
"Siapa itu?! Cepat keluar sekarang!!!" ucap Sata sembari memerhatikan sekelilingnya.
"Hihihihihihi!!"
"Hihihihihihihihi!!!" suara aneh yang terus tertawa namun keberadaannya tidak diketahui.
"Cepat keluar sekarang juga!!! Jangan bermain-main denganku!!!" ucap Sata dengan raut wajah kesal.
...***************...
Sata pun berinisiatip berkeliling di sekitar tempat ia berlatih untuk mencari asal dari suara aneh tersebut. Ia akhirnya menemukan sesosok binatang berwarna putih menyerupai kucing namun memiliki sayap, berukuran kecil dan sedang bersembunyi di atas pohon.
"Hiaaaa! Aku akhirnya mendapatkanmu binatang nakal!!" ucap Sata sambil berusaha menangkap binatang kecil tersebut dengan cara memanjat pohon, namun binatang itu malah tiba-tiba menghilang dari pandangan Sata.
Kemudian, Sata segera turun dari atas pohon. Ia kembali bergegas mencari binatang kecil itu lagi. Namun, setelah Sata berhasil menemukan keberadaan binatang tersebut, selalu saja binatang kecil itu tiba-tiba menghilang dari hadapan Sata.
"Hihihihihihihihi!!!"
"Hihihi!"
"Hihihihi!!"
"Hahaha… kau dipermainkan oleh seekor binatang yang sangat ganas, Nak." tiba-tiba Dewa Ashima tertawa sambil menghampiri muridnya.
"Apa?! Binatang ganas apanya Guru?!! Binatang kecil itu hanya seekor kucing nakal yang terbang kesana kemari. Berani-beraninya dia mempermainkanku tengah malam begini!" ucap Sata sambil menengok kesana kemari mencari binatang kecil tersebut.
"Hihihihihi!" suara binatang yang terus tertawa namun keberadaannya tidak terlihat.
"Coba kau keluarkan sedikit darahmu dari jari ini, Nak!!" perintah Dewa Ashima sambil memegang jari tengah dari tangan Sata bagian sebelah kiri.
"Untuk apa aku harus mengeluarkan darahku, Guru?!" tanya Sata kebingungan mendengar instruksi dari gurunya.
"Sudah cepat lakukan saja!! Darah dewamu ini sangat menarik perhatian Binatang Emas." ucap Dewa Ashima.
"Eh?! Darah dewa?!!! Bukannya hanya jiwaku yang berada di tubuh Sata, sedangkan darahnya masih darah manusia biasa?!" tanya Sata dengan kebingungan.
"Buuuuugggg!!!"
"Aaa!! Sakit Guru! Kenapa Guru memukulku?!" tanya Sata sambil memegangi kepalanya yang kesakitan.
"Sebenarnya kamu di dunia atas belajar apa hah?! Kenapa pengetahuan mendasar juga tidak tahu?!!!" tegur Dewa Ashima dengan nada suara tinggi.
"Ituuu… aku sebenarnya tidak terlalu memahami masalah kekuatan fisik, Guru. Aku hanya seorang anak terlantar yang diangkat menjadi anak oleh seorang kakek tua Ahli Peracik tingkat delapan. Aku awalnya menjadi seorang Ahli Peracik sebelum menjadi Ahli Bela Diri." sahut Sata sambil menundukkan kepalanya.
"Aishhh!! Nak, aku tidak ingin mendengar cerita sedihmu itu! Cepat keluarkan sedikit darahmu!!!" ucap Dewa Ashima sambil melipatkan kedua tangannya didadanya.
"Hikkksss! Guru sungguh tak berperasaan." gerutu Sata sambil meringis.
__ADS_1
"Haaa! Sudah jangan banyak drama lagi bocah bau!!!" tegas Dewa Ashima dengan suara lantang.
...***********...
Sata akhirnya menggigit jarinya hingga meluarkan darah. Tawa dari binatang kecil itu pun kian mendekat. Dengan sekejap mata, binatang itu datang ke hadapan Sata dan menjilati jari tangannya yang berdarah.
"Ini... apa yang sebenarnya terjadi, Guru?!" tanya Sata kebingungan.
"Hahaha… sudah ku duga binatang emas ini datang kemari karena tertarik dengan aroma darahmu yang khas." ucap Dewa Ashima sambil memerhatikan binatang kecil yang menjilati jari Sata.
"Di daratan dunia tengah yang begitu luas, binatang buas pun terbagi menjadi lima tingkatan, yaitu tingkat rendah, menengah, atas, langit dan surgawi. Level dari masing-masing tingkatan mereka terbagi lagi menjadi sembilan level. Mereka hidup secara berkelompok dengan satu orang pemimpin yang sangat kuat.
Binatang buas juga mempunyai kecerdasannya sendiri, namun hanya berlaku untuk binatang buas tingkat atas hingga tingkat surgawi. Binatang buas yang saat ini sedang menjilati tanganmu setidaknya sudah berada di tingkat atas yang setara dengan ahli bela diri tingkat guru." lanjut Dewa Ashima menjelaskan.
"Woahhh… benarkah guru?! Kalau begitu aku harus memperlakukan binatang ini dengan baik agar dia bisa menolongku saat terdesak." ucap Sata dengan percaya diri.
Sata merasa sangat heran melihat binatang putih kecil tersebut terus menjilati jarinya yang mengeluarkan darah. Kata Dewa Ashima, binatang buas tersebut bertingkah seperti ini karena menyukai aroma darah Sata yang berbeda dengan aroma darah manusia pada umumnya.
"Itu… aku tahu jika jiwa orang yang sudah tiada bisa bersatu lagi dengan tubuh yang utuh dengan menggunakan pil penyatu tulang dan darah, namun tubuh tersebut setidaknya harus milik ahli bela diri tingkat lanjut, agar kekuatan dari jiwa tersebut bisa meningkat bukan malah mengalami penurunan. Tapi… kenapa aku yang hanya memasuki tubuh lemah ini masih mempunyai darah yang unik?!" tanya Sata dengan raut wajah penasaran.
"Kau adalah orang terakhir yang masih hidup dari Klan Shima, Nak. Garis darah yang mengalir ditubuhmu ini sangat murni dan kuat. Walau kau masuk ke tubuh yang lemah sekali pun, garis keturunan yang begitu murni ini akan tetap ada pada dirimu." ucap Dewa Ashima menjelaskan.
"Tunggu dulu… bukankah Klan Shima telah hancur beratus-ratus tahun yang lalu di dunia atas. Eh?! Klan Shima…??? Dewa Ashima??? Apa anda mempunyai hubungan dengan Klan Shima, Guru?!" tanya Sata yang semakin penasaran.
"Naah… mulai sekarang binatang kecil ini akan patuh padamu, karena kau telah mengikat kontrak darah dengan binatang ini." ucap Dewa Ashima sambil mengelus binatang kecil.
"Hihihihihi." binatang kecil pun melompat ke atas kepala Sata.
"Apa-apaan ini?! Heii! Turun kau binatang nakal!!!" ucap Sata dengan lantang.
"Yaah… sudahlah biarkan saja binatang nakal ini. Ngomong-ngomong… apa hubungan anda dengan Klan Shima, Guru?! Mengapa anda menyebut saya orang terakhir dari Klan Shima yang masih hidup?!" tanya Sata sekali lagi karena sangat penasaran.
"Haahhh! Baiklah Nak, akan aku ceritakan semuanya." ucap Dewa Ashima sambil menghela napas sangat dalam.
"Klan Shima memanglah klan yang telah hancur beratus-ratus silam setelah kematianku yang merupakan ketua klan pada masa itu. Klan Shima dibasmi karena musuh-musuhku bersekutu bahwa Klan Shima telah melakukan sebuah dosa besar.
Mereka membasmi Klan Shima hingga ke akar-akarnya, hingga dimasa kini beberapa sisa anggota dari Klan Shima harus hidup secara bersembunyi. Saat itu, kedua orang tuamu merupakan dua anggota terakhir dari Klan Shima yang masih hidup.
Waktu itu kau masih bayi, mereka mempunyai pirasat bahwa akan terjadi suatu kejadian buruk. Mereka pun secara terpaksa menghanyutkanmu di sungai menggunakan sebuah peti, dan kau ditemukan oleh orangtua Ahli Peracik itu.
Benar saja, kejadian buruk yang diprediksi kedua orangtuamu benar-benar terjadi. Para musuh-musuh yang membenci Klan Shima datang untuk membasmi sisa anggota dari klan. Kedua orang tuamu pun terbunuh dalam kejadian tersebut." ucap Dewa Ashima sambil mengeluarkan ekspresi sedih.
"Lantas mengapa anda tidak datang menyelamatkan kedua orangtuaku?! Apakah anda hanya menonton kejadian tersebut?!!" tanya Sata sembari mengepalkan kedua telapak tangannya yang gemetar.
"Tenang dulu, Nak." ucap Dewa Ashima sambil mengelus pundak Sata.
"Minggir!!!" ucap Sata sambil menepis tangan Dewa Ashima.
__ADS_1
"Aku tahu kau pasti akan kesulitan menerima kenyataan yang begitu pahit ini. Namun, aku sarankan kau jangan ada niatan untuk balas dendam. Biarlah mereka yang menemuimu sendiri karena namamu yang sangat terkenal di dunia tengah di masa depan. Saat itu… kekuatanmu benar-benar sudah mencapai puncak. Itulah alasanku sangat ingin menjadikanmu muridku karena kau adalah keturunanku yang sangat aku sayangi.
Mengenai kedua orangtuamu… aku sungguh minta maaf karena tidak bisa menyelamatkan mereka, karena aku takut para musuh akan curiga bahwa masih ada orang yang hidup dari Klan Shima, yaitu kau sendiri Nak. Haaah! Aku sungguh menyesal atas semua kejadian yang telah menimpamu dan kedua orangtuamu, Nak." ucap Dewa Ashima dengan raut wajah sedih.
"Akuuu… minta maaf, Guru. Tidak seharusnya aku marah atas semua kejadian yang telah terjadi. Yang lalu biarlah berlalu. Aku harus bisa menerima semua kenyataan pahit ini." ucap Sata sambil menundukkan kepalanya.
"Aku kini bertekad untuk bisa mencapai tahap Ahli Bela Diri tingkat Dewa agar bisa membungkam semua orang-orang yang telah meremehkan klanku. Aku pun bertekad untuk membahagiakan kedua orangtuaku di kehidupan keduaku kali ini." ucap Sata sambil mengepalkan tangan kanannya didadanya.
...***********...
Binatang putih kecil pun tiba-tiba mengelus-ngeluskan dirinya ke pipi Sata, tanda bahwa ia juga memberikan semangat pada Sata.
"Eeeehhh?! ucap Sata yang kaget melihat binatangnya tiba-tiba mengelus pipinya.
"Haha… binatang ini sungguh pintar, Nak. Coba kau berikan dia nama yang cocok." ucap Dewa Ashima.
"Hmmm… bagaimana kalau aku beri nama binatang ini 'Chichi'. Iya nama 'Chichi' sangat cocok untuk binatang kecil ini." ucap Sata sambil mengelus dagunya dengan ibu jari dan jari telunjuk.
"Hhhhhhhhh!!" binatang kecil pun menggelengkan kepalanya tanda ia tidak suka.
"Eh?! Kenapa tidak suka?! Bukannya nama 'Chichi' sangat cocok denganmu binatang imut." ucap Sata sambil berusaha memeluk binatang putih kecil.
"Hhhhhhhhhh!!!" binatang kecil tersebut pun melompat dari tangan Sata, kemudian hinggap di atas kepala Sata.
"Aiiiisshhh! Binatang kurang ajar ini memang benar-benarrr..." ucap Sata sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Sabar Nak! Sabaarrr!! Binatang ini berjenis kelamin jantan, tentu saja dia tidak akan mau nama yang seperti itu." ucap Dewa Ashima menenangkan Sata.
"Haaahh! Baiklah! Namamu adalah 'Neko'. Apa kau menyukainya binatang imut." ucap Sata.
"Hihihihihihi!!" binatang putih kecil pun menganggung-nganggukan kepalanya tanda ia menyukai nama tersebut.
Kemudian Sata terus melanjutkan latihan fisiknya sepanjang malam, sebelum jadwal latihannya besok malam yaitu pelatihan jiwa.
...**************...
BERSAMBUNG.....
● LIKE🖒 dan tambahkan KOMENTAR📩 agar author rajin update setiap harinya🙏
● Mohon kritik dan sarannya semua reader🙏
● Klik FAVORIT ❤
● VOTE novel ini ☆☆☆☆☆
__ADS_1
TERIMA KASIH.....🙏🙏🙏