
"Siapa itu? Cepat tunjukan wujud aslimu!" teriak Sata sambil menengok kesana kemari mencari asal dari suara aneh tersebut.
"Hahahaha! Sungguh tidak bisa dipercaya. Ada keturunanku yang kini tinggal di dunia tengah," ucap suara aneh tersebut.
"Hey cepat tunjukan wujud aslimu! Jangan hanya bersembunyi dan tertawa seperti hantu gentayangan!" teriak Sata sambil menengok kesana kemari mencari asal dari suara tersebut.
"Aku ada di atas pohon ini bocah bau! Apa kamu tidak bisa menengok ke atas?" pinta suara aneh tersebut.
Sata pun menengok ke atas pohon. Betapa terkejutnya ia melihat sesosok arwah melayang memakai pakaian Dewa Bumi.
***
"Hahaha! Akhirnya kamu menemukanku anak muda," ucap arwah melayang sambil turun dari atas pohon.
"Si . . . siapa kamu? Apa yang kamu inginkan dariku, hah?" tanya Sata sambil mundur beberapa langkah dari pohon besar.
"Inikah sambutanmu kepada pendahulumu anak muda? Sungguh tidak sopan!" sahut arwah melayang dengan raut wajah masam.
"Hahahahaha! Arwah gentayangan pun bisa marah. Sungguh sangat lucu," ucap Sata sambil tertawa terbahak-bahak.
Arwah melayang itu pun sangat marah melihat Sata yang menertawakannya. Kemudian, ia menghampiri Sata dan memukul kepalanya dengan sangat keras.
Plak!
"Aw! Apa yang kamu lakukan arwah gentayangan?" teriak Sata sambil memegangi kepalanya yang kesakitan.
"Sungguh tidak tahu sopan santun kamu bocah bau! Aku adalah pendahulumu Dewa Bumi lima ratus tahun yang lalu. Namaku adalah Dewa Ashima Putaba. Aku adalah dewa terkuat yang pernah memimpin tiga dunia. Apakah kamu tahu tentang kisah hebatku ini bocah bau?" gerutu arwah Dewa Ashima sambil memojokkan Sata hingga ia terjatuh ke tanah.
"Ah! Dewa Ashima yang begitu terkenal akan kehebatannya itu. Eh? Namun, dia sudah meninggal lima ratus tahun yang lalu di dunia atas. Bagaimana kamu bisa mengaku-mengaku sebagai dirinya arwah gentayangan. Sedangkan auramu saja tidak terasa keberadaannya!" ucap Sata sambil menunjuk-nunjuk arwah gentayangan yang berada dihadapannya.
"Eh? Bukan ini topik yang seharusnya di bahas sekarang. Mengapa kamu tahu aku berasal dari dunia atas?" tanya Sata penasaran.
__ADS_1
"Hahaha! Apakah kamu pikir dewa yang hebat ini tidak mengetahui jiwa aslimu itu bocah bau? Kau adalah salah satu calon penerusku yang sangat kuat. Namun, dengan tragis kau dibunuh oleh sahabatmu sendiri. Apakah . . . kau mau aku membantumu untuk balas dendam bocah bau? Huhuhu! Aku sungguh sangat kasihan melihatmu yang kini terdampar di dunia tengah seorang diri," ucap arwah Dewa Ashima sambil pura-pura menangis.
"Simpan drama murahanmu itu! Katakan langsung apa tujuanmu menghampiriku?" tanya Sata dengan nada suara tinggi.
"Kkkk! Memang calon penerusku yang sangat hebat. Aku belum berbicara saja sudah mengetahui maksud kedatanganku." Arwah Dewa Ashima terkekeh karena Sata menyadari tujuan kedatangannya.
Dewa Ashima pun menceritakan soal kehidupannya yang mati secara tragis lima ratus tahun yang lalu. Ia dibunuh secara beramai-ramai oleh tiga dewa penguasa dunia atas, dua ahli beladiri terkuat dari dunia tengah dan tiga pemimpin terkuat bangsa devil dari dunia bawah. Pembunuhannya ini dipicu oleh semua pemimpin dari masing-masing ketiga dunia yang tidak bersedia dikendalikan oleh satu orang yang bisa mengusai ketiga dunia.
Dewa Ashima dibunuh saat sedang bertapa untuk menaikkan tingkat dewanya. Ia tidak bisa melawan banyak karena saat itu kekuatannya sedang tidak stabil karena penaikan tingkat. Namun, akibat pertempuran para orang-orang terkuat dari tiga dunia inilah, tiga dunia di alam semesta mengalami kerusakan yang sangat parah, hingga menelan ratusan ribu korban jiwa saat itu. Ketiga dunia pun bisa pulih kembali secara normal setelah seratus tahun paska insiden tersebut.
Kemudian, jasadnya Dewa Ashima disemayamkan di dunia atas, tepatnya di Pegunungan Es Siyuki. Jiwanya pun tiba-tiba terdampar di dunia tengah paska kejadian tersebut.
Sata pun sedikit mempercayai ucapan arwah Dewa Ashima tersebut, karena yang diceritakan oleh arwah Dewa Ashima sama persis dengan cerita yang ia ketahui. Namun, perbedaan kisahnya hanya terletak pada penyebab kematian Dewa Ashima.
"Jadi . . . apa yang anda inginkan Dewa Ashima? Apa anda menyuruh saya mengambil jasad anda kembali ke dunia atas? Namun, dalam berbagai alkisah tentang anda yang saya baca, anda meninggal dunia karena sakit parah setelah pertempuran hebat antara pemimpin-pemimpin dari ketiga dunia," tanya Sata sambil melirik arwah Dewa Ashima yang terlihat sedih paska menceritakan kisah kematiannya.
"Hahaha! Sungguh hebat tua bangka itu memalsukan kematianku. Tentu saja bukan itu keinginanku anak muda. Aku yang sudah sangat tua ini sudah lelah menjadi seorang pemimpin dari ketiga dunia. Aku ingin mencari penerusku dan mati dengan tenang," ucap arwah Dewa Ashima sambil mengelus kepala Sata.
"Hey! Jangan pergi anak muda! Cepat kemari!" teriak arwah Dewa Ashima.
"Baiklah jika kamu yang pergi, maka aku akan mengejarmu," ucap arwah Dewa Ashima sambil mengejar Sata.
***
Sata pun lari dengan sekencang-kencangnya sambil menggendong kayu bakar di punggungnya. Setelah sampai di kediaman Keluarga Himamura, ia meletakkan semua kayu bakar di gudang persediaan kemudian mencari kesibukan yang lain lagi agar tidak teringat kembali dengan permintaan Dewa Ashima.
"Sata kemari bantu Ayah!" teriak ayahnya Sata sambil menghampiri putranya.
"Baik Ayah, tunggu sebentar," sahut Sata sambil menghampiri suara yang memanggilnya.
"Ada apa Ayah? Apa ada sesuatu masalah darurat? tanya Sata.
__ADS_1
Bak! Buk! Bek!
"Tidak ada hal darurat,Nak. Ayah hanya ingin kamu mencabuti rumput dihalaman belakang, sedangkan ayah mau membelah balok kayu ini terlebih dahulu," jawab Ayah Sata sambil memotong balok-balok kayu dihadapannya.
Sata yang melihat ayahnya sedang memotong balok kayu sedangkan kepada putranya hanya disuruh mencabut rumput sungguh merasa sangat terharu. Betapa terharunya ia melihat Ayah Sata yang sangat menyayangi putranya sehingga hanya menyuruh pekerjaan yang ringan saja, sedangkan ia yang melakukan pekerjaan berat.
Di kehidupannya yang dahulu, Sata Yoshihara alias Miko Sahitama belum pernah merasakan kasih sayang dari orangtua kandungnya karena telah ditelantarkan oleh orangtuanya sejak masih kecil.
"Sungguh merupakan orangtua impianku dikehidupan yang sebelumnya. Jadi pembantu dirumah ini selamanya pun aku rela," gumam Sata sambil memperhatikan ayahnya yang sedang memotong kayu.
"Apa kau ingin melihat ayahmu hidup susah selamanya, Nak?" tanya arwah Dewa Ashima yang tiba-tiba muncul di samping Sata.
"Eh? Siapa yang tiba-tiba berbicara? Hah? Kenapa anda mengikuti saya sampai kemari?" ucap Sata yang terkejut melihat arwah Dewa Ashima yang tiba-tiba telah berada disampingnya.
"A . . . apa yang anda inginkan sampai mengikuti saya hingga kediaman Himamura?" tanya Sata yang kaget melihat arwah Dewa Ashima berada disampingnya.
***
BERSAMBUNG.....
โ LIKE๐ dan tambahkan KOMENTAR๐ฉ agar author rajin update setiap harinya๐
โ Mohon kritik dan sarannya semua reader๐
โ Klik FAVORIT โค
โ VOTE novel ini โโโโโ
TERIMA KASIH.....๐๐๐
__ADS_1