau bisa memanggilku dengan sebutan Ketua Osamu." ucap pemuda bertopi itu sambil menunjukkan lencana giok berwarna emas ditangannya.


"Hmmm... apa itu Perguruan Ryusei, Ketua Osamu?!" tanya Sata penasaran.


"Haahhh... baiklah Senior." sahut Sata yang kemudian menghentikan Formasi Bintang dan Tameng Jiwa dihadapannya.


"Nah kalau begini kan kita bisa berbicara dengan lebih santai. Akan aku jelaskan, Nak. Perguruan Ryusei adalah perguruan ahli bela diri peringkat satu dari bawah di Kekaisaran Nagayama. Perguruan yang bertempat di Pegunungan Ryuyama. Untuk lebih jelasnya mengenai Perguruan Ryusei kau bisa mengunjunginya nanti sebagai Ahli Peracik yang aku undang. Token kayu ini aku berikan padamu, Nak." ucap Ketua Osamu sambil melemparkan sebuah token kayu berwarna emas.


"Eh?! Mengapa perguruan berperingkat satu dari bawah?!" tanya Sata penasaran.


"Kau tak perlu sepenasaran itu, Nak. Nantinya pun kau akan mengetahuinya sendiri." jawab Ketua Osamu.


"Haahhh... baikalah aku tidak akan penasaran untuk saat ini. Aahhh! Saya belum memperkenalkan diri. Perkenalkan nama saya Sata Yoshihara, Ketua. Itu... anu... Kekaisaran Nagayama jaraknya begitu jauh dari Kerajaan Nakajima ini. Lagipula... saya masih ingin belajar ahli bela diri dari bawah dulu yang dimulai dari tempat kelahiran saya kota Wangshi ini, Ketua." sahut Sata dengan sopan.


"Aku mohon padamu, Nak. Hal ini sangat mendesak sebelum Ketua sudah tidak bisa diselamatkan lagi." ucap Ketua Osamu memohon pada Sata.


"Haaahhh! Baiklah! Saya bersedia meracik pil untuk menyembuhkan sakit yang diderita guru Ketua. Tapi... mungkin saya akan mengunjungi Perguruan Ryusei dalam waktu enam bulan lagi setelah Kompetisi Ahli Bela Diri di kota Wangshi dan Kerajaan Nakajima. Apa guru Ketua masih bisa bertahan sampai saat itu?!" sahut Sata dengan sopan.


"Baiklah, Nak! Aku tunggu kau enam bulan lagi. Jangan sampai kau mati sebelum menyembuhkan guruku, Nak!" ucap Ketua Osamu sambil tersenyum.


"Siap Ketua. Saya berjanji." sahut Sata sambil mengacungkan tangan kanannya.


"Haha! Baiklah, Nak. Aku pamit undur diri terlebih dahuli. Takutnya... para tetua itu berbuat ulah karena aku tidak ada di perguruan." ucap Ketua Osamu pamit.


"Sampai jumpa enam bulan lagi, Ketua! Sampai jumpa." teriak Sata sambil membungkukkan badannya.

__ADS_1


"Sampai jumpa lagi, Nak. Satu lagi kau jangan lupa membujuk ular hitam itu untuk memberikan beberapa sisiknya." ucap Ketua Osamu sambil berlari dengan sangat kencang meninggalkan hutan kota Wangshi.


...**********...


Sata hanya menatap kepergian Ketua Osamu dengan senyuman. Ia sangat senang bertemu dengan orang hebat seperti Ketua Osamu. Tiba-tiba, Neko dan Buraku pun kembali menghampiri Sata.


"Aahhh! Kalian telah pulang kembali rupanya." ucap Sata pada binatang peliharaannya.


"Kau telah bertemu orang hebat, Nak. Pemuda itu baru berumur dua puluh lima tahun, tapi kekuatannya sudah begitu hebat. Jika tadi dia tidak menghentikan pertarungan, kau akan kalah telak, Nak." ucap Dewa Ashima dari dalam kalung Sata.


"Makanya aku hanya menahan serangannya dan tak menyerang balik, Guru. Tubuh asliku juga sudah berumur dua puluh lima tahun, Guru. Tapi, kini aku masuk ke tubuh Sata yang masih berumur lima belas tahun. Ketua Osamu terlalu mengganggap dirinya orangtua sampai memanggilku dengan sebutan "Nak"." gerutu Sata.


"Haha! Dia berusaha bersikap bijaksana, Nak. Tugas sebagai Ketua Perguruan itu sangat berat. Sungguh bocah itu sangat hebat bisa menghadapi para tetua yang cerewed." ucap Dewa Ashima.


"Hmm.. dia orang hebat dan berani berdiri diatas yang menyebabkan ia mempunyai banyak musuh. Sifatnya menjadi pemimpin muda pemberani patut untuk ditiru. Tapi... jika menjadikannya sebagai guruku, aku kan sudah punya Dewa Ashima Si Pemimpin Tiga Dunia yang hebat ini." gurau Sata pada Dewa Ashima.


"Hoho! Pujianmu itu seperti banyak maunya saja. Sekarang cepatlah kau kembali ke Balai Kota Wangshi untuk melanjutkan Tes Elemen Ahli Bela Diri, Nak." pinta Dewa Ashima.


"Baik Guru siap. Aku simpan token emas ini ke cincin penyimpanan terlebih dahulu." ucap Sata sambil menyimpan token emas tersebut.


...************...


Sata pun kembali berlari dengan sangat kencang dari hutan menuju ke Balai Kota dikarenakan waktu tes sudah akan segera dimulai. Dia terlihat tak kenal lelah, Sata masih menggunakan energi petarungnya untuk berlari. Padahal, barusan ia sudah menggunakan banyak energi petarungnya untuk bertarung dengan Ketua Osamu yang merupakan ahli bela diri tingkat guru level tujuh.


...**************...


BERSAMBUNG.....


โ— LIKE๐Ÿ–’ dan tambahkan KOMENTAR๐Ÿ“ฉ agar author rajin update setiap harinya๐Ÿ™


โ— Mohon kritik dan sarannya semua reader๐Ÿ™


โ— Klik FAVORIT โค


โ— VOTE novel ini โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†


TERIMA KASIH.....๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™



SAMBIL MENUNGGU KELANJUTAN DARI NOVEL INI, SILAHKAN BACA KARYA REKOMENDASI DI BAWAH INI !!! JANGAN SAMPAI TERLEWATKAN MEMBACA SETIAP EPISODENYA KARENA ALURNYA SANGAT MENARIK !!!!


Author : Selvi_19


Judul Karya : TUAN MAFIA


__ADS_1


__ADS_2